Bahasa Universal : Emoji Bahagia , Bahasa Daerah: Emoji Sedih

Komunikasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Setiap lini di masyarakat membutuhkan komunikasi, dan bahasa adalah alat utama dalam berkomunikasi. Bahasa merupakan media/sarana komunikasi yang digunakan untuk memberikan atau menyampaikan penjelasan terhadap lawan bicara agar percakapan dapat berjalan dengan lancar. Bahasa adalah jantung di setiap komunikasi, maka dari itu bahasa harus dilestarikan dan dijaga keutuhannya. Karena dengan bahasa, manusia dapat bersosialisasi, bertukar pikiran, menyampaikan gagasan dan berinteraksi dengan mudah (Arisandy et al., 2019)
Bahasa berfungsi sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan atau mengekspresikan diri. Bahasa pun sebagai alat komunikasi dan sebagai saluran maksud dari seseorang, yang melahirkan perasaan dan memungkinkan masyarakat untuk bekerja sama. Selain di atas, bahasa berfungsi sebagai alat berintegrasi dan beradaptasi sosial. Pada saat beradaptasi di lingkungan sosial, seseorang akan memilih bahasa yang digunakan tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi (Daud, 2021)
Seiring berjalannya waktu, muncul istilah komunikasi siber. Komunikasi siber diartikan sebagai komunikasi yang dilakukan dengan memanfaatkan media siber. Nasrullah mengungkapkan tiga karakteristik ketika media siber menjadi media komunikasi. Pertama, hubungan atau jejaring tidak hanya bertipe koneksi antar-individu, tetapi juga bisa melibatkan jumlah individu yang tidak terbatas jumlahnya. Kedua yaitu mempermudah interaksi bagi siapapun penggunanya. Ketiga yaitu perangkat baik perangkat keras ataupun perangkat lunak seperti internet (Panuju, 2018).
Ketika kita terkoneksi satu sama lain melalui media sosial, banyak kita jumpai emoji yang dipakai orang lain. Saat kita masuk ke dalam beranda aplikasi tersebut banyak emoji yang bertebaran untuk mengungkapkan penegasan dari teks-teks maupun gambar-gambar yang diunggah. Simbol-simbol yang digunakan tersebut untuk mengungkapkan beragam hal seperti ekspresi wajah, buah, hewan, alat musik, aktivitas ataupun simbol lainnya. Nahwiyyah & Dewi pada 2020 menyampaikan terkait kegunaan emoji yaitu untuk menekankan suatu pernyataan serta mengungkapkan perasaan atau suasana hati. Penggunaan emoji dikarenakan pengguna merasa pengungkapan kata-kata terkadang tidak cukup untuk menyampaikan suatu pesan. Makna lambang-lambang dari emoticon dapat berbeda-beda tergantung dari pesan yang menyertainya, maupun secara eksternal tergantung dari konteks sosial, agama, budaya, dan lain sebagainya (Abidin, 2016).
Dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi peradaban, kehadiran emoji ini dapat menihilkan ruang-ruang perbedaan budaya. Emoji sebagai penyampai pesan dapat dipahami oleh seluruh umat manusia dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda. Bahasa nonverbal dapat menyatukan persepsi dalam memandang sebuah fenomena. Lahirnya emoji merupakan bagian dari keberlangsungan kebudayaan itu sendiri, dimana karya cipta dan inovasi baru membuat dinamisnya kehidupan manusia. Emoji bahagia dapat menggambarkan
pencapaian-pencapaian kemajuan sebuah peradaban, namun saking terlalu dinamisnya budaya, kemajuan-kemajuan yang diperoleh seringkali akan menggilas, melunturkan dan bahkan menghilangkan budaya-budaya lain yang akan tergantikan.
Emoji sedih dapat dialamatkan untuk nasib bahasa daerah, budaya pantun dan sejenisnya. Jika bahasa non verbal dapat digunakan untuk berinteraksi di media sosial, lalu bagaimana dengan pelestarian bahasa daerah. Jumlah penutur bahasa daerah lambat laut berkurang tanpa regenerasi penutur baru dari generasi yang lebih muda. Pembaruan-pembaruan emoji yang setiap saat muncul malah mungkin akan menggeser ketertarikan masyarakat untuk mengetahui dan mempelajari emoji-emoji baru agar dicap sebagai individu yang up to date, alih-alih mempelajari dan melestarikan budaya-budaya yang cepat atau lambat akan ditinggalkan.
Referensi
Abidin, Yanuar. 2016. Makna Lambang-Lambang Emoticon (Analisis Semiotika Lambang-Lambang Emoticon di WhatsApp Messenger Dalam Kegiatan Chatting Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Skripsi. Program Studi Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Sosisal dan Ilmu Politik. Universtitas Muhammadiyah Ponorogo
Arisandy, D., Rizkika, D. P., & Astika, T. D. (2019). Eksistensi Bahasa Indonesia Pada Generasi Milenial Di Era Industri 4.0. Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 3(2), 247–251. Garuda.Ristekbrin.go.id
Daud, R. F. (2021). Dampak Perkembangan Teknologi Komunikasi Terhadap Bahasa Indonesia. Jurnal Interaksi : Jurnal Ilmu Komunikasi,
Nahwiyyah, Rodiyatun & Eriyanti Nurmala Dewi. 2020. Fungsi Emoticon Sebagai Bahasa Nonverbal Dalam Komunikasi Digital”. Dalam ProListik : Jurnal Ilmu Komunikasi vol. 5, no. 2, Mar. 2022. Universitas Islam Nusantara. Bandung.
Panuju, Redi. 2018, Pengantar Studi Ilmu Komunikasi: Komunikasi Sebagai Kegiatan Komunikasi Sebagai Ilmu. Jakarta, Paramedia Grup.
