Kesetaraan dalam Pemajuan Kebudayaan Global

Peradaban dunia yang terdiri dari beragam kebudayaan menjadikannya sebuah kekayaan bersama bagi dunia. Hal tersebut menjadikan keunikan tersendiri dengan ciri khas masing-masing. Pada satu sisi, keberagamanan ini menjadikan berwarnanya kehidupan dunia dewasa ini. Namun, di satu sisi dapat menjadi tantangan sekaligus bumerang jika masing-masing kebudayaan tersebut mengedepankan sikap egosentrisme, primordialisme, dan cenderung merendahkan satu sama lain.
Wacana pertemuan-pertemuan insan kebudayaan sedunia lewat CHANDI SUMMIT 2025 dilandasi pemahaman bersama demi harmonisnya kehidupan antar negara dan bangsa. Dialog untuk pembangunan berlandaskan kebudayaan menjadi narasi dasar bersama. Sebelum membahas posisi kebudayaan Indonesia di ranah global, menarik untuk kembali meneropong keberagaman kita. Meneropong periodisasi kemajuan peradaban di setiap negara tentu saja akan berbeda-beda. Level pemahaman terkait pemajuan kebudayaan dipengaruhi oleh proses kelahiran suatu bangsa itu sendiri.
Revolusi besar lahirnya peradaban baru pasca-Perang Dunia ke-2 melahirkan negara dan bangsa baru yang terlepas dari pengaruh budaya luar yang telah sekian lama mencengkeram bumi Nusantara. Revolusi ideologis dan politis tidak diimbangi dengan revolusi kebudayaan. Pola pikir masyarakat Indonesia yang ratusan tahun terbelenggu dan dipaksa kolonialis untuk meniauhkan dari kemajuan peradaban dunia membuat munculnya pola pikir inferior dan rendah diri.
Jika negara-negara yang telah ada sebelum kelahiran bangsa-bangsa baru di periode 1945-1965 memandang dunia untuk tujuan kesejahteraan rakyatnya serta mengedepankan keunggulan pemikiran bangsanya, berbeda dengan negara-negara yang muncul belakangan yang masih pada tahap pemikiran pencarian identitas. Evolusi kebudayaan yang natural terjadi di negara-negara baru harus dipaksa berpacu untuk mengejar ketetinggalan kualitas sumber daya manusianya dengan negara-negara yang sudah matang sebagai peradaban.
Pembangunan Indonesia berhadapan dengan pengaruh dan interaksi global yang dalam banyak hal justru lebih kuat dari kemampuan kita sendiri untuk melawannya. Dalam era globalisasi yang terjadi bukan saja penyebaran budaya, dari negara maju ke negara berkembang, tetapi juga terjadi penaklukan budaya dari negara berkembang. Dalam hal ini, kebudayaan nasional dan daerah mengalami tantangan, yakni (1) bagaimana mengembangkan sistem kebudayaan yang membuatnya mampu bersaing dalam kompetisi global, (2) bagaimana agar penyebaran, intervensi, bahkan penaklukan budaya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan.
Budaya yang Bersifat Terbuka
Untuk menjawab tantangan global dalam budaya di atas, maka budaya daerah harus bersifat terbuka. Yang artinya, mampu beradaptasi dan menyesuaikan dengan tuntutan global, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai dan moral serta norma budaya asli. Nilai-nilai positif budaya global diadaptasikan dengan nilai-nilai positif budaya kita, sehingga kepribadian bangsa kita tetap tegak tetapi memiliki nuansa global yang positif (Nugroho, 2001:71-73).
Pemajuan kebudayaan di setiap negara tentu masing-masing memliki pendekatan berbeda dalam cara pandangnya. Ketertinggalan civilization adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dipaksakan. Stigma negara maju dan negara sedang berkembang senantiasa menghantui negara bangsa dalam memandang pembangunan kebudayaan global. Titik awal yang berbeda akan terus berujung pada pencapaian pemajuan kebudayaan di setiap negara akan berbeda-beda. Pemajuan kebudayaan yang saat ini digaungkan oleh negara-negara maju mungkin baru akan dipikirkan oleh negara-negara berkembang di seratus tahun yang akan datang.
Pun sebaliknya, pemajuan kebudayaan yang saat ini digalakkan di negara-negara berkembang, telah dilakukan oleh negara-negara maju beberapa dekade ke belakang. Jika di negara-negara yang baru mencari jatidiri pasca kelahirannya, baru sebatas berpikir untuk melakukan pelestarian budaya baik itu sebagai tontonan dan tuntunan yang sejalan dengan pencarian identitas, maka di negara-negara maju landasan berpikirnya sudah berpikir bagaiman mengembangkan dan memanfaatkan budaya sebagai upaya pemenuhan aspek ekonomi berkelanjutan.
Melalui CHANDI SUMMIT ini, gap pemahaman terkait pembangunan kebudayaan global menjadi muara pertukaran pemikiran serta upaya merangsang revolusi kebudayaan secara global di mana seluruh pihak yang bertatap muka dapat mengemukakan pandangan-pandangan termutakhir serta mendengarkan pencapaian-pencapaian terkait pemajuan kebudayaan di masing-masing negara asalnya.
Di Indonesia, pemajuan kebudayaan telah diatur secara regulasi dimana juga menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional. Pemajuan Kebudayaan selanjutnya tetuang dalam visi "Indonesia Emas 2045", yang bercita-cita membangun masyarakat adil dan makmur yang berakar pada harmoni alam, kekayaan budaya, dan toleransi beragama. Landasan utamanya adalah upaya untuk menggali kearifan lokal dan warisan budaya yang beragam, dimana semuanya bermuara kepada kontribusi nyata pada agenda pembangunan kebudayaan global. Keberlangsungan peradaban dunia semua diawali dari kearifan lokal masing-masing peradaban negara dan bangsa sebagai warga dunia yang mengedepankan perdamaian dunia.
CHANDI SUMMIT yang dihelat oleh Kementerian Kebudayaan pada 2-5 September 2025 di Bali adalah bagian dari langkah strategis eksistensi Indonesia dalam pembangunan kebudayaan global, dimana kebudayaan adalah upaya nyata diplomasi suatu bangsa. Misi-misi kebudayaan dari setiap negara peserta akan bermuara kepada terjadinya dialog, transfer pemahaman dan pengetahuan, serta mengedepankan tenggang rasa dalam hidup berdampingan sebagai warga dunia. Keberagaman budaya penghuni dunia yang masing-masing dengan ciri khasnya ditampilkan, bermuara kepada melanggengkan aset-aset kebudayaan sebagai bukti lestarinya peradaban dunia.
Referensi
Ajawaila, J.W. 2003. Identitas Budaya: Aku dalam Budaya Lokal, Budaya Nasional dan Budaya Global. Prosiding Dialog Budaya: Wahana Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan Bangsa. Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata, Deputi Pelestarian dan Pengembangan Budaya, Direktorat Tradisi dan Kepercayaan.
Widjajanto,.Nugroho 2001. Sistem Informasi Akuntansi. Jakarta : Erlangga
