InstagramTiktokX
Jumat, 16 Mei 2025

Museum Buku Nasional di Masa Depan

JP
Jaka Perbawa
Bung Hatta berkata “Buku membentuk watak bangsa”, Hatta tidak peduli di manapun raganya berada yang penting buku-bukunya ikut dalam pengasingan. Karena dengan buku, Hatta merasa bebas. Pada 28 Januari 1935, Hatta tiba bersama tahanan politik lainnya di Bo
Bung Hatta berkata “Buku membentuk watak bangsa”, Hatta tidak peduli di manapun raganya berada yang penting buku-bukunya ikut dalam pengasingan. Karena dengan buku, Hatta merasa bebas. Pada 28 Januari 1935, Hatta tiba bersama tahanan politik lainnya di Bo

Telah lama kita mengetahui istilah “Buku adalah Jendela Dunia” yang memliki makna kurang lebih adalah buku sebagai sumber pengetahuan untuk mengetahui dunia beserta isinya. Istilah lama yang entah siapa yang mencetuskan atau mempopulerkan namun telah menjadi pemahaman bersama umat manusia bagaimana memposisikan sebuah buku dalam tataran peradaban dunia.

Definisi buku menurut UNESCO pada 1964 menjelaskan bahwa buku adalah publikasi tercetak, bukan berkala, yang sedikitnya memiliki 48 halaman, jika kurang, maka belum bisa dianggap sebagai buku. Kedua proklamator kita memiliki pandangan dalam memaknai buku, antara lain:

"Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas." - Moh Hatta,

"Saya masuk di dalam buku-buku, saya membaca buku banyak sekali, malahan saya berkata, "in the world of the mind, I met the great man. Di dalam alam khayal, di dalam alam pemikiran itu, saya berjumpa dengan orang-orang besar." - Ir. Soekarno

 

Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei dicetuskan pertama kali oleh Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar pada tahun 2002 yang bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tanggal 17 Mei 1980. Terkait lahirnya Perpustakaan Nasional, Presiden Soekarno dalam rancangan Pembangunan Nasional Semesta Berencana 1961-1969 telah menempatkan Pembangunan Bidang Mental dan Rohani yang di dalamnya mengenai Agama, Kebudayaan, dan Pendidikan pada posisi skala prioritas pertama yang mana salah satu projek utamanya adalah mendirikan Perpustakaan Nasional. Rencana Pendirian Perpustakaan Nasional saat itu adalah untuk memenuhi kebutuhan rakyat akan bacaan, menghimpun karya intelek bangsa dimana dapat memuat sebanyak 4 juta buku.

Pada awalnya Hari Buku Nasional memiliki tujuan untuk meningkatkan minat baca dan budaya literasi masyarakat Indonesia yang pada saat itu masih sangat rendah, selain itu adanya Hari Buku Nasional diharapkan bisa meningkatkan angka penjualan buku di Indonesia dan angka melek huruf pada masyarakat Indonesia. Kebiasaan membaca akan beriringan dengan perkembangan pendidikan. Maka dari itu, untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kita harus meningkatkan daya literasi terlebih dahulu. Dapat kita bayangkan apa yang terjadi pada 23 tahun lalu, demi untuk meningkatkan ketertarikan masyarakat kepada buku, pemerintah sampai harus mencanangkan sebuah hari khusus untuk mendongkrak minat baca masyarakat.

Membaca buku sama dengan membaca zaman. Bagaimana para penulis buku menuangkan gagasan dan pandangannya tentu sesuai dengan kondisi zaman saat karya buku itu dibuat. Bahasan tema anggaplah membahas tema yang sama pada setiap generasi, namun cara pandang para penulis buku di setiap generasi akan berbeda tergantung aspek sosial, budaya, dan politik yang tentu saja berbeda di setiap periode. Ide dan gagasan inilah yang selayaknya dipelajari dengan membaca buku. Buku tidak semata-mata sebagai sumber informasi yang dapat saja diperoleh melalui media lainnya sesuai perkembangan zaman, namun jiwa si penulis tidak akan bisa kita temukan melalui media internet misalnya.

Menurut survei oleh majalah CEOWORLD pada 2024 yang dilakukan kepada para pembaca buku di 102 negara, orang Amerika membaca rata-rata 17 buku per tahun, dan orang India membaca 16 buku. Sedangkan orang Indonesia berada di peringkat ke-31 dengan rata-rata 5,91 buku per tahun. Hal menarik lainya adalah, baik orang Amerika maupun India lebih menyukai buku cetak ketimbang buku elektronik atau buku audio kendati tren digital mulai merambah ke produk-produk buku.

Suatu negara akan berkembang pesat apabila warga negaranya memiliki minat membaca yang tinggi, karena semakin banyak kita membaca semakin banyak pula ilmu yang kita dapatkan dan wawasan kita semakin luas (Fhadillah, 2020). Minat baca pada anak usia dini sudah menjadi bahasan umum yang banyak dikaji karena merupakan gambaran permasalahan masyarakat Indonesia (Mail, 2020). Beragam penelitian yang diterbitkan melalui jurnal, skripsi, tesis dan lain sebagainya banyak membahas dan membicarakan strategi-strategi untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Setelah 80 tahun bangsa ini Merdeka, 45 tahun Perpustakaan Nasional berdiri, dan 23 tahun sejak dicanangkannya Hari Buku Nasional, permasalahannya tetap sama dan tantangannya masih berkutat di situ-situ saja.

Perlukah kiranya kita mulai merancang sebuah Museum Buku Nasional dari sekarang jika budaya literasi dan minat baca buku makin memprihatinkan. Teknologi-teknologi yang telah ketinggalan zaman, barang-barang yang sudah berganti bentuk ke yang lebih modern muaranya hanya akan dapat ditemukan di museum. Apakah suatu saat buku-buku tidak lagi akan dijumpai di perpustakaan namun malah di museum? Benarlah kiranya pandangan pendiri bangsa kita Tan Malaka mengenai buku "Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi."

Selamat Hari Museum Buku Nasional… eh Hari Buku Nasional

 

 

Referensi

-          Fhadillah, Maya Nurul. 2020. Pentingnya Meningkatkan Semangat Minat Membaca Siswa Melalui Perpustakaan. Al Adzkiya International of Education and Social

-          Mail, Siska Putri. 2020. Metode Storytelling untuk Meningkatkan Minat Membaca pada Anak Usia Dini di Raudatul Athfal Ummahat DDI Cappa Galung Kota Parepare. Skripsi. Institut Agama Islam Negeri Parepare.

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX