Belajar Menjadi Indonesia Lewat Film Animasi

Menurut Ward Goodenough: Kebudayaan suatu masyarakat terdiri atas segala sesuatu yang harus diketahui atau dipercayai seseorang agar dia dapat berperilaku dalam cara yang dapat diterima oleh anggota-anggota masyarakat tersebut. Budaya bukanlah suatu fenomena material: dia tidak berdiri atas benda-benda, manusia, tingkah laku atau emosi-emosi. Budaya lebih merupakan organisasi dari hal-hal tersebut. Budaya adalah bentuk hal-hal yang ada dalam pikiran (mind) manusia, model-model yang dipunyai manusia untuk menerima, menghubungkan, dan kemudian menafsirkan fenomena material di atas (Keesing, …).
Film sebagai produk budaya yang menjadi media untuk menyampaikan pesan moral dari sebuah peradaban. Film juga memiliki maksud untuk membangun kenangan bersama antar generasi. Kenangan bersama yang dibangun bukan saja berkisar pada kisah suka duka semata, namun lebih jauh dari itu, kenangan bersama untuk sama-sama mencari jawaban dari sebuah permasalahan. Masa lalu yang kelam atau gilang gemilang dapat dipelajari oleh setiap generasi. Jika mengacu pada Kegunaan Entrinsik Sejarah menurut Kuntowijioyo, setidaknya ada 3 hal yang relevan dengan penggunaan media film untuk menyampaikan pesan dari masa lalu sebagai kenangan bersama.
- Pendidikan moral
Sejarah tidak hanya menceritakan peristiwa, tetapi juga menunjukkan nilai-nilai moral yang bisa diambil dari setiap kejadian. Masyarakat dapat belajar mengenai nilai-nilai seperti kejujuran, keberanian, dan integritas melalui pengorbanan dan kisah-kisah tokoh masa lalu. Pendidikan moral dari sejarah membantu membentuk karakter yang baik dan memberikan pedoman untuk hidup di masa kini.
- Pendidikan penalaran
Sejarah berperan dalam melatih kemampuan berpikir atau penalaran. Mempelajari sejarah membutuhkan analisis yang kritis terhadap fakta-fakta, pola peristiwa, dan konsekuensi yang terjadi. Hal ini mengajarkan cara berpikir yang logis dan sistematis. Dalam hal ini masyarakat tidak hanya menerima informasi begitu saja, tetapi memahami latar belakang dan konteks dari setiap peristiwa.
- Pendidikan perubahan
Sejarah mencatat berbagai perubahan yang terjadi dalam masyarakat, baik dalam hal budaya, ekonomi, maupun teknologi. Pendidikan perubahan ini memberikan wawasan bagi masyarakat untuk menerima perubahan sebagai hal yang wajar dan alami. Dengan memahami perubahan-perubahan yang pernah terjadi, masyarakat dapat lebih adaptif terhadap perkembangan zaman dan lebih siap menghadapi tantangan-tantangan di masa depan.
- Pendidikan masa depan
Sejarah menyediakan pendidikan mengenai masa depan. Meski sejarah berkaitan erat dengan masa lalu, analisis sejarah memberikan kita gambaran mengenai tren dan pola yang mungkin terulang di masa depan. Melalui pengetahuan sejarah, masyarakat dapat membuat prediksi dan antisipasi yang lebih baik terhadap peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi. Dengan demikian akan membuat masyarakat menjadi lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan di kemudian hari. (Kuntowijoyo, 2001)
Untuk menyampaikan pesan dari masa lalu terkait sejarah dan budaya sebuah peradaban dapat dilakukan dengan beragam pendekatan yang populis, salah satunya lewat film. Unsur-unsur ke-indonesia-an yang menjadi ciri sebuah peradaban kita dapat tetap hidup dan menjadi kenangan bersama melalui film. Genre yang beragam sebagai media penyampai pesan agar dapat diterima oleh berbagai kalangan menjadikan pilihan media animasi adalah hal yang tepat karena akan menjangkau banyak segmentasi penonton.
Sehingga bukanlah hal yang mengagetkan jika Film Jumbo yang saat ini tayang mampu menghidupkan kenangan antar generasi. Film animasi Jumbo produksi Visinema Studios garapan Ryan Adriandhy, berhasil menorehkan tonggak sejarah baru dalam dunia film animasi Indonesia. Jumbo mencatatkan diri sebagai film animasi terlaris sepanjang masa di Indonesia dan menjadi film animasi lokal pertama yang berhasil menembus angka 1 juta penonton dalam tujuh hari penayangan dan terus melaju di tangga box office Indonesia dengan pencapaian luar biasa mencapai 2 juta penonton pada hari kesebelas penayangan.
Film “Jumbo” menceritakan kisah Don sebagai karakter utama yang merupakan seorang anak yatim piatu, sering diremehkan karena memiliki tubuh besar dan sering dipanggil "Jumbo" oleh teman-teman sebayanya. Don hidup dalam warisan kenangan buku dongeng "Pulau Gelembung" dari mendiang kedua orang tuanya. Akibat dari sering diremehkan oleh Atta dan teman-teman sebayanya, Don/Jumbo dibantu oleh sahabat-sahabatnya (Mae, Nurman, dan Mery) berusaha menunjukkan kemampuan dirinya untuk menjadi hebat dalam sebuah projek pertunjukan story telling.
Makna dan Pesan dalam Film Jumbo
Jumbo berhasil mengaduk hati dengan cerita hangat, memantik tawa, haru, dan penuh makna. Kisah dan pemaknaan nilai kompleks dikemas sedemikian rupa, berhasil memancing perhatian anak-anak, sekaligus menyentuh hati orang dewasa. Film Jumbo semakin istimewa karena keberhasilannya menyeimbangkan unsur hiburan dan pesan moral lewat film animasi yang indah. Interaksi multidimensi geng anak-anak dengan arwah menjadi tema sedikit tidak lazim untuk film anak-anak namun sangat menarik.
Jumbo sebagai anak yang dirundung, juga merupakan manusia yang pernah berbuat salah. Tidak ada manusia yang selalu baik, tidak ada juga manusia yang selalu jahat. Kita semua pernah menjadi tidak baik, namun akhirnya belajar dan berusaha menjadi baik merupakan pesan yang cukup konsisten ditonjolkan dalam film ini. Penonton juga diajak memahami bagaimana setiap karakter mempunyai latar belakang, luka, motivasi, dan konflik internal masing-masing.
Digarap 5 Tahun oleh 400 Lebih Pekerja Kreatif
Film Jumbo digarap komika, aktor dan juga animator Ryan Adriandhy bersama lebih dari 420 pekerja kreatif Indonesia yang terdiri dari animator, penulis naskah, visual effect, sound effect, technical engineer, dll. Proyek film animasi ini dimulai pada 2019, ketika Irfan Ramli dan Adrian Qalbi merancang ide awal cerita, dan mulai diproduksi tahun 2021.
Dari segi visual, animasi film Jumbo diciptakan dengan detail yang begitu rapi. Rasanya belum pernah ada film animasi Indonesia serapi dan seciamik film Jumbo. Karakter-karakter didesain dengan ekspresi yang khas, cocok untuk anak-anak namun tetap bisa dinikmati penonton dewasa. Kedetailan penggarapan visual animasi Jumbo dapat dilihat pada segmen dongeng pada awal film yang dibuat dengan gaya visual sketsa gambar tangan, berbeda dengan pada segmen real-life menambah dimensi artistik yang jarang ditemukan di film animasi Indonesia sejenis. Film ini ditutup dengan adegan emosional yang begitu mengharukan dan mengoyak hati orang dewasa. Adegan itu disempurnakan dengan soundtrack Jumbo berjudul Selalu Ada di Nadimu dari Bunga Citra Lestari.
Jumbo adalah Kita
Fenomena kesuksesan film Jumbo dilihat tidak hanya penuhnya studio-studio bioskop di Indonesia. Gelombang antusiasme untuk film animasi ini juga meluas secara organik di berbagai platform media sosial. Netizen beramai-ramai melakukan gerakan spontan "Buzzer Jumbo Gratisan" yang dengan sukarela mempromosikan film ini. Para animator dan ilustrator Indonesia pun turut merayakan Jumbo sebagai sebuah kebanggaan nasional melalui karya-karya kreatif mereka.
Interpretasi kreatif dari para animator dan ilustrator ini tidak hanya memeriahkan jagat maya, tetapi juga semakin mempererat ikatan emosional antara penonton dengan karakter-karakter dalam film. Lebih jauh lagi, Jumbo dianggap mampu menginspirasi para calon animator dan ilustrator muda Indonesia. Tak heran jika film ini disebut-sebut sebagai milestone baru animasi Indonesia. Tidak hanya tayang nasional, Jumbo juga dijadwalkan hadir di 17 negara lain, menjadikannya salah satu animasi Indonesia paling menjanjikan secara global saat ini.
Jumbo diminati karena menggambarkan kita sebagai masyarakat Indonesia. Ada keterwakilan kita dalam penokohan, naskah cerita, serta konflik yang terjadi. Apa yang disampaikan dari Jumbo adalah budaya Indonesia yang saat ini berlaku di masyarakat. Tradisi budaya intangible lama yang masih tersisa di masyarakat vs modernitas, menjadi gambaran utuh apa yang saat ini berlaku di masyarakat kita. Inilah potret tradisi melekat yang diwariskan secara turun temurun yang mengerucut ke pola perilaku dan tindakan kita dalam keseharian. Cara elok dalam merekam sebuah peradaban melalui film animasi.
Referensi
Hifzurahman, Muhammad Feraldi. (30 Maret 2025). "Review Film: Jumbo" Diakses pada 11 April 2025. https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20250327130012-220-1213686/review-film-jumbo
Jasmine, Adinda. (6 April 2025). Lima Tahun Perjalanan Kreatif Film Animasi Jumbo Karya Ryan Adriandhy dkk. Diakses pada 11 April 2025. https://www.tempo.co/teroka/lima-tahun-perjalanan-kreatif-film-animasi-jumbo-karya-ryan-adriandhy-dkk-1227960
Rostanti, Qommarria. (10 April 2025). Film Jumbo Tembus 2 Juta Penonton. Diakses pada 11 April 2025. https://ameera.republika.co.id/berita/sui7zc425/film-jumbo-tembus-2-juta-penonton
Jasmine, Adinda. (14 Februari 2025). Film Jumbo akan Tayang di 17 Negara, Animasi Karya Anak Bangsa. Diakses pada 11 April 2025. https://www.tempo.co/teroka/film-jumbo-akan-tayang-di-17-negara-animasi-karya-anak-bangsa-1207325
Pinjungwati, Gayuh Tri. (08 April 2025). Fakta Menarik Film Animasi Jumbo, Digarap Lebih dari 400 Kreator Indonesia Selama 5 Tahun. Diakses pada 11 April 2025. https://www.beautynesia.id/life/fakta-menarik-film-animasi-jumbo-digarap-lebih-dari-400-kreator-indonesia-selama-5-tahun/b-303559
Kuntowijoyo. 2001. Pengantar Ilmu Sejarah. Yayasan Bentang Budaya. Yogyakarta.
Keesing, Roger M. Tanpa tahun. Teori-Teori Tentang Budaya. Jurnal Antropologi No 52
