Perempuan dan Budaya: Penjaga, Pencipta, Penggerak

Setiap kali kita menyaksikan tari tradisional dipentaskan, kain tenun dipamerkan, atau resep warisan keluarga kembali dimasak saat perayaan, ada satu peran yang sering luput disebut secara terang. Perempuan.
Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional, penting untuk melihat bagaimana perempuan bukan hanya bagian dari kebudayaan, tetapi penggerak utamanya. Mereka hadir sebagai penjaga ingatan, pengajar nilai, sekaligus inovator yang membuat tradisi tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Jika di dunia busana, nama Anne Avantie dikenal luas karena mempopulerkan kebaya dengan pendekatan modern tanpa menghilangkan akar tradisinya. Melalui panggung nasional hingga internasional, kebaya hadir bukan sekadar busana seremoni, melainkan simbol identitas yang fleksibel dan hidup. Ia juga melibatkan pengrajin daerah dalam proses kreatifnya, menjadikan inovasi berjalan beriringan dengan pemberdayaan komunitas.
Beranjak ke ranah tekstil tradisional, Josephine Komara atau Obin dari BINhouse menunjukkan dedikasi panjang pada riset kain Nusantara. Ia menelusuri teknik pewarnaan alami, mempelajari filosofi motif, dan mendokumentasikan proses tradisional yang nyaris tergerus zaman. Karyanya menempatkan batik dan tenun Indonesia dalam percakapan global tanpa mengorbankan nilai autentiknya.
Di industri kreatif lainnya, Ni Luh Djelantik membawa semangat budaya Bali ke dalam desain alas kaki yang dikenal hingga mancanegara. Ia konsisten menyuarakan pentingnya kebanggaan terhadap produk lokal dan identitas budaya sendiri. Lewat karya dan sikapnya, budaya tidak hanya dipakai sebagai ornamen, tetapi sebagai pernyataan.
Sementara itu di dunia perfilman, Mira Lesmana menghadirkan kisah-kisah berlatar sejarah, sastra, dan identitas Indonesia ke layar lebar. Film menjadi medium yang efektif untuk menjangkau generasi muda, memperkenalkan kembali narasi budaya dalam bahasa visual yang relevan dengan zaman.
Di luar sorotan media, ribuan perempuan lain bekerja dalam senyap. Penenun di Nusa Tenggara, perajin batik di Pekalongan, pelatih tari di sanggar-sanggar daerah, hingga pengajar bahasa ibu di komunitas kecil. Mereka mungkin tidak selalu muncul di halaman depan berita, tetapi tanpa mereka, banyak praktik budaya akan berhenti diwariskan.
Hari Perempuan Internasional bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat bahwa kontribusi perempuan dalam kebudayaan perlu diakui, didukung, dan diperkuat. Ketika perempuan memiliki akses pada pendidikan, pendanaan, dan ruang berekspresi, budaya tidak hanya bertahan, tetapi berkembang dengan lebih beragam dan inklusif.
Budaya Indonesia hidup karena ada yang setia merawatnya dari generasi ke generasi, dan sering kali, yang merawat itu adalah perempuan. Sudahkah kita memberi ruang yang cukup bagi perempuan untuk terus menjadi penggerak kebudayaan?
