InstagramTiktokX
Selasa, 21 April 2026

Meneladani Kartini: Memutus Stigma dan Menegaskan Peran Perempuan di Era Modern

HP
Hadi Prabowo, S.P.T.
Balai Media Kebudayaan
produksi podcast bertema "Spirit Kartini di Jogja, Aksi dan Harapan Putri Keraton dengan narasumber Gusti Kanjeng Ratu Bendara
produksi podcast bertema "Spirit Kartini di Jogja, Aksi dan Harapan Putri Keraton dengan narasumber Gusti Kanjeng Ratu Bendara

Perayaan Hari Kartini setiap tanggal 21 April seringkali terjebak pada seremonial pakaian adat, padahal esensi sejatinya adalah refleksi dan internalisasi nilai-nilai perjuangan perempuan. Di Yogyakarta, kota yang menjadi saksi bisu Kongres Perempuan pertama tahun 1928, semangat emansipasi ini terus bertransformasi. Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, putri bungsu Sri Sultan Hamengkubuwono X, menegaskan bahwa peran perempuan dalam sejarah kepemimpinan tidaklah terbatas pada ranah domestik semata. Sejarah Keraton Yogyakarta membuktikan bahwa keterlibatan perempuan dalam urusan negara telah ada jauh sebelum era modern. Stigma tentang perempuan "dapur, sumur, kasur" ternyata tidak relevan jika melihat jejak para permaisuri terdahulu. Sebagai contoh, Permaisuri Hamengkubuwono I adalah seorang pejuang yang mahir menggunakan senjata, sementara istri Hamengkubuwono II memiliki kapasitas sebagai negosiator dalam menghadapi pihak Belanda dan Inggris. Bahkan, pengelolaan keuangan negara di masa Hamengkubuwono VII dilakukan oleh istrinya, yang menjalankan fungsi layaknya Kementerian Keuangan.

Emansipasi yang selama ini digaungkan terkesan bahwa perempuan yang tereduksi dimulai dari era zaman R.A Kartini, padahal permaisuri Keraton sudah memulainya sejak dulu. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan bangsawan zaman dahulu sudah teredukasi dan memiliki andil strategis dalam kedaulatan negara, meskipun peran-peran tersebut sempat mengalami degradasi akibat stigma sosial yang berkembang kemudian. Salah satu pesan penting dari sosok Kartini adalah keberanian untuk bersuara. Gusti Bendara menyatakan bahwa untuk dicatat oleh sejarah dan membawa perubahan, perempuan harus "be loud enough". Melakukan hal baik secara diam-diam memang bermanfaat, namun tanpa suara yang cukup lantang, dampak tersebut sulit untuk terekam dalam narasi sejarah yang besar.

Tantangan bagi perempuan modern adalah menyeimbangkan antara bersikap vokal agar didengar dengan upaya menjaga etika dan martabat agar tidak sekadar dikritik. Di Keraton Yogyakarta sendiri, terobosan besar (breakthrough) telah terjadi dengan diposisikannya lima putri Sultan dalam struktur pengambilan keputusan adat. Posisi-posisi strategis seperti Pengageng (kepala departemen), urusan keuangan, dan sekretariat kini banyak dijabat oleh perempuan. Dalam konteks emansipasi modern, GKR Bendara menyoroti tantangan unik yang ia sebut sebagai "Triple Standard". Jika perempuan pada umumnya menghadapi standar ganda, perempuan bangsawan di lingkungan keraton justru menghadapi standar berlapis maka mereka mempertimbangkan langkah berkali-kali lebih dalam. Sering kali, kehati-hatian ini disalahpahami sebagai kelambatan dalam mengambil keputusan. Padahal, hal tersebut merupakan hasil dari kebiasaan berpikir dalam banyak lapisan (multiple layers) yang ditanamkan sejak kecil.

Hambatan emansipasi juga terlihat di dunia profesional, di mana banyak perempuan di level manajerial "rontok" saat memasuki usia 30-an akibat tekanan sosial terkait pernikahan dan pola asuh anak. Gusti Bendara menekankan pentingnya lingkungan bisnis yang lebih mendukung serta perlunya perlindungan hukum yang kuat bagi perempuan, termasuk penyediaan safe house bagi korban kekerasan.

Dokumentasi Produksi Podcast Kulturasi dengan pembicara GKR Bendara di Museum Benteng Vredeburg

Dokumentasi Produksi Podcast Kulturasi dengan pembicara GKR Bendara di Museum Benteng Vredeburg

Emansipasi bukan berarti menjadikan laki-laki sebagai musuh atau lawan dari perempuan, melainkan sebagai mitra strategis. Keterbukaan pintu bagi perempuan sering kali dimulai dari dukungan laki-laki yang memberikan ruang, seperti yang dilakukan oleh Sultan Hamengkubuwono di Keraton. Pesan utama bagi perempuan di era modern adalah untuk tetap be bold (berani). Dengan menempati posisi-posisi strategis sebagai pemimpin dan pembuat kebijakan, perempuan dapat memastikan bahwa undang-undang, visi, dan misi organisasi akan lebih berpihak pada kepentingan perempuan. Emansipasi bukan hanya tentang kesetaraan, tetapi tentang keberanian untuk berkontribusi secara nyata bagi kemajuan budaya dan masyarakat.

Artikel ini merupakan rangkuman dari PODCAST Kulturasi Kementerian Kebudayaan yang diproduksi oleh Balai Media Kebudayaan, keseruan PODCAST dengan Gusti Bendara dalam menghadapi stigma stigma Putri Bangsawan Keraton dapat disimak selengkapnya melalui kanal YouTube Kementerian Kebudayaan dan IndonesianaTV. 


gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX