Makna Tahun Baru Islam 1 Suro Tahun Hijriah

Tahun Baru Islam yang ditandai dengan peringatan 1 Muharram memiliki makna yang mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia. Dalam momen yang bersejarah ini, umat Islam merenungkan arti perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah serta mengambil hikmah dari perjuangan beliau.
Tahukah anda Bagaimana sejarah penanggalan 1 Muharram dan apa perbedaannya dengan kalender Masehi yang umum digunakan secara global ? Berikut ini kita akan menjelajahi dan memahami makna Tahun Baru Islam, serta membandingkan perbedaannya dengan kalender Masehi.
1 Muharram juga menjadi awal tahun baru dalam kalender Hijriah. Tahun baru Islam sering dirayakan dengan doa, refleksi, dan harapan untuk memulai tahun baru dengan baik.
Di tahun ini 2025, 1 Muharram 1447 Hijriah jatuh pada Jum’at , 27 Juni 2025, berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2025.[1] Malam Tahun Baru Islam akan terhitung sejak tanggal 26 Juni 2025 pada malam harinya.[2] Tahun Baru Islam merupakan perayaan yang memiliki makna lebih dari sekadar perayaan semata.
Pengertian Tahun Baru Islam
Tahun baru Hijriah ini juga digunakan untuk menentukan tanggal-tanggal penting dalam agama Islam, seperti bulan Ramadhan, Iedul Fitri, dan Iedul Adha. Tahun baru Hijriah memiliki makna yang berakar dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. Pada masa Rasulullah, hijrah dilakukan sebagai strategi dakwah dan sebagai respons terhadap situasi yang tidak kondusif di Mekah. Hijrah memiliki arti perjuangan meninggalkan hal-hal negatif dan menuju ke arah yang lebih baik.
Hikmah Tahun Baru yang diambil antara lain:
1. Simbol awal yang baru
Tahun baru Islam pada tanggal 1 Muharram menandai awal yang baru dalam kalender Hijriyah. Hal ini melambangkan kesempatan bagi umat Muslim untuk memulai kembali dan memperbaiki diri.
2. Mengambil Hikmah dari peristiwa Hijrah
Peringatan ini mengingatkan umat Islam akan komitmen dan perjuangan Nabi Muhammad SAW serta para sahabat dalam mempertahankan agama dan membangun masyarakat yang berlandaskan Islam.
3. Kesempatan refleksi diri
Tahun baru Islam 1 Muharram memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk merenungkan perjalanan hidup mereka selama tahun sebelumnya.
3. Menyadari berlalunya waktu yang tak tergantikan
Pada perayaan tahun baru Islam, umat Islam diajak dengan untuk memanfaatkan setiap kesempatan untuk melakukan amal kebaikan yang dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Menjadi Budaya Nusantara
Sebelum hadirnya Islam, masyarakat Jawa sudah memiliki sistem penanggalan yang mapan, yakni kalender Saka atau Hindu. Kalender Saka dihitung berdasarkan peredaran bumi dalam mengelilingi Matahari, sehingga jumlah harinya sama seperti kalender Masehi yakni 365/366 hari. Namun, kalender Saka pada dasarnya dipergunakan untuk menandai momentum ritual keagamaan masyarakat Hindu.

Masa satu tahun Hijriah sebanyak nya 354 hari, 8 jam, 48 menit, 35 detik atau 354.3670694 hari. Islam datang membawa kalender Hijriah yang berdasarkan terkait revolusi bulan terhadap Bumi (Qamariyah). Apabila disederhanakan diketahui bahwa jumlah hari selama setahun Hijriah adalah 354 11/30 hari. Karena tidak genap, Kalender Hijriah juga memiliki tahun-tahun panjang (tahun kabisat) dan tahun-tahun pendek (tahun basithah). Sehingga dalam setiap 30 tahun terdapat 11 tahun panjang dan 19 tahun pendek. Tahun panjang umurnya 355 hari dan tahun pendek umurnya 354 hari. Apabila disederhanakan diketahui bahwa jumlah hari selama setahun adalah 354 11/30 hari.
Dari kalender Saka diambil tahun penanggalan sebagai tahun Jawa. Sehingga tahun Jawa tidak dimulai dari 1 Jawa tetapi melanjutkan tahun 155 Jawa. Sejarah Tahun Hijriah menjadi penanggalan resmi di Nusantara berawal dari dampak dari penyebaran Islam di Nusantara. Salah satu pengaruh budaya Islam di Nusantara pengkonversian penanggalan yang biasa digunakan masyarakat Indonesia yaitu penanggalan Hindu (saka) menjadi penanggalan Islam (Hijriah).
Seperti yang terjadi pada kerajaan Majapahit di mana setiap mulan Caitra (Maret) Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. Dalam konteks kebudayaan di Indonesia proses penetapan awal tahun baru Islam terjadi pada masa Kerajaan Mataram Islam, melalui Dekrit Sultan Agung Hanyokrokusumo, di tahun 1633 Masehi yang bertepatan dengan tahun 155 saka atau 1043 Hijriah.[3]
Beliau berusaha keras menyebarkan agama Islam ke seluruh pulau Jawa. hampir seluruh tanah Jawa kecuali Batavia (VOC) dan wilayah Kesultanan Banten. Saat itu perhitungan tanggalan hijriah digunakan oleh masyarakat Jawa (Muslim) Mataram yang menguasai tanah Jawa. Kekuasaannya meliputi seluruh Jawa tengah dan sebagian besar wilayah di Jawa Barat (Priangan) dan sebagian Jawa Timur yang dikuasai Mataram.[4]
Konversi dari Tahun Saka ke Tahun Hijriah
Nama-nama bulan dalam kalender Jawa sebenarnya mengadopsi nama-nama bulan Islam yang dibahasajawakan. Sehingga bisa disimpulkan tanggal 1 Suro sama saja dengan 1 Muharram.lebih dari 30 hari. Namun, kenyataan ini tidak selalu pasti. Misalnya, bulan Ramadan terkadang berjumlah 29 hari, tetapi di tahun lain bisa mencapai 30 hari.
Oleh karena itu, cara yang lebih akurat dan pasti untuk menentukan jumlah hari dalam satu bulan adalah melalui pengamatan hilal (rukyah). Pengamatan hilal ini pun harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan dengan sumpah suci pengamat berikut saksi. Di Indonesia kita kenal Badan Hisab Rukyat, bersama-sama dengan Departemen Agama, yang bertugas mengamat hilal di suatu tempat khusus. Ilmuwan, dalam hal ini ahli ilmu falak dan astronom, melihat besaran Hilal untuk menentukan 29 atau menggenapkan menjadi 30 hari dalam satu bulan.
Sementara itu Hisab atau hitungan menjadi metode yang sering dipakai untuk menetapkan kalender Hijriah dalam satu tahun. Syekh Syaraf al-Qudah bahkan mengemukakan kaidah bahwa penetapan bulan kamariah pada dasarnya harus didasarkan pada hisab.[1]
Adapun nama bulan dalam kalender Jawa Islam yakni:
1. Muharram = Suro (Assyura)
Kenapa Muharram diganti Suro karena dalam Muharram ada peristiwa 10 Suro. Bulan Assyura biasa dikenal oleh masyarakat Jahiliah Arab sebagai bulan Awal. Masyarakat Jawa menyebutnya Suro dikenal masyarakat jahiliah tanggal 10 Assyura. Ada 20 Peristiwa Penting di Hari Asyura pada 10 Muharram, yaitu:
a). Diterimanya taubat Nabi Adam AS setelah diturunkan dari surga.
b). Diturunkannya Nabi Nuh AS dari kapal setelah banjir bandang. Kapal Nabi Nuh pada hari Asyura berlabuh di bukit Zuhdi dengan selamat.
c). Diselamatkannya Nabi Ibrahim AS dari bakaran apinya Raja Namrud. Nabi Ibrahim AS selamat dari siksa Raja Namrud.
d). Dikeluarkannya Nabi Yusuf AS dari penjara.
Nabi yang berparas rupawan ini difitnah hingga ia akhirnya masuk ke bilik jeruji.
e). Dikeluarkannya Nabi Yunus AS dari perut ikan Nun
Nabi Yunus ditelan ikan nun saat terjun ke laut saat merasa kapal yang ditumpanginya tidak bergerak.
f). Disembuhkan Nabi Ayyub AS dari sakit kulit yang berkepanjangan
Nabi Ayyub AS pernah mendapatkan ujian dari Allah SWT dengan menderita penyakit kulit yang menimbulkan bau tidak sedap.
g). Disibakkannya lautan bagi Bani Is’rail yang melarikan diri dari kejaran Raja Firaun Mesir yang kejam.
h). Diciptakannya Nabi Adam AS di surga.
i). Diterimanya taubat Nabi Yunus AS.
j). Dilahirkannya Nabi Ibrahim AS.
j). Dikeluarkan Nabi Yusuf AS dari sumur setelah diceburkan saudara-saudaranya.
j). Dipertemukan Nabi Yusuf AS dengan keluarganya kembali.
k). Tenggelamnya Firaun di dasar laut merah saat mengejar Nabi Musa AS
j). Diangkatnya Nabi Idris AS ke tempat yang tinggi.
l). Diturunkannya kitab Taurat pada Nabi Musa AS.
m). Disembuhkannya kebutaan Nabi Ya'qub AS dari wasilah pakaiannya Nabi Yusuf AS.
n). Diampuninya Nabi Daud AS dari kesalahannya.
o). Diberinya Nabi Sulaiman AS kekuasaan berupa kerajaan.
p). Diangkatnya Nabi Isa AS ke langit setelah dikepung bangsa Romawi.
r). Diampuninya kesalahan yang telah lewat dan yang akan datang dari Nabi Muhammad SAW.
2. Sapar (Safar)
3. Rabiul Awal (Mulud)
Rabiul Awal merupakan bulan ketiga dalam kalender Hijriyah, kalender Islam yang berdasarkan siklus bulan. Bulan ini memiliki arti penting dalam sejarah dan tradisi Islam, terutama karena di dalamnya terjadi kelahiran Nabi Muhammad SAW, utusan terakhir Allah.
Selain peringatan kelahiran, Rabiul Awal juga dikenal karena beberapa peristiwa penting lainnya, seperti wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tanggal yang sama, 12 Rabiul Awal, namun pada tahun yang berbeda, yaitu tahun 632 Masehi. Wafatnya Nabi menandai akhir masa kenabian, tetapi ajaran dan teladan hidup beliau tetap menjadi panduan bagi umat Islam hingga saat ini.
Peringatan Maulid Nabi sering kali dijadikan momen untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat rasa persaudaraan di antara umat Islam meningkatkan ibadah, memperbanyak shalawat, dan berdoa, serta memperdalam pemahaman tentang ajaran-ajaran Nabi.
4. Rabiul Tsani/Rabiul Akhir (Bakda mulud)
Rabiul Akhir atau Rabi‘uts Tsani merupakan bulan ke-4 dalam kalender Hijriah atau penanggalan berbasis bulan. Penamaan itu tidak terlepas dari peristiwa alam, musim rabi‘ atau musim semi yang terjadi di Jazirah Arab. Pada musim itu rerumputan menghijau, tanaman tumbuh subur, dan pepohonan banyak yang berbuah. Rabiul Tsani, yang juga dikenal sebagai Rabiul Akhir, dalam budaya Jawa. Istilah "Ba'da Mulud" berarti "setelah Maulid Nabi Muhammad SAW.
5. Jumadil awal (Jumadilawal)
6. Jumadil akhir (Jumadilakir)
7. Rajab (Rejeb)
Bulan Rajab adalah bulan ketujuh dalam kalender Hijriah dan merupakan salah satu dari empat bulan haram (bulan mulia) dalam Islam. Bulan ini dihormati karena keistimewaannya dan merupakan waktu yang tepat untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di bulan Rajab terjadi peristiwa Isra dan Mi'raj, perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan ke Sidhratul Muntaha (Langkit ke Tujuh) menandai batas akhir yang tidak dapat dilampaui oleh makhluk Ciptaan Allah SWT. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan seperti puasa sunnah, shalat sunnah, dzikir, dan membaca Al-Qur'an.
8. Sya’ban (Ruwah)
Mengapa Sya’ban disebut Ruwah, Ruwah itu dari Bahasa Arab arwah. Gus Baha atau KH Ahmad Bahauddin Nursalim menjelaskan bahwa asal muasal ruwah berasal dari kosakata Arab, yakni “arwah” dan selanjutnya diserap ke dalam Bahasa Jawa menjadi “Ruwah”.[6]
9. Ramadhan (Poso)
Bulan Ramadhan adalah bulan yang memiliki makna dan keistimewaan tersendiri bagi umat Islam di seluruh dunia. Setiap tahun, umat Islam menjalankan ibadah puasa mengendalikan hawa nafsu selama bulan Ramadan sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadr, yang dianggap sebagai malam yang penuh berkah dan keutamaan. Selama bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah, membaca Al-Quran, berdoa, dan melakukan amal kebajikan secara lebih intensif.
10. Syawal (Sawal)
11. Dzulqaidah (Selo)
Dzulqaidah dikenal dengan nama bulan Selo, dalam budaya Jawa. Menurut masyarakat Jawa, Selo berarti Apit atau terjepit. Hal ini karena bulan ini terletak di antara dua hari raya besar yaitu, Idul Fitri (Syawal) dan Idul Adha (Dzulhijah). Juga disebut Selo karena bulan ini jeda dari dua hari raya besar tersebut.
12. Zulhijjah (Besar)
Kedua, Islam Disempurnakan pada Bulan Dzulhijjah: Selanjutnya, bulan Dzulhijjah merupakan bulan di mana Islam disempurnakan. Keutamaan ini sebagaimana adanya hari Raya Iedul Adha pada bulan ini. Pada bulan ini juga disebut Bulan Besar.
[1] Sultan Agung dari Mataram yang berkuasa dari tahun 1613-1645.
[2] Kemudian pada tanggal bertepatan dengan 8 Juli 1633 Masehi. Keputusan ditetapkan oleh Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir, Sultan Banten yang ke empat, yang berkuasa dari tahun 1596-1651 dari Banten Berdasarkan hal tersebut juga, tanggal 1 Muharram 1043 Hijriah pada saat itu dituliskan menjadi 1 Muharram 1555 Jawa. Tubagus Nurfadhil Azmatkhan. 2016. "Sejarah Kesultanan Banten dari Masa Ke Masa" Website Resmi Kesultanan Banten. Diakses tanggal 2025-04-14.
[3] Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan dan Menteri Pendayagunaaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Negara Republik Indonesia Tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2025. Kepmen Nomor 1017, tahun 2024
[ 4] Karena Kalender Masehi menentukan awal hari pada pukul 00.00 dini hari berdasarkan waktu setempat. Sedangkan, kalender Hijriah menentukan awal hari berdasarkan terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari (waktu maghrib sekitar pukul 18.00). Momen terbenamnya matahari menjadi penanda akhir hari dan dimulainya hari baru dalam kalender Hijriah.
[5] Masruhan. Jurnal Pemikiran Hukum Islam Vol 13 No 1 Tahun 2017. “Islamic Effect on Calendar of Javanese Community,” .
[6]K.H Mamoen Zubair. Ngaji Bersama. 2017. ”Kalam-Kajian Dalam Islam”, You Tube, Senin 14-03-2017
DAFTAR REFERENSI
Masruhan. Jurnal Pemikiran Hukum Islam Vol 13 No 1 Tahun 2017. “Islamic Effect on Calendar of Javanese Community,” .
Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan dan Menteri Pendayagunaaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Negara Republik Indonesia Nomor 1017, tahun 2024. Tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2025.
K.H Mamoen Zubair. Ngaji Bersama. 2017. ”Kalam-Kajian Dalam Islam”, You Tube, Selasa, 14-03-2017
Nurfadhil Azmatkhan, Tubagus. 2016. "Sejarah Kesultanan Banten dari Masa Ke Masa" Website Resmi Kesultanan Banten.
