InstagramTiktokX
Sabtu, 17 Mei 2025

Antara Buku dan Rendahnya Minat Baca

HN
Hotnida Novita Sary
Sumber: Tirto.id
Sumber: Tirto.id

Penggila buku itu bernama Mohammad Hatta. Hampir di sepanjang hidupnya Hatta selalu berada di antara buku-buku. Dia bakal gundah gulana saat berada jauh dari buku. Pun saat akan diasingkan ke Boven Digul, Papua. Yang ada di pikirannya saat itu justru bagaimana cara membawa semua bukunya ke sana. Tak pelak satu quote-nya begitu melegenda: "Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas."

“Dalam peti buku yang berukuran ¼ meter kubik satu, jumlahnya 16 buah. Jadi, semuanya empat meter kubik. Mengepak buku itu paling sedikit memakan waktu tiga hari,” tulis Hatta di dalam bukunya Memoir (mengutip Sejarah Perbukuan: Kronik Perbukuan Indonesia Melewati Tiga Zaman).

Bersama buku-buku tersebut, Hatta mengisi hari-hari di Boven Digul dengan mengajarkan ekonomi dan filsafat kepada para tahanan. Minatnya yang tinggi pada buku, juga mendorong Hatta untuk aktif menulis. Pada usia 18 tahun, Hatta menulis cerita yang dimuat di majalah Jong Sumatra pada tahun 1920 berjudul “Namaku Hindiana”.

Bung Hatta mengoleksi sekitar 10.000 judul buku sepanjang hidupnya; di samping menulis 180 buku. Tentu itu suatu jumlah yang fantastis bagi seorang Indonesia (bahkan sampai saat ini).

Selain Hatta, Indonesia juga punya “penggila buku” lain yang bernama Sukarno. Di dalam autobiografi berjudul Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis oleh Cindy Adams, Presiden Pertama Indonesia itu menyatakan, “Di sana (buku) aku bertemu dengan orang-orang besar. Buah pikiran mereka menjadi buah pikiranku. Cita-cita mereka adalah dasar pendirianku.”

Salah satu putri Sukarno yang bernama Rachmawati juga pernah mengungkapkan hobi sang ayah terhadap buku. Jika tidak ada tamu di istana, Bung Karno disebut menghabiskan waktu dengan membaca. Kamar tidurnya penuh dengan buku. Tempat tidur, kursi, dan kamar mandi berubah fungsi menjadi perpustakaan.

Tak hanya gemar membaca, Sukarno juga seorang penulis ulung. Dia amat produktif menulis sejak belia, bahkan pernah menjadi editor di sebuah majalah terbitan Sarekat Islam. Beberapa karya Sukarno di antaranya adalah Mencapai Indonesia Merdeka (1933), Lahirnya Pancasila (1945), Sarinah (1951), dan kumpulan tulisan bertajuk Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 1 (1959) dan Jilid 2 (1960). Kepiawaian Bung Karno dalam menulis tentu menunjukkan referensi yang dipakainya: buku!

Selain dua proklamator, pencinta buku lainnya adalah Soetan Sjahrir, sang perdana menteri pertama Indonesia. Dalam bukunya yang bertajuk Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, sejarawan Rudolf Mrazek menggambarkan Sjahrir sebagai seorang kutu buku. Sjahrir mengaku telah membaca ratusan buku sejak remaja plus novel anak Belanda.

Narasi tentang “kegilaan” tokoh-tokoh ini terhadap buku cukup membuktikan bagaimana budaya buku di Indonesia telah menjalar sejak abad ke-20. Mengutip Trimansyah (2022), VOC secara langsung atau tidak langsung telah membawa budaya buku sebagaimana terlebih dahulu tumbuh di Eropa sejak abad ke-17.

Budaya buku ini sebenarmya tidak hanya berasal dari sisi kaum terpelajar, tetapi juga dari kaum sastrawan. Karya sastra turut andil dalam menyemai bibit-bibit budaya buku pada anak-anak Indonesia di masa lalu yang pada akhirnya mendorong perilaku suka membaca.

Belum lagi kalau kita bicara tradisi penulisan kitab yang bahkan sudah dimulai pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara. Budaya penulisan kitab—yang tentu saja dimulai dengan membaca—telah ada sejak zaman kerajaan berdiri kukuh di Nusantara meskipun hanya dikuasai oleh kaum bangsawan.

Lantas, Bagaimana Sekarang?

Sayangnya, saat ini budaya membaca buku di masyarakat Indonesia tak terlampau baik—kalau tidak mau disebut memprihatinkan. UNESCO menyebutkan kalau Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah soal literasi dunia. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca.

Studi lain soal World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada tahun 2016, menyebutkan kalau Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Sementara itu, survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020 menunjukkan hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. Angka ini menunjukkan tingkat minat literasi yang rendah di masyarakat.

Angka-angka di atas tentu menyedihkan kita semua. Padahal, kalau meminjam kata-kata Pramoedya Ananta Toer: membaca adalah jendela dunia. Membaca adalah langkah awal untuk mengenal dunia; belajar dari yang lampau untuk menjadi lebih baik di masa depan.

Itu sebabnya, tanggal 17 Mei menjadi momen untuk kembali menggelorakan semangat membaca buku. Target satu buku setiap minggu bisa menjadi pilihan untuk mulai kebiasaan membaca buku. Selamat Hari Buku Nasional!

Referensi:

Trimansyah, Bambang Trimansyah. 2022. Sejarah Perbukuan: Kronik Perbukuan Indonesia Melewati Tiga Zaman. Jakarta: Pusat Perbukuan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

“Rendahnya Minat Literasi di Indonesia”. https://kallainstitute.ac.id/rendahnya-minat-literasi-di-indonesia. Diakses 14 Mei 2025.

“5 Tips Meningkatkan Minat Baca”. https://lib.ub.ac.id/berita/5-tips-meningkatkan-minat-baca/. Diakses 14 Mei 2025.

 

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX