Bukan Lagi Alkisah Tutur untuk Hidup Teratur: Dari Tradisi Oral ke Literatur Digital

Cerita rakyat adalah cerita yang berasal dari masyarakat dan berkembang dalam masyarakat pada masa lampau yang menjadi ciri khas setiap bangsa yang memiliki kultur budaya dan sejarah yang dimiliki masing-masing bangsa. Cerita rakyat terbagi atas mitos, legenda, dan dongeng (Dananjaya, 1991:22). Keberagaman adat dan budaya Indonesia telah menciptakan kekayaan nilai-nilai budaya dan sastra yang luar biasa, termasuk sastra lama. Nenek moyang kita telah menciptakan dan mewariskan nilai-nilai budaya dan sastra tersebut secara turun-temurun melalui tradisi lisan. Kemampuan nenek moyang kita dalam menyampaikan pengetahuan dan kepercayaan secara lisan sangatlah kuat, sehingga kita sebagai penerusnya masih dapat memahami dan menghargai warisan budaya tersebut. Berbagai aspek kehidupan, mulai dari bahasa, sastra, kepercayaan, pengetahuan, hingga bentuk-bentuk budaya, telah disampaikan secara lisan dan menjadi bukti kekayaan intelektual dan budaya masyarakat kita (Casim, 2018).
Cerita rakyat seperti mitos, legenda, dan dongeng bisa tetap lestari karena diceritakan kembali secara turun temurun. Hal yang mendasarinya karena pesan yang ingin disampaikan relevan dengan selera zaman serta terkait dengan keseharian generasi. Kemasan penyajiannya pun tentu saja terikat dengan tren popular di setiap masa. Mitos, legenda, dan dongeng berisi rekaman kehidupan di masa silam yang umumnya menceritakan potret kehidupan masyarakat, isu-isu sosial, serta berbagai dimensi kehidupan yang dialami masyarakat di masa silam. Di saat saluran-saluran informasi masih sederhana, maka para pendongeng dan penutur memiliki peran dalam berbagi informasi atau mengedukasi anggota masyarakat. Cerita rakyat saat itu dapat menjadi pegangan hidup dalam bermasyarakat dan melanggengkan kelangsungan hidup peradaban untuk kehidupan yang penuh keteraturan.
Beruntunglah generasi saat ini karena perkembangan peradaban mulai masuk ke periode baru saat peradaban mulai mengenal tulisan sehingga cerita-cerita rakyat yang awalnya lestari melalui tradisi oral, dapat dihidupkan kembali melalui teknologi digital. Lalu apakah di era modern, cerita rakyat yang awalnya menjadi kisah mitos semata dapat tetap bertahan di zaman yang kini semakin maju dalam pemikiran. Kisah-kisah mitos yang sebelumnya menjadi sebuah misteri terkadang dapat ditemukan jawabannya secara ilmiah. Bagaimana agar cerita rakyat yang sarat nilai tetap dapat diterima seiring perkembangan zaman. Melalui Undang-undang Pemajuan Kebudayaan No 5 Tahun 2017 para insan kebudayaan diberi keleluasaan untuk bukan sekadar melestarikan semata namun juga mengembangkannya sesuai perkembangan zaman dan realitas sosial terkini.
Pemahaman dalam penerapan Undang-undang Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2017 janganlah dimaknai bahwa pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan seolah-olah hanya memindahkan kehidupan masa kini agar serupa dengan apa yang terjadi di masa silam. Bukan juga generasi terkini harus secara mutlak masih menggunakan secara fisik apa-apa yang menjadi tinggalan dari masa silam. Proses kreatif yang dilandasi kebutuhan zaman dengan menggunakan model atau media tradisional dengan sentuhan mutakhir dapat menjadi solusi bagaimana pelestarian sejalan dengan pengembangan dan pemanfaatan. Warisan budaya tak benda dapat tetap lestari dengan sentuhan dan kebutuhan modern. Cara-cara para pendongeng menyampaikan pesan tersirat dari sebuah cerita rakyat dapat dimodifikasi dengan pola pikir dan kreativitas terkini.

Kanal Budaya IndonesianaTV yang memiliki maksud dan tujuan melestarikan dan mempromosikan budaya Indonesia yang beragam kepada masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri melalui penayangan program-program yang mengangkat berbagai aspek budaya Indonesia, seperti kesenian, adat istiadat, tradisi, dan sejarah. Kanal Budaya IndonesianaTV ingin meningkatkan pengetahuan dan wawasan masyarakat tentang budaya Indonesia melalui penayangan program-program edukatif dan informatif yang dikemas dengan menarik dan mudah dipahami oleh semua kalangan.
Konten-konten kebudayaan yang terkait dengan tradisi lisan sebagai bagian dari aktivitas keseharian masyarakat yang saat ini ada di platform IndonesianaTV adalah “Nusa Tutur”. Salah satu warisan budaya zaman dahulu adalah tradisi lisan. Warisan budaya ini berbentuk pesan atau kesaksian yang disampaikan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Cara penyampaian pesannya bisa melalui cerita, pidato, lagu, syair, nasihat, cerita rakyat, balada dan banyak lagi. Setiap daerah punya keunikan dan ciri tertentu dalam setiap tradisi lisannya. Namun disayangkan, karena tradisi ini disampaikan secara lisan, tidak banyak yang mencatat atau mengabadikannya, sehingga perlahan kebudayaan ini mulai hilang. Pada program Nusa Tutur, penonton akan mendapat pesan tentang isu terkini yang disampaikan dengan dialog tutur bahasa dari kebudayaan dan kearifan lokal daerah masing-masing. Dipandu oleh host serta menghadirkan dua kelompok seniman tutur dari dua daerah dengan gaya dan bahasanya masing-masing. Nusa Tutur hadir untuk membuka ruang bersama untuk merawat Bhinneka Tunggal Ika, untuk Indonesia berbahagia.
Tayangan konten-konten kebudayaan yang terdapat di Kanal Budaya IndonesianaTV adalah sebentuk praktik baik yang diharapkan dapat menjadi asupan informasi yang edukatif yang muaranya adalah terwujudnya kebudayaan Indonesia yang tetap lestari dan menjadi penuntun bagi generasi selanjutnya. Budaya yang bersifat dinamis dan mengikuti perkembangan zaman, ke depannya akan mengalami berbagai hal, baik itu budaya adaptif, budaya adopsi, budaya asimilasi, maupun budaya yang terakulturasi. Jika dahulu produk-produk dari tradisi oral disampaikan sebagai sumber informasi utama dan bersifat satu arah, maka konten-konten digital yang saat ini bertebaran membuka ruang diskusi baru. isu-isu dan kritik sosial sebuah fenomena yang tersampaikan kepada publik dapat menjadi bahan pembicaraan.
Referensi
Casim, Casim. 2018. Kajian Struktur dan Nilai Edukatif dalam Cerita Rakyat di Kabupaten TAsikmalaya serta Relevansinya dengan Pembelajaran Sastra di SMP Kelas VII Semester 2. Disertasi. Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Dananjaya, James. 1991. Folklor Indonesia, Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti.
