Lagu “Lenggang Jakarta” (1950), Melenggang Untuk Datang ke Ibu Kota (MUDIK)

Mudik telah tiba, mudik telah tiba. Tinjauan atau ulasan mengenai fenomena mudik telah banyak tersebar. Pendekatan budaya, ekonomi, dan lainnya tak terhitung pernah ditulis dan dibahas. Namun ulasan yang mengaitkan karya budaya dengan fakta sejarah saat karya budaya tersebut lahir tetap aktual dan menarik untuk diulas. Bagaimana fakta sejarah di balik karya budaya yang lahir sangat berpengaruh kepada munculnya aktivitas budaya mudik.
Karya musik dapat menjadi gambaran suasana zaman yang tengah terjadi pada masanya masing-masing. Selain merekam realitas sosial budaya yang berlaku, musik juga menjadi sarana propaganda yang efektif. Merriam dalam Juliyansah memaparkan musik di dalam bidang antropologi dipandang sebagai aktivitas budaya. Musik dapat dianggap sebagai media yang tepat guna dan tepat sasaran karena dapat masuk ke beragam kalangan tanpa melihat status sosial dan ekonomi pendengarnya.
Teori sosial dalam kajian musik dari aliran referensialisme menyatakan bahwa fungsi karya seni adalah untuk mengingatkan tentang, menceritakan tentang, atau membantu untuk mengerti atau berpengalaman sesuatu ekstra artistik, yaitu sesuatu yang di luar benda kreatif dan kualitas artistik yang membuat benda itu dikreasikan. Jika mengurai aspek musikalitasnya maka akan lebih mendalam lagi bagi kita untuk mempelajari setiap zamannya saat karya tersebut dilahirkan. Dari enam hal utama yang harus diperhatikan dalam mempelajari sebuah budaya musik menurut Alan P. Merriam salah satunya adalah lirik-lirik dalam lagu, maka lirik-lirik dalam lagu “Lenggang Jakarta” dapat mewakili untuk mengurai realitas sosial di setiap zaman yang berbeda. Lagu berjudul “Lenggang Jakarta” sendiri merupakan karya Ismail Marzuki yang menciptakan sekaligus mempopulerkannya pada 1950-an.
Lenggang Jakarta Ismail Marzuki
Lagu yang tercipta di awal 1950-an ini sangat dekat dengan kondisi kota Jakarta pasca Pengakuan Kedaulatan 27 Desember 1949, dimana Jakarta kembali menjadi ibu kota setelah selama kurang lebih 4 tahun kurang harus berpindah ke Yogyakarta. Sebagai kota simbolis kemerdekaan, Jakarta menjadi magnet masyarakat untuk berduyun-duyun berkunjung bahkan menetap di kota Jakarta. Hal yang wajar saja, kota yang sebelumnya menjadi simbol kota kolonial dengan kuasa tirani yang bercokol sekian lama tetiba berubah wujud menjadi simbol kebebasan.
Arus urbanisasi menuju kota Jakarta tidak dapat dibendung, hal yang dapat dimaklumi di kala peralihan jiwa dan pola pikir terjajah belum berangsur-angsur hilang ditambah kondisi masih porak poranda di segala lini pasca perang. Mengarahkan tujuan ke ibu kota adalah pilihan paling masuk akal saat itu. Sepanjang dekade 50-an ini banyak kebijakan-kebijakan Presiden Soekarno yang membutuhkan tenaga kerja untuk menghidupkan denyut nadi ibu kota.
Hasil Konferensi Meja Bundar yang memberikan pilihan kepada orang Indo-Belanda di Indonesia untuk memilih kewarganegaraan Indonesia atau hengkang ke Belanda secara tidak langsung mengurangi jumlah tenaga ahli dan tenaga terampil di beberapa bidang yang belum dapat dipenuhi oleh sumber daya manusia tanah air. Kebijakan nasionalisasi aset-aset milik pemerintah maupun swasta di masa Hindia Belanda berujung ke lowongnya posisi yang ditinggalkan oleh pegawai-pegawai orang Indo-Belanda.

Kondisi ibu kota yang membutuhkan tenaga penggerak pembangunan menarik minat para pendatang baru. Kelengkapan sarana dan prasarana ibu kota yang serba ada juga terlihat dari bait-bait yang menyatakan demikian komplitnya ibu kota dengan beragam dinamika dan realitas sosial yang ada. Bait-bait seperti “jalan meleng kalau meleng ketubruk becak”, “Jakarta selalu ramai malam pagi sore”, “jalan raya penuh sesak jalan kaki berabe”, “gembel dan miliuner sama-sama pasang aksi”, “Jangan meleng kalau meleng disamber trem”, menjadi penggambaran betapa komplit sekaligus kompleks suasana Jakarta. Dari kacamata pendatang, situasi tersebut seakan-akan menjadi dasar keinginan alih-alih rasa segan, ingin menyaksikan secara langsung suasana kota merdeka. Bait lainnya seperti “di Jakarta berdiri sebuah Gedung Arca”, “hari minggu orang Jakarta pergi Cilincing, tempat pemandian permai surga tukang pancing”, “tempat yang terkenal di Jakarta kebon binatang” menjadi penggambaran bahwa beragam wahana wisata dan hiburan tersedia di Jakarta.
Untaian bait-bait tersebut menjadi sebentuk ajakan bagi masyarakat luar Jakarta untuk datang dan turut meramaikan dunia ibu kota. Sektor-sektor formal tentu menjadi sasaran utama kendati sektor informal seperti jasa dan perdagangan pun membutuhkan lebih banyak pelaku usaha. Mengacu kepada tabel jumlah penduduk DKI Jakarta 1941-1960 terlihat peningkatan signifikan arus urbanisasi terjadi pada tahun 1948, 1949, dan 1959. Pada tahun-tahun tersebutlah ekses dari gelombang pemulangan orang-orang Indo-Belanda ke Belanda membuat kosongnya angkatan kerja di ibu kota Jakarta.
Ketimpangan pembangunan semenjak republik ini berdiri membuat rakyat meninggalkan kampung halamannya untuk merantau sekaligus merasakan ingar bingar kota metropolitan yang baru saja tumbuh dan menjadi sorotan publik internasional. Aktivitas mudik di saat hari raya pun mulai terjadi pada periode ini dengan sebab musabab yang sama hingga terus berlaku, tak berkesudahan dan berlanjut entah sampai kapan.
Selamat melenggang ke kampung halaman.
Referensi
Blackburn, Susan. 2011. Jakarta: Sejarah 400 Tahun. Jakarta: Komunitas Bambu.
Dumadi, Sagimun Mulus. 1988. Jakarta dari Tepian Air ke Kota Proklamasi. Pemerintah DKI Jakarta Dinas Museum dan Sejarah.
Juliyansah, dkk. Tanpa Tahun. Kajian Etnomusikologi Alat Musik Alo’ Galing di Kecamatan Sambas Kabupaten Sambas. Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan. Universitas Tanjungpura, Pontianak
KSS DKI Jakarta : Jakarta dalam Angka 1984
Pelana, Zulkifli. 2017. "Ismail Marzuki (1931 – 1958): Musisi Lagu-Lagu Romantika". Skripsi. Universitas Negeri Jakarta.
Syahbani, Tanty Aulia. 2022. Ismail Marzuki: Komponis 3 Zaman (1931- 1958). Skripsi. Universitas Negeri Jakarta.
Zuhdi, Susanto. 1995. Jakarta Kota Perjuangan : Jakarta Kota Proklamasi Januari 1945-Januari 1946. Jakarta: Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
