InstagramTiktokX
Rabu, 01 Mei 2024

Mendorong Pemajuan Kebudayaan di Era Digital

RR
Retno Raswaty
Kepala Balai Media Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (BMK Kemdikbudristek RI)

Jakarta - Percepatan perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mengubah lanskap seni dan budaya secara signifikan. Seni dan budaya di era digital telah melampaui batas-batas fisik dan geografis, menciptakan ruang-ruang baru dalam ekspresi, eksplorasi, serta promosi kebudayaan. Dalam konteks ini, strategi promosi yang ngepop menjadi salah satu strategi penting dalam memantik pemajuan kebudayaan di era digital. 

Promosi (publikasi) kebudayaan adalah salah satu tugas penting yang diamanatkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Baik sebagai cara pelindungan, maupun dalam berbagai cara pemanfaatan setiap objek pemajuan kebudayaan, promosi memainkan peran yang penting. Strategi promosi yang digunakan dalam era digital memerlukan kelincahan dalam menghadapi dinamika perubahan sosial, serta mampu merespons kebutuhan, minat, dan pola konsumsi berbagai generasi. Melalui kombinasi konten promosi (audio, video, teks, maupun grafis) yang menarik dan pendekatan inovatif, perluasan ruang dialog budaya dapat diwujudkan, dan inilah yang menjadi dasar strategi ampuh memantik pemajuan kebudayaan di era digital.

Djoko Waluyo, melalui catatannya yang dimuat dalam Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi Massa terbitan Balai Pengembangan SDM dan Penelitian Komuniasi dan Informatika (BPSDMP Kominfo), menyatakan bahwa budaya lokal perlu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda melalui penampilan seni tradisional yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan tuntutan kebutuhan masyarakat dewasa ini, di antaranya penampilan seni tradisional melalui media sosial. Meski memanfaatkan medium yang kontemporer, seni tradisional sebaiknya tetap dikenalkan dengan langkah-langkah yang bijaksana dengan tetap memperkenalkan tata nilai tradisinya berikut berbagai atribut yang melekat pada seni tradisional tersebut.

Sejalan dengan Djoko, promosi seni budaya yang ngepop di era digital memiliki potensi besar untuk merevitalisasi berbagai tradisi yang hampir punah, menghubungkan antargenerasi, dan memajukan budaya lokal dalam perspektif global. Namun, upaya ini perlu diimbangi dengan kesadaran akan tantangan yang muncul, serta upaya untuk memastikan nilai-nilai autentiknya dapat dikonversi sehingga relevan dalam era digital yang cepat berubah.

Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia mencapai 215,63 juta orang pada periode 2022-2023. Ini artinya peluang menyebarkan seni dan budaya kepada seluruh kalangan masyarakat Indonesia melalui internet amatlah besar.

Promosi Seni Budaya yang Ngepop

Media sosial, platform video daring dan berbagai aplikasi berbagi konten memungkinkan seniman, budayawan, dan bahkan kreator konten untuk menjangkau khalayak yang lebih luas tanpa batasan waktu dan ruang. Strategi yang efektif adalah memanfaatkan tren dan meme yang sedang populer, menggabungkannya dengan elemen budaya, serta menciptakan konten yang relevan secara sosial.

Promosi yang ngepop tentu akan menarik perhatian generasi milenial dan Z—yang memiliki keterpaparan teknologi tinggi. Konten-konten seperti tantangan viral, meme budaya, atau parodi dengan elemen lokal menjadi viral dengan cepat dan membangun kesadaran tentang budaya tertentu. Sebagai contoh adalah tren fenomena "Goyang Dua Jari" atau "Jerusalem Dance Challenge" yang berhasil diadopsi dalam acara-acara budaya untuk menghubungkan khalayak dengan nilai-nilai lokal melalui media yang mereka kenal.

Salah satu contoh sukses lainnya dari strategi seni dan budaya  dengan cara populer di era digital adalah saat Balai Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) meluncurkan film Nyantrik pada Senin, 7 Agustus 2023, di Gedung Kesenian Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Raden Saleh, Kota Semarang. Film ini disiarkan secara serial di kanal budaya Indonesiana TV.  

Disutradarai oleh Lasja F. Susatyo, Nyantrik menampilkan aktris dan aktor muda yaitu Kelly Tandiono, Samo Rafael, Clara Bernadeth, Karina Salim, Ravil Prasetya, Omara Esteghlal, Tatyana Akman, Cindy Nirmala, dan Daniel Adnan sebagai cantrik (murid). Mereka belajar dan mendalami seni peran lakon Mahabarata dari para maestro seperti Kenthus Ampiranto dari Wayang Orang Bharata Jakarta, Ali Marsudi dari Wayang Orang RRI Surakarta, Wasi Bantolo pengajar ISI Surakarta, Agus Prasetyo dari Wayang Orang Sriwedari Surakarta, dan Nanang Hape selaku penulis scenario sekaligus dalang.

Miniseri Nyantrik dibuat sebagai jawaban atas kegelisahan melihat kenyataan begitu lebarnya jarak antara seni klasik tradisi dan generasi muda. Fragmen-fragmen dalam epos Mahabrata dan Ramayana yang sarat akan nasihat bijak pun dibungkus dengan kemasan yang menarik dan menghibur dengan perpaduan teknologi visual, akan tetapi masih dalam sentuhan seni klasik yang nyentrik.  

“Program strategis Indonesiana TV ini diharapkan dapat mengisi peran penting dalam pengembangan dan pemanfaatan kebudayaan. Sebagai platform media, Indonesiana TV menjadi jembatan antara seni tradisi dan generasi masa kini,” ujar Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid.

Film ini pun turut mendapatkan apresiasi dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Menurutnya, melalui film yang melakukan sintesa beberapa proses perkembangan wayang orang, ini menampilkan visual yang apik dengan narasi yang menarik sehingga masyarakat bisa mengonsumsi seni tradisional dengan cara yang segar tanpa kehilangan akarnya. Melalui Nyantrik, para generasi muda belajar seni dan  budaya dari panggung wayang orang.

Lebih jauh, Indonesiana TV telah menciptakan platform untuk menggabungkan tradisi budaya dengan inovasi digital melalui beragam kegiatan kebudayaan seperti festival virtual, konser daring musik tradisional, dan pameran seni digital. Indonesiana TV telah berhasil membangun jembatan menuju warisan budaya bagi generasi milenial dan Z yang cenderung berinteraksi melalui gawai.

Kegiatan yang disajikan pun tidak main-main. Kegiatan ini mengintegrasikan elemen tradisional dengan teknologi modern, misalnya pemanfaatan visualisasi 3D atau augmented reality untuk mereka ulang artefak budaya atau tempat bersejarah. Ini memberikan pengalaman yang interaktif dan mendalam bagi masyarakat dalam membantu merasakan dan memahami lebih baik tentang warisan budaya bangsa.

Tayangan Edukatif dan Informatif: Merevitalisasi Warisan Budaya

Selain berbagai kegiatan budaya, tayangan edukatif dan informatif juga berperan penting dalam strategi seni dan budaya yang populer di era digital. Indonesiana TV telah melangkah lebih jauh dengan menghadirkan konten-konten seperti film Nyantrik, program tayangan animasi wayang Desa Timun, serta cerita-cerita tradisi dan budaya lokal Nusantara.

Dalam era di mana konten audiovisual semakin mendominasi, film semacam Nyantrik ini memiliki potensi besar untuk menyampaikan pesan-pesan budaya kepada penonton yang lebih luas. Begitu pula dengan program animasi wayang Desa Timun yang mengemas folklor dengan gaya animasi yang menarik dan modern. Hal-hal seperti inilah yang membantu “menghidupkan kembali” berbagai dongeng dan petuah tradisional agar tetap relevan bagi generasi muda. Sebab, apabila tidak dikenalkan ke khalayak melalui media digital, seni tradisi semacam ini terancam untuk tidak mengalami pengembangan dan secara berangsur-angsur akan punah.

Cerita sejarah dan budaya lokal yang disajikan melalui tayangan digital ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang akar budaya dan identitas nasional. Ini penting dalam konteks globalisasi, di mana kebudayaan lokal sering terpinggirkan oleh budaya global. Dengan memahami asal-usul dan nilai-nilai yang dianut oleh nenek moyang, generasi muda dapat merasa lebih terhubung dengan warisan mereka dan lebih bersemangat untuk mempertahankannya.

Strategi seni budaya yang populer di era digital mampu memantik kemajuan kebudayaan dengan cara yang menarik dan relevan bagi generasi milenial dan Z. Melalui promosi yang ngepop, kegiatan budaya, tayangan edukatif, dan informatif, platform-platform media daring berhasil menjembatani kesenjangan antara teknologi modern dan warisan budaya. Dalam dunia yang semakin terhubung secara digital, strategi-strategi seperti ini memiliki potensi besar untuk melestarikan dan merevitalisasi kebudayaan kita, sambil tetap mendorong berbagai inovasi dan ekspresi kreatif.

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX