Budaya Adaptif Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Lompatan-lompatan besar dalam sejarah peradaban manusia di dunia telah merentang jauh sejak masa prasejarah. Budaya berburu beralih menjadi budaya meramu sebagai sebuah contoh bagaimana umat manusia senantiasa beradaptasi terhadap sebuah perubahan. Sudah menjadi keniscayaan bahwa manusia kerap berpikir mencari solusi akan sebuah permasalahan hidup yang mendera. Tuntutan adaptasi mengarah kepada bagaimana manusia dapat menyesuaikan diri agar tetap dapat bertahan hidup.
Sebuah perubahan besar dilandasi akan perubahan akan kebutuhan yang secara masif berlaku di seantero dunia pada setiap masanya. Hal yang tidak dapat diganggu gugat, semua tinggal menunggu waktu. Apakah berupa evolusi yang berjalan lambat tapi pasti atau perubahan besar nan cepat menjadi sebuah revolusi.
Revolusi industri telah terjadi sekitar empat kali tahapan yaitu dari industri 1.0, 2.0, 3.0, sampai sekarang industri 4.0. Revolusi sendiri yaitu suatu perubahan corak budaya dan sosial yang ada di lingkungan masyarakat, juga kebiasaan yang sering dilakukan berhubungan dengan dasar kehidupan masyarakat yang singkat. Sedangkan untuk industri yaitu suatu kegiatan yang bersangkutan dengan pengolahan bahan mentah menjadi barang yang berharga atau berkualitas (Harahap, 2019 dalam Annisa 2021). Revolusi industri juga dapat diartikan sebagai suatu perubahan cara kerja manusia secara fundamental karena melahirkan hal-hal baru yang dapat membantu dan juga dibutuhkan pada kehidupan manusia (Setiono, 2019 dalam Annisa 2021)
Revolusi industri juga memberikan perubahan yang cukup signifikan pada kehidupan manusia. Revolusi industri terjadi pertama kali yaitu dengan melimpahkan mekanisme produksi pada penemuan sebuah mesin, revolusi industri kedua sudah berada di tahap yang mana telah dilakukannya produksi massal yang sudah terintegrasi dengan standarisasi, revolusi industri ketiga yaitu tahapan dimana keselarasan secara masal yang sudah dititik beratkan pada integritas komputerisasi dan selanjutnya yaitu revolusi industri keempat yang telah menghadirkan sebuah kerjasama antara internet dan manufaktur sehingga menghasilkan keadaan otomatisasi dan digitalisasi yang pada saat ini sedang dirasakan dan dijalankan oleh manusia di kehidupannya (Suwardana 2019 dalam Annisa 2021)
Setiap periode Revolusi Industri selalu ditandai inovasi serta penemuan-penemuan baru yang berujung kepada pengembangan teknologi untuk meminimalisir penggunaan tenaga manusia yang terlalu dominan. Pemilik usaha dan modal selalu berhitung terkait pembentukan faktor produksi, bagaimana menekan serendah mungkin ongkos produksi. Pada setiap periode selalu muncul upaya untuk menggantikan faktor produksi dalam hal ini sumber daya manusia. Pelibatan sumber daya manusia dalam alur produksi perlahan mulai berkurang seiring inovasi perkembangan teknologi yang dihasilkan melalui riset-riset masif. Pelibatan tenaga ahli untuk merancang pembaruan teknologi tidak dilakukan dalam tempo cepat. Secara biaya tentu saja pemilik modal perlu merogoh kocek dalam-dalam yang secara valuasi akan mengganggu biaya operasional dalam jangka pendek, namun menjadi sebuah investasi jangka panjang.
Di sisi lain, sumber daya manusia sebagai faktor produksi, katakanlah buruh pekerja. Apakah telah memahami rentannya posisi mereka dalam sebuah rantai produksi? Terbersitkah dalam sistem berpikir mereka bahwa suatu saat tenaga manusia dalam rantai produksi suatu saat dalam jumlah besar tidak akan dibutuhkan lagi. Lalu akan kemana mereka beralih jika tenaga manusia sudah tak dibutuhkan lagi dalam sebuah rantai produksi. Bonus demografi yang menghasilkan angkatan kerja baru tidak berbanding lurus dengan tersedianya lapangan pekerjaan yang secara perlahan mulai digantikan oleh sebuah sistem operasi yang sudah terotomatisasi. Jika pernah muncul pemeo seperti “hidup manusia sudah seperti robot” dalam peradaban manusia, maka arah kepada peradaban baru Revolusi Industri 4.0 dan 5.0 dimana semuanya digerakkan oleh robot sudah tidak lagi menjadi hal yang mustahil.
Akankah peradaban manusia dunia telah mencapai babak akhir dengan sistem terotomatisasi yang menyentuh segala lini kehidupan dimana memunculkan ketergatungan sistemik manusia kepada teknologi mutakhir ini. Revolusi dunia yang terlalu cepat atau kita yang terlalu lambat merespon keadaan? Namun semua kembali kepada sifat dasar bahwa manusia adalah makhluk yang adaptif terhadap semua macam perubahan.
Semboyan yang terkenal dari Karl Marx dan Friedrich Engels yang senantiasa hadir dalam setiap peringatan Hari Buruh Sedunia sejak dahulu yaitu "Kaum Buruh Sedunia, Bersatulah!" perlu kiranya dicermati serta ditanamkan kepada bukan saja golongan pekerja dan buruh namun juga kepada seluruh umat manusia di dunia untuk segera menyalakan tanda bahaya peradaban manusia menjadi “Umat Manusia Sedunia, Beradaptasilah!.
Referensi
Harahap, N. J. 2019. “Mahasiswa dan Revolusi Industri 4.0,” Jurnal ECOBISMA J. Ekonomi Bisnis dan Manajemen., vol. 6, no. 1, pp. 70–78, Sep. 2019
Setiono, B. A. 2019. “Peningkatan Daya Saing Sumber Daya Manusia Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0,” Jurnal. Apl. Pelayaran Dan Kepelabuhanan, vol. 9, no. 2, p. 179, Dec. 2019
Suwardana, H., 2018. “Revolusi Industri 4. 0 Berbasis Revolusi Mental,” Jurnal JATI UNIK. Jurnal Ilmu Teknologi dan Manajemen. Vol. 1, no. 1, p. 102, Apr. 2018
