InstagramTiktokX
Jumat, 02 Mei 2025

Wiwara Indonesiana.TV: Jembatan Budaya dan Pendidikan di Era Digital

DS
Donna Sasella

Di tengah transformasi digital yang mengubah cara masyarakat berinteraksi, belajar, dan mengonsumsi informasi, upaya pelestarian budaya lokal dan penguatan pendidikan karakter menjadi tantangan sekaligus peluang besar. Dalam konteks ini, Indonesiana. TV, satu-satunya kanal budaya digital yang digagas oleh Balai Media Kebudayaan dibawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang saat ini telah bertransformasi menjadi Kementerian Kebudayaan, menghadirkan inovasi menarik melalui “Wiwara”. Wiwara merupakan modul pendamping menonton program tayangan Indonesiana.TV sebagai media yang menjembatani antara budaya dan pendidikan dengan menghadirkan narasi kebudayaan yang reflektif, edukatif, mudah dipahami dan menginspirasi masyarakat luas, terutama generasi muda menuju Indonesia Emas tahun 2045.

 

Wiwara: Dari Tradisi Lisan ke Media Digital

Dalam bahasa Sanskerta, "Wiwara" berarti "gerbang" yang dimaknai  sebagai pintu menuju wawasan yang lebih luas. Harapannya Wiwara  bisa dimanfaatkan oleh guru, tenaga kependidikan, atau orang tua untuk memulai diskusi dengan peserta didik atau anak. Wiwara dapat digunakan sebagai suplemen tambahan dalam pembelajaran di sekolah. Dalam konteks Indonesiana TV, makna wiwara telah dimodernisasi dan diperluas, bukan hanya sebagai pengantar, melainkan menjadi ruang tutur digital yang membawa pesan-pesan kebudayaan ke ranah reflektif yang mudah dipahami dan mendidik. Percikan info dan pemantik diskuisi didalam Wiwara  membangun kesadaran budaya dan menciptakan peluang diskusi lebih luas. Hadirnya Wiwara bagi pemirsa Indonesiana.TV tidak sekedar memperoleh tontonan namun sekaligus tuntunan.

 

Merawat Budaya: Menjaga Warisan budaya melalui Ide kreatif.

Salah satu fungsi utama Wiwara adalah sebagai penjaga dan penyampai nilai-nilai budaya kepada generasi kini. Dalam banyak episodenya, program tayangan Indonesiana. TV yang disertai Wiwara mengangkat  tema-tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat: makna kesabaran, gotong royong, perjuangan, sejarah, adat istiadat  hingga filosofi hidup dari tokoh-tokoh. Wiwara berhasil menghidupkan kembali tradisi  dengan mengajak pemirsanya melakukan aktivitas kreatif yang dinamai ide kegiatan, tentu pastinya disesuaikan dengan konteks tayangannya.

 

Dengan demikian, wiwara menjadi jembatan yang menghubungkan generasi digital dengan warisan budaya yang mungkin mulai terlupakan. Ia membawa pesan bahwa budaya bukan sekedar masa lalu yang dipamerkan di museum, tetapi juga hidup dalam keseharian, dalam tutur, dalam cara berpikir, dan dalam nilai yang terus diwariskan.

 

Sarana Pendidikan: Mendidik Lewat Cerita dan Refleksi

Lebih dari sekedar menyampaikan wawasan budaya, Wiwara juga menjadi alat edukasi yang kontekstual dan inspiratif. Banyak program tayangan yang disertai Wiwara ,  dirancang untuk mendukung pembelajaran di sekolah. Pendekatan narasi yang disusun dalam  Wiwara seperti capaian program, aktivitas pembuka, pemantik diskusi, ide kegiatan bahkan referensi yang disajikan, memudahkan pendidik , tenaga kependidikan atau orangtua dalam menyajikan literasi budaya secara menarik, efektif dan menyenangkan.

 

Dengan pendekatan naratif, Wiwara mendekatkan pendidikan dengan kehidupan nyata. Ia membantu peserta didik  dan masyarakat untuk belajar kebudayaan melalui pengalaman, cerita, dan refleksi. Dalam dunia pendidikan yang seringkali terlalu berorientasi pada hafalan, wiwara menghadirkan pendekatan humanistik yang menghargai proses berpikir dan pemahaman mendalam. Integrasi wiwara dalam kurikulum pendidikan juga dapat digunakan sebagai bagian dari pembelajaran bahasa dan budaya lokal.

 

Wiwara sebagai Media Edukasi Alternatif

Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan yang terlalu berorientasi pada kognisi dan formalitas seringkali menjauhkan siswa dari konteks sosial dan budaya mereka sendiri. Disinilah Wiwara dapat mengambil peran sebagai jembatan alternatif yang menghubungkan antara pengetahuan akademis dengan nilai-nilai lokal. Dengan memanfaatkan Wiwara dalam proses pembelajaran, guru atau pendidik dapat menyampaikan pembelajaran melalui narasi, humor, dan dialog yang mengandung unsur budaya lokal, sehingga menjadikan pembelajaran lebih bermakna. Dengan demikian, Wiwara tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, melainkan sebagai metode pedagogis yang hidup dan mudah dipahami.

 

Program Wiwara dalam Indonesiana TV adalah contoh konkret bagaimana media digital dapat digunakan untuk menyatukan budaya dengan pendidikan. Dengan gaya penyampaian yang reflektif dan konten yang mendalam, Wiwara menjadi jembatan yang membawa nilai-nilai luhur budaya Indonesia ke tengah masyarakat modern. Ia menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menyampaikan pendidikan melalui budaya, dan membangun kesadaran tentang siapa kita sebagai bangsa.

 

Di tengah krisis identitas dan tantangan pendidikan, Wiwara hadir sebagai oase, tenang namun penuh makna, sederhana namun menggugah, tradisional namun sangat relevan. Wiwara layak diangkat sebagai elemen penting dalam transformasi budaya dan pendidikan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX