InstagramTiktokX
Kamis, 05 September 2024

"Rempah & Kita": Membangun Tradisi Belajar dan Pemahaman Antarbudaya dengan Cara Merawat Warisan Budaya

DK
Dewi Kumoratih
Yayasan Negeri Rempah - Penerima Dana Indonesiana tahun 2024
Instalasi pameran Rempah & Kita di Hotel Borobudur Jakarta. Foto: BMK
Instalasi pameran Rempah & Kita di Hotel Borobudur Jakarta. Foto: BMK

Pernahkah kita membayangkan betapa kaya dan makmurnya Nusantara di masa lalu? Jalur Rempah, sebuah rute perdagangan maritim yang menghubungkan beberapa benua dan samudera, menjadikan wilayah kita pusat perhatian dunia. Rempah-rempah yang melimpah tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga menjadi jembatan pertukaran antarbudaya dan pengetahuan yang begitu kaya. Nilai-nilai toleransi, keberagaman, dan semangat gotong royong yang kita warisi saat ini, sebagian besar dipengaruhi oleh interaksi yang terjadi di sepanjang Jalur Rempah. Namun seiring berjalannya waktu dan zaman yang berubah, Jalur Rempah mulai terlupakan.

Pengalaman menonton sebuah dokumenter asing tiga belas tahun lalu telah menginspirasi saya untuk menggali lebih dalam mengenai jalur rempah. Si pembawa acara menarasikan kisah jalur rempah dengan cara yang sangat menarik. Kehadirannya di tengah masyarakat tradisi dan menjadi bagian dari keseharian mereka membuat saya bertanya dalam hati: Sejauh mana anak-anak kita masih memiliki keterikatan dengan tradisi leluhurnya? Bagaimana caranya merawat ingatan pengetahuan yang tersimpan dalam kearifan tradisi yang kerap terasingkan oleh modernisasi? Rempah dan kita sejatinya tidak berjarak. Kita tidak perlu terlalu jauh menengok pada ruang sejarah untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan: “bagaimana kita dapat bertahan hidup melampaui ruang dan waktu?” Kita hanya perlu kembali pulang ke rumah tradisi di mana rempah merupakan bagian dari ritus kehidupan - sejak berada dalam kandungan, dilahirkan, menjadi dewasa, menikah, menua, hingga berpulang ke rahim Ibu.

Rempah begitu dekat dengan keseharian kita bahkan senantiasa hadir sebagai ungkapan rasa syukur bahkan penolak bala. Rempah bagi kita orang Nusantara, bukanlah sekadar bahan. Ia bahkan mencerminkan mimpi, ketakutan, harapan, dan kemenangan kita. Dari pasar yang ramai di Asia Tenggara hingga dapur termegah di berbagai belahan dunia, rempah dipuja karena rasa, penyembuhan, dan signifikansi budayanya.

Pada 18 Agustus 2024, sehari setelah peringatan 79 tahun kemerdekaan Indonesia, kami menggelar pameran "Rempah dan Kita" hingga 31 Agustus di Hotel Borobudur Jakarta. Kegiatan ini merupakan sebuah inisiatif yang digawangi oleh Yayasan Negeri Rempah dan jaringan komunitasnya untuk menggali kembali hubungan mendalam antara manusia dan alam, khususnya rempah-rempah. Sebagai makhluk hidup yang sangat pandai beradaptasi, manusia selalu belajar dari lingkungannya.

Dari generasi ke generasi masyarakat tradisi mengumpulkan pengetahuan mendalam tentang tumbuhan rempah yang berkhasiat dengan caranya masing-masing, selaras dengan kondisi alamnya. Rempah digunakan mulai dari pelengkap ritual agama, obat-obatan, bahan pengawet, penyedap rasa, wewangian, pewarna alami, hingga perawatan tubuh. Tidak mengherankan bila rempah tertanam kuat dalam tatanan budaya Indonesia. Tradisi dan praktik pemanfaatan rempah ini diwariskan secara berkelanjutan turun-menurun. Mengetengahkan pengetahuan tradisional dari beberapa daerah di Indonesia, pameran ini mengajak kita melambat sejenak untuk kembali menemukan ingatan akan kosa rasa yang hilang dalam hiruk-pikuk jaman, serta memperkenalkan anak-anak kita pada pengetahuan tradisi warisan nenek moyangnya.

Pameran ini menyajikan peran rempah dalam ritus kehidupan kita sebagai tolak bala, jamuan syukur, ekspresi artistik, termasuk bagaimana kebiasaan orang Indonesia menanggulangi gangguan kesehatan yang sangat akrab dengan kita yaitu ‘masuk angin’.

Gotong-Royong Merawat Warisan Budaya

Sejak masa persiapan hingga program publik “Rempah dan Kita” dilaksanakan, saya sangat terinspirasi dengan semangat sahabat-sahabat kolaborator yang berasal dari berbagai komunitas dan latar belakang. Mulai dari para pelestari cagar budaya, akademisi, praktisi kuliner, guru, petani, desainer, peneliti, pengrajin, pelaku UMKM, dunia usaha, hingga mahasiswa - lintas usia, lintas sektor, lintas disiplin - ke semuanya menunjukkan antusiasme yang luar biasa untuk berkontribusi. Dibuka dengan menginang sirih bersama, program ini menjadi ruang kolaboratif untuk saling belajar antara satu dengan lainnya.

Ide-ide dan gagasan segar bermunculan ketika semua yang terlibat menyadari pentingnya merawat berbagai pengetahuan tradisi dan mulai membicarakan potensi-potensi kreatif ke depan dalam konteks sosial budaya hingga ekonomi. Beberapa diantaranya adalah hadirnya produk-produk berbasis rempah yang unik dan bernilai tambah tinggi seperti makanan olahan rempah, minuman herbal, perawatan tubuh, termasuk buku-buku dan memorabilia yang terinspirasi dari narasi Jalur Rempah.

Menuju Pencatatan Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia

Sejak 2017 pemerintah Indonesia melalui Kemendikburistek tengah berupaya untuk mengusulkan pencatatan Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia. Jalur pertukaran antarbudaya dan pengetahuan ini berperan besar membentuk sejarah peradaban. Karena sifatnya yang lintas negara, pengajuan Jalur Rempah harus dilakukan secara bersama dengan negara-negara lain yang memiliki keterhubungan dengan jalur ini. Artinya, Jalur Rempah bukan lagi hanya milik Indonesia saja, melainkan warisan milik dunia yang diamanahkan kelestarian dan keberlangsungannya pada kita semua.

Status ini berpotensi menjadi medium yang memantik inspirasi serta tindakan nyata atas upaya peningkatan kualitas hidup karena memberikan perspektif kontekstual agar kita bisa berkontribusi menjawab tantangan kontemporer seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, pengentasan kemiskinan, kesetaraan dan berbagai tantangan lainnya. Jalur Rempah, meski kaya akan sejarah, belum dipahami secara luas oleh masyarakat. Konsep ini melampaui perdagangan rempah, bahkan menjadi metafora dari interaksi budaya yang dinamis. Pemahaman mendalam akan Jalur Rempah membutuhkan masyarakat yang menghargai perbedaan dan senantiasa belajar.

Dana Indonesiana: Katalis Kolaborasi dan Inovasi dalam Merawat Warisan Rempah

Dukungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Dana Indonesiana LPDP telah menjadi katalis penting dalam keberhasilan program "Rempah dan Kita". Bantuan finansial yang diberikan memungkinkan kami untuk menjalankan berbagai kegiatan yang sebelumnya sulit dilakukan karena keterbatasan sumber daya terutama pendanaan.

Dukungan Indonesiana ini sangat membantu untuk: (1) mendukung pengumpulan data dan informasi tentang pengetahuan tradisional yang masih banyak terserak di berbagai pelosok daerah; (2) memfasilitasi komunitas dan masyarakat umum terutama kaum muda untuk menemukan cara-cara baru dalam produksi pengetahuan; (3) memfasilitasi program publik seperti pameran dan sesi berbagi; dan yang tak kalah penting adalah (4) membangun jejaring kerja sama dan kemitraan yang bersifat kolaboratif dengan berbagai pihak untuk secara bergotong royong memperluas dampak program.     

Dampak nyata dari dukungan yang diberikan diantaranya adalah munculnya inisiatif-inisiatif kreatif untuk menemukan metode produksi pengetahuan yang segar dalam memperkenalkan pengetahuan tradisi pada generasi muda, seperti menghidupkan karakter-karakter rempah, permainan kartu rempah, dan sesi berbagi dengan beragam komunitas. Meskipun teknologi menawarkan kemungkinan, teknologi tidak dapat menggantikan kekuatan hubungan manusia dan pembelajaran kolaboratif.

Demikian pula dengan antusiasme kolaborator komunitas dari beberapa daerah seperti Sahabat Cagar Budaya (Palembang, Sumatera Selatan), Komunitas Dupa (Makassar, Sulawesi Selatan), Ternate Heritage Society (Ternate, Maluku Utara), Puta Dino Kayangan (Tidore, Maluku Utara), Telinsong Budaya (Belitung), Beranda Warisan Sumatera (Medan, Sumatera Utara), Terminal Benih dan bakul Goronto (Gorontalo), dan lain-lain. Mereka bersemangat berbagi cerita dan pengetahuan tradisi dari asal masing-masing.

Program "Rempah dan Kita" adalah bukti nyata bahwa dengan dukungan dan kerja sama yang baik, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik. Melalui pelestarian warisan budaya, kita tidak hanya menjaga identitas bangsa, tetapi juga saling berbagi pengetahuan sehingga semakin terbuka peluang bagi pembangunan yang berkelanjutan. Terima kasih, Indonesiana.[*]

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX