InstagramTiktokX
Senin, 07 Juli 2025

Pustakawan dan Pustaka di Awan

JP
Jaka Perbawa
M. Hum
Gedung Perpustakaan Nasional di Jl. Imam Bonjol No. 1 Jakarta Pusat pada 1985, sebelum menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi (sumber: Munasprok)
Gedung Perpustakaan Nasional di Jl. Imam Bonjol No. 1 Jakarta Pusat pada 1985, sebelum menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi (sumber: Munasprok)

Koleksi-koleksi manuskrip, koran-koran, majalah serta karya cetakan lainnya lambat laun akan hancur atau rusak dimakan usia. Digitalisasi koleksi tersebut terus berjalan seiring perkembangan teknologi. Teknologi yang cepat berganti tentu saja akan berimbas kepada pembaruan koleksi yang juga dilakukan setiap saatnya. Tentu kita pernah mengalaminya saat berkunjung ke perpustakaan, kita hanya disuguhi koleksi buku berbentuk digital karena bahan pustaka yang asli tidak lagi dapat diakses karena kerentanan bahannya. Namun, pengembangan koleksi digital tidaklah berhenti sampai di situ saja, mengingat generasi terus berganti pun teknologi informasi yang berkembang lebih cepat membuat sarana penyaji koleksi turut terimbas.

Di sinilah peran seorang pustakawan harus memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan, bukan semata-mata mengalihmediakannya ke bentuk digital. Menurut Suhenrik (2006) “Pustakawan yaitu seorang yang melakukan kegiatan pada perpustakaan untuk memberikan pelayanan terhadap pengunjung dan pengguna sesuai dengan yang sudah diberikan oleh lembaga yang berdasarkan pada ilmu pengetahuan, dokumentasi dan informasi yang dimiliki berdasarkan pendidikan”. Sedangkan menurut Reitz (2004) “Pustakawan adalah orang yang dilatih untuk profesional dalam mengelola perpustakaan dan bertanggung jawab atas isi yang ada pada perpustakaan, dan juga menyeleksi, mengatur buku- buku dan diolah dengan baik, sumber informasi, pengajaran dan melayani peminjaman buku untuk memenuhi kebutuhan pengguna”.

Banyak Tantangan Menjadi Pustakawan

Peran seorang pustakawan di negara yang budaya literasinya masih rendah tentu menjadi tantangan tersendiri. Menurut survei oleh majalah CEOWORLD pada 2024 yang dilakukan kepada para pembaca buku di 102 negara, orang Amerika membaca rata-rata 17 buku per tahun, dan orang India membaca 16 buku. Sedangkan orang Indonesia berada di peringkat ke-31 dengan rata-rata 5,91 buku per tahun. Hal menarik lainnya adalah, baik orang Amerika maupun India lebih menyukai buku cetak ketimbang buku elektronik atau buku audio kendati tren digital mulai merambah ke produk-produk buku. Sejatinya, tantangan bagi seorang pustakawan bukan lagi sebatas meningkatkan minat dan budaya baca masyarakat dengan koleksi pustaka yang ada, namun lebih jauh dari itu yaitu menciptakan inovasi-inovasi dalam menyajikan bentuk-bentuk baru sumber pustaka kepada masyarakat. Di masa depan bisa saja ruang-ruang di perpustakaan menjadi ruang pameran tetap bahan-bahan pustaka yang sudah tidak dapat lagi disentuh, karena isinya sudah dialihmediakan menjadi koleksi keliling yang dapat diakses masyarakat tanpa perlu hadir langsung ke perpustakaan.

Koleksi-koleksi yang sudah rentan kondisinya akan berubah wujud dan fungsinya menjadi bagian dari museum perpustakaan itu sendiri. Apa yang dulu dapat dipegang secara langsung saat membaca buku misalnya, ke depannya hanya dapat dilihat sebagai objek pajangan di ruang pamer perpustakaan. Pustakawan di kemudian hari akan menjadi seorang kurator museum perpustakaan yang akan berpikir bagaimana mengelola ruang pamer dengan tema-tema pameran. Gagasan tema-tema pameran yang tidak hanya sebatas penggunaan Sistem Dewey, namun menyentuh aspek tematis yang lebih dinamis sesuai selera sang pustakawan selaku kurator. Seorang pustakawan menjadikan ruang pamer sebagai etalase perpustakaan yang modelnya menyerupai katalog koleksi Pustaka untuk memandu pengunjung mencari koleksi pusataka yang diinginkannya.

Di bagian lain gedung perpustakaan, para pustakawan bersama tim tengah sibuk mengatur alur digitalisasi koleksi pustaka, proses produksi alih media bahan pustaka sekaligus mendistribusikan kepada masyarakat yang senantiasa ingin mengaksesnya. Pangkalan data inilah yang akhirnya menjadi sumber utama lalu lintas keluarnya bahan pustaka untuk diakses penggunanya. Pangkalan data yang berkeliling dunia tanpa batas teritorial menyeruak masuk ke ruang privat, ke hadapan pembacanya. Tantangan dan sekaligus peluang cerah, agar profesi pustakawan tetap lestari kendati bahan pustaka aslinya telah musnah selamanya.

Selamat Hari Pustakawan!

Referensi:

Chairul, R. (2019). Literasi digital dalam pendidikan: Pemanfaatan teknologi dan media baru. Jurnal Pendidikan Digital, 5(2), 45-58

Kelas Menulis Pustakawan. 2019. Literasi dan Pustakawan Era 4.0 . Surakarta

Reitz, Joan M. 2004. Dictionary for Library and Information Science. London. Libraries Unlimited

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX