Planet Kita: Pernah Remaja, Kini Menuju Senja

“Ini semua salah. Aku seharusnya tidak berada di atas sini. Aku harus kembali ke sekolah di seberang lautan. Namun kalian semua datang kepada kami anak-anak muda untuk berharap? Beraninya kau! Kau telah mencuri mimpiku dan impianku. masa kanak-kanak dengan kata-kata kosongmu. Namun aku salah satu yang beruntung” (Kutipan pidato Greta Thunberg, seorang aktivis muda yang mewakili gerakan iklim di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Aksi Iklim Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tahun 2019)
Perubahan Iklim telah menjadi masalah prioritas, dan masalah besar yang jika kita gagal menanganinya akan menyebabkan keruntuhan keanekaragaman hayati dan menjadi akhir dari umat manusia dan planet seperti yang kita kenal. Kita telah mengetahui fakta bahwa sejak 2005-2015 permukaan air laut naik rata-rata 3,6mm setiap tahun karena pemanasan global. Polusi udara, kebakaran hutan, sampah plastik laut, sebenarnya hanyalah puncak gunung es yang terlihat dari dampak perubahan iklim pada kehidupan kita. (Thalani, 2021)
Kemajuan teknologi di satu sisi dengan beragam inovasi yang terjadi dan berkembang dari waktu ke waktu memiliki sumbangsih besar bagi kemajuan peradaban dunia, hal yang tak dapat dipungkiri tentunya. Namun di sisi lain juga menafikan resiko keberlangsungan hidup lingkungan tempat kita berdiam secara perlahan. Sistem pengetahuan adaptif yang secara tradisi diwariskan turun temurun dan dipertahankan oleh semua peradaban kebudayaan pun telah sama-sama kita ketahui dan dapat dipelajari, bahwasanya manusia memiliki ketergantungan absolut dengan lingkungan tempat mereka beraktivitas dan bertahan hidup.
Satu dari sekian masyarakat tradisional yang tersisa serta masih mempertahankan warisan tradisi di bidang lingkungan hidup dan pelestariannya adalah Suku Baduy. Filosofi Suku Sunda dan Baduy mengenai lingkungan yang berbunyi leuweung ruksak, cai béak, manusa balangsak menjadi motto Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), yang tersusun menjadi kalimat “No Forest, No Water, No Future. Leuweung Ruksak, Cai Béak, Manusa Balangsak. Tiada Hutan, Tiada Mata Air, Tiada Masa depan”. Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda sendiri adalah sebuah organisasi yang berfokus pada pelestarian hutan, lingkungan hidup, dan pemberdayaan masyarakat desa hutan di Jawa Barat dan Banten melalui program-program kehutanan, pangan, energi, kelembagaan, budaya lokal, hukum, bencana, dan advokasi. Organisasi ini didirikan pada tahun 2001 dan telah melakukan berbagai kegiatan.
Sebaran hasil penelitian yang telah secara komprehensif meneropong cara hidup, falsafah hidup, serta upaya masyarakat Baduy dalam merespon modernisasi. Perubahan akibat modernisasi yang ditambah dengan pertambahan penduduk, telah mendorong masyarakat Baduy untuk melakukan penyesuaian dalam aspek inti budaya, terutama dalam hal teknologi (teknik dan pengetahuan) yang berkaitan dengan kehidupan subsistensi dan aktivitas ekonomi. Adanya perbedaan dalam cara dua subkultur Baduy menyesuaikan inti budaya dengan perubahan-perubahan ini, sebagian besar disebabkan oleh tingkat ketaatan mereka terhadap pikukuh dan buyut, yang merupakan landasan etik-normatif yang diwariskan melalui kepercayaan agama Sunda Wiwitan. Selama proses adaptasi ini, elemen-elemen inti budaya masyarakat Baduy menjadi krusial dalam menentukan bagaimana mereka merespons perubahan lingkungan sosial dan ekonomi mereka. Selain itu, ekospiritualitas, yaitu sistem nilai-nilai spiritual yang menjadi pedoman dalam pengelolaan sumber daya alam, juga memainkan peran penting dalam cara masyarakat Baduy mengatasi tantangan modernisasi dan menjaga keseimbangan ekologi mereka. (Setiawan dkk, 2023).
Konsistensi dan keteguhan masyarakat Baduy dalam menjaga kearifan lokalnya juga dapat diartikan sebagai bentuk adaptasi mereka terhadap paparan arus globalisasi dan modernisasi. Mekanisme bertahan dan resistensi seperti ini merupakan respons masyarakat Baduy terhadap perubahan dan perkembangan dinamika global. Mereka memiliki prioritas dan nilai-nilai yang perlu dijaga dan justru hal ini sangat baik untuk menangkal segala bentuk dampak negatif yang mungkin saja bisa masuk ke wilayah dan masyarakat mereka. Misalnya saja seperti yang dilakukan oleh Suku Baduy Luar, dengan tingkat adaptasi yang lebih moderat mereka tidak sepenuhnya menolak modernisasi, perubahan, reformasi, ataupun transformasi budaya luar (terlebih untuk urusan pendidikan dan aktivitas ekonomi). Mereka masih tetap waspada, selektif dan mempunyai alasan yang kuat untuk menerima tranformasi tertentu. Dengan demikian di satu sisi, Suku Baduy Luar bisa meminimalisasi pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh arus globalisasi. (Nurfalah dkk, 2023)
Simpulan dalam rangka peringatan Hari Bumi tahun 2025 yang mengambil tema “Kekuatan Kita, Planet Kita” adalah, tidak perlu memaksakan penggunaan cara-cara modern kepada masyarakat yang masih memegang teguh sistem pengetahuan tradisi dalam penanganan pelestarian lingkungan hidup. Fokuskan saja kepada masyarakat modern yang telah abai melestarikan warisan tradisi dalam merawat lingkungan tempatnya hidup. Memang tidak ada kata terlambat untuk mengembalikan pemahaman tradisi terkait isu lingkungan saat ini, namun ”Permasalahan Modern Memerlukan Solusi Modern”. Upaya kolaboratif dalam penanganan isu-isu lingkungan hidup dan pelestariannya antara masyarakat tradisional dan masyrakat yang memiliki bekal pengetahuan modern dapat sama-sama melakukan aksi nyata tanpa mendiskreditkan metode dan cara masing-masing. Demi tujuan mulia yang sama, untuk merawat lebih lama lagi planet bumi yang sama-sama kita diami ini. Tentunya agar Greta-Greta lain di masa depan tidak mengalami kesusahan dan menyalahkan kita sebagai generasi pendahulu yang mewariskan planet bumi yang kotor dan tidak layak huni bagi mereka.
“Heal the world… Make it a better place… For you and for me and the entire human race. There are people dying… If you care enough for the living… Make a better place for… You and for me’ (Michael Jackson – Heal The World 1991)
Daftar Bacaan
Thalani, Moh. Febri. 2021. Anak Muda Indonesia dan Perubahan Iklim. Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit. Jakarta.
Nurfalah, Lisa., Chesya Sera De Claresya, dan Muhammad Brilliant Bidjaksono. 2023. Adaptasi Masyarakat Suku Baduy Luar Terhadap Perkembangan Global Berbasis Kearifan Lokal. Journal of Socio-Cultural Sustainability and Resilience. VOLUME 1, ISSUE 1.
Setiawan, Nur., Rina Mardiana dan Soeryo Adiwibowo. 2023. Adaptasi Masyarakat Baduy terhadap Pertumbuhan Penduduk dan Modernisasi: Studi Ekologi Budaya dan Ekospiritualitas di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. Focus Vol. 4, No. 2.
Bahrudin, Babul & Achmad Zurohman. Dinamika Kebudayaan Suku Baduy dalam Menghadapi Perkembangan Global di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Universitas Islam Zainul Hasan. Probolinggo.
Senoaji, Gunggung. Dinamika Sosial dan Budaya Masyarakat Baduy dalam Mengelola Hutan dan Lingkungan. Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu.
-----------2004. Pemanfaatan Hutan dan Lingkungan oleh Masyarakat Baduy di Banten Selatan.
Jurnal Manusia dan Lingkungan, Vol. XI, No. 3, November 2004. Pusot Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
