Ini Animasi Timun Mas, Ini Pencipta Animasi Timun Mas

Dalam dunia kanak-kanak, dongeng dan cerita anak tentu banyak orang yang mengetahui sosok Pak Raden. Terlahir dengan nama Raden Soejadi pada 28 November 1932 di Jember, Jawa Timur. Sosok yang identik dengan tayangan anak legendaris Si Unyil. Namun ada karya animasinya yang mungkin tidak banyak diketahui, yaitu animasi Timun Mas.
Bakat seninya disalurkan saat berkuliah di Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung pada 1952 hingga 1960. Selama berkuliah, Suyadi melahirkan banyak karya yang berfokus pada dunia anak-anak dengan menjadi ilustrator sekaligus penulis cerita bergambar untuk anak-anak, bahkan sempat membuat film animasi pendek. Setelah menamatkan pendidikannya di ITB, langkah pencariannya belum berhenti. Pada 1961 hingga 1965, Suyadi melanjutkan pendidikan ke Prancis, membawa imajinasi dan mimpinya ke dunia yang lebih luas dengan memfokuskan pada dunia animasi.
Pada tahun 1972, ia bekerja sama dengan Training Aid Center (bagian dari UNICEF) untuk membuat beberapa film animasi. Pada 1979, Suyadi melahirkan karya film animasi pendek berjudul Timun Mas dengan durasi sekitar 15 menit. Timun Mas menjadi tonggak penting bagi sejarah peranimasian Indonesia saat itu, sebab menjadi bukti sekaligus contoh bahwasanya industri animasi Indonesia sudah mulai bergerak dengan mengadaptasi cerita rakyat dalam media visual bergerak.
Kanal Budaya IndonesianaTV yang memiliki maksud dan tujuan melestarikan dan mempromosikan budaya Indonesia yang beragam kepada masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri melalui penayangan program-program yang mengangkat berbagai aspek budaya Indonesia, seperti kesenian, adat istiadat, tradisi, dan cerita rakyat. Kanal Budaya IndonesianaTV ingin meningkatkan pengetahuan dan wawasan masyarakat tentang budaya Indonesia melalui penayangan program-program edukatif dan informatif yang dikemas dengan menarik dan mudah dipahami oleh semua kalangan.

Konten-konten kebudayaan yang terkait dengan animasi yang bersumber dari cerita rakyat yang saat ini ada di platform IndonesianaTV adalah “Timun Mas”. Konten ini menceritakan tentang Buto Ijo yang sangat kesepian dan ingin punya teman, tetapi dia selalu dijauhi oleh semua makhluk karena wajahnya menyeramkan. Dengan pusaka ajaibnya, dia membantu Mbok Srini, seorang janda tua yang ingin memiliki anak. Mbok Srini mendapat anak dan diberinya nama Timun Mas. Semakin bertumbuh besar, Timun Mas tidak takut pada Buto Ijo dan berteman dengannya. Namun, Mbok Srini dan penduduk desa masih menganggap Buto Ijo sebagai makhluk yang jahat. Penduduk desa salah paham dan mengusirnya. Timun Mas yang mengikutinya ke rumah, tidak sengaja mengobrak-abrik rumah Buto. Buto Ijo berusaha mengembalikannya ke desa dibayangi pandangan negatif warga desa pada dirinya.
Tayangan konten-konten kebudayaan yang terdapat di Kanal Budaya IndonesianaTV adalah sebentuk praktik baik yang diharapkan dapat menjadi asupan informasi yang edukatif yang muaranya adalah terwujudnya kebudayaan Indonesia yang tetap lestari dan menjadi penuntun bagi generasi selanjutnya. Budaya yang bersifat dinamis dan mengikuti perkembangan zaman, ke depannya akan mengalami berbagai hal, baik itu budaya adaptif, budaya adopsi, budaya asimilasi, maupun budaya yang terakulturasi.
Ini Warisan Pak Raden
Warisannya pun terus terjaga dan beradaptasi dengan zaman. Pengembangan cerita rakyat dan dongeng anak-anak Timun Mas yang saat ini terdapat di platform Indonesiana TV memang telah sangat jauh berbeda dengan cerita aslinya karena telah mengalami pembaruan dimana sosok Buto Ijo tidak lagi digambarkan sebagai sosok antagonis namun menjadi sosok yang dapat bersahabat dengan Timun Mas. Sejalan dengan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan No 5 Tahun 2017 dimana penekanan terhadap pengembangan Objek Pemajuan Kebudayaan salah satunya cerita rakyat yang bersumber pada tradisi lisan. Apa yang saat ini dilakukan oleh Indonesiana TV dengan konten-konten kebudayaannya tentu saja menyesuaikan dengan perkembangan zaman serta pola pikir generasi. Pesan asli cerita rakyat Timun Mas tidaklah hilang sepenuhnya, justru memberikan warna baru dalam penyampaian pesan moral kepada generasi terkini dari cerita rakyat yang terwariskan secara lisan.
Atas pengabdian panjangnya di dunia seni dan pendidikan, Suyadi dianugerahi Ganesa Widya Jasa Utama oleh Institut Teknologi Bandung pada 2012. Penghargaan ini menjadi penanda bahwa karya-karyanya bukan sekadar dikenang, tetapi diakui sebagai bagian penting dari perjalanan kebudayaan Indonesia.
Pada 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Forum Dongeng Nasional menetapkan 28 November sebagai Hari Dongeng Nasional. Penetapan ini menjadi pengingat bahwa Indonesia pernah memiliki sosok yang berjasa besar bagi dunia imajinasi anak-anak. Dari Suyadi, kita belajar satu hal yang tak lekang oleh waktu, mendongeng bukan semata hiburan tetapi juga pendidikan.
