InstagramTiktokX
Selasa, 04 November 2025

Ziarah dan Haul Syekh Jumadil Kubro: Praktik Keagamaan, Ketahanan Budaya, hingga Solidaritas Sosial

MA
Mohammad Agam Dozan
Tradisi Ziarah dan Haul Syekh Jumadil Kubro
Tradisi Ziarah dan Haul Syekh Jumadil Kubro

Tradisi Ziarah dan Haul Syekh Jumadil Kubro menjadi bagian penting dalam lanskap kebudayaan masyarakat Jawa Timur, terkhusus wilayah Mojokerto dan sekitranya. Masyarakat beserta pemerintah daerah Kabupaten Mojokerto memperingati Haul Syekh Jumadil Kubro ke-650 dan Hari Santri dalam bentuk kegiatan dengan tajuk “Jejak Sejarah Jiwa Budaya -- Meneladani Warisan Para Ulama”. Digelar oleh Pemerintah Kabupaten Mojokerto melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata, (Disbudporapar), 23 Oktober 2025 di Kompleks Makam Troloyo, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Kegiatan tahunan tersebut rutin dilaksanakan selama dua hari, dimulai dengan ziarah dan pembacaan tahlil dan doa bersama, pengajian, pentas seni hingga bazar UMKM.

Dengan demikian, kegiatan tersebut kiranya dapat kita telaah sebagai bagian dari medan kebudayaan yang sarat nilai spiritual, keagamaan, serta menjadi momentum untuk memperkuat identitas dan ketahanan budaya. Di dalamnya tersirat nilai-nilai penghormatan terhadap sejarah, warisan pengetahuan (tradisi menjalin sanad keilmuan para ulama), serta solidaritas sosial yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Beberapa sisi pandangan yang kiranya dapat kita tawarkan dalam melihat bagaimana transmisi nilai tetap terjaga serta berkembang melalui Ziarah dan Haul Syekh Jumadil Kubro sebagai praktik sosial-budaya di tengah masyarakat.


Kultur Ziarah sebagai Sistem Kebudayaan

Kebudayaan merupakan sistem makna yang diekspresikan melalui simbol dan praktik sosial. Dalam konteks Troloyo, praktik Ziarah dan Haul dapat kita baca ulang; berfungsi sebagai sistem simbolik yang menghubungkan masyarakat dengan masa lalu -- baik sejarah, spiritualitas, keagamaan, maupun ikatan sosial.

Kultur ziarah mencerminkan cara masyarakat menafsirkan hubungan antara kehidupan duniawi dan nilai-nilai transendental. Ia menjadi sarana untuk meneguhkan rasa kebersamaan, memperkuat hubungan antar-generasi, serta menjaga kesinambungan identitas kultural.

Selain fungsi spiritual dan keagamaan, ziarah juga memiliki dimensi sosial-ekologis. Ia mempertemukan warga lintas latar sosial dalam suasana religius dan gotong royong. Dengan demikian, ziarah tidak hanya ritual individual, melainkan juga cultural performance yang memelihara memori kolektif masyarakat.


Sanad Keilmuan sebagai Mekanisme Pewarisan Nilai

Dalam tradisi keilmuan Islam klasik, transmisi ilmu dan nilai dilakukan melalui rantai guru-murid yang disebut sanad. Meskipun istilah ini memiliki akar dalam tradisi keagamaan, pada konteks sosial-budaya ia dapat dipahami sebagai bentuk pewarisan pengetahuan dan keteladanan moral dari generasi ke generasi.

Ziarah dan Haul di Troloyo menjadi sarana aktualisasi nilai tersebut. Penghormatan kepada tokoh dan ulama yang berjasa dalam sejarah penyebaran agama bukan hanya bentuk devosi, tetapi juga pengakuan terhadap kesinambungan ilmu, budi pekerti, dan peradaban.

Melalui kegiatan peringatan Haul Syekh Jumadil Kubro ke-650 dan Hari Santri dengan tajuk “Jejak Sejarah Jiwa Budaya -- Meneladani Warisan Para Ulama” masyarakat diajak merefleksikan nilai keteladanan dan kearifan lokal yang diwariskan oleh para pendahulu. Tradisi ini mengajarkan pentingnya belajar dari sejarah dan menjaga kesinambungan (sanad) ilmu beserta nilai-nilai etis dalam kehidupan sosial.


Ziarah dan Haul sebagai Pendidikan Sosial

Tradisi ziarah memiliki fungsi edukatif yang kuat. Melalui partisipasi dalam kegiatan ziarah dan haul, masyarakat belajar nilai-nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap jasa orang terdahulu. Proses ini merupakan bentuk pendidikan sosial yang menanamkan nilai moral melalui praktik kebudayaan.

Kebudayaan berperan sebagai ruang pembelajaran nilai dan identitas. Dalam konteks Troloyo, ziarah dan haul menjadi wahana pembentukan karakter masyarakat melalui pengalaman kolektif -- bukan lewat pengajaran formal, melainkan melalui partisipasi sosial dan simbolik.

Nilai-nilai yang dihidupkan dalam ziarah -- seperti gotong royong, solidaritas, dan doa bersama -- mendukung terciptanya kohesi Sosial. Ziarah dan Haul bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga memperkuat hubungan sosial di masa kini.


Ketahanan Budaya dan Fungsi Perekat Sosial

Ketahanan budaya (cultural resilience) merupakan kemampuan masyarakat untuk mempertahankan nilai dan tradisinya di tengah perubahan sosial. Tradisi Ziarah dan Haul Syekh Jumadil Kubro di Troloyo mencerminkan daya tahan tersebut.

Kegiatan yang melibatkan lintas unsur masyarakat dan institusi pemerintah tersebut memperlihatkan bagaimana warisan spiritual dapat menjadi modal sosial yang memperkuat kohesi dan ketahanan budaya. Ziarah & Haul menghidupkan ekonomi lokal, membangun jejaring antarwarga, serta menciptakan ruang perjumpaan antar-generasi.

Dengan demikian, Troloyo menjadi simbol living heritage -- warisan budaya yang terus dirawat dan dimaknai ulang. Nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi tidak berhenti sebagai simbol keagamaan, tetapi hidup sebagai praktik sosial yang memperkuat struktur moral masyarakat.

Tradisi Ziarah dan Haul di Troloyo memperlihatkan bagaimana kebudayaan dapat berperan sebagai perekat sosial dan sumber ketahanan masyarakat. Ia bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga sistem nilai yang mengandung dimensi pendidikan, etika, dan solidaritas.

Melalui penghormatan terhadap para pendahulu, masyarakat memelihara kesinambungan pengetahuan dan moralitas. Praktik ini sekaligus menjadi bentuk resistensi kultural terhadap arus homogenisasi global, dengan meneguhkan kembali identitas dan memori kolektif lokal.

Dengan dukungan pemerintah daerah melalui kegiatan peringatan Haul Syekh Jumadil Kubro ke-650 dan Hari Santri dengan tajuk “Jejak Sejarah Jiwa Budaya -- Meneladani Warisan Para Ulama”, Tradisi Ziarah & Haul dapat terus dikembangkan sebagai wahana refleksi sejarah, pendidikan sosial, dan penguatan jati diri.


Tradisi Ziarah dan Haul Syekh Jumadil Kubro mampu menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini, antara spiritualitas, keagamaan dan kebudayaan. Di dalamnya hidup nilai-nilai penghormatan terhadap leluhur, rasa syukur atas warisan keilmuan para ulama, serta semangat kebersamaan yang menyatukan masyarakat lintas latar belakang dan generasi.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya memperkuat ikatan berkenaan dengan religius, tetapi meneguhkan solidaritas sosial dan ketahanan budaya -- mampu menjawab dan mengkontekstualisasikannya di tengah perubahan zaman.

Ziarah dan Haul menjadi cermin bagaimana tradisi mampu berkembang tanpa kehilangan makna, sekaligus menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan akar sejarah dan identitas budayanya. (*)

 

Referensi:

Adger, W. N. (2000). Social and Ecological Resilience: Are They Related? Progress in Human Geography, 24(3), 347–364.

Bourdieu, P. (1986). The Forms of Capital. In Richardson, J. (Ed.), Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education. New York: Greenwood Press.

Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.

Rahmawati, N., & Setyawan, A. (2023). Tradisi Haul dan Ekonomi Sosial di Kawasan Troloyo, MojokertoJurnal Antropologi Indonesia, 44(1), 77–98.

Tilaar, H. A. R. (2000). Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 104.

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX