Perkembangan Pers di Indonesia dan Peranannya dalam Pelestarian Budaya

Pers telah berkembang dengan pesat dalam waktu yang panjang dan telah menjadi salah satu pilar penting di lingkungan masyarakat. Pers di Indonesia telah berlangsung sejak abad ke-17. Pada kala itu Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Surat kabar pertama di Hindia Belanda merupakan koran Bataviasche Nouvelles. Namun, surat kabar pada saat itu belum memenuhi kepentingan masyarakat terutama pribumi karena banyak dikelola oleh orang Belanda sendiri.
Pada awalnya surat kabar yang beredar hanya berisi iklan-iklan saja. Namun, seiring berjalannya waktu, surat kabar mulai berisi informasi atau berita. koran pertama milik pribumi di Indonesia didirikan oleh Tirto Adhi Soerjo (Bapak Pers Nasional) pada abad ke-19. Melalui media yang ia dirikan, pers mulai menjadi alat untuk bersuara terutama bagi pribumi.
Selain Tirto Adhi Soerjo, Marco Kartodikromo yang merupakan murid Tirto pun dikenal sebagai seseorang yang menggunakan pers sebagai alat perjuangannya melawan Belanda. Meskipun Marco tak memiliki pendidikan yang cukup tinggi, beliau memiliki minat yang besar dalam dunia jurnalistik. Keduanya menjadi tokoh yang terkenal atas keberaniannya dalam melawan kolonialisme Belanda.
Pada kala itu pers di Indonesia masih didominasi oleh media cetak. Perkembangan media penyiaran seperti radio dan televisi mulai mengudara tak lama setelah Indonesia merdeka. Kehadiran kedua media penyiaran ini membuat penyebaran informasi jauh lebih cepat dan lebih luas jangkauannya dibandingkan media cetak.
Memasuki era digital, kemunculan media online diawali oleh Tempo Interaktif pada tahun 1996 disusul oleh Detik.com, Kompas Cyber Media, Astaga.com, Lippostar.com dan berbagai media lainnya. Hal ini menjadi langkah baru untuk dunia pers dalam memperluas jangkauan audiens.
Di era modern ini, peran pers tidak hanya bertugas untuk menyampaikan informasi dan berita, tetapi juga bertanggung jawab dalam menjaga dan merawat nilai-nilai budaya. Dengan begitu tugas pers menjadi semakin penting dan krusial. Hal ini dikarenakan banyaknya pengaruh budaya luar yang sangat mudah masuk ke Indonesia. Dengan begitu, budaya luar tersebut dapat memengaruhi pola pikir, gaya hidup hingga tidak sedikit masyarakat Indonesia yang melupakan budaya tanah airnya.
“Pengaruh budaya luar menjadi tantangan tersendiri bagi pers dalam menjaga dan mempertahankan budaya Indonesia. Oleh karena itu, pers memiliki peran penting dalam mengenalkan serta mengedukasi masyarakat tentang pelestarian budaya nasional. Melalui perluasan jangkauan informasi hingga ke tingkat global, pers dapat memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada publik melalui narasi kuat tentang seni, tradisi, adat istiadat, hingga sejarah bangsa.”
Di tengah banjirnya informasi, pers memiliki tantangan lebih dalam memperkuat tulisan. Pengaruh budaya luar serta persaingan antar media memaksa pers untuk menyajikan konten yang berkualitas dan menarik audiens.
Oleh karena itu, pers diharapkan dapat terus berkembang dari segi kualitas maupun kuantitas. Selain itu, Kualitas audiens pun juga penting untuk ditingkatkan termasuk tingkat literasi masyarakatnya. dengan tingkat literasi yang tinggi, masyarakat dapat lebih kritis dalam mencerna informasi yang didapatkan. Dengan begitu pers dan masyarakat dapat saling mendukung satu sama lain.
Sejalan dengan tantangan dan peran pers di era modern, Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) Tahun 2026 mengusung tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat.” Tema ini menegaskan pentingnya pers yang profesional, berintegritas, dan berkelanjutan dalam mendukung pembangunan nasional, termasuk dalam menjaga demokrasi dan pelestarian budaya. Pers yang sehat tidak hanya mampu menyajikan informasi yang akurat dan berimbang, tetapi juga berperan aktif dalam memperkuat identitas bangsa di tengah arus globalisasi dan pengaruh budaya luar.
Melalui tema tersebut, diharapkan pers Indonesia mampu terus menjadi ruang edukasi publik, pengawas sosial, serta medium yang merekam dan menyebarluaskan kekayaan budaya nusantara. Dengan dukungan masyarakat yang memiliki tingkat literasi tinggi, pers dan publik dapat saling menguatkan dalam menciptakan ekosistem informasi yang sehat, membangun kesadaran budaya, serta menjaga kedaulatan bangsa di era digital yang terus berkembang.
