InstagramTiktokX
Rabu, 24 September 2025

Merawat Semangat Lewat Serat demi Ketahanan Pangan di Masa Depan

JP
Jaka Perbawa

Ketahanan pangan dewasa ini semakin digalakkan oleh pemerintah lewat Kementerian Pertanian dan instansi pemerintah terkait lainnya. Upaya ini menjadi sebuah antisipasi sekaligus adaptasi terhadap perubahan iklim yang lambat laut akan menyulitkan budidaya sumber pangan populer mengandung karbohidrat seperti padi, jagung, gandum dan sebagainya. Bonus demografi dan ledakan penduduk tentu akan sebanding dengan kebutuhan pangan bagi manusia sendiri. Di sisi lain kebutuhan akan lahan yang subur semakin tergerus dengan kebutuhan lahan pemukiman, hal yang di masa mendatang akan menyulitkan untuk menyeimbangkan antara sumber pangan dengan jumlah penduduk dunia. Pernahkah terbayangkan di masa depan kelaparan akan melanda dunia bukan karena faktor ekonomi, namun karena makin terbatasnya sumber makanan untuk dikonsumsi. Jika kebijakan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk tidak dapat lagi diharapkan hasilnya, maka terobosan lainnya adalah memperbanyak jenis-jenis makanan yang layak untuk dikonsumsi. Tiga momok menakutkan yang telah teridentifikasi dan menjadi bayang-bayang di masa depan karena saling terkait adalah pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, dan sumber makanan sebagai penunjang utama berjalannya kehidupan manusia.

Para peneliti bidang pertanian utamanya sektor teknologi hasil pangan terus menerus melakukan riset untuk diversifikasi hasil pertanian untuk diolah menjadi sumber pangan alternatif. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian pada 2013 sebagai contohnya, mengangkat tanaman sorgum sebagai bahan pangan alternatif yang secara tradisional memang sudah berkembang jauh-jauh hari oleh para petani di Nusa Tenggara Timur. Sorgum merupakan tanaman pangan yang sudah lama dikenal dan diusahakan oleh sebagian petani di Jawa dan Nusa Tenggara. Pengelolaan secara tradisional yang tercermin dari penggunaan benih dan pupuk seadanya menyebabkan hasil panen hanya 1-2 ton per hektar. Penggunaannya sebagai pemenuhan pangan keluarga bagi petani subsisten menyebabkan kurangnya dorongan untuk mendapatkan hasil panen yang lebih tinggi. Rendahnya areal panen sorgum dibandingkan komoditas lain, dalam dekade terakhir hanya sekitar 25 ribu hektar per tahun, menyebabkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap upaya pengembangan tanaman ini. Meski termasuk tanaman minor, sorgum sebenarnya mempunyai beberapa kelebihan dari tanaman pangan lain seperti lebih toleran terhadap kekurangan dan kelebihan air, tidak memerlukan masukan tinggi, dapat tumbuh baik di lahan marginal, dan relatif lebih sedikit terserang organisme pengganggu tanaman (OPT). Penelitian yang dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian maupun instansi lain seperti perguruan tinggi dan BATAN menunjukkan bahwa melalui pengelolaan yang baik serta penggunaan varietas unggul, tanaman sorgum mampu memberi hasil tinggi.

Kajian lapang yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang (kini Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi) pada tahun 1980-1990an membuktikan bahwa dengan waktu tanam dan pengelolaan yang tepat, hasil panen sorgum dapat mencapai 5-7 t/ha. Selain melepas beberapa varietas unggul sorgum, Badan Litbang Pertanian pun telah menginisiasi penelitian sorgum hibrida pada tahun 1990an melalui kerja sama dengan lembaga internasional ICRISAT (International Crops Research Institute for the Semi-Arid Tropics). Di sisi lain pengembangan sorgum juga dihadapkan kepada masalah keunggulan komparatif dan kompetitif dengan tanaman lainnya seperti padi dan jagung. Ketidaktersediaan pasar menyebabkan harga sorgum relatif rendah dibandingkan komoditas lain. Kemajuan teknologi yang menghasilkan jagung hibrida dengan hasil di atas 8 t/ha menyebabkan petani semakin enggan menanam sorgum. Sementara itu, selain mudah terserang hama gudang pada waktu penyimpanan, biji sorgum juga mengandung tanin yang memerlukan pengolahan untuk menghilangkannya sebelum dikonsumsi. Melonjaknya harga minyak dunia yang dibarengi oleh terus meningkatnya kebutuhan akan pangan dan pakan telah mendorong berbagai kalangan untuk mengembangkan sorgum sebagai sumber energi terbarukan.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan telah melakukan Demfarm Sorgum di beberapa provinsi dalam beberapa tahun terakhir sementara Kementerian BUMN juga melakukan pengembangan sorgum di beberapa lokasi di NTB dan NTT. Suatu kajian yang komprehensif tampaknya perlu dilakukan apakah sorgum memang bermanfaat untuk dikembangkan lebih lanjut dan bagaimana strategi pengembangannya. Beberapa pertanyaan yang memerlukan jawaban termasuk apakah sorgum yang akan dikembangkan adalah sorgum biji untuk mendukung ketahanan pangan dan pakan atau sorgum manis untuk bioetanol, pakan, dan industri atau keduanya. Wilayah pengembangan dan petaninya perlu pula diidentifikasi secara tepat melalui kerjasama berbagai pihak: Pemerintah Pusat dan Daerah, swasta, kelompok tani dan lembaga terkait lainnya. Dukungan penelitian diharapkan mampu menyediakan teknologi yang diperlukan sebagaimana halnya peralatan panen dan pascapanen serta jaminan harga yang layak.

Secara pendekatan budaya, para petani sorgum secara turun temurun telah memanfaatkannya sebagai sumber pangan pokok. Hal tersebut dikarenakan lahan kering nan gersang yang secara umum menjadi kondisi alami di Kawasan Nusa Tenggara Timur tidak cocok jika ditanami dengan tanaman-tanaman yang membutuhkan air dalam jumlah besar.

Kanal Budaya IndonesianaTV yang memiliki maksud dan tujuan melestarikan dan mempromosikan budaya Indonesia yang beragam kepada masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri melalui penayangan program-program yang mengangkat berbagai aspek budaya Indonesia, seperti kesenian, adat istiadat, tradisi, dan sejarah. Kanal Budaya IndonesianaTV ingin meningkatkan pengetahuan dan wawasan masyarakat tentang budaya Indonesia melalui penayangan program-program edukatif dan informatif yang dikemas dengan menarik dan mudah dipahami oleh semua kalangan.

Konten-konten kebudayaan yang terkait dengan bentuk pelestarian alam dan bentuk pemanfaatannya yang saat ini ada di platform IndonesianaTV adalah “Pohon Baik di Tanah Gersang”. Program “Pohon Baik di Tanah Gersang” merupakan dokumenter yang mengeksplorasi kehidupan masyarakat di Pulau Adonara, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang bergantung pada pertanian sorgum sebagai sumber kehidupan. Program ini menggambarkan tantangan yang dihadapi para petani di lahan yang gersang, serta inovasi dan teknik bercocok tanam yang mereka terapkan untuk bertahan hidup dan meningkatkan hasil panen.

Tayangan konten-konten kebudayaan yang terdapat di Kanal Budaya IndonesianaTV adalah sebentuk praktik baik yang diharapkan dapat menjadi asupan informasi yang edukatif yang muaranya adalah terwujudnya kebudayaan Indonesia yang tetap lestari dan menjadi penuntun bagi generasi selanjutnya.

 

Referensi

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. 2013. Sorgum: Inovasi Teknologi dan Pengembangan

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX