InstagramTiktokX
Jumat, 27 Juni 2025

Kirab Kebo Bule: Simbol Kebudayaan Jawa Sejak Era Mataram Islam

WP
Wastu Prasetya
Kirab Kebo Bule Keraton Kasunanan Surakarta_Ahmad Antoni-sindonewsfoto
Kirab Kebo Bule Keraton Kasunanan Surakarta_Ahmad Antoni-sindonewsfoto

Setiap tanggal 1 Suro atau 1 Muharam, Keraton Kasunanan Surakarta memiliki hajat rutin tahunan bernama Kirab Malam1 Suro. Hajat ini merupakan tradisi mengarak pusaka keraton sebagai penanda pergantian tahun menurut penanggalan Jawa. Bulan Suro dalam budaya Jawa merupakan bulan yang suci dan penuh rahmat terlebih bagi lingkungan keraton. Maka dari itu, tradisi Kirab Malam 1 Suro terus dilaksanakan hingga kini sebagai wujud mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya diberikan keselamatan saat memasuki tahun yang baru.

Tradisi perayaan Malam 1 Suro sejatinya sudah dilaksanakan sejak Kerajaan Mataram Islam dipimpin oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma yang juga merupakan pencipta sistem penanggalan Jawa. Pada masa Sultan Agung, perayaan Malam 1 Suro lebih bersifat perenungan tanpa melakukan kirab pusaka (Purnamasari & Utari, 2015). Sementara Kirab Malam 1 Suro dengan mengarak pusaka keraton bersama dengan Kebo Bule Kyai Slamet baru dilakukan oleh Keraton Kasunanan Surakarta (pecahan Kerajaan Mataram Islam) saat dipimpin oleh Sunan Pakubuwono XII (Muthoharoh, 2022). 

Dalam Kirab Malam 1 Suro yang dilakukan oleh Keraton Kasunanan Surakarta, pusaka keraton yang akan dikirab telah disucikan (dijamasi) sebelumnya. Setelah itu pusaka keraton diarak keliling keraton dengan dikawal (cucuk lampah) oleh rombongan Kebo (Kerbau) Bule yang merupakan klangenan atau kesayangan raja. Umumnya berjumlah 7 ekor (2 kerbau jantan dan 5 kerbau betina) (Muthoharoh, 2022; Purnamasari & Utari, 2015). Sebelum diarak mengawal pusaka keraton, Kebo Bule dimandikan atau dijamasi dengan air kembang setaman. Setelah Wilujengan Haul atau doa bersama, Kebo Bule dibawa oleh pangon (pawang) ke halaman keraton untuk dibariskan bersama pusaka-pusaka keraton yang akan dikirab. Posisi Kebo Bule diposisikan selalu paling depan dengan maksud selain sebagai pengawal terdepan yang menjadi simbol keselamatan juga sebagai penanda bahwa fitrahnya sebagai hewan yang membantu pekerjaan manusia posisinya harus di depan manusia yang mengendalikannya (Purnamasari & Utari, 2015). 

Kebo Bule milik Keraton Kasunanan Surakarta yang dikenal dengan Kyai Slamet merupakan persembahan (pisungsung) dari Adipati Ponorogo, Surobroto kepada Sunan Pakubuwono II saat melakukan pelarian ke Ponorogo karena Geger Pecinan sekitar tahun 1742 di Keraton Kartasura (Rudianto et.al, 2020). Ketika di Ponorogo, Sunan Pakubuwono II menemui kakaknya Pangeran Kalipo Kusumo dan kemudian disarankan untuk bertapa di bawah pohon sawo kembar (sawo sak kembaran) di selatan Gunung Bayangkaki (Hudaya, 2019). Dalam pertapaannya, Sunan Pakubuwono II mendapatkan petunjuk tentang pusaka berbentuk tombak bernama Kyai Slamet yang dapat mendatangkan kesejahteraan bagi kerajaan. Namun, pusaka tersebut harus dikawal oleh sepasang kerbau putih/albino (kebo bule) saat kembali ke Kartasura.

Adipati Suroroto yang mengetahui hal tersebut kemudian memberikan persembahan (pisungsung) sepasang kebo bule kepada Sunan Pakubuwono II (Lalita, 2018). Secara gaib, pusaka Kyai Slamet menghilang dan menyatu dengan tubuh kebo bule. Rombongan Sunan Pakubuwono II kemudian kembali ke Kartasura dengan membawa pusaka Kyai Slamet yang menyatu dengan kebo bule. Singkat cerita, Pakubuwono berhasil merebut kembali Keraton Kartasura dari para pemberontak Tionghoa berkat membawa Kebo Bule Kyai Slamet. Bahkan konon, ketika akan memindahkan keraton ke Desa Sala tahun 1745, kebo bule sengaja dilepaskan untuk merumput/mencari makan. Lokasi yang saat ini menjadi Keraton Kasunanan Surakarta dipercaya sebagai tempat kebo bule berhenti untuk merumput.

Kebo Bule Kyai Slamet sudah turun-temurun secara langsung maupun tidak langsung telah menunjukkan pengaruhnya dan memberikan kesejahteraan kepada Keraton Kasunanan Surakarta dan rakyatnya hingga saat ini. Sebagai institusi kebudayaan lama yang masih menjalankan tradisi leluhurnya, Keraton Kasunanan Surakarta menjadikan Kirab Kebo Bule di malam 1 Suro sebagai simbol untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan keselamatan dan kesejahteraan bagi bangsa, negara, serta juga seluruh rakyatnya. Kebo Bule Kyai Slamet juga turut menjadi inspirasi pencipatan kesenian baru di Ponorogo bernama Kesenian Kebo Bule. Kesenian ini bertujuan sebagai media dakwah Islam serta melestarikan sejarah tentang perjalanan rombongan Sunan Pakubuwono II ketika melarikan diri ke Ponorogo hingga mendapatkan pusaka dan kebo bule.


Referensi

Purnamasari, R. A., & Utari, P. 2015. Fenomena Kebo Bule Kyai Slamet Dalam Kirab 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta. Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Lalita, Yohana M. 2018. Manajemen Risiko Tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta. Jurnal Tata Kelola Seni. Vol. 4 (1). Hlm. 8-18.

Hudaya, S. et.al. 2019. Sejarah Kebo Bule Kyai Slamet di Keraton Surakarta Jilid I. Ponorogo: UM Ponorogo Press.

Rudianto, et.al. 2020. Penelusuran Sejarah Kebo Bule “Kyai Slamet” di Keraton Surakarta dan Kelahiran Kesenian Kebo Bule Sebagai Media Dakwah Islam di Ponorogo. Sebatik. Vol. 24(2). Hlm. 240-252.

Muthoharoh, Ika. 2022. Makna Spiritual dalam Perayaan Kirab 1 Suro (Keraton Kasunanan Surakarta). Skripsi. Program Studi Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.


gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX