Fajar Siddiq: Harapan Napas Panjang Teater Di Semarang

Kota Semarang selalu punya cerita sendiri soal teater. Para pelaku teater di Kota Atlas ini masih saja menyalakan lilin kecil untuk menjaga ruang imajinasi tetap hidup. Iklim teater di Semarang memang tidak seramai kota lainnya, sebut saja Yogyakarta juga Jakarta, tetapi selalu ada denyut yang menolak padam. Denyut yang muncul dari komunitas-komunitas kecil, pertemuan lintas generasi, dan keberanian untuk tetap mementaskan karya meski (biasanya) penontonnya tak selalu penuh. Dalam beberapa tahun terakhir, ruang-ruang alternatif mulai kembali disinggahi oleh para pegiat. Mereka sadar, bila tak ada yang memanggungkan cerita, Semarang bisa kehilangan satu dimensi penting dari peradabannya sendiri. Maka ketika Teding Teater muncul dengan pentas perdananya, publik teater Semarang seperti kembali diberi alasan untuk menaruh harapan.
Teding Teater memilih lakon "Fajar Siddiq" karya Emil Sanossa sebagai debutnya. Tentu ini sebuah pilihan yang tak sekadar pilihan, tetapi juga memberi tantangan. Naskah itu menuntut energi, kedisiplinan karakter, dan keberanian teknis. Sebagai sutradara, Nasrun M. Yunus tak bekerja sendirian. Ia menggandeng Daniel Hakikie, Anton Sudibyo, A. Sofyan Hadi, Wikha Setyawan, dan Imaniar Yordan, para pekerja teater yang masing-masing membawa naluri panggungnya sendiri. Kombinasi mereka menciptakan suasana bahwa pentas perdana ini bukan sekadar “kehadiran baru”, tetapi sebuah pernyataan: bahwa kelompok baru pun layak menjadi bagian medan perteateran Semarang.
Pentas digelar di Gedung Oudetrap, salah satu gedung bersejarah yang memiliki arsitektur khas gaya kolonial di kawasan Kota Lama Semarang. Sejak pukul 19.00 WIB, penonton mulai berdatangan; sebagian tampak seperti para “wajah lama” yang sudah akrab dengan bau panggung, sebagian lain justru wajah-wajah baru. Pada pukul 19.30, gedung bekas gudang rempah yang dibangun pada abad ke 18 tahun 1834 itu sudah penuh. Penonton dari luar kota pun hadir. Mereka duduk berbaur; di karpet merah, di beberapa baris kursi bagian belakang yang menyisakan aroma antusias. Mata-mata mereka menyiratkan satu pertanyaan klasik: “Pertunjukan seperti apa yang akan kita lihat malam ini?”
Gelap menyergap panggung. Suara MC muncul pelan, meredam obrolan, menertibkan suasana. Di karpet merah, orang-orang segera menegakkan duduknya; sementara di kursi belakang, beberapa orang merapatkan punggung agar cahaya tak memantul ke gawai mereka. MC membacakan etika penonton dengan suara lembut; sebuah ritual kecil yang sering terabaikan dalam pementasan teater, tetapi penting untuk menjaga “kesucian” ruang pertunjukan.
Begitu suara MC hilang, ilustrasi musik merambah masuk. Musik menjadi tawaran pembius penonton untuk fokus pada panggung pertunjukan. Namun, sebagai peegantar, durasinya terasa cukup lama, sedikit melebihi kebutuhan dramatik pembuka. Beberapa pasang mata terlihat saling memandang, seakan bertanya pelan: “Apakah ini memang bagian dari niatan penyutradaraan?” Meski demikian, musik itu tetap menyisakan harmoni yang enak didengar, memberi ruang bagi penonton untuk menyesuaikan gelombang emosinya sebelum pertunjukan Fajar Siddiq benar-benar ‘dimulai’.

Musik perlahan melirih. Lampu mulai menatah panggung dengan lebih tegas. Set panggung tampaknya sengaja disentuh dengan sederhana tapi presisi: sebuah meja panjang yang berpasangan dengan kursi ditempatkan tepat di tengah panggung. Di sisi kanan, sebuah meja kecil dengan lampu sentir menyala. Ini menjadi detail kecil yang justru menghadirkan keintiman ruang, seperti mengajak penonton masuk ke sebuah masa lalu yang belum terjawab kejelasannya. Cahaya kuning redup dari lampu sentir itu memberi kesan bahwa cerita yang akan hadir tak hanya tentang peristiwa, tetapi juga tentang tanda tanya yang patut dinanti jawabannya.
Lalu muncullah Marjoso, seorang pejuang kemerdekaan yang juga merupakan santri. Tubuhnya tegak, berdiri tepat di bawah sorot lampu. Dalam sekejap, panggung Oudetrap seakan menjadi lorong sejarah dan bau anyir rasa dendam. Dari awal kemunculannya, penonton langsung tahu bahwa karakter ini sedang memikul sesuatu yang berat: perjuangan, kemarahan, dan barangkali juga kesetiaan yang nyaris dihancurkan oleh pengkhianatan. Dengan gestur dan artikulasi yang terukur, ia mengantar penonton masuk ke dunia Fajar Siddiq.
Dalam pementasan ini, satu hal yang paling kentara ialah keaktoran yang tergarap dengan serius. Para pemain tampak memahami ruang dan tubuhnya, bekerja dengan energi yang terjaga, serta mampu menahan dan melepas intensitas sesuai kebutuhan adegan. Tak ada aktor yang terkesan dibiarkan sendirian di panggung; semuanya masuk dan keluar dengan ritme dramatik yang selaras. Ini menunjukkan bahwa proses latihan mereka bukan latihan “asal jalan”, tetapi sungguh digarap dengan matang.
Dari sisi tata rias dan busana, detail-detail kecil terlihat cukup baik. Karakter tampak hidup bukan hanya dari dialog, tetapi juga dari bagaimana kostum melekat pada aktor dan mendukung latar cerita. Sementara ilustrasi musik bekerja sebagai penopang suasana. Meski lagu pembuka terasa agak sedikit lebih panjang, tetapi pada bagian-bagian lain, musik justru tepat sasaran, menguatkan ketegangan, memperlunak adegan reflektif, atau menebalkan tragedi ketika konflik mencapai puncaknya.

Pada ranah pencahayaan, permainan lampu cukup aman. Tidak ada gangguan teknis besar, hanya sedikit meleset seper sekian detik ketika seharusnya sorot lampu fokus pada tokoh di sisi kiri panggung. Namun, hal itu tidak mengganggu alur keseluruhan, hanya membuat beberapa penonton yang peka teknis mengernyit kecil. Secara umum, tata cahaya berhasil memberi batas ruang, menegaskan apa yang tak perlu dilihat, dan menajamkan apa yang harus diperhatikan.
Menuju akhir pementasan, lampu perlahan meremang. Musik kembali hadir, kali ini berubah menjadi atmosfer kegetiran. Pertunjukan usai, dan seketika tepuk tangan bergemuruh. Penonton berdiri, menandakan kepuasan sekaligus kejutan. Tidak semua orang datang dengan ekspektasi bahwa kelompok baru seperti Teding Teater akan menampilkan kerja serius. Namun, malam itu mereka pulang dengan keyakinan baru.
Pentas ini seolah mengatakan; Semarang masih punya harapan dalam dunia teaternya. Bahwa kota ini masih memiliki orang-orang yang bersedia merawat imajinasi panggung. Bahwa gedung-gedung tua seperti Oudetrap tetap mempunyai fungsi kultural, selain hanya menjadi tempat wisata foto, atau sekadar bukti bangunan peninggalan zaman kolonial.
Semoga, “Fajar Siddiq” garapan Teding Teater bukan hanya mengobati kerinduan—kerinduan para pegiat teater yang lama tak melihat karya serius di kota sendiri. Namun, “Fajar Siddiq" mestinya menjadi tanda kebangkitan baru, sebuah fajar yang benar-benar “siddiq”: jujur, tegak, dan menyala.
Teater Semarang tidak sekadar membutuhkan pertunjukan besar dengan dekor mewah. Ia membutuhkan keberanian untuk terus memulai, merawat, dan menjaga konsistensi. Malam itu, Teding Teater telah memulainya. Mari, kita nantikan karya-karya teater berikutnya.
