InstagramTiktokX
Senin, 19 Mei 2025

Kisah Manuskrip & Manusia Indonesiana “Jones”

JP
Jaka Perbawa
Penemuan Makam Kuno di Saqqara, Mesir pada 4 September 1967 yang diduga berasal dari sekitar 3.000 tahun sebelum Masehi. Tulisan Hieroglif di makam menunjukkan kehidupan mewah keluarga tersebut. (Sumber: delpher.nl)
Penemuan Makam Kuno di Saqqara, Mesir pada 4 September 1967 yang diduga berasal dari sekitar 3.000 tahun sebelum Masehi. Tulisan Hieroglif di makam menunjukkan kehidupan mewah keluarga tersebut. (Sumber: delpher.nl)

Manuskrip adalah semua dokumen tertulis yang tidak dicetak atau diperbanyak dengan cara lain, baik yang berada di dalam maupun luar negeri yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun, dan yang mempunyai arti penting bagi kebudayaan nasional, sejarah, dan ilmu pengetahuan.” (UU No 43 tahun 2007 Pasal 4). Di Indonesia ada tiga jenis manuskrip/naskah kuno, yaitu : 1. Manuskrip Islam, yaitu manuskrip berbahasa dan tulisan Arab, 2. Manuskrip Jawi yakni, naskah yang ditulis dengan huruf Arab tapi berbahasa Melayu, agar sesuai dengan aksen Melayu diberi beberapa tambahan vonim, dan 3. Manuskrip Pegon yakni, naskah yang ditulis dengan huruf Arab tapi menggunakan bahasa daerah seperti, bahasa Jawa, Sunda, Bugis, Buton, Banjar, Aceh dan lainnya. (Hanum dkk, 2023)

Naskah kuno dapat memberi informasi mengenai berbagai sendi kehidupan masyarakat di masa lalu seperti politik, ekonomi, sosial budaya,  dan sebagainya. Informasi secara umum mengenai hal ini tentu dapat ditemukan pada naskah untuk dipelajari lebih mendalam oleh semua orang yang meminatinya. Naskah-naskah tersebut penting, bukan saja secara akademis namun juga menyentuh dimensi sosial budaya. Naskah tersebut merupakan identitas, kebanggaan dan warisan budaya yang tak ternilai. Secara sosial budaya, naskah kuno mengandung petuah, nasihat, aturan, norma yang menjadi panduan hidup masyarakat saat itu layaknya kitab suci. Jika ditelaah untuk konteks masyarakat saat ini, naskah kuno memuat nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan sekarang, sehingga menjadi hal yang urgensi dan penting bagi kita saat ini untuk mengungkap isi yang terkandung di dalamnya. Naskah kuno yang tersisa, selain sebagai bentuk dokumentasi budaya namun juga dapat menjadi objek pembelajaran untuk mengambil pesan moral yang dan kandungan di dalamnya. Nilai-nilai kebaikan tersebut mungkin saja dapat dibutuhkan dalam menjawab permasalahan dan tantangan kehidupan di masa kini.

Usaha pelestarian dan penyelamatan terhadap naskah-naskah kuno yang umurnya sebagian besar sudah ratusan tahun harus segera dilakukan, agar koleksi dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Kondisi fisik bahan yang terbuat dari bahan-bahan seperti kertas, lontar, bambu, kulit kayu dan sejenisnya tentu sangat rawan dan tidak akan awet karena sewaktu-waktu akan makin rusak dimakan usia. Preservasi dapat dilakukan dengan digitalisasi koleksi naskah kuno. Digitalisasi adalah proses kegiatan mengubah dokumen tercetak menjadi dokumen digital. Proses digitalisasi ini dapat dilakukan terhadap berbagai bentuk koleksi atau bahan pustaka seperti, peta, naskah kuno, foto, karya seni patung, audio visual, lukisan, dan sebagainya (Mustofa, 2020)

Seluruh koleksi naskah kuno yang telah teridentifikasi selanjutnya akan dilakukan proses digitalisasi. Pendigitalisasian tersebut harus segera dilakukan karena, kondisi fisik naskah kuno yang telah rapuh dan mudah rusak ketika disentuh. Digitalisasi naskah memiliki manfaat yaitu selain untuk mengamankan fisik naskah sebagai sumber tertulis juga isi naskah menjadi penting diselamatkan agar informasi terkait dapat terus dipelajari dan dimanfaatkan oleh generasi seterusnya. Upaya pelestarian tangible dan intangible telah dilakukan dan terus berlanjut untuk selanjutnya dimanfaatkan. Proses digitalisasi, preservasi, eksibisi, diskusi dan lain-lain sebagai sebuah bentuk mendekatkan naskah-naskah kuno Nusantara dengan kondisi saat ini. Bentuk pelestarian tersebut telah lama berlangsung, namun ada bentuk alih media dan pemanfaatan yang mungkin masih jarang dilakukan di Indonesia. Penggarapan film yang bersumber dari keberadaan naskah-naskah mungkin belum tersentuh oleh para sineas kita.

Bagi para penggemar film-film berlatarkan petualangan sejarah dan arkeologi, para antropolog yang melakukan riset lapangan terkait kebudayaan kuno, perburuan harta karun atau pusaka mungkin telah menjadikan film Petualangan Indiana Jones sebagai salah satu referensi favorit. Bagaimana kisah seorang profesor arkeolog yang berlaga di film pertama Indiana Jones: Raiders of the Lost Ark (1981) melakukan petualangan mencari kepingan-kepingan sejarah dan perburuan temuan-temuan arkeologis didasarkan kepada penelitian manuskirp terlebih dahulu.

Yang menarik serta selalu menjadi ciri khas di film tersebut ialah petualangan Indiana Jones memburu kepingan-kepingan sejarah melalui manuskrip di berbagai peradaban. “Naskah kuno” menjadi pintu masuk utama yang menghubungkan setiap peradaban dan masa di sepanjang alur film tersebut. Tentu penggarapan naskah film tersebut tidak dilakukan secara asal-asalan. Riset yang dilakukan menggandeng para pakar multidisiplin sehingga dapat menghidupkan cerita berdasarkan kepakarannya. Menonton film sekaligus belajar sejarah dari kebudayaan masa lampau termasuk memaknai pesan-pesan moral dari setiap naskah kuno yang dikaji.

Di sinilah upaya pelestarian dengan media lain sebagai upaya membumikan nilai dari tinggalan naskah kuno pada sebuah peradaban kebudayaan. Film sebagai media antar generasi dimana para akademisi yang kepakarannya tidak perlu diragukan lagi, bukan saja terbantu namun juga turut sereta dalam menyampaikan kisah inspiratif, pesan moral, nasihat, maupun ceritera yang tak terungkap dari naskah-naskaa kuno tersebut. Proses pelestarian bukan hanya fisik semata namun juga telah merambah kepada nilai tak terlihat dari sebuah manuskrip. Upaya pelestarian dapat tetap berlangsung bahkan dapat melibatkan para penonton yang turut terinpirasi dan memiliki rasa tanggungjawab juga untuk melestarikan nilai dari sebuah manuskrip tinggalan peradaban.

Indonesia yang merupakan salah satu peradaban besar dan mungkin cukup tua memiliki khazanah manuskrip atau naskah kuno yang banyak untuk dinventarisir. Kebudayaan kita yang beragam dengan tinggalan manuskrip memiliki potensi besar untuk disampaikan lewat pembuatan film fiksi Sejarah. Tidak lagi semata lewat film dokumenter. Para sineas sudah sepatutnya memulai menyajikan kekayaan budaya kita yang bernilai dan beragam. Komunikasi dengan komunitas naskah nusantara dan para filolog dapat terjalin sebuah sinergi untuk mulai menampilkan tayangan sejarah edukatif yang menarik namun tetap melek dan tidak anti dengan perkembangan zaman dan selera pasar.

Referensi

-          Hanum, Atiqa Nur Latifa. Antonius Totok Priyadi , Aliyah Nur'aini Hanum , Aji Ali Akbar. 2023. Peran Library, Archives, Nuseums dalam Pelestarian Naskah Kuno di Kalimantan Barat. Jurnal Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi,  Vol. 19 No. 1, Juni 2023. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dan Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura.

Mustofa. 2020. Digitalisasi Koleksi Karya Sastra Balai Pustaka sebagai Upaya Pelayanan di Era Digital Natives. JPUA: Jurnal Perpustakaan Universitas Airlangga: Media Informasi Dan Komunikasi Kepustakawanan

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX