Purnakala Hari Purbakala

Peristiwa yang diperingati setiap tahunnya di dalam dunia arkeologi Indonesia adalah hari purbakala yang jatuh pada tanggal 14 Juni yang diambil dari tanggal 14 Juni 1913, ketika Oudheidkundige Diens (Dinas Purbakala) secara resmi didirikan oleh Pemerintah Hindia-Belanda untuk mengerjakan dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi pelestarian peninggalan purbakala dan fungsi penelitian arkeologi.
Secara etimologi Arkeologi atau ilmu kepurbakalaan berasal dari bahasa Yunani, archeo yang berarti “kuno” dan logos berarti “ilmu”. Sedangkan secara terminologi Arkeologi bermakna studi aspek-aspek sosial dan kultural masa lampau melalui sisa-sisa material dengan tujuan untuk menyusun dan menguraikan peristiwa yang terjadi dan menjelaskan arti peristiwa tersebut. Sisa-sisa material ataupun benda-benda tinggalan manusia merupakan data penting dalam memperoleh informasi untuk mengetahui peristiwa masa lalu. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan manusia masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan sebelum dikenal tulisan (prasejarah), maupun sesudah dikenal tulisan (sejarah), serta mempelajari budaya masa kini yang dikenal dengan riset budaya bendawi modern (modern material culture) (Nurkidam & Herawaty, 2019)
Arkeologi merupakan ilmu yang memiliki kaitan erat dengan sejarah. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa baik ilmu arkeologi maupun ilmu sejarah sama-sama mengungkap kehidupan manusia pada masa lalu. Meskipun demikian antara ilmu arkeologi dan ilmu sejarah juga memiliki perbedaan sumber data yang digunakan. Sejarah lebih banyak menggunakan sumber tertulis sedangkan arkeologi lebih banyak menggunakan sumber data dari benda-benda fisik berupa tinggalan-tinggalan kebudayaan masa lampau yang diperoleh melalui proses ekskavasi, sehingga arkeologi menjadi tumpuan untuk penelitian sejarah (Uka S, 2009). Arkeologi berusaha mengungkapkan kehidupan manusia masa lalu dengan merekonstruksi sejarah kebudayaan, merekonstruksi cara-cara hidup manusia, serta merekonstruksi proses budaya melalui bentuk, fungsi, maupun proses pembuatan, pemakaian, pembuangan dan daur ulang benda budaya serta konteksnya dengan lingkungan sekitar (Ardiwidjaja, Roby, 2018).
Paul Bahn, menyatakan arkeologi adalah suatu kajian sistematik tentang masa lampau yang berdasarkan budaya kebendaan dengan tujuan untuk membongkar, menerangkan dan mengklasifikasikan tinggalantinggalan budaya, menguraikan bentuk dan perilaku masyarakat masa silam serta memahami bagaimana ia terbentuk dan merekonstraksinya seperti semula. Di Indonesia, awalnya arkeologi hanya mempelajari pra sejarah kemudian berkembang dan mulai mempelajari raja-raja dari masa Indonesia Hindu (Koentjaraningrat, 2000). Ilmu arkeologi di Indonesia tidak berhenti di masa itu saja. Setelah periode kerajaan Hindu Buddha, pembabakan kebudayaan di Indonesia dilanjutkan dengan periode Islam dan Kolonial.
Dalam perkembangan selanjutnya, arkeologi mempelajari kehidupan manusia pada masa lalu maupun modern yang menekankan pada hubungan benda budaya dengan perilaku manusia pada keseluruhan ruang dan waktu. Menjelaskan bahwa arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan masyarakat masa lalu melalui peninggalannya. Meskipun mengkaji sesuatu yang telah lalu, namun sebenarnya Arkeologi sangat dinamis. Dinamika tersebut terjadi karena penelitian terhadap data arkeologi belum terungkap semuanya (Akbar, 2010).
Para arkeolog masa kini telah dicontohkan bagaimana proses pengkajian untuk mengungkap kehidupan masa lalu yang dipelajari melalui tinggalan yang ada. Sejarah pengkajian juga telah menjadi bagian dari sebuah sejarah itu sendiri. Perkembangan teknologi merupakan bagian dari kesadaran berproses untuk mempermudah dalam melakukan kajian-kajian arkeologis.
Purnakala hari purbakala sebagai pengingat dalam memaknai dan membahas ulang periodisasi peradaban umat manusia. Kehidupan kuno bagi masa kini, masa kini akan disebut sebagai masa kuno oleh peradaban di masa depan. Jika prasejarah dianggap sebagai periode peradaban sebelum mengenal tulisan dan sejarah sebagai periode peradaban setelah mengenal tulisan, apakah berarti akan ada periode baru di masa depan, periode peradaban dengan titik berat yang tidak lagi menggunakan tulisan namun kembali ke budaya simbolis, kode-kode dan gambar?
Upaya pengungkapan tinggalan arkeologis masa lalu dari setiap periode peradaban yang telah berlangsung dari waktu ke waktu mungkin saja akan paripurna pada akhirnya. Di masa depan para arkeolog bisa saja hanya memfokuskan tugas penggalian tinggalan peradaban masa kini, karena apa yang telah ditemukan, dimaknai dan dilestarikan dari tinggalan masa lalu telah dilakukan dan terpenuhi oleh para arkeolog masa kini. Kesulitan-kesulitan yang dialami para arkeolog dalam upaya pelestarian tinggalan masa lalu apakah juga akan menimpa para arkeolog di masa depan? Purnakala tugas arkeolog masa kini yang telah mewariskan tinggalan ilmu pengetahuan menjadi bekal sekaligus meringankan tugas arkeolog di masa depan. Pengulangan-pengulangan kembali untuk memaknai tinggalan masa lalu tidak akan berlangsung secara terus menerus jika para arkelog masa kini sudah bekerja secara paripurna.
Referensi
Akbar, Ali. 2010. Arkeologi Masa Kini. Jatinangor: Alqoprint
Ardiwidjaja, Roby. 2018. Arkeowisata Mengembangkan Daya Tarik Pelestarian Warisan Budaya, cetakan ke-1. Deepublish: Yogyakarta
Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Nurkidam, A & Hasmiah Herawaty. 2019. Arkeologi sebagai Suatu Pengantar. Pare-Pare: CV. Kaaffah Learning Center.
Tjandrasasmita, Uka. 2009. Arkeologi Islam Nusantara: dalam Pengantar. Kepustakaan Populer Gramedia: Jakarta.
