InstagramTiktokX
Rabu, 18 Februari 2026

Dari Malamang hingga ke Munggahan: Ragam Tradisi Menyambut Ramadhan di Indonesia

BM
Balai Media Kebudayaan
Dok: kemenag.go.id (Tradisi Malamang di Sumatera Barat)
Dok: kemenag.go.id (Tradisi Malamang di Sumatera Barat)

Menjelang petang, aroma kolak mulai keluar dari dapur-dapur rumah. Di beberapa kampung, anak-anak menunggu beduk dengan mata berbinar, sementara di tempat lain orang berziarah diam-diam, menabur doa di atas pusara keluarga. Ramadhan di Indonesia selalu didahului serangkaian kebiasaan yang diwariskan turun-temurun, semacam cara masyarakat menyapu hati sebelum bulan puasa tiba.

Di banyak daerah, penyambutan Ramadhan bukan hanya soal bulan hijriah yang berganti, melainkan juga tentang berkumpul, makan bersama, dan saling memaafkan. Tradisi itu memiliki nama berbeda, tetapi tujuannya sama. Menyiapkan diri agar tidak hanya perut yang berpuasa, tetapi juga hati yang bersih.

Megengan di Jawa Timur

Di sejumlah wilayah Jawa Timur, terutama Surabaya, Gresik, hingga Lamongan, masyarakat mengenal tradisi Megengan. Kata “megeng” dalam bahasa Jawa bermakna menahan, merujuk pada latihan menahan hawa nafsu sebelum benar-benar memasuki puasa. Beberapa hari sebelum Ramadhan, warga biasanya berkumpul di musala atau rumah tetua kampung. Mereka membawa nasi berkat, kue apem, dan lauk sederhana. Doa dipanjatkan bersama untuk arwah keluarga yang telah meninggal, lalu makanan dibagi dan dimakan bersama. Apem hampir selalu hadir. Kue berbentuk bundar itu dipercaya melambangkan permohonan ampun. Orang-orang saling berjabat tangan setelahnya,  menghadirkan momen kecil untuk merapikan hubungan yang mungkin sempat kusut selama setahun terakhir.

Munggahan di Jawa Barat

Dok BMK: Tradisi Munggahan

Dok BMK: Munggahan

Di Jawa Barat, suasana berbeda terasa lewat Munggahan. Kata ini berasal dari “unggah” yang berarti naik. Maknanya naik menuju keadaan yang lebih bersih secara spiritual. Tradisi ini sering dilakukan dengan makan bersama keluarga besar atau teman dekat. Tidak harus mewah. Nasi liwet, sambal, ikan asin, dan lalapan sudah cukup. Yang penting bukan menunya, melainkan pertemuannya. Orang-orang yang jarang pulang menyempatkan hadir, yang sempat berselisih mencoba mencairkan suasana.

Nyadran di Jawa Tengah dan Yogyakarta

Lain cerita di Jawa Tengah dan Yogyakarta, masyarakat menjalankan tradisi Nyadran. Warga berziarah ke makam leluhur, membersihkan area kubur, lalu menggelar doa bersama. Kuburan yang biasanya sepi tiba-tiba ramai. Orang membawa bunga, air, dan sapu lidi. Anak-anak ikut membantu, kadang sambil bertanya tentang siapa yang dimakamkan di sana. Tanpa sadar mereka sedang diajari tentang asal-usul keluarga. Setelah doa selesai, makanan yang dibawa dibagikan. Tidak jarang orang yang tidak saling kenal duduk bersebelahan dan makan dari hidangan yang sama. Ramadhan juga dimulai dari mengingat yang telah pergi.

Meugang di Aceh

Di luar Jawa tepatnya di Aceh, Ramadhan hampir identik dengan Meugang. Pasar daging mendadak penuh. Warga membeli daging sapi atau kambing untuk dimasak di rumah. Bahkan keluarga dengan ekonomi terbatas tetap berusaha menyajikan hidangan daging pada hari itu. Daging kemudian diolah menjadi kari, gulai, atau rendang khas Aceh. Makanan tidak hanya untuk keluarga sendiri. Sebagian dibagikan ke tetangga, kerabat, atau yatim. Meugang menjadi simbol berbagi sebelum memasuki bulan pengendalian diri. Di banyak rumah, aroma rempah menyebar ke jalan. Orang yang lewat bisa menebak, Ramadhan tinggal hitungan hari.

Malamang di Sumatera Barat

Di Sumatera Barat, masyarakat Minangkabau mengenal Malamang. Warga memasak lamang, beras ketan yang dimasukkan ke dalam bambu lalu dipanggang di atas bara api. Prosesnya lama dan dikerjakan bersama. Pria biasanya menyiapkan kayu bakar dan bambu, sementara perempuan menyiapkan santan dan ketan. Asap mengepul sejak pagi hingga sore. Sambil menunggu matang, mereka berbincang, bercanda, bahkan menyelesaikan urusan kampung. Lamang kemudian dibagikan kepada kerabat dan tetangga. Rasanya gurih dan sedikit hangus di bagian kulit, namun nilai utamanya bukan pada rasa, melainkan pada kebersamaan selama proses memasaknya.

Ragam penyambutan Ramadhan di Indonesia menunjukkan satu pola yang sama. Sebelum berpuasa, masyarakat terlebih dulu memperbaiki hubungan sosial. Mereka makan bersama sebelum menahan makan, berkumpul sebelum memperbanyak ibadah sendiri, dan mengingat orang lain sebelum mengendalikan diri. Di balik doa dan hidangan, ada pesan sederhana. Puasa bukan hanya menahan lapar, melainkan belajar hidup berdampingan dengan lebih lembut. Oleh karena itu Ramadhan di Indonesia selalu terasa hangat bahkan sebelum bulan suci datang. Di situlah budaya dan iman saling bersua, merawat silaturahmi, menumbuhkan empati, dan meneguhkan nilai kebersamaan. Semoga setiap langkah menuju bulan suci senantiasa disertai niat yang bening, hati yang lapang, dan sikap yang santun, agar Ramadhan tidak hanya hadir sebagai penanda waktu, tetapi juga sebagai penguat jati diri dan peradaban.

 

Sumber refrensi:

https://sahabat.pegadaian.co.id/artikel/inspirasi/punggahan-adalah

https://acehprov.go.id/berita/kategori/serba-serbi/50-tradisi-makmeugang-di-aceh

https://www.budayaaceh.com/wbtb/malamang/105

https://nsc.nganjukkab.go.id/detail_berita/NDgyMQ==

https://peron-limbangan.kendalkab.go.id/kabardetail/d1I3ME9jSjBuc251VDJoWVBHdEtUUT09/ritual--tradisi-nyadran--sejarah-makna-dan-prosesi-kegiatannya.html

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX