Chairil Anwar: Merangkai Kata Kita Tak Pernah Mati

Hari Puisi Nasional diperingati setiap tanggal 28 April untuk mengenang wafatnya Chairil Anwar, seorang penyair yang dianggap sebagai tonggak puisi modern Indonesia. Peringatan Hari Puisi Nasional bertujuan mengingat sumbangsih besar Chairil Anwar dalam dunia sastra Indonesia. Peringatan ini juga untuk mendorong apresiasi masyarakat terhadap seuah karya puisi.
Chairil Anwar yang lahir di Medan pada 26 Juli 1922 mencirikan sajak-sajaknya dengan tema-tema kematian, pemberontakan atau perjuangan, dan individualistis. Masa kecil dan remajanya yang dilalui pada periode penjajahan, baik itu masa Hindia Belanda dan masa Jepang, merangsang pemikirannya untuk merespons kondisi yang ada.
Sejarawan Anhar Gonggong mengemukakan pendapatnya terhadap generasi yang lahir pada periode penjajahan menjadi dua tipe, yakni generasi terdidik dan generasi terdidik sekaligus tercerahkan. Adanya penerapan Politik Etis pada awal Abad ke-20, melahirkan generasi baru yang sudah mulai melek dengan pendidikan. Rakyat bumiputera saat itu mulai mengenyam pendidikan dasar (untuk seluruh lapisan) hingga pendidikan menengah dan tinggi (untuk golongan priyayi).
Tercerahkan memiliki maksud bagaimana sosok-sosok terpelajar ini mempunyai kepedulian minimal di lingkungan terkecil. Menjadi agen-agen perubahan untuk mengubah nasib bangsanya yang masih terbelenggu penjajahan. Chairil Anwar termasuk sosok tercerahkan yang ambil bagian dalam pergerakan menuju kemerdekaan lewat karya-karyanya. Sederet karya yang lahir pada zaman penjajahan menggambarkan keadaan zaman. Sebuah ekspresi menyikapi suasana zaman saat itu. Inilah yang dinamakan sosok-sosok yang tercerahkan yang enggan berpangku tangan melihat diskriminasi yang terjadi serta kesewenang-wenangan kebijakan pemerintah Hindia Belanda.
Sama seperti para pejuang lainnya yang berjuang lewat media lain yang memiliki risiko pelarangan yang bisa saja berujung dibui atau hukum buang, Chairil Anwar pun mengambil jalan bergerak dan bertindak melintas batas sesuai kemampuannya. Hal yang cukup unik dari karya-karyanya berbeda dengan para penyair angkatan sebelumnya, penggunaan bahasa Indonesia yang masih dalam rintisan pasca Kongres Pemuda ke-2 tahun 1928 menjadikannya sosok pembaharu sekaligus perintis sastrawan Angkatan 45, generasi baru pembentuk Sastra Indonesia Modern. Babak baru penjajahan masa Jepang melahirkan semangat baru perjuangan. Jargon-jargon yang muncul mengesankan akan hal yang berbeda dibandingkan pada masa Hindia Belanda.
Jepang terkenal sebagai bangsa yang menaruh minat besar terhadap kesenian, termasuk juga kesenian Indonesia. Perhatian pembesar-pembesar Jepang terhadap kesenian Indonesia sangat besar. Hal ini membangkitkan pikiran beberapa seniman Indonesia untuk mencari jalan mempersatukan kaum seniman ke dalam suatu wadah. Janganlah hendaknya kaum seniman hanya dieksploitasi oleh kekuasaan Jepang. Namun, mereka juga tahu bahwa pemerintah Jepang melarang berdirinya suatu perkumpulan (organisasi). Oleh karena itu, beberapa seniman antara lain Anjar Asmara dan Kamajaya kemudian menemui Bung Karno untuk membicarakan hal tersebut. Ternyata Bung Karno bersedia memprakarsai berdirinya suatu Pusat Kesenian Indonesia, untuk mempersatukan para seniman tersebut yang berdiri tanggal 6 Oktober 1942 (Sutjiatningsih, 1981/1982).
Lahirnya Pusat Kesenian Indonesia yang digagas oleh seniman Indonesia disambut baik oleh pemerintah pendudukan Jepang yang akhirnya mendirikan pusat kebudayaan yang dinamakan Keimin Bunka Shidosho pada tanggal 1 April 1943, tetapi baru diresmikan tanggal 29 April 1943 bertepatan dengan hari ulang tahun Kaisar Tennoo Heika. Dalam Pusat Kebudayaan inilah kemudian dilatih seniman-seniman, pelukis-pelukis, sastrawan-sastrawan, penyanyi-penyanyi, pengarang lagu, pemain sandiwara, dan ahli pahat untuk mengabdikan seni mereka pada dewa peperangan. Mereka diperalat untuk kepentingan perang Jepang. Mereka diarahkan pada semboyan "Kemakmuran Bersama". "Asia untuk Bangsa Asia", dan disuruh membuat sajak-sajak seperti Kapas, Ke Pabrik, Ke Laut, dan sebagainya. Pada Bagian Kesusasteraan, sastrawan-sastrawan muda kemudian membentuk Angkatan Baru dan akan mengadakan pertemuan setiap bulan sekali untuk mengadakan diskusi, ceramah, dan lain-lain. Di sinilah mulai dikenal seorang sastrawan muda bernama Chairil Anwar yang sangat berani mengeluarkan pendapatnya. la tidak mau berpura-pura menjadi corong propaganda Jepang. la tidak senang terhadap usaha Pemerintah Jepang yang mengalihkan semangat kebudayaan bangsa Indonesia dan menjadikannya suatu potensi perang untuk memenangkan kepentingannya (Sutjiatningsih, 1981/1982).
Ketika para tokoh nasional mungkin terbuai dengan badan-badan propaganda bentukan Jepang yang seolah-olah memberikan janji-janji kemerdekaan jika bersinergi dengan Jepang mewujudkan Persemakmuran Asia Timur Raya, maka tokoh-tokoh seperti Tan Malaka, Sutan Syahrir termasuk Chairil anwar dan lain-lain, memilih jalan berseberangan dalam mewujudkan kemerdekaan. Sosok-sosok tercerahkan yang memiliki pandangan lain dan tentu saja dibutuhkan individu-individu seperti mereka untuk menjadi penyeimbang dalam medan perjuangan.
Chairil Anwar menjadikan kemampuan berkata-katanya sebagai sebuah senjata berjuang sekaligus pemicu dan pemacu untuk mengobarkan semangat perjuangan. Pemilihan kata-kata dalam puisi-puisinya berhasil mengguncang sekaligus membuncahkan perasaan para pembacanya. Apabila kita bicara tentang lagu “Indonesia Raya” karya W.R. Supratman sebagai lagu kebangsaan, maka karya-karya puisi Chairil Anwar sudah selayaknya kita sebut sebagai puisi kebangsaan.
Selamat Hari Puisi Nasional, berekspresi lewat puisi mencari sastrawan Indonesia Angkatan (20)45 selanjutnya.
Referensi
Sutjiatningsih, Sri. 1981/1982. Chairil Anwar: Hasil Karya dan Pengabdiannya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasonal. Jakarta.
Aimmah, Muhammad Syamsul. 2018. Kontribusi Puisi-Puisi Chairil Anwar Dalam Memotivasi Kemerdekaan Indonesia 1945. Skripsi. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati. Bandung.
