InstagramTiktokX
Minggu, 25 Januari 2026

Kisah 1001 Makanan di Candi Prambanan

JP
Jaka Perbawa
Balai Media Kebudayaan
Gambar: Relief Kuliner pada Candi Brahma, sumber: sv.ugm.ac.id/2025/10/28/
Gambar: Relief Kuliner pada Candi Brahma, sumber: sv.ugm.ac.id/2025/10/28/

Kebutuhan manusia yang paling mendasar adalah kebutuhan untuk makan. Dalam upayanya untuk mempertahankan hidup, manusia memerlukan makan. Makanan adalah sesuatu yang sangat esensial bagi kelangsungan hidup manusia. Dari masa lalu sampai sekarang terus berkembang dalam upayanya mendapatkan dan mengolah bahan makanan sehingga menjadi sebuah makanan yang siap untuk disantap. Dalam usaha untuk mendapatkan makanan, manusia prasejarah pada masa paleolitik dan mesolitik melakukannya dengan berburu dan mengumpulkan makanan serta masih bergantung pada alam. Selanjutnya, pada tingkat bercocok tanam atau neolitik, manusia mulai mengembangkan pembudidayaan tumbuhan dan penjinakan sejumlah jenis hewan (Sukardi dalam Nasoichah, 2009). Pada masa itu, manusia diperkirakan sudah mengenal beraneka cara mengolah makanan. Makanan, tidak hanya dimakan mentah-mentah, dibakar atau dipanaskan dengan batu, tetapi juga sudah dipanggang dan direbus (Jacob dalam Nasoichah, 2009).

Candi Prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia sekaligus di Asia Tenggara. Candi ini dibangun sekitar 850 M oleh Rakai Pikatan, raja kedua wangsa Mataram, atau Balitung, semasa wangsa Sanjaya (Sumartono dalam Istanto & Syafii, 2017). Bentuk candi Prambanan sangat megah, kemegahannya dapat dilihat dari bentuk candinya yang menjulang tinggi. Candi Prambanan, pada dindingnya terdapat beragam jenis ornamen/ragam hias. Ornamen/ragam hias tersebut di antaranya motif kala, makara, sosok manusia dan binatang, sulur, roset, motif Prambanan, motif geometris, tekstil, makanan dan sebagainya,

Relief cerita pada Candi Prambanan merupakan salah satu data arkeologi yang dapat digunakan untuk merekonstruksi kehidupan masa lalu di Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Tengah yang bercorak agraris. Tanaman yang digambarkan secara naturalis pada relief merupakan data utama dalam merekonstruksi perilaku manusia Jawa Kuno dalam mengelola tanaman bernilai ekonomis. Beberapa candi pada masa Mataram Kuno periode Jawa Tengah mempunyai relief naturalis yang menggambarkan berbagai jenis tanaman. Tanaman yang digambarkan dalam relief tersebut adalah hasil pengamatan seniman pada masa tersebut terhadap keadaan lingkungan yang sebenarnya (Kusen dalam Setyawan, 2022). Identifikasi tanaman pada Relief-Relief Candi Prambanan ditemukan pada relief cerita Ramayana pada Candi Siwa Dimana terdapat penggambaran tanaman diantaranya mangga, pisang, kelapa, Nangka, durian, manggis dan jambu air (Setyawan, 2022). Kawasan Prambanan yang diasumsikan sebagai salah satu pusat kerajaan Mataram Kuno menempati ruang di pedalaman pulau Jawa. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh keadaan tanahnya yang subur, karena merupakan daerah bentukan asal gunungapi Merapi (Mundardjito dalam Setyawan, 2022).

Gizi dan Makanan menjadi sorotan penting bagi dinamika kehidupan masyarakat di sepanjang waktu utamanya saat ini. Gagasan peringatan Hari Gizi dan Makanan kembali pada masa awal Bangsa Indonesia saat kembali ke negara kesatuan pada 1950. Suasana kehidupan di awal-awal Indonesia Merdeka, rakyat saat itu masih terbilang jauh dari kata sejahtera dan makmur. Ratusan tahun terkungkung di bawah pemerintahan kolonial berakibat pada masyarakat yang dilanda kekurangan gizi karena sekian lama tidak diperhatikan asupan makanan yang bergizi. Permasalahan besar dalam perencanaan pembangunan jiwa dan raga rakyat jika hal mendasar, yaitu ketersediaan sumber makanan yang bergizi tidak diperhatikan.

Betapa pentingnya posisi makanan utamanya yang bergizi dalam setiap peradaban menghasilkan warisan-warisan rahasia leluhur yang diwariskan lewat media-media populer di setiap masa. Termasuk pada periode Mataram Kuno yang tersaji lewat relief-relief yang disematkan pada Candi Prambanan yang memunculkan sumber-sumber makanan baik itu lewat tanaman maupun buah-buahan.

Kanal Budaya IndonesianaTV yang memiliki maksud dan tujuan melestarikan dan mempromosikan budaya Indonesia yang beragam kepada masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri melalui penayangan program-program yang mengangkat berbagai aspek budaya Indonesia, seperti kesenian, adat istiadat, tradisi, dan sejarah. Kanal Budaya IndonesianaTV ingin meningkatkan pengetahuan dan wawasan masyarakat tentang budaya Indonesia melalui penayangan program-program edukatif dan informatif yang dikemas dengan menarik dan mudah dipahami oleh semua kalangan.

Konten-konten kebudayaan yang terkait dengan  ragam makanan pada masa Mataram Kuno yang saat ini ada di platform IndonesianaTV adalah “Tapak Rasa Mataram Kuno”. Sebuah dokudrama yang mengungkap jejak kuliner kaya dari zaman Mataram Kuno melalui relief-relief Candi Prambanan dan prasasti-prasasti kuno. Program ini membawa penonton pada perjalanan sejarah yang menggugah rasa ingin tahu tentang masakan-masakan yang telah tercatat dalam seni ukir candi, memperlihatkan betapa pentingnya kuliner dalam kehidupan budaya dan spiritual masyarakat kuno. Dengan memadukan drama dan dokumentasi, Tapak Rasa Mataram Kuno menyoroti bagaimana tradisi kuliner yang terukir di masa lalu tidak hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga sebagai ekspresi cita rasa, simbol status, dan kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Program ini menghadirkan sudut pandang baru tentang sejarah kuliner Nusantara dan menantang penonton untuk mengeksplorasi warisan kuliner yang tersembunyi di balik keindahan Candi Prambanan.

Tayangan konten-konten kebudayaan yang terdapat di Kanal Budaya IndonesianaTV adalah sebentuk praktik baik yang diharapkan dapat menjadi asupan informasi yang edukatif yang muaranya adalah terwujudnya kebudayaan Indonesia yang tetap lestari dan menjadi penuntun bagi generasi selanjutnya. Budaya yang bersifat dinamis dan mengikuti perkembangan zaman, ke depannya akan mengalami berbagai hal, baik itu budaya adaptif, budaya adopsi, budaya asimilasi, maupun budaya yang terakulturasi.

Dari relief-relief yang ada di Candi Prambanan, kita mendapatkan gambaran bagaimana keanekaragaman tanaman sebagai bahan makanan yang tumbuh di sekitar lingkungan pada masa Mataram Kuno yang demikian melimpah hingga dapat diolah menjadi sumber makanan. Ekosistem yang timbul pada masa itu dapat menjadi bahan pelajaran generasi kini dan yang akan datang untuk dapat mempertahankan terjaganya keanekaragaman flora agar peradaban manusia tidak kehilangan sumber pangan yang bergizi.

 

Referensi

Nasoichah, Churmatin. 2009. Pengawetan Makanan: Upaya Manusia dalam Mempertahankan Kualitas Makanan (Berdasarkan Data Prasasti Masa Jawa Kuno) dalam Jejak Pangan dalam Arkeologi. Seri Warisan Budaya Sumatera Bagian Utara No. 0409. Balai Arkeologi Medan.

Istanto, Riza dan Syafii. 2017. Ragam Hias Pohon Hayat Prambanan dalam Jurnal Imajinasi Vol XI no 1 Januari 2017. Universitas Negeri Semarang.

Setyawan, Hari. 2022. Identifikasi dan Pemanfaatan Tanaman Masa Jawa Kuna: Studi Kasus Relief Ramayana dan Kresnayana Candi Prambanan. Naditira Widya Vol.16 No.1 April 2022-Balai Arkeologi Provinsi Kalimantan Selatan

Riyani, Mufti. 2015. Local Genius Masyarakat Jawa Kuno dalam Relief Candi Prambanan. Jurnal Seuneubok Lada, Vol. 2, No.1, Januari - Juni 2015. Universitas Samudra, Langsa

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX