InstagramTiktokX
Senin, 01 Januari 2024

Kenduri Swarnabhumi: Role Model Pembangunan Budaya Berkelanjutan Pasca Pandemi

 
Foto: Kemendikbudristek
Foto: Kemendikbudristek

Jakarta - Sangat drastis efek pandemi Covid-19. Menghantam sisi kesehatan, ekonomi, dan kemanusiaan. Puluhan juta manusia terpapar dan memerlukan penanganan medis. Pengangguran memuncak hingga melahirkan rasa saling curiga antar-masyarakat, mengurangi interaksi sebab khawatir terjangkit virus.

Namun satu hal yang juga tidak boleh luput dilupakan dari imbas pandemi Covid-19 yaitu terkikisnya semangat dan nilai kebudayaan. Mungkin menimbulkan pertanyaan: apa benar pandemi juga ‘memukul jatuh’ kebudayaan? Dari segi mana pandemi berpengaruh terhadap kebudayaan?

Laporan Culture in Times of COVID-19: Resilience, Recovery and Revival yang dirilis UNESCO dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Abu Dhabi pada Juni lalu memaparkan bahwa selama tahun 2020 sektor kebudayaan kehilangan 10 juta pekerjaan dan penurunan 20-40 persen penurunan pendapatan.

Proyek kebudayaan juga berkurang nilai tambah yang dihasilkan mencapai 25 persen. Minimnya interaksi antar-negara sebab pandemi ikut mengganggu produksi serta distribusi barang dan jasa kebutuhan budaya, contohnya 64 persen pekerja budaya lepas di Amerika Latin kehilangan 80 persen pendapatan.

Lalu Juni 2021 UNESCO menginventarisir sebanyak 13 persen museum dan galeri budaya di dunia harus ditutup sebab pelarangan aktivitas. Tentu saja situasi tersebut menghilangkan pula ruang kerja pelaku kebudayaan.

Sedangkan di Indonesia, riset dihimpun Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada Agustus 2021 sebanyak 65 persen pelaku budaya nasional tidak lagi bekerja. Faktor itu mempengaruhi penurunan pendapatan hingga 70 persen. Kemudian 70 persen ruang seni dan organisasi kebudayaan tidak aktif.

Kondisi di Indonesia masih ditambah lagi harus berhentinya ajang-ajang festival seni budaya nasional, pagelaran adat, maupun pentas tadisi lokal sebab larangan berkumpul guna mengantispasi penyebaran virus Covid-19.

Merujuk EB Taylor, kebudayaan menjadi perasaan suatu bangsa meliputi pengetahuan, kepercayaan, moral, seni, hukum, dan adat yang diperoleh dari anggota masyarakat satu dengan lainnya. Dengan begitu beragamnya kebudayaan di Tanah Air dapat dijadikan gambaran sikap dan rasa otentik Indonesia yang diperoleh dari warisan masa lalu dan seharusnya berkelanjutan dimunculkan. 

Pelopor pembangunan budaya

Memasuki tahun 2022 situasi pandemi mulai terkendali –meski belum berakhir-- dan menurun tren penyebarannya. Keadaan yang mulai membaik ini dapat menjadi momentum kembali menggelorakan semangat  sektor kebudayaan.

Langkah itu telah ditunjukkan Kemendikbudristek dengan menggelar beberapa event kebudayaan. Salah satunya paling baru Kenduri Swarnabhumi 2022 yang berlangsung di Sumatera Barat dan Jambi, di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari.

Kenduri Swarnabhumi 2022 dapat disebut suatu upaya pemajuan kebudayaan untuk mengingat, melestarikan, dan menemukembali berbagai peradaban budaya dalam tradisi masyarakat Melayu akuatik, khusunya di Provinsi Jambi. 

Melihat berbagai hasil dokumentasi dan pemberitaan, serta melihat secara langsung, Kenduri Swarnabhhumi berhasil mengajak masyarakat menyadari arti penting Sungai Batanghari sebagai pembentuk kearifan lokal yang bertahan hingga kini. Setiap daerah dilalui aliran Sungai Batanghari menyelenggarakan pentas tradisinya. 

Menariknya, rangkaian Kenduri Swarnabhumi dikemas sebagai sebuah penyusuran tim ekspedisi Sungai Batanghari guna meneliti apa saja obyek cagar budaya peninggalan masa lalu yang menjad bagian kekayaan sejaran nasional. Dalam pelaksanaan Kenduri Swarnabhumi 2022 terimplementasi kolaborasi antara pemangku kepentingan yakni Kemendikbudristek dan pemilik warisan budaya lokal yaitu pemda serta masyarakat. 

Pemda setempat dan masyarakat diberikan hak otonomi menampilkan segala atraksi budayanya. Muncul merdeka berbudaya sebab pemda dan masyarakat bebas berkreasi menyampaikan pola adat-istiadat Melayu akuatik.

Begitulah dimaksud oleh Louise Kelly dan Chris Booth sebagai sinergi budaya. Terbentuk harmonisasi arah dan operasi organisasi yang sebelumnya terpisah lalu berintegrasi demi kepentingan kebudayaan. Pemerintah pusat (Kemendikbudristek), pemda maupun masyarakat saling bersatu menyebarluaskan nilai kebudayaan untuk kemajuan.

Dari perhelatan Kenduri Swarnabhumi 2022 dapat ditarik “benang merah” adanya usaha menggerakkan kesadaran merawat dan memajukan kebudayaan. Negara –dalam konteks ini Kemendikbudristek—hadir untuk menstimulasi pihak lain (pemda dan masyarakat) membangun kebudayaan. Negara tidak abai terhadap pembangunan kebudayaan,

Dukungan Kemendikbudristek kepada daerah bertujuan agar pembangunan budaya ke depannya terus berkelanjutan. Nantinya tumbuh kesadaran daerah untuk menginisiasi mandiri berbagai festival kekayaan budayanya. Dengan begitu, pembangunan budaya tidak pernah berhenti karena menyadari betapa pentingnya warisan leluhur menciptakan peradaban kehidupan yang dirasakakannya kini.

Terbangunnya kesadaran itu diharapkan secara otomatis melahirkan sumber daya manusia (SDM) pelopor pembangunan kebudayaan. SDM pelopor yang mampu menyusun strategi pembangunan kebudayaan melalui berbagai karya, inovasi, dan kreativitas. Amanat UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudaayan pada akhirnya berputar terus sebab Indonesia memiliki SDM pelopor yang setia merawat kekayaan tradisinya.

Gotong Royong Unjuk Kebudayaan di Setiap Titik

Kenduri Swarnabhumi digelar Kementerian Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama 14 pemerintah daerah yakni Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi, Pemprov Sumatera Barat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batanghari, Pemkab Bungo, Pemkab Dharmasraya, Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi, Pemkab Kerinci, Pemkab Merangin, Pemkab Muarajambi, Pemkab Sarolangun, Pemkab Sijunjung, Pemkab Tebo, Pemkab Tanjung Jabung Barat, Pemkab Tanjung Jabung Timur, dan ribuan masyarakat, budayawan, pelaku seni dan budaya, arkeolog, peneliti, sejarawan, komunitas, mahasiswa. 

Kenduri Swarnabhumi yang membawa narasi Menghubungkan Kembali masyarakat Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari merupakan wadah penyebarluasan informasi melalui berbagai kegiatan budaya fisik dan non-fisik di kawasan sepanjang DAS Batanghari tersebut dengan tujuan memajukan kebudayaan, dan menggerakkan kesadaran masyarakat tentang harmoni sungai dan peradaban yang semakin penting untuk dirawat dengan kearifan berbasis budaya demi menjaga ekosistem di DAS Batanghari.

Kenduri Swarnabhumi dimulai dari hulu Sungai Batanghari yakni di Kabupaten Dharmasraya yang berada di Provinsi Sumatra Barat. Kenduri Swarnabhumi sebagaai rangkaian festival budaya, Festival Pamalayu menjadi festival budaya pertama yang digelar dan disinggahi tim Ekspedisi Batanghari. 

Selain sebagai festival budaya dan pesta masyarakat Kabupaten Dharmasraya, Festival Pamalayu juga dimaksudkan sebagai upaya pemerintah setempat Bersama masyarakat dan pelaku budaya serta pelaku sejarah hendak meluruskan sejarah bahwa kedatangan rombongan Kerajaan Singosari dari Jawa melalu Ekspedisi Pamalayu ke Kerajaan Dharmasraya dulu merupakan agenda diplomasi atau persahabatan antara kedua kerajaan. Pelurusan sejarah dilakukan karena adanya narasi yang berkembang Ekspedisi Pamalayu merupakan penaklukan Kerajaan Singosari terhadap Kerajaan Dharmasraya. 

Masyarakat Dharmasraya secara turun temurun selalu menceritakan hubungan diplomasi yang dilakukan rombongan Ekspedisi Pamalayu kepada berbagai orang lain. Kekompakan masyarakat bersama berbagai pelaku terlihat jelas pada antusias masyarakat terhadap Festival Pamalayu yang rutin digelar setiap tahun. Masyarakat dari berbagai kecamatan berbondong-bondong hadir menggunakan baju ada, bahkan banyak pula yang hadir menggunakan transportasi sungai. Festival Pamalayu ditutup dengan penampilan drama-musikal bercerita tentang Dara Petak dan Dara Jingga dimana semua pemeran drama terdiri dari berbagai sanggar yang ada di Dharmasraya dan sekitarnya.

Titik kedua tim Ekspedisi Batanghari singgah di Festival Negeri Pamuncuk yang digelar di Kabupaten Tebo juga tak kalah ramai antusias masyarakat dan berbagai pelaku kepentingan. Pada titik ini suasana gotong royong terlihat dari Sidang Negeri dan kuliner yang disajikan. Sidang Negeri merupakan kegiatan bermusyawarah antara tokoh masyarakat membahas berbagai permasalahan dan solusi kedepan di daerah setempat. Sidang Negeri dilakukan dengan menggunakan pakaian adat dan bahasa adat setempat. Hal ini dilakukan rutin setiap tahun guna melestarikan nilai kebudayaan masyarakat. 

Syarat akan semangat gotong royong juga terlihat dari kuliner khas Kabupaten Tebo yakni Gulai Kuning Ikan Nila dan Nasi Ibat, Semua masakan yang disajikan untuk peserta festival diproduksi secara massal oleh para perempuan setempat dengan biaya kebutuhan yang ditanggung secara mandiri. 

Titik ketiga Tim Ekspedisi singgah pada Festival Bumi Seentak Galah Serengkuh Dayung yang juga berada di Kabupaten Tebo. Pada festival ini semangat gotong royong terlihat mencolok dilakukan oleh para siswa sekolah dan para guru bersama pelaku budaya. Dimana pada festival ini semua siswa menunjukan antusiasnya mengikuti festival budaya, bahkan berbagai penampilan budaya dilakukan oleh kelompok yang terdrii dari siswa dari berbagai daerah.

Tim Ekspedisi kembali melanjutkan perjalanannya melalui Sungai Batanghari hingga sampai di Kabupaten Batanghari yakni Festival Tapa Malenggang, tepatnya di pasar tua yang masih berdiri kokoh. Meski di pasar ini terdiri dari masyarakat yang memiliki etnis berbeda seperti keturrunan Arab, Cina, Melayu, dan India, kekompakan dan plurarisme sangat kental di daerah ini. Penampilan budaya yang ditampilkan terdiri dari berbagai etnis. Terakhir, tim Ekspedisi Batanghari disajikan penampilan barongsai oleh masyarakat setempat keturunan etnis Cina.

Tak sampai di Kabupaten Batanghari, lagi-lagi tim Ekspedisi Batanghari dipertontokan semangat gotong royong yang ada di daerah Jambi Seberang, Kota Jambi. Di sini, festival budaya yang digelar yakni Festival Tudung Lingkup. Pada festival ini, tercatat ada 1.000 lebih ibu-ibu dari berbagai kecamatan menutup kepalanya menggunakan kain batik atau songket kebanggaannya masing-masing sebagai syarat mengikuti parade tudung lingkup. 

Setelah selesai di Kota Jambi, rangkaian Kenduri Swarnabhumi berlanjut di Kabupaten Bungo yakni Festival Lek Anak Negeri dan Kabupaten Sarolangun yakni Festival Lapik Semendo. Festival Lek Anak Negeri menjadi ajang tradisi masyarakat Bungo yang berhubunngan dengan ritual keagamaan, diantaranya tolak balak,  syukuran dan pencabutan sumpah. Semangat gotong royong pada festival ini ditunjukkan dengan kekompakan masyarakat setempat menyajikan berbagai konsumsi dengan biaya yang dikumpulkan dari masing-masing warga. 

Pada Festival Lapik Semendo, menggambarkan semangat gotong royong menjaga produk khas kebudayaan Sarolangon, yakni tikar anyam. Tikar anyam khas Sarolangun rutin digunakan di berbagai acara adat seperti pesta menyambut tamu dan pernikahan. Hal ini dilakukan sebagai promosi akan produk khas setempat yang bisa menjadi penggerak ekonomi masyarakat setempat. 

Sama seperti daerah lainnya, setelah tim Ekspedisi Batanghari sampai di Desa Senaung Kabupaten Muaro Jambi pada Festival Sedekah Senaung, kekompakan ditunjukan melalui kuliner yang disajikan dan Lubuk Larangan yang masih terjaga. Lubuk Larangan merupakan bagian sungai yang ditetapkan bersama oleh masyarakat setempat untuk tidak boleh diambil sumber dayanya sebagai upaya lestari sungai. Pengambilan ikan pada lubuk larangan dilakukan di hari-hari tertentu, biasanya pada pesta adat.

Masih di Kabupaten Muaro Jambi, tim Ekspedisi Batanghari mengikuti Festival Renjana Swarnadwipa. Festival ini digelar di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi sebagai upaya mempromosikan dan menarik kembali perhatian masyarakat Jambi akan keberadaan Komplek Percandian yang punya nilai sejarah tinggi. Dari informasi yang dihimpun, KCBN Muaro Jambi ditemukan dan dipugarkan kembali oleh masyarakat setempat bekerja sama dengan pelaku kepentingan terkait. 

Akhir susur budaya tim Ekspedisi Batanghari sampai pada Kuala Sungai Batanghari -pertemuan antara sungai dengan laut yang masuk dalan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, yakni pada Festival Lawang Swarnabhumi. Lawang berarti pintu, menunjuk pada pintu masuk Sungai Batanghari. Pagelaran Festival Lawang Swarnabhumi tak kalah meriah, selain masyarakat dan pemerintah daerah yang bekerja sama, juga terlibat 57 perusahaan yang berada di kabupaten tersebut. 

Di Festival Lawang Swarnabumi inilah tempat meletakkan miniatur kapal emas sebagai simbol telah dilakukannya Ekspedisi Batanghari yang ditanda-tangani oleh berbagai pemerintah yang terlibat. Miniatur kapal ini sebagai monumen pengingat bagi masyarakat untuk terus menjaga kelestarian Sungai Batanghari. 

Pageleran adat terakhir yang diikuti tim Ekpedisi Batanghari yakni Mandi Safar yang dilakukan di Desa Hitam Laut Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Mandi Safar merupakan ritual adat masyarakat setempat yang dilakukan sebagai unjuk rasa syukur akan nikmat alam. Berawal Mandi Safar dilakukan masing-masing di rumah, namun untuk memperkuat silaturahmi dan menjaga nilai kebudayaan setempat, masyarakat menggelar Mandi Safar secara bersamaan di laut hitam. 

Sesuai slogannya ‘Cintai Budaya Kita Lestasikan Sungai, Cintai Sungai Kita Lestarikan Budaya’, narasi Kenduri Swarnabhumi kuat mengangkat dan mengajak masyarakat untuk terus menjaga kearifan lokal dan menjaga lingkungan sungai yang merupakan cikal bakal sebuah peradaban kebudayaan. Namun demikian, secara pelaksanaan justru Kenduri Swarnabhumi menawarkan hal lain yakni semangat gotong royong. Dengan digelarnya rangakain festival budaya di berbagai titik, semua masyarakat dan pelaku kepentingan lain terpacu untuk memberi kontribusi masing-masing guna suksesnya Kenduri Swarnabhumi. 

Kenduri Swarnabhumi adalah sebuah role model bagaimana festival kebudayaan bisa menumbuhkembalikan dan memperkuat semangat kebersamaan.   

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX