Minggu, 09 Agustus 2026

Suku Alifuru: Menjaga Tradisi, Merawat Alam dari Pedalaman Seram

BM
Balai Media Kebudayaan
Peta Pulau Seram
Peta Pulau Seram

Setiap 9 Agustus, dunia memperingati Hari Masyarakat Adat Internasional. Peringatan ini ditetapkan sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran terhadap keberadaan, hak, kebutuhan, serta tantangan yang dihadapi masyarakat adat di berbagai belahan dunia. Tanggal 9 Agustus juga menjadi pengingat atas pertemuan pertama Kelompok Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Masyarakat Adat di Jenewa pada 1982.

Bagi Indonesia, peringatan ini menjadi momentum untuk kembali mengenali keberagaman masyarakat adat yang hidup dan berkembang di berbagai wilayah Nusantara. Sebagai negara kepulauan dengan keragaman budaya yang sangat luas, Indonesia memiliki banyak Masyarakat  adat yang menyimpan pengetahuan, tradisi, sistem sosial, serta kearifan dalam menjaga hubungan dengan alam. Salah satunya adalah masyarakat Alifuru yang hidup di Pulau Seram, Maluku.

Mengenal Masyarakat Alifuru

Alifuru merupakan sebutan yang digunakan untuk kelompok-kelompok masyarakat yang mendiami wilayah pedalaman Pulau Seram, Maluku. Istilah Alifuru memiliki beragam pendapat mengenai asal-usulnya. Salah satu pendapat yang banyak dikemukakan mengaitkannya dengan bahasa Tidore, yaitu halefuru, yang terdiri atas kata hale yang berarti “tanah” dan furu yang berarti “liar”.

Terlepas dari beragam pendapat mengenai asal-usul istilah tersebut, kehidupan masyarakat Alifuru memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan tempat mereka tinggal. Hutan, pegunungan, sungai, batu, tanah, serta berbagai sumber daya alam bukan sekadar bagian dari ruang hidup, tetapi juga memiliki nilai sosial, budaya, dan spiritual dalam kehidupan masyarakat.

Dalam berbagai sumber, masyarakat Alifuru kerap dibedakan berdasarkan wilayah tempat tinggalnya, antara lain Alifuru Gunung dan Alifuru Pesisir. Pembagian tersebut tidak serta-merta menunjukkan kelompok yang sepenuhnya berbeda, melainkan menggambarkan keragaman lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat Alifuru. Perbedaan kondisi geografis juga turut memengaruhi pola kehidupan, mata pencaharian, hingga praktik kepercayaan yang berkembang di masing-masing komunitas.

Kehidupan masyarakat Alifuru hingga kini masih memperlihatkan kuatnya hubungan dengan pengetahuan dan praktik tradisional. Berbagai pengetahuan mengenai pangan, bercocok tanam, lingkungan, hubungan kekerabatan, hingga pengelolaan kehidupan bersama diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi yang Menjaga Ingatan Leluhur

Kekayaan budaya masyarakat Alifuru tidak hanya terlihat dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga tercermin melalui berbagai tradisi dan ekspresi budaya yang diwariskan antargenerasi.

Sejumlah tradisi dan kesenian yang dikaitkan dengan masyarakat di Seram antara lain upacara Pesta Roh yang berkaitan dengan penghormatan terhadap leluhur, serta Cidaku yang menjadi bagian dari penanda perjalanan seorang laki-laki menuju kedewasaan dalam konteks budaya tertentu.

Sementara itu, Cakalele dikenal sebagai salah satu tarian tradisional Maluku yang menggambarkan keberanian dan semangat juang. Berbagai tradisi tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak sekadar menjadi warisan masa lalu, tetapi juga menjadi cara masyarakat untuk menjaga ingatan, identitas, nilai, dan hubungan antargenerasi.

Keragaman budaya Alifuru juga menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat adat tidak hanya tersimpan dalam benda atau artefak, tetapi hidup dalam bahasa, cerita, ritual, kesenian, pola hubungan sosial, serta cara mereka berinteraksi dengan lingkungan.

Ketika Alam Menjadi Bagian dari Kehidupan

Salah satu nilai penting yang dapat dilihat dari kehidupan masyarakat Alifuru adalah kuatnya hubungan antara manusia dan alam.

Ungkapan “Apa yang kita tanam, itu yang kita makan” mencerminkan pentingnya kemandirian pangan sekaligus hubungan yang erat antara manusia, tanah, dan hasil alam. Bagi masyarakat yang kehidupannya sangat bergantung pada lingkungan sekitar, menjaga alam berarti menjaga keberlangsungan kehidupan mereka sendiri.

Pengetahuan tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat menghadapi berbagai tantangan lingkungan. Hutan bukan hanya sumber pangan dan bahan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga merupakan ruang hidup yang menyimpan pengetahuan dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam konteks inilah masyarakat adat memiliki peran penting sebagai penjaga pengetahuan ekologis. Cara mereka mengenali musim, mengelola lahan, memanfaatkan hasil hutan, serta menjaga sumber pangan merupakan bagian dari pengetahuan tradisional yang memiliki nilai penting bagi keberlanjutan lingkungan.

Kekuatan dalam Kebersamaan

Kehidupan masyarakat Alifuru juga memperlihatkan kuatnya nilai kebersamaan dan solidaritas.

Pada musim timur atau musim penghujan, ketika kondisi cuaca dapat menghambat mobilitas dan akses transportasi, masyarakat perlu mempersiapkan kebutuhan pangan dan keperluan lainnya sejak sebelumnya. Kondisi tersebut tidak hanya mendorong kemandirian, tetapi juga memperkuat hubungan antarkeluarga dan antaranggota komunitas.

Salah satu bentuknya terlihat melalui kebiasaan berbagi dan saling bertukar makanan. Ketika seseorang mengalami kekurangan pangan, kerabat atau anggota komunitas lainnya dapat membantu memenuhi kebutuhannya. Praktik semacam ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya dibangun melalui kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga melalui jaringan sosial dan semangat saling membantu.

Nilai kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dari ketahanan masyarakat dalam menghadapi tantangan lingkungan dan perubahan kondisi kehidupan.

Merawat Alifuru, Merawat Keragaman Indonesia

Keberadaan masyarakat Alifuru menunjukkan bahwa kekayaan budaya Indonesia tidak hanya terdapat di pusat-pusat kota atau dalam bentuk warisan budaya yang mudah ditemui. Di pedalaman Pulau Seram, berbagai pengetahuan, tradisi, dan nilai kehidupan terus diwariskan dan menjadi bagian dari identitas masyarakat.

Masyarakat Alifuru memiliki peran penting dalam menjaga ingatan leluhur, mempertahankan pengetahuan tradisional, merawat hubungan dengan alam, serta memperkaya keragaman budaya Indonesia. Pengetahuan ekologis dan praktik kehidupan mereka juga menjadi bagian dari kekayaan budaya takbenda yang perlu dikenali dan dihargai.

Karena itu, Hari Masyarakat Adat Internasional bukan sekadar peringatan tahunan. Momentum ini mengajak kita untuk melihat kembali bagaimana masyarakat adat di berbagai wilayah terus mempertahankan identitas, pengetahuan, dan tradisinya di tengah perubahan zaman.

Mengenal Alifuru berarti mengenal salah satu bagian dari keragaman budaya Indonesia. Menghargai keberadaannya berarti turut menghargai pengetahuan, tradisi, lingkungan, dan identitas yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Sebab, menjaga masyarakat adat bukan berarti sekadar menjaga warisan masa lalu. Lebih dari itu, kita sedang menjaga pengetahuan dan nilai kehidupan yang masih memiliki arti penting bagi masa depan kebudayaan Indonesia.

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
085287863897
Ikuti Kami
InstagramTiktokX