InstagramTiktokX
Rabu, 03 Juli 2024

Pameran "Weruh": Menyelami Dunia Spiritual dan Introspeksi dalam Seni Rupa di Jakarta

RM
Redaksi Media BMK
Perupa Teti Tresnasari, Sari Koeswoyo, Edya Asmara, di salah satu lukisan Pameran Weruh. Foto: Istimewa
Perupa Teti Tresnasari, Sari Koeswoyo, Edya Asmara, di salah satu lukisan Pameran Weruh. Foto: Istimewa

JAKARTA - Pameran "Weruh" resmi dibuka pada Sabtu, 29 Juni 2024, di Ruang Garasi, Jl. Gandaria IV No.2, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pameran ini menampilkan karya tiga perupa perempuan Indonesia, yakni Edya Asmara, Sari Koeswoyo, dan Teti Tresnasari, dengan kurator Mayek Prayitno. Pameran yang dipimpin oleh Direktur Ruang Garasi, KaNA Fuddy Prakoso, ini berlangsung dari 29 Juni hingga 13 Juli 2024.

Kurator Mayek Prayitno mengungkapkan bahwa ketiga perupa ini merumuskan "Weruh" sebagai mengetahui atau memahami sesuatu yang berkaitan dengan spiritualitas dan ilham yang tetiba muncul dalam pikiran dan diwujudkan dalam karya seni. "Weruh adalah merasakan sesuatu secara mendalam, baik itu gagasan, jiwa, atau roh," jelasnya.

Perupa Teti Tresnasari menyampaikan bahwa karyanya "My Dancing Soul" menggambarkan coretan yang mencerminkan bentuk dan warna. Baginya, setiap goresan membawa pesan tersendiri, dan seni adalah tentang menikmati pesan dan gaya masing-masing. "Weruh adalah energi yang bergerak, mengalir melalui alat tulis dan kertas, dan membawa frekuensi vibrasi yang menarik jiwa saya," ujar Teti Tresnasari.

Sementara Perupa Edya Asmara menjelaskan bahwa karyanya berfokus pada introspeksi diri, pengendalian diri, dan perbaikan diri. Sebagai contoh, Edya memperlihatkan lukisan berukuran 50 x 50 cm dari bahan plastik kresek dan cat akrilik yang menggambarkan "Batara Guru", yang melambangkan kesadaran manusia tanpa ego. "Batara Guru adalah kesadaran manusia yang paling sederhana, di mana kita tidak menyebalkan bagi orang lain," katanya.

Salah satu karyanya yang terinspirasi dari Candi Borobudur ini menunjukkan lima wanita yang masing-masing bereaksi berbeda setelah mendengar sebuah cerita. Edya menggunakan limbah plastik dalam karya-karyanya, mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan.

Edya Asmara dikenal dengan delapan karyanya, antara lain "Naung", "Kesadaran", "Wayang", "Tabur Tuai", "Aksara", "Setela", "Mawas Diri", dan "Lamunan". “Semua karya ini bertema introspeksi dan pengendalian diri,” jelasnya.

Sedangkan Perupa Sari Koeswoyo menampilkan lukisan bertema "Ibu sedang Lara" di dinding setinggi lima meter dan lebar enam meter. Lukisan ini menyerupai mural yang menggambarkan Batara Guru siap menerkam, sementara seorang sosok perempuan (Ibu Pertiwi) bersandar pada batang pohon yang dililit naga hijau bermahkota emas. Lukisan ini menggambarkan kondisi sosial politik yang kacau dan kekuasaan yang tidak terkendali.

Weruh

"Weruh" adalah sebuah pengetahuan yang melintas dalam pikiran dan mengarahkan seseorang untuk berasumsi atau menduga sesuatu. Kurator Mayek Prayitno menjelaskan bahwa "Weruh" dalam bahasa Jawa mengandung konotasi pengetahuan yang muncul dan memberi dorongan kepada seseorang untuk berasumsi atau menduga.

Filsafat Immanuel Kant menjelaskan "Weruh" sebagai transenden, yaitu kesadaran dalam diri manusia sebelum bertemu dengan pengalaman empirik. Realitas dibagi menjadi dua: Fenomena (yang tampak) dan Noumena (yang tidak tampak atau transenden), yang merupakan kekayaan batin individu yang misterius. "Weruh" dalam pameran ini dianggap sebagai sesuatu yang transenden dalam batin seseorang.[*]

Sumber:

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX