Terkenang-kenang Kelap Kelip Kuning Kunang-kunang

Kunang-kunang merupakan jenis seranggga yang memiliki kemampuan mengeluarkan cahaya pada saat gelap atau lebih sering tampak bercahaya ketika malam hari. Kunang-kunang termasuk ke dalam golongan Lampyridae yang berasal dari famili dalam ordo kumbang Coleoptera (Rahayu, 2007). Ia berkerabat dengan kumbang kelapa atau kutu beras- hanya berbeda keluarga, kunang-kunang tergolong keluarga Lampyridae. Ada lebih dari 2000 spesies kunang-kunang, yang dapat ditemukan di daerah empat musim dan tropis di seluruh dunia. Dari 2000-an lebih jenis kunang-kunang, sebagian besar ditemukan hidup di daerah tropis termasuk Indonesia. Meskipun populasi di Indonesia tersebut besar, tetapi lama kelamaan karena kurangnya tanaman atau hutan di suatu habitat tersebut, maka keberadaan kunang kunang menjadi terancam (Subali, 2013).
Kunang-kunang merupakan hewan yang unik dan berperan sebagai bio-indikator yang signifikan, mencerminkan kesehatan lingkungan mereka. Sensitivitas mereka terhadap perubahan lingkungan menjadikannya sangat berharga dalam memantau kesehatan ekosistem dan mendeteksi polusi. Kunang-kunang berfungsi sebagai bio-indikator penting karena kepekaannya yang tinggi terhadap perubahan lingkungan, termasuk kualitas air, polusi cahaya, dan polutan kimia. Misalnya, kunang-kunang akuatik terpengaruh oleh kontaminan seperti benzo(a)pyrene, yang mengubah ekspresi gen terkait kekebalan dan metabolisme, sehingga menjadikannya indikator yang berharga bagi kesehatan ekosistem perairan. Selain itu, cahaya buatan di malam hari (Artificial Light at Night/ALAN) mengganggu perilaku alami dan siklus hidup kunang-kunang, dengan penelitian menunjukkan bahwa intensitas ALAN yang bervariasi dapat mengurangi populasi larva dan dewasa, menegaskan peran mereka sebagai indikator polusi cahaya. Kunang-kunang di habitat riparian juga merespons perubahan kualitas air, khususnya permintaan oksigen biokimia (BOD) dan kadar amonia-nitrogen, yang mencerminkan keberadaan polutan organik dalam badan air (Darmawan, 2025)
Kunang-kunang juga menjadi indikator penting bagi keanekaragaman hayati dan kesehatan ekosistem, dengan penurunan populasinya sering kali menandakan masalah lingkungan yang lebih luas seperti hilangnya habitat dan perubahan iklim. Misalnya, penurunan populasi kunang-kunang di Andhra Pradesh, India, selama dua dekade terakhir menunjukkan dampak degradasi lingkungan. Perubahan iklim juga memengaruhi populasi kunang-kunang, karena suhu dan curah hujan memengaruhi siklus hidup dan dinamika populasinya. Model Degree-Day, yang memprediksi fenologi kunang-kunang berdasarkan suhu, memberikan wawasan tentang efek perubahan iklim ini. Selain itu, kunang-kunang berperan penting dalam menjaga kesehatan ekosistem dengan memangsa invertebrata kecil dan menjadi sumber makanan bagi spesies lain. Kehadiran mereka di habitat berkualitas tinggi, seperti perairan yang tenang dan jenis vegetasi tertentu, semakin menegaskan signifikansi ekologis mereka (Darmawan, 2025)
Melihat kenyataan penting betapa peran kunang-kunang di lingkungan dapat menjadi penanda sehat atau tidaknya lingkungan tempat manusia hidup saat ini, maka apabila kita bertanya kembali, kapan terakhir kali kita melihat kunang-kunang di tempat tinggal kita? 10, 20, atau 30 tahun silam semasa kita kecil di tempat yang sama atau jika sekarang mungkin perlu pergi ke desa terlebih dahulu untuk melihat kunang-kunang? Isu global tentang lingkungan hidup yang perlahan rusak hingga tidak layak lagi didiami oleh hewan-hewan kecil seperti serangga sebetulnya telah menjadi sinyal nyata bahwasanya lingkungan tempat tinggal manusia terutama di perkotaan sudah rusak sedemikian parah. Kelangkaan perjumpaan kita dengan hewan-hewan yang kehilangan habitatnya serta tumbuhan yang sudah tidak cocok dengan lingkungan yang sedemikian masif dirambah oleh manusia pada akhirnya akan menambah deretan hewan dan tumbuhan langka yang harus dilindungi. Vegetasi buatan yang perlahan menggantikan vegetasi alami semata-mata menjadi penundaan sementara sebelum hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan tersebut punah pada akhirnya karena sudah lepas dari habitat dan vegetasi alaminya.
Kanal Budaya IndonesianaTV yang memiliki maksud dan tujuan melestarikan dan mempromosikan budaya Indonesia yang beragam kepada masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri melalui penayangan program-program yang mengangkat berbagai aspek budaya Indonesia, seperti kesenian, adat istiadat, tradisi, sejarah, dan lingkungan tempat budaya tersembut tumbuh dan berkembang. Kanal Budaya IndonesianaTV ingin meningkatkan pengetahuan dan wawasan masyarakat tentang budaya Indonesia melalui penayangan program-program edukatif dan informatif yang dikemas dengan menarik dan mudah dipahami oleh semua kalangan.
Konten-konten kebudayaan yang terkait dengan isu-isu lingkungan hidup serta upaya pelestariannya serta memiliki tema tenang kunang-kunang yang saat ini ada di platform IndonesianaTV adalah “Lintang & Kunang-kunang”. Konten ini menceritakan tentang seorang anak bernama Lintang yang memiliki kisah tersendiri di balik penamaan nama Lintang yang disematkan, dimana semuanya terinspirasi dari kilauan cahaya dari kunang-kunang. Didorong rasa penasarannya yang minim informasi tentang hewan kunang-kunang yang belum pernah dilihatnya selama hidup, Lintang mengajak kawan-kawannya untuk bersama-sama membersihkan lingkungan rumahnya agar dapat mengundang kembali hadirnya kunang-kunang seperti sedia kala.
Referensi
Darmawan, I Gede Surya dkk. 2025. Perencanaan Masterplan Kawasan Konservasi Kunang-kunang dengan Pendekatan Arsitektur Adaptif di Desa Taro, Kabupaten Gianyar Universitas Warmadewa. Denpasar.
Subali, Bambang dkk. 2013 Analisis Sifat Biologi, Kimiawi dan Fisika tentang Kunang-kunang (Lampyridae). Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Kajian IPA Fisika. Bandung
