Festival Peh Cun: Celoteh Cemar di Cisadane

Membicarakan peradaban adalah membicarakan ruang, tanah dan ketinggiannya dari permukaan laut, iklim, flora dan fauna sekitarnya, peluang alamiah dan kemudahan daripadanya, juga membicarakan tindakan manusia dalam menghadapi situasi dan kondisi dasar tersebut - pertanian, peternakan, makanan, tempat bernaung, komunikasi, kriya, dan lain sebagainya. Kehidupan masyarakat sungai banyak ditentukan oleh karakter bengawan bersangkutan. Meluapnya air pada waktu tertentu mengharuskan masyarakat bekerjasama untuk menanggulangi ancaman banjir (misalnya dengan membuat tanggul). Kerjasama yang efisien memerlukan organisasi kemasyarakatan yang tangguh dengan tingkat kepedulian yang tinggi demi kepentingan umum. Maka diadakan peraturan-peraturan tertentu untuk mengatur kehidupan masyarakat. Masyarakat sungai tidak selalu menganggap banjir sebagai suatu malapetaka. Masyarakat agraris melihatnya sebagai pembawa tanah subur dari daerah pegunungan. Wilayah aluvial mengendap di bagian hilir mengandung tanah yang baik untuk pertanian yang mampu menghasilkan makanan cukup bagi penduduk yang semakin bertambah jumlahnya. Surplus makanan yang dihasilkan tanah yang subur dan inovasi teknologi pertanian yang maju memungkinkan peradaban sungai mengekspomya yang dipertukarkan dengan barang yang diperlukan dari daerah luar (Lapian, 2008).
Sungai Cisadane di Tangerang jika dikaitkan dengan budaya Tionghoa pun memiliki tradisi yang unik, yaitu Peh Cun. Peh Cun adalah salah satu perayaan hari besar etnis warga keturunan Cina yang jatuh pada hari kelima bulan kelima (go gwee cee go) di tahun Imlek. Tradisi Peh Cun ini merujuk pada legenda tentang seorang pembesar pada masa Dinasti Couw (340-278 SM), yang juga seorang sastrawan dan budayawan besar, yaitu Khut Goan.Tradisi ini juga identik dengan Festival Perahu Naga di Kali Cisadane, Kota Tangerang. Peh Cun adalah pesta musim panas yang menjadi tradisi di Negeri Cina dan dirayakan juga oleh warga keturunan Cina di Tangerang. Secara etimologis, Peh Cun terdiri atas dua kata: peh yang artinya dayung atau mendayung; dan cun yang artinya perahu. Jadi secara harfiah Peh Cun artinya mendayung perahu. Dalam pelaksanaannya, memang puncak acara dari tradisi Peh Cun ini adalah adanya lomba perahu berhias (Rosyadi, 2010).
Beberapa tradisi yang biasa dilakukan pada perayaan Peh Cun antara lain: a. Menabuh tambur dan membunyikan mercon. b. Memposisikan telur berdiri tegak, tepat pada tengah hari (pukul 12.00) di hari Peh Cun, diyakini telur bisa berdiri tegak pada salah satu sisinya yang meruncing. Hal ini berkat adanya kekuatan daya tarik-menarik antara matahari dan bumi, yang mampu menegakkan telur. c. Menjemur koleksi baju-baju, kain, dan buku-buku tua. d. Menggantungkan dedaunan seperti daun sudamala, daun deringo, daun padi muda, daun beringin, dan sebuah kue bacang yang diikat dengan benang merah, diletakkan di kusen pintu utama rumah. Daun-daunan ini diyakini sangat ampuh untuk mengusir binatang-binatang berbisa dan siluman yang akan mengganggu ketenteraman manusia. e. Pukul 11.00 s.d. pukul 13.00 orang merayakan Peh Cun dengan minum arak dicampur hiong-hong, mandi air hangat yang dibubuhi bunga lam hoa, yang diyakini bisa mengusir penyakit. f. Tengah hari pada hari Peh Cun, diyakini sebagai saat yang sangat baik untuk memetik tanaman untuk obat-obatan. Menurut keterangan para ahli obat Tionghoa, pada hari itu hawa bumi dan hawa langit bertemu dan bersatu, hingga segala sesuatu yang tumbuh di atas bumi serta air kemasukan hawa tersebut. g. Saat ini pun diyakini merupakan saat yang baik untuk menebang kayu atau bambu yang akan dijadikan bahan bangunan (Rosyadi, 2010).
Kanal Budaya IndonesianaTV yang memiliki maksud dan tujuan melestarikan dan mempromosikan budaya Indonesia yang beragam kepada masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri melalui penayangan program-program yang mengangkat berbagai aspek budaya Indonesia, seperti kesenian, adat istiadat, tradisi, dan sejarah. Kanal Budaya IndonesianaTV ingin meningkatkan pengetahuan dan wawasan masyarakat tentang budaya Indonesia melalui penayangan program-program edukatif dan informatif yang dikemas dengan menarik dan mudah dipahami oleh semua kalangan.
Konten-konten kebudayaan yang terkait dengan bentuk tradisi Etnis Tionghoa terkait dengan Sungai sebagai pusat peradaban yang saat ini ada di platform IndonesianaTV adalah “Peh Cun”. Sebuah dokumenter tentang Hari Perayaan Peh Cun. Kesibukan masyarakat di sekitaran sungai Cisadane mulai terlihat mempersiapkan perayaan tersebut. Dalam persiapan Peh Cun tersebut Jensen dan teman-temannya terlihat antusias ikut membantu mendekor perahu untuk mengikuti lomba di perayaan Peh Cun tahun ini. Mereka tidak ingin terlihat tidak siap di hari puncak perayaan nantinya.
Tayangan konten-konten kebudayaan yang terdapat di Kanal Budaya IndonesianaTV adalah sebentuk praktik baik yang diharapkan dapat menjadi asupan informasi yang edukatif yang muaranya adalah terwujudnya kebudayaan Indonesia yang tetap lestari dan mejadi penuntun bagi generasi selanjutnya.
Sungai, dari hulu ke hilir menjadi sumber kehidupan yang penting bagi kehidupan berbagai makhluk hidup. Sungai bukan hanya milik manusia, banyak hewan dan tumbuhan, juga makhluk hidup lain yang menjadikan sungai sebagai habitat mereka. Bagi manusia yang tinggal di sepanjang aliran sungai, sungai adalah urat nadi penghidupan mereka. Keberlangsungan dan kesejahteraan hidup mereka bergantung pada sungai. Tak hanya sebagai alat transportasi dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, masyarakat sekitar juga mengandalkan sungai sebagai sumber ekonomi. Namun pengembangan pembangunan di sekitar hutan yang tidak memperhatikan kawasan tangkapan air membuat ekosistem sungai terganggu. Hal ini menyebabkan terjadinya erosi, sedimentasi dan pencemaran. Era industrialisasi yang tidak mengindahkan keselamatan ekosistem yang ada dengan pencemaran yang dilakukan lambat laun akan menggerus tradisi yang telah lama hidup di Sungai Cisadane. Perusakan lingkungan bukan saja akan menghilangkan makhluk hidup namun juga tradisi sebuah peradaban.
Referensi
Rosyadi, 2010. Festival Peh Cun: Menelusuri Tradisi Etnis Cina di Kota Tangerang. Buletin Patanjala Vol. 2, No. 1, Maret 2010. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.
Lapian, Adrian Bernard. 2008. Sungai Sebagai Pusat Peradaban. Prosiding Seminar Perubahan DAS Brantas Dalam Perspektif Sejarah. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Direktorat Geografi Sejarah. Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala.
