Iduladha, Tradisi, dan Kepedulian Lingkungan

Iduladha selain menjadi momentum ibadah dan pengorbanan, juga memperlihatkan kuatnya tradisi berbagi dan gotong royong masyarakat Nusantara. Dari pembagian daging kurban di kampung-kampung, tradisi memasak bersama, hingga keterlibatan warga dalam proses penyembelihan dan distribusi, Iduladha menghadirkan wajah kebersamaan yang hidup di tengah masyarakat.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki tradisi kurban yang sangat besar setiap tahunnya. Data Kementerian Agama mencatat jumlah hewan kurban pada Iduladha 2025 mencapai sekitar 1,8 juta ekor, terdiri atas sapi, kerbau, kambing, dan domba. Angka tersebut menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat dalam ibadah kurban sekaligus memperlihatkan kuatnya nilai solidaritas sosial di Indonesia.
Namun, di balik besarnya pelaksanaan kurban itu, terdapat budaya berbagi khas Nusantara yang terus diwariskan lintas generasi. Di banyak daerah, proses pembagian daging kurban dilakukan secara gotong royong. Warga berkumpul sejak pagi untuk membantu memotong, menimbang, membungkus, hingga mendistribusikan daging kepada masyarakat sekitar. Aktivitas ini bukan sekadar proses pembagian makanan, tetapi juga menjadi ruang mempererat hubungan sosial antarwarga.
Tradisi Basirakaik di Sumatera Barat
Di Sumatera Barat, semangat kebersamaan itu hadir melalui tradisi Basirakaik. Tradisi ini merupakan bentuk kerja bersama atau gotong royong dalam berbagai aktivitas, seperti berkebun dan bercocok tanam.
Kegiatan dilakukan secara berkelompok dan dipimpin oleh seorang ketua yang disebut Tua Sumando. Anggotanya terdiri atas para urang sumando atau menantu laki-laki dalam masyarakat Minangkabau. Mereka bekerja bersama untuk mengumpulkan hasil atau upah yang nantinya digunakan membeli hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha.
Dalam masyarakat setempat, hewan kurban tersebut dikenal dengan istilah “hewan bantai” atau “daging banting”. Tradisi ini menunjukkan bahwa semangat berkurban tidak hanya dilakukan secara individu, tetapi juga tumbuh dari kebersamaan dan solidaritas sosial masyarakat.

Kamboti: wadah atau keranjang tradisional hasil anyaman daun sagu, nipah atau kelapa
Kurban Ramah Lingkungan Mulai Diterapkan
Di sejumlah daerah lain, budaya lokal juga hadir melalui penggunaan wadah ramah lingkungan untuk pembagian daging kurban. Masyarakat mulai beralih menggunakan daun jati, besek bambu, maupun bongsang anyaman bambu sebagai pengganti kantong plastik sekali pakai. Selain membantu mengurangi sampah plastik, penggunaan wadah tradisional ini juga mendukung keberlangsungan kerajinan lokal masyarakat. Di sisi lain, melonjaknya harga plastik menjadi salah satu pertimbangan masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam pelaksanaan kurban.
Kenaikan harga kantong plastik membuat biaya distribusi daging kurban semakin besar, terutama bagi panitia kurban di lingkungan masjid dan komunitas masyarakat. Kondisi tersebut mendorong banyak pihak mencari alternatif yang lebih hemat sekaligus ramah lingkungan, seperti penggunaan besek bambu, daun, dan anyaman tradisional. Selain lebih berkelanjutan, penggunaan wadah alami dinilai lebih mudah terurai dan mengurangi timbunan sampah setelah perayaan Iduladha.
Gerakan serupa mulai diterapkan di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Pemerintah Kota Palu menjalankan program Eco Kurban dengan mengajak masyarakat menggunakan kamboti atau wadah tradisional berbahan anyaman daun pilar untuk membagikan daging kurban. Program ini tidak hanya bertujuan mengurangi sampah plastik, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi para perajin lokal.
Pelaksanaan kurban kini tidak lagi hanya berfokus pada aspek syariat, tetapi juga mulai memberi perhatian pada dampak lingkungan. Penggunaan besek bambu, pengurangan sampah plastik, hingga pengelolaan limbah penyembelihan menjadi bagian dari upaya mewujudkan kurban yang bersih, higienis, dan berkelanjutan.
Aturan dan Imbauan Kurban Ramah Lingkungan
Upaya pelaksanaan Iduladha yang lebih ramah lingkungan juga mulai diperkuat melalui berbagai aturan dan imbauan pemerintah daerah maupun instansi terkait. Sejumlah pemerintah daerah telah mengeluarkan surat edaran yang mengajak masyarakat mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai dalam pembagian daging kurban.
Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) secara rutin mendorong pelaksanaan kurban minim sampah plastik melalui kampanye Iduladha Ramah Lingkungan. Imbauan tersebut mengajak masyarakat menggunakan wadah yang dapat dipakai ulang atau bahan alami yang mudah terurai.
Di beberapa daerah, panitia kurban juga mulai diarahkan untuk memperhatikan pengelolaan limbah hasil penyembelihan agar tidak mencemari lingkungan. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan selama pelaksanaan Iduladha.
Edukasi Kurban Bersih dan Berkelanjutan
Konsep kurban ramah lingkungan juga menjadi salah satu fokus dalam kegiatan “Pelatihan Penanganan dan Penyembelihan Hewan Kurban” bagi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan masyarakat umum yang diselenggarakan oleh Halal Science Center IPB University bersama LPPOM pada 16 Mei 2026 di Kampus IPB Cilibende, Bogor.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak memahami pentingnya pelaksanaan kurban yang tidak hanya sesuai syariat, tetapi juga memperhatikan kesehatan masyarakat serta kelestarian lingkungan. Gagasan Kurban Ramah Lingkungan perlahan mulai menjadi budaya baru dalam perayaan Iduladha di berbagai daerah. Semangat berbagi tidak hanya diwujudkan melalui distribusi daging kurban kepada sesama, tetapi juga melalui kepedulian menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai berbagi dalam Iduladha dapat berjalan berdampingan dengan kesadaran ekologis dan pelestarian budaya lokal Nusantara. Tradisi kurban tidak hanya menjadi simbol ketaatan beragama, tetapi juga cerminan budaya gotong royong, solidaritas sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan yang telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia.
Di tengah kehidupan modern yang semakin individual dan konsumtif, tradisi berbagi saat Iduladha menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering kali lahir dari hal-hal sederhana: berkumpul, saling membantu, dan berbagi dengan sesama. Nilai-nilai inilah yang terus menjadi bagian penting dari jati diri budaya masyarakat Nusantara.
Referensi
https://www.pasbana.com/2022/07/8-tradisi-unik-saat-hari-raya-kurban-di-sumatera-barat.html
https://mabur.co/budaya/religi/kurangi-sampah-plastik-saat-iduladha-gerakan-eco-kurban-digencarkan/
