Menelurkan Tayangan Tentang Telur

Kita pernah mendengar pernyataan sekaligus pertanyaan yang sudah cukup tua umurnya, yaitu “Mana yang Lebih dulu? Telur dulu atau ayam dulu”. Bahasan yang selalu menjadi perbincangan menarik di berbagai kalangan di setiap kesempatan. Lalu kenapa yang menjadi objek sentral dalam pernyataan tersebur harus selalu telur ayam? Bukankah ada hewan-hewan lain juga yang bertelur di dunia ini seperti ular, buaya, cicak dan lain-lain. Namun pokok bahasan tulisan ini tidak akan memperbincangkan hewan-hewan lain tersebut, tetapi betapa telur dari hewan unggas seperti ayam dan bebek begitu dekatnya dengan keseharian manusia baik itu sebagai sumber makanan dan juga keterlibatannya dalam ritual-ritual adat masyarakat di berbagai suku-suku bangsa di dunia.
Sebagai makanan, telur merupakan bahan pangan sempurna, karena mengandung zat gizi yang dibutuhkan untuk makhluk hidup seperti protein, lemak, vitamin dan mineral dalam jumlah cukup (Deptan, 2010). Suprapti (2002) juga menyatakan bahwa telur merupakan salah satu sumber protein hewani di samping daging, ikan dan susu. Telur mengandung protein bermutu tinggi karena mengandung susunan asam amino esensial lengkap sehingga telur dijadikan patokan dalam menentukan mutu protein berbagai bahan pangan (Wardana, 2010).

Telur merupakan sumber protein hewani yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat. Dalam slogan “empat sehat lima sempurna”, antara lain dikatakan bahwa telur merupakan lauk yang bergizi tinggi. Telur merupakan bahan pangan yang padat gizi dan enak rasanya, mudah diolah serta harga nya relatif murah jika dibandingkan dengan sumber protein hewani lainnya. Bagi anak-anak, remaja maupun dewasa, telur merupakan makanan ideal dan sangat mudah didapatkan. Telur memiliki komposisi zat gizi yang lengkap. Untuk mencukupi protein hewani yang dibutuhkan anak balita, cukup dengan memberikan sebutir telur (terutama kuning telur) setiap hari dan untuk orang dewasa dianjurkan mengonsumsi tiga butir telur setiap minggu. Wanita hamil dan menyusui memerlukan tambahan gizi yang dapat dicukupi dengan makan dua butir telur setiap hari. Hal ini sangat erat hubungannya dengan pertumbuhan janin dan pembentukan ASI (Air Susu Ibu) bagi ibu yang sedang menyusui. Dalam keadaan perekonomian keluarga yang terbatas, agar sehat perlu tetap mengonsumsi protein hewani. Telur ayam menjadi prioritas pilihan yang paling layak sebagai sumber protein hewani bagi keluarga. Oleh karena itu, telur sering dianggap sebagai sumber pangan yang murah, mudah didapat, dan bergizi, menjadikannya bahan pangan utama dalam berbagai produk lahan pangan di seluruh dunia (Sahara, 2025).
Sedangkan telur sebagai bagian dari budaya adat selalu menjadi simbol sebuah permulaan (asal mula), seperti tradisi injak telur di suku Jawa dan Sunda dalam prosesi pernikahan. Pecah telur merupakan salah satu tradisi turun menurun dari masyarakat Jawa yang merupakan bagian dari kebudayaan. Pecah telur merupakan tradisi dari prosesi pernikahan adat Jawa. Tradisi pecah telur memiliki makna simbolis yang menggambarkan kehidupan baru, kesuburan, kebahagiaan, kebersamaan dan keberuntungan bagi pasangan pengantin. Di sisi lain tradisi ini juga berperan penting dalam menjaga budaya kearifan lokal yang ada (Pratiwi, 2024).

Berbeda dengan telur-telur lain, terlihat bahwa telur ayam dan bebek teramat dekat dengan aktivitas keseharian manusia, baik itu sumber makanan, ritual budaya, bahkan hingga mata pencaharian sebagai peternak baik itu pedaging maupun petelur. Hal tersebut menjadikannya sebagai bagian penting dalam aktivitas dan rutinitas yang akhirnya membudaya dalam segala aspek kehidupan manusia. Dari kedua hewan unggas tersebut mempengaruhi kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang terbungkus dalam produk-produk budaya seperti cerita rakyat, karya seni rupa, karya wastra, kuliner dan lain-lain, termasuk film.
Kanal Budaya IndonesianaTV yang memiliki maksud dan tujuan melestarikan dan mempromosikan budaya Indonesia yang beragam kepada masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri melalui penayangan program-program yang mengangkat berbagai aspek budaya Indonesia, seperti kesenian, adat istiadat, tradisi, dan sejarah. Kanal Budaya IndonesianaTV ingin meningkatkan pengetahuan dan wawasan masyarakat tentang budaya Indonesia melalui penayangan program-program edukatif dan informatif yang dikemas dengan menarik dan mudah dipahami oleh semua kalangan.
Konten-konten kebudayaan yang terkait dengan telur sebagai bagian dari aktivitas keseharian Masyarakat yang saat ini ada di platform IndonesianaTV adalah “Ndogmu & Ndogku”. Konten ini menceritakan tentang dua butir Telur Asin yang sedang bermain bersama. Mereka bermain kejar-kejaran, petak umpet, berjungkat-jungkit dengan sendok di antara sepiring tahu, tempe, dan sebungkus benda di dalam tas kresek hitam. Semua gembira sampai kedua Telur Asin ingin bermain bersama sekotak Ayam Goreng tetapi mereka ditolak dan dihina. Ayam Goreng menganggap dirinya lebih populer dan terhormat dibanding kedua Telur Asin. Hal itu menjadikan “pertikaian” di antara Ayam Goreng dan Telur Asin.
Ndogmu & Ndogku menyajikan aktivitas keseharian yang sederhana namun dekat dengan kita. Sebuah penggambaran suasana meja makan sebagai ruang aktivitas privat manusia dengan segala kelengkapannya selain makanan itu sendiri. Tayangan sederhana namun bermakna bagaimana objek-objek makanan yang tersaji adalah sumber kehidupan bagi manusia yang memakannya. Penghargaan tertinggi dari manusia kepada sumber-sumber makanan menjadi pesan penting yang mengandung maksud agar manusia tidak menyia-nyiakan makanan. Penggambaran menarik bagi anak-anak untuk menanamkan sejak dini bagaimana makanan dapat menghidupi kita.
Tayangan konten-konten kebudayaan yang terdapat di Kanal Budaya IndonesianaTV adalah sebentuk praktik baik yang diharapkan dapat menjadi asupan informasi yang edukatif yang muaranya adalah terwujudnya kebudayaan Indonesia yang tetap lestari dan menjadi penuntun bagi generasi selanjutnya. Budaya yang bersifat dinamis dan mengikuti perkembangan zaman, ke depannya akan mengalami berbagai hal, baik itu budaya adaptif, budaya adopsi, budaya asimilasi, maupun budaya yang terakulturasi.
Referensi
Departemen Pertanian. 2010. Tanya Jawab Seputar Telur Sumber Makanan Bergizi. Jakarta. http://www.deptan.go.id/pengumuman/nak032010/Booklet%20Telur. pdf.
Pratiwi, Mieyshellidya. 2024. Peran Budaya Pecah Telur dalam Mempertahankan Kearifan Lokal: Studi Kasus pada Masyarakat Desa Plandaan, Kabupaten Tulungagung. Program Studi Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Malang
Sahara, Eli. 2025. Telur Sebagai Pangan Fungsional “Strategi Meningkatkan Kualitas dan Daya Simpan”. Universitas Sriwijaya 2025
Suprapti, L. 2002. Pengawetan Telur (Telur Asin, Tepung Telur, dan Telur Beku). Cetakan ke 5. Yogyakarta: Kanisius.
Wardana. 2010. Telur. http//kuliah-pangan77. Wordpress. com/ category/ uncategorized/.
