InstagramTiktokX
Selasa, 23 September 2025

Jaranan & Campursari Mayangkoro Original bersama Niken Salindri: Ruang Representasi Budaya Lintas Generasi

MA
Mohammad Agam Dozan
Foto Editing (capture tayangan live streaming channel YouTube "Noskon Mania"), https://www.youtube.com/live/qVVrldPzM28?si=Z5_o6CGOz3GDAMD3
Foto Editing (capture tayangan live streaming channel YouTube "Noskon Mania"), https://www.youtube.com/live/qVVrldPzM28?si=Z5_o6CGOz3GDAMD3

Mojokerto — Suasana berbeda hadir di lapangan Desa Trowulan ketika Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI menggelar pentas kesenian Jaranan dan Campursari Mayangkoro Original bersama Niken Salindri, pada Rabu, 17 September 2025. Pentas tersebut merupakan bagian dari acara bertajuk "Ekspresi Seni Budaya BPK Wilayah XI Trowulan” yang dihelat pada bulan September 2025. Ribuan penonton dari berbagai penjuru menyaksikan bagaimana seni tradisi Jawa yang bertransformasi, menjembatani generasi, dan menyatukan masyarakat dalam satu arena perayaan budaya di lapangan Desa Trowulan pada siang hingga sore waktu setempat.

Jaranan sendiri tampil dengan kekuatan audio visual, yakni tarian kuda lumping, tata panggung, musik gamelan berpadu dengan instrumen modern yang menghadirkan intensitas kebersamaan: kostum, instrumentasi, ritme, dan gerak yang juga mengundang resonansi trance pada penari (atau sekurang-kurangnya dramaturgi trance sebagai komoditas tontonan). Di sisi lain, segmen campursari menekankan vokalisasi, lagu-lagu populer bermelodi Jawa, pembawaan gestur disertai menari dan aksi sawer penonton—praktik yang secara ekonomis dan sosial menghasilkan interaksi langsung antara panggung dan khalayak (pertukaran uang, hadiah, atau barang).

Pertunjukan seperti itu menampilkan kontinum; dari yang digarapkan sebagai “peninggalan tradisi” ke arah “produk hiburan pasar” — keduanya hidup berdampingan di arena yang sama (lapangan Desa Trowulan).

Dinamika penonton juga penting, yakni dengan hadirnya keluarga lintas generasi, pedagang lokal, dan penonton “urban” yang datang karena nama vokalis, menunjukkan penetrasi media, dan jejaring komunikasi (rekaman video, undangan digital/Instagram/YouTube) dalam sirkulasi budaya lokal. Video-video penampilan yang tersebar luas di platform daring memperpanjang menjadi fenomena ekonomi perhatian yang melampaui batas-batas desa/kampung.
Suasana berubah ketika giliran Niken Salindri naik panggung. Dengan suara khasnya, ia membawakan tembang campursari yang populer di media sosial, lengkap dengan interaksi penonton dan tata panggung modern.

Yang menarik, kedua segmen ini tidak berjalan sendiri-sendiri. Jaranan dan campursari hadir berdampingan, menampilkan dua wajah budaya Jawa: akar tradisi dan hiburan populer yang cair. Keduanya justru saling melengkapi, menciptakan ruang perjumpaan yang akrab bagi penonton.

Keragaman penonton juga menegaskan fungsi sosial pertunjukan. Anak-anak, orang tua, pedagang, hingga kaum muda hadir bukan hanya sebagai penonton pasif. Mereka ikut menyambut, berinteraksi, bahkan merekam pertunjukan untuk dibagikan kembali.

Aktor Kebudayaan

Di sini tampak jelas bahwa masyarakat adalah aktor kebudayaan. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa kebudayaan tidak pernah beku. Ia cair, berubah sesuai zaman, tanpa kehilangan akar lokalnya. Transformasi dari panggung sederhana ke tata cahaya modern, dari lagu tradisional ke format populer—justru membuat seni tradisi lebih dekat dengan publik hari ini.

Tradisi yang dikonstruksi mengingatkan bahwa banyak tradisi yang kita perlakukan sebagai “autentik” sering kali diproduksi ulang—diadaptasi sesuai kebutuhan. Dalam konteks Jaranan, elemen-elemen yang “ritual” bisa dipentaskan ulang dengan kostumisasi modern, koreografi baru, atau komersialisasi yang mempertahankan citra tradisi sambil merekonstruksinya untuk audiens saat ini.

Berlaku demikian pada praktik staging selebritas (seperti kehadiran Niken) merupakan bagian dari proses rekonstruksi tradisi agar relevan dan ekonomis. Pagelaran Jaranan dan Campursari Mayangkoro bersama Niken Salindri di lapangan Desa Trowulan merupakan contoh konkret bagaimana warisan budaya berinteraksi dengan logika pasar, media, dan institusi pelestarian. Acara semacam ini simultan — ia merawat memori komunitas sambil bertransformasi menjadi produk hiburan modern.

Tantangan bagi pemangku kepentingan (pelaku budaya, institusi, pemerintah daerah) adalah merancang kebijakan dan praktik yang memastikan bahwa transformasi itu tidak menegasikan akar sosial-kulturalnya — melainkan menguatkannya dalam bentuk yang memberi kesejahteraan dan makna bagi pelaku dan komunitas.



Daftar Pustaka:

Appadurai, A. (1990). Disjuncture and Difference in the Global Cultural EconomyTheory, Culture & Society, 7(2-3), 295-310.
• Hall, S. (1990). Cultural identity and diaspora. In J. Rutherford (Ed.), Identity: Community, Culture, Difference (hal. 222-237). London: Lawrence & Wishart.
• Williams, R. (1958). Culture is ordinary. Dalam Culture and Society: 1780-1950. London: Chatto & Windus / Basil Blackwell.
• Hobsbawm, E., & Ranger, T. (Eds.). (1983). The Invention of Tradition. Cambridge: Cambridge University Press.
• Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI. (2025). Profil, program, dan pengumuman. BudayaJatim.com. Diakses 19 September 2025 dari https://budayajatim.com/author/bpk-wilayah11gmail-com/ budayajatim.com
• Suseno Audio. (2025). Live NIKEN SALINDRY Jaranan MAYANGKORO ORIGINAL. YouTube. Diakses 19 September 2025 dari https://www.youtube.com/watch?v=qVVrldPzM28 YouTube
• Pangestuti, A. W. (2023, 11 Juli). Jaranan Pegon Grub Mayangkoro Original di Kelurahan Pojok Kecamatan Mojoroto Kota Kediri Tahun 2012-2021 [Skripsi, Universitas Jember]. UNEJ Repository. Diakses 19 September 2025 dari https://repository.unej.ac.id/xmlui/handle/123456789/125303  UNEJ Repository

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX