Antara Aku, Kau dan Bekas Komandanmu: Sejarah di Balik Hari Film Nasional

30 Maret ditetapkan sebagai Hari Film Nasional pada 11 Oktober 1962 saat diadakan "Musjawarah Film Indonesia" oleh Konferensi Dewan Film Nasional bersama Organisasi Perfilman. Tanggal 30 Maret dipilih karena merupakan momentum syuting hari pertama Film Darah dan Doa yang disutradarai oleh Usmar Ismail. Film ini disepakati sebagai tonggak sejarah film pertama yang disutradarai dan diproduksi oleh orang Indonesia. Djamaluddin Malik, produser film dan pemilik Studio PERSARI, menyampaikan usulan kepada Dewan Film Indonesia pada akhir musyawarah agar "Hari Film Nasional" merujuk pada hari pertama produksi film Long March/Darah dan Doa (Direktorat Sejarah: 2017). Penetapan Hari Film Nasional secara resmi oleh pemerintah saat Presiden BJ Habibie mengeluarkan Keputusan Presiden No.25/1999.
Ide ceritanya sendiri diambil dari kisah nyata nan heroik saat Pasukan Divisi Siliwangi melakukan hijrah dari wilayah Jawa Barat menuju wilayah Republik Indonesia di Jawa Tengah, sesuai hasil dari Perundingan Renville 17 Januari 1948 terkait wilayah dimana Belanda hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera sebagai bagian wilayah Republik Indonesia, disetujuinya sebuah garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dan daerah pendudukan Belanda, serta Tentara Nasional Indonesia harus ditarik mundur dari daerah-daerah Jawa Barat dan Jawa Timur.
Proses mobilisasi penarikan pasukan Siliwangi dimulai pada 1 Februari hingga 22 Februari 1948. Sebanyak 35.000an orang yang terdiri dari pasukan TNI Siliwangi, pejabat pemerintah, tokoh politik, laskar pejuang, dan juga melibatkan keluarga. Puncak pengorbanan pasukan Siliwangi ini saat harus melakukan penyusupan untuk kembali ke Jawa Barat pada 9 November 1948. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Long March Divisi Siliwangi (Ensiklopedia Sejarah Indonesia: 2024)
Darah, do’a, air mata dan pengorbanan mewarnai perjalanan mereka karena beragam kejadian yang menimpa di sepanjang jalan. Hadangan dan serangan udara dari tentara Belanda maupun sergapan dari Pemberontak DI/TII pimpinan Kartosuwiryo kerap ditemui. Belum lagi rintangan alam yang menghambat pergerakan hingga sakit yang mendera berujung kematian. Perjalanan mudik ke kampung halaman demi kecintaan kepada tanah air.
Latar peristiwa inilah yang ditangkap oleh sutradara Usmar Ismail untuk diangkat ke layar lebar. Rentang waktu antara peristiwa dan produksi film yang berdekatan memperkaya narasi-narasi berdasarkan kesaksian para pelaku langsung. Ingatan manis dan pahit, romansa, ketegangan, rasa takut sekaligus haru, traumatik nan membekas, serta semangat juang mempertahankan kemerdekaan menjadi cita rasa dan kekhasan sendiri dari film ini.
Kekuatan Film Darah dan Doa mampu merekam euforia zaman pada saat itu yang tengah dilanda demam “Kembali ke Negara Kesatuan”, situasi pasca peristiwa Pengakuan Kedaulatan 27 Desember 1949 tengah hangat-hangatnya menjadikan film ini sebagai propaganda yang tepat untuk ditujukan ke dunia internasional bahwa rekaman peristiwa zaman telah terdokumentasikan lewat media film.
Selain dapat membangkitkan semangat kesatuan dan berbagi memori perjuangan yang sama, Film Darah dan Doa juga menjadi penggambaran bagaimana perbedaan persepsi mengenai pendekatan memaknai kondisi yang berubah-ubah pada periode 1945-1949 serta pasang surut dinamika berbangsa dan bernegara yang masih seumur jagung.
Konflik terbuka antara Pasukan Divisi Siliwangi dan Gerombolan DI/TII yang menolak untuk turut hijrah ke wilayah Republik Indonesia dan memilih untuk tetap berjaga di kedudukan asal di Jawa Barat, menjadikan keretakan dan pecah kongsi antara saudara setanah air, sekampung halaman termasuk perpisahan mengharukan antara prajurit serta bekas komandannya…
Referensi
Indonesia, Angkatan Darat. Kodam VI/Siliwangi. Dinas Sejarah. Siliwangi dari Masa ke Masa. Indonesia: Angkasa, 1979.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Direktorat Sejarah. Merayakan Film Nasional. Jakarta: 2015.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan. Ensiklopedia Sejarah Indonesia: 2024.
Ratmanto, Aan. Pasukan Siliwangi: Loyalitas,Patrotisme dan Heroisme. Yogyakarta. Mata Padi: 2012.
