Jumat, 24 Juli 2026

Screening Layar Bebas Batas, Dorong Ekosistem Perfilman yang Inklusif

BM
Balai Media Kebudayaan
Talkshow dalam rangkaian Screening Layar Bebas Batas yang menghadirkan diskusi mengenai proses kreatif dan pengalaman peserfa dalam bekarya melalui film
Talkshow dalam rangkaian Screening Layar Bebas Batas yang menghadirkan diskusi mengenai proses kreatif dan pengalaman peserfa dalam bekarya melalui film

Jakarta, 23 Juli 2026 – Program Layar Bebas Batas yang diinisiasi Yayasan Happyself Harmony Family menghadirkan ruang kreatif bagi anak-anak, termasuk anak dengan kebutuhan khusus, untuk belajar dan berkarya melalui film. Kegiatan yang diselenggarakan di lingkungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem perfilman yang lebih inklusif dan memberikan kesempatan yang setara bagi setiap anak untuk mengembangkan potensinya.

Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Ahmad Mahendra, M.Tr.A.P., dalam sambutannya menyampaikan bahwa film tidak hanya berperan sebagai karya seni dan bagian dari industri kreatif, tetapi juga menjadi media edukasi yang mampu memperluas wawasan, meningkatkan literasi, serta membuka perspektif baru bagi masyarakat.

"Film juga memberi pengetahuan yang lebih luas dan menginspirasi sebagai media yang memberikan informasi kepada kita semua," ujar Mahendra.

Ia menegaskan bahwa pembangunan ekosistem perfilman perlu dilakukan secara menyeluruh dengan merangkul seluruh unsur, mulai dari industri, seni, hingga aspek inklusivitas. Menurutnya, keberagaman merupakan kekuatan yang harus terus didukung agar setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan mengembangkan potensinya.

"Untuk membangun ekosistem perfilman, kita harus melihatnya secara luas dan merangkul seluruhnya, baik film sebagai industri, film sebagai seni, maupun film sebagai ruang inklusivitas," katanya.

Program Layar Bebas Batas menjadi salah satu wujud nyata komitmen tersebut. Selama program berlangsung, peserta memperoleh pembelajaran menyeluruh mengenai proses produksi film, mulai dari pengembangan ide cerita, penulisan skenario, penyutradaraan, penyusunan konsep visual, blocking, penyusunan breakdown produksi, penjadwalan, penentuan lokasi, tata busana, dasar-dasar sinematografi, tata artistik, pembuatan moodboard, hingga proses penyuntingan.

Seluruh materi tersebut kemudian diterapkan secara langsung melalui proses produksi film yang dilakukan secara kolaboratif. Para peserta bekerja sama dalam setiap tahapan produksi hingga menyelesaikan proses pengambilan gambar dalam satu hari dan menghasilkan karya yang diputar pada agenda screening.

Mahendra mengapresiasi penyelenggaraan program ini karena dinilai mampu membuka akses yang lebih luas bagi seluruh peserta untuk mengenal dunia perfilman sekaligus memperoleh pengalaman belajar yang komprehensif.

"Program ini memberikan kesempatan yang setara untuk mengenal dunia perfilman dan mendapatkan pelatihan yang komprehensif," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Provinsi DKI Jakarta, Dr. Dwi Oktavia Tatri Handayani, M.Epid., menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk tumbuh, memperoleh perlindungan, belajar, dan mengembangkan potensinya, termasuk anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Menurutnya, anak-anak dengan kebutuhan khusus tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan kesempatan yang setara untuk berkarya, belajar, dan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.

"Setiap anak berhak tumbuh, mendapat perlindungan, dan memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi," tuturnya.

Ia menambahkan bahwa semangat program ini selaras dengan upaya mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan ramah anak. Kemajuan sebuah kota, menurutnya, tidak hanya diukur dari pembangunan fisik maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuannya memastikan setiap anak memperoleh hak yang sama untuk belajar, berkarya, berpartisipasi, dan berkembang.

Melalui Layar Bebas Batas, para peserta tidak hanya belajar membuat film, tetapi juga mengembangkan kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, memecahkan masalah, dan membangun rasa percaya diri. Keberagaman kondisi fisik maupun sensorik menjadi bagian yang memperkaya proses kreatif sekaligus memperkuat nilai kemanusiaan dalam setiap karya yang dihasilkan.

Kegiatan dilanjutkan dengan penayangan film karya para peserta dan sesi talk show bertajuk "Karya untuk Arya" dan "Isyarat". Film-film tersebut merupakan hasil dari seluruh proses pembelajaran yang telah dilalui peserta, mulai dari pengembangan ide, penulisan naskah, praproduksi, produksi, hingga pascaproduksi.

Penyelenggaraan Screening Layar Bebas Batas menunjukkan bahwa film mampu menjadi medium yang melampaui berbagai batas perbedaan. Melalui kolaborasi antara pemerintah, yayasan, komunitas, sekolah, keluarga, dan berbagai mitra lainnya, program ini membuka ruang bagi lahirnya talenta-talenta baru di bidang perfilman sekaligus memperkuat nilai inklusivitas dalam ekosistem kebudayaan.

Kementerian Kebudayaan berharap inisiatif serupa dapat terus berkembang, tidak hanya di bidang perfilman, tetapi juga pada berbagai sektor kebudayaan lainnya, seperti seni pertunjukan, musik, sastra, dan ragam ekspresi budaya. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, diharapkan semakin banyak ruang yang terbuka bagi seluruh masyarakat untuk belajar, berkarya, dan berpartisipasi secara setara dalam memajukan kebudayaan Indonesia.

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX