Writing from The Archipelago Vol. 1: Menyuarakan Keberagaman Sastra Indonesia ke Panggung Dunia

Sebagai upaya melestarikan warisan sastra sekaligus membuka jalan bagi internasionalisasi sastra Indonesia, Kementerian Kebudayaan menghadirkan program penerjemahan karya-karya sastra Indonesia. Salah satu hasilnya adalah Writing from The Archipelago Vol. 1: Samples from Contemporary Indonesian Fiction, sebuah antologi yang memuat karya-karya penulis Indonesia kontemporer dalam terjemahan bahasa Inggris. Seluruh terjemahan dikerjakan oleh peserta Laboratorium Penerjemahan yang melibatkan penerjemah, editor, dan kurator.
Sastra tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari pengalaman, sejarah, budaya, dan dinamika masyarakat yang melingkupi pengarangnya. Hal tersebut tercermin kuat dalam Writing from The Archipelago Vol. 1. Melalui 30 karya pilihan dari 14 penulis, buku ini memperlihatkan wajah sastra Indonesia yang beragam, baik dari segi tema, latar budaya, maupun gaya bertutur. Kehadiran penulis dari berbagai daerah membawa dialek, mitos, tradisi, serta persoalan khas lokal yang memperlihatkan betapa luas dan kayanya spektrum identitas sastra Indonesia.
Salah satu kekuatan antologi ini terletak pada keberanian para penulis mengeksplorasi bentuk penceritaan . Unsur fantasi kerap digunakan sebagai medium untuk membicarakan berbagai persoalan sosial, sejarah, maupun kemanusiaan tanpa terikat pada realitas yang kaku. Pendekatan ini menghasilkan pengalaman membaca yang segar dan imajinatif. Namun, pada beberapa cerita, dominasi unsur fantasi justru membuat substansi cerita terasa kurang mudah ditangkap sehingga pembaca membutuhkan usaha lebih untuk memahami pesan yang ingin disampaikan. Di satu sisi hal ini menjadi pengalaman estetik yang menarik, tetapi di sisi lain dapat mengurangi kenyamanan membaca.
Antologi ini dibuka dengan Inyik Balang karya Andre Septiawan yang diterjemahkan oleh Steve Andrianto. Cerita tersebut mengajak pembaca mengenal kekayaan budaya Minangkabau melalui berbagai istilah lokal, mitos, legenda, dan penggunaan bahasa daerah yang dihadirkan dalam kisah tentang siluman harimau. Di balik balutan fantasinya, cerita ini juga merekam dinamika sosial masyarakat Minangkabau pada masa awal kemerdekaan melalui sudut pandang yang tidak lazim sehingga menghadirkan pengalaman membaca yang menarik.
Kualitas antologi ini semakin kuat dengan hadirnya sejumlah karya dari penulis yang telah memperoleh berbagai penghargaan sastra. Di antaranya Thorns and Curses (Duri dan Kutuk) karya Cicilia Oday, peraih Penghargaan Sastra Khatulistiwa dalam kategori novel, serta Disgraced by Design (Aib dan Nasib) karya Minanto yang meraih penghargaan Dewan Kesenian Jakarta pada 2019. Kehadiran karya-karya tersebut menunjukkan bahwa buku ini tidak hanya memperkenalkan keberagaman sastra Indonesia, tetapi juga menghadirkan karya-karya yang telah diakui kualitasnya.
Di antara seluruh cerita, Once Upon a Dangdut Station (Pada Sebuah Radio Dangdut) karya Asef Saeful Anwar menjadi salah satu yang paling berkesan. Cerita yang meraih penghargaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 2022 ini menawarkan bentuk penceritaan yang unik dengan memadukan narasi dan naskah siaran radio berdialek khas penyiar dangdut. Potongan-potongan siaran tersebut menjadi selingan yang menghidupkan cerita sekaligus menghadirkan humor yang natural.
Cerita ini juga dibangun dari potongan lirik lagu dangdut lawas, baik yang nyata maupun yang diciptakan secara fiktif oleh pengarang. Bagi pembaca yang akrab dengan musik dangdut, kisah ini menghadirkan nuansa nostalgia. Namun, di balik atmosfer yang ringan, tersimpan kritik terhadap realitas sosial, seperti kemiskinan, ketimpangan, dan stigma yang kerap melekat pada profesi biduan. Dengan pendekatan yang khas dan dekat dengan budaya populer Indonesia, cerita ini menjadi salah satu karya yang paling representatif untuk memperkenalkan wajah sastra Indonesia kepada pembaca internasional.
Dari sisi penerjemahan, secara umum kualitas terjemahan mampu mempertahankan nuansa lokal Indonesia. Hal tersebut terlihat dari dipertahankannya sejumlah istilah daerah yang dilengkapi catatan kaki (footnote) sehingga pembaca asing tetap dapat memahami konteks budaya tanpa kehilangan kekhasan bahasa asal. Strategi ini menjadi salah satu kekuatan buku karena berhasil menjaga identitas lokal yang melekat pada setiap karya.
Meski demikian, antologi ini juga menyisakan sedikit catatan. Karena melibatkan banyak penerjemah, karakter bahasa Inggris yang digunakan pada setiap cerita terasa berbeda-beda. Perbedaan pilihan diksi, ritme kalimat, maupun gaya bertutur menciptakan kesan yang kurang seragam ketika buku dibaca secara berurutan. Walaupun tidak mengurangi kualitas cerita, penyelarasan gaya penerjemahan akan membuat pengalaman membaca menjadi lebih utuh dan konsisten.
Secara keseluruhan, Writing from The Archipelago Vol. 1 merupakan langkah penting Kementerian Kebudayaan dalam memperkenalkan sastra Indonesia kepada masyarakat dunia. Antologi ini tidak hanya memperlihatkan keberagaman tema dan kekayaan budaya Nusantara, tetapi juga menunjukkan bahwa sastra Indonesia memiliki kualitas dan daya saing di tingkat internasional. Kehadiran volume pertama ini menjadi awal yang menjanjikan bagi upaya memperluas jejak sastra Indonesia di ranah global. Diharapkan volume-volume berikutnya mampu menghadirkan lebih banyak karya berkualitas sehingga semakin memperkuat citra sastra Indonesia sebagai bagian penting dari khazanah sastra dunia.
