Kini Dunia Butuh Musik Pemersatu? Refleksi 40 Tahun Lagu USA for Africa

40 tahun yang lalu, pada tahun 1985 para musisi dunia yang dikomandoi oleh Lionel Richie dan Michael Jackson membentuk kelompok musik United Support of Artists for Africa (USA for Africa) yang menelurkan singel yang hits pada masanya dan mungkin hingga kini tidak asing di telinga, yaitu “We Are The World”. Isu yang muncul dan menjadi perbincangan dunia saat itu adalah kelaparan hebat yang melanda negara Ethiopia. Beragam angka terkait total korban jiwa yang meninggal berada pada kisaran 400.000 hingga 1.000.000 orang. Berbagai bantuan dari negara-negara di dunia ditujukan kepada Ethiopia. Seluruh mata dunia tertuju pada mereka, termasuk di Indonesia bagaimana musisi Iwan Fals pun turut menciptakan lagu khusus berjudul “Ethiopia” pada tahun 1986 untuk menunjukkan kepeduliannya.
Kembali kepada kelompok USA for Africa, tujuan utama dari penciptaan lagu ini adalah untuk menggalang dana baik itu melalui penjualan singel maupun konser-konser yang dhelat yang hasilnya akan disumbangkan kepada USA for Africa Foundation, untuk kemudian disalurkan bantuan ke Ethiopia dan wilayah Afrika lainnya yang juga tengah dilanda kelaparan. Lagu ini akhirnya meledak di pasaran dan memuncaki tangga lagu di negara-negara sedunia.
Di sinilah peran musik sebagai alat diplomasi dan propaganda, bagaimana musik dapat mempengaruhi pasar, membentuk persepsi, menggerakkan hati dan pikiran, dan memunculkan tindakan yang nyata. Musik adalah bahasa universal yang tak mengenal sekat suku bangsa, ideologi, dan perbedaan. Musik dapat dinikmati dari berbagai aspek sesuai minat dan preferensi musik pendengarnya.
Kini dunia kembali memanggil para musisi untuk menunjukkan kontribusinya terhadap permasalahan dunia yang mendera. Di momen Hari Musik Sedunia, saatnya para musisi membuka lebar-lebar matanya, mendengar lebih jelas, bertanya pada dirinya apa yang dapat diperbuat untuk perdamaian dunia. Kondisi terkini, dunia tengah berada di ambang kehancuran jika apa yang ditakutkan pada akhirnya benar-benar akan terjadi. Ancaman Perang Dunia ke-3 menjadi isu hangat yang menjadi perhatian dunia dewasa ini. Saat ini, situasi di Timur Tengah semakin mengkhawatirkan dan akan membahayakan tatanan kehidupan dunia. Jika perseteruan Iran-Israel menjadi di luar kendali akan menimbulkan keguncangan dahsyat bagi peradaban manusia. Kembali, yang menjadi korban tetap rakyat biasa yang tak berdosa.
Masa depan perdamaian dunia dipertaruhkan oleh kebijakan-kebijakan para penguasa yang mungkin saja tidak menghiraukan nasib rakyat biasa ke depannya. Akan terjadi bencana kemanusiaan seperti kelaparan, gelombang pengungsi, wabah penyakit yang pada akhirnya menimbulkan penderitaan kepanjangan. Belajar dari sejarah, banyak peperangan yang hanya diawali oleh keserakahan dan ambisi para pemimpinnya namun berakhir pada kesengsaraan yang menimpa rakyat kecil, punahnya peradaban, dan hilangnya jati diri sebagai suatu bangsa.
Dimana para musisi dunia kini? Sudah lunturkah kiranya rasa kepedulian terhadap sesama karena dilenakan keglamoran gaya hidup. 40 tahun sudah berlalu sejak lagu “We are The World” lahir. Dunia kini sedang membutuhkan sesuatu yang bersifat universal, mungkin lewat musik dapat meredakannya? Adakah musisi yang terketuk hatinya dan turut ambil bagian dari kegentingan situasi yang kini mendera? 40 tahun silam bisa menyatukan dunia, kini di era teknologi yang telah lebih modern, tentu bukanlah hal yang sulit untuk menyatukan persepsi untuk beraksi.
Selamat Hari Musik Sedunia, masyarakat sedunia kini menanti
