Keberagaman Kita Modal untuk Bangkit menuju Pusat Kebudayaan Dunia

Peradaban dunia yang terdiri dari beragam kebudayaan menjadikannya sebuah kekayaan bersama bagi dunia. Hal tersebut menjadikan keunikan tersendiri dengan ciri khas masing-masing. Pada satu sisi menjadikan berwarnanya kehiduoan dunia dewasa ini, namun di satu sisi dapat menjadi tantangan sekaligus bumerang jika masing-masing kebudayaan tersebut mengedepankan sikap egosentrisme, primordialisme dan cenderung merendahkan satu sama lain.
Wacana pertemuan-pertemuan insan kebudayaan sedunia lewat World Culture Forum dilandasi pemahaman bersama demi harmonisnya kehidupan antar negara dan bangsa. Dialog untuk pembangunan berlandaskan kebudayaan menjadi narasi dasar Bersama. Sebelum membahas posisi kebudayaan Indonesia di ranah global, menarik untuk kembali meneropong keberagaman kita. Kebudayaan daerah sebagai pembentuk kebudayaan nasional merentang jauh sejalan dengan perjalanan Sejarah bangsa ini.
Indonesia sebagai suatu negara, memiliki berbagai suku bangsa dengan kebudayaannya sendiri-sendiri. Masing-masing suku bangsa membangun dan mengembangkan kebudayaannya melalui berbagai pengalaman sejarah yang dimilikinya, melalui kemampuan adaptasi terhadap lingkungannya dan melalui pengetahuan yang dimilikinya. Dengan demikian, kebudayaan suku bangsa berkembang dari waktu ke waktu sesuai perkembangan zaman. Pengaruh kebudayaan dari suatu suku bangsa terhadap kebudayaan suku bangsa yang lain atau penerimaan sebuah nilai budaya baru yang dianggap berguna dan menguntungkan karena sesuai dengan kebutuhan sebuah masyarakat pendukung kebudayaan, telah memberikan sebuah nuansa baru terhadap kebudayaannya. Kemudian nilai baru tersebut diterima sebagai kebudayaannya sendiri. Hasil alkulturasi kebudayaan ini sudah lama terjadi di sepanjang sejarah suku bangsa di nusantara ini (Ajawalla, 2003)
Pembangunan Indonesia berhadapan dengan pengaruh dan interaksi global yang dalam banyak hal justru lebih kuat dari kemampuan kita sendiri untuk melawannya. Dalam era globalisasi yang terjadi bukan saja penyebaran budaya, dari negara maju ke negara berkembang, namun juga terjadi penaklukan budaya dari negara berkembang. Dalam hal ini kebudayaan nasional dan daerah mengalami tantangan: (1) bagaimana mengembangkan sistem kebudayaan yang membuatnya mampu bersaing dalam kompetisi global, (2) bagaimana agar penyebaran, intervensi, bahkan penaklukan budaya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan. Untuk menjawab tantangan global dalam budaya di atas, maka budaya daerah harus bersifat terbuka. Yaitu mampu beradaptasi dan menyesuaikan dengan tuntutan global, namun tetap berakar pada nilai-nilai dan moral serta norma budaya asli. Nilai-nilai positif budaya global diadaptasikan dengan nilai-nilai positif budaya kita, sehingga kepribadian bangsa kita tetap tegak tetapi memiliki nuansa global yang positif (Nugroho, 2001:71-73)
Perilaku yang mengarah pada ketertutupan (ekslusivisme) kebudayaan merupakan salah satu hambatan dalam upaya untuk membangun kebersamaan di dalam suatu masyarakat yang majemuk. Pembauran secara bebas, terbuka dan alamiah akan menghasilkan saling pengertian antara para pendukung kebudayaan suku bangsa yang satu dengan suku bangsa yang lain yang kemudian akan memberikan persepsi yang sama untuk hidup bersama dalam perbedaan-perbedaan yang ada. Dalam konteks ini, muncul sebuah nilai baru yang berasal dari perpaduan berbagai nilai budaya dari berbagai suku bangsa yang mendiami suatu daerah tertentu di luar nilai budaya yang dimiliki oleh masing-masing suku bangsa dan menjadikannya sebagai nilai bersama. Nilai budaya itulah yang kemudian disebut sebagai nilai budaya daerah. Apabila diterima oleh berbagai suku bangsa di dalam wilayah Negara Indonesia, nilai budaya tersebut dengan sendirinya diterima sebagai nilai budaya nasional. (Ajawalla, 2003).
Permasalahan dewasa ini yang menjadi tantangan bagi bangsa kita adalah bagaimana keragaman budaya bangsa kita mampu menjadi bekal pemersatu dalam menghadapi benturan antar peradaban. Para pendiri bangsa kita telah menyadari keberagaman ini dapat menjadi modal untuk bangkit dan bersatu namun juga akan menjadi bom waktu jika tidak dirawat dengan semestinya. Samuel P. Huntington lewat karyanya “The Clash of Civilization” meneropong terjadinya benturan antar peradaban dilandasi permasalahan ekonomi dan politik dunia. Bagi bangsa yang lahir dari keberagaman, pekerjaan rumah sepanjang masa bagi bangsa Indonesia adalah merawat kebhinekaan ini. Bangsa Indonesia harus belajar dari konflik yang pernah terjadi di negara-negara yang awalnya memiliki kesatuan sebagai sebuah negara yang berdiri juga dari keberagaman etnis budaya. Yugoslavia bubar karena konflik antar etnis yang pada akhirnya menjadi negara-bangsa sendiri-sendiri. Konflik Balkan menjadi pembelajaran bagi kita bagaimana keberagaman yang melandasi lahirnya Yugoslavia tidak dapat dirawat dan dikelola agar tetap utuh.
"The Clash of Civilization", cukup relevan untuk dicermati dalam bingkai bangsa Indonesia. Para pemimpin kita sedari dulu mencoba merekatkan keberagaman kita sebagai satu bangsa. Runtutan sejarah terkait kebangsaan senantiasa diembuskan dan dimonumentalkan sebagai upaya pengingat kita adalah satu bangsa. Sejak Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 hingga Proklamasi 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia telah memaklumatkan diri seraya bersumpah sebagai satu negara-bangsa yang diberi nama Indonesia. Ke-Indonesia-an ini telah dikenal di seantero dunia, bahwasanya Indonesia adalah negeri yang memiliki ciri khas terkait persatuan semenjak berdiri sebagai sebuah bangsa.
Permasalahan bangsa terkait keberagaman ini bukan tanpa ujian. Konflik horizontal sesama warga bangsa menjadi narasi keseharian kita. Konflik antar suku, ketidakpuasan akan nasibnya sebagai identitas budaya, keinginan untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah hal yang menjadi permalahan sekaligus tantangan, akan dibawa kemana negara-bangsa ini. Apakah akan tetap langgeng sepanjang masa seperti saat dilahirkan? Tetap utuh sebagai anak-anaknya proklamasi 17 Agustus 1945? Terlalu banyak perbedaan dan keberagaman yang dimiliki kita. Setelah kita selesai mengelola keberagaman ini, memperkuat jati diri kita sebagai satu bangsa, langkah selanjutnya adalah memposisikan bangsa dan negara di percaturan internasional. Akan semakin kompleks tantangan dan permasalahan yang dihadapi sebagai warga peradaban dunia.
Referensi
Ajawaila, J.W. 2003. Identitas Budaya: Aku dalam Budaya Lokal, Budaya Nasional dan Budaya Global. Prosiding Dialog Budaya: Wahana Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan Bangsa. Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata, Deputi Pelestarian dan Pengembangan Budaya, Direktorat Tradisi dan Kepercayaan.
Pakan, Djon. 2002. Kembali Ke Jati Diri Bangsa Indonesia. Jakarta: Millenium Publisher.
Widjajanto,.Nugroho 2001. Sistem Informasi Akuntansi. Jakarta : Erlangga
