Open Call Layar Anak Indonesiana 2024 Telah Memasuki Tahapan Produksi Film

JAKARTA - Open Call Layar Anak Indonesiana (LAI) 2024 telah memasuki tahap Bimbingan Teknis II: Persiapan Produksi dan Administrasi, yang berlangsung dari tanggal 30 Juli hingga 2 Agustus di Hotel Mercure Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Program ini berada di bawah naungan Balai Media Kebudayaan sebagai bagian dari strategi Obyek Pemajuan Kebudayaan (OPK).
Kepala Bidang Kreasi, Produksi, dan Akuisisi Kerja Sama Konten IndonesianaTV, Chandra S. Endoputro, menyampaikan harapannya agar banyak filmmaker dari berbagai daerah di Indonesia dapat mengekspresikan diri mereka dan berperan serta dalam pemajuan kebudayaan melalui karya audio-visual.
"Kenapa anak-anak? Sebenarnya sangat sedikit sekali tontonan buat anak-anak dan kita percaya bahwa adalah generasi penerus. Jadi, rasanya penyebaran informasi pemajuan kebudayaan juga harus punya concern terhadap anak-anak," urai Chandra.
Chandra juga menekankan pentingnya memori yang dibentuk dari tontonan ini untuk masa depan anak-anak mengenai kebudayaan Indonesia.
"Kualitas film harus baik, harus inspiratif, harus membuat anak-anak merasa ini film gue, ini generasi gue, ini menceritakan tentang gue," tambahnya.
Sementara itu, Produser dan Penulis Naskah Film Dokumenter Anak "Sendang Pertiwi", Tafsi, menyatakan rasa terima kasihnya kepada Balai Media Kebudayaan atas dukungan dana yang memungkinkan pembuatan dokumenter tersebut. Tafsi menjelaskan pentingnya film ini dalam mengedukasi tentang konservasi mata air Sendang Beci di Dusun Kudugan, Semin, Gunung Kidul.
"Kami berharap film ini bisa menginspirasi baik anak-anak maupun orang dewasa yang menemani anak-anak mereka menonton untuk menumbuhkan kesadaran merawat mata air yang ada di sekitar kita dan juga menghormatinya," harap Tafsi, yang tergabung dalam Kelompok Matahati Adab Nusantara.
Lebih lanjut, Tafsi menegaskan pentingnya dukungan pemerintah dalam produksi film anak. Ia menuturkan harapannya agar pemerintah lebih banyak lagi memberikan dana-dana untuk pembuatan film-film, terutama untuk penayangan anak. Kami sadar bahwa tontonan anak-anak kita itu terbatas.
Sedangkan Perwakilan Kelompok Film Dreamsky, Wildan, juga berbagi pengalaman positifnya selama mengikuti bimbingan teknis ini. "Senang banget bisa ikut BIMTEK ini. Seru banget ketemu sama orang-orang yang luar biasa," kata Wildan.
Ia juga menyoroti tantangan dalam produksi filmnya dan berterima kasih atas banyaknya insight yang didapat dari para mentor.
"Saya merasakan betul bahwa dampak dari perhatian pemerintah terhadap kami, para filmmaker dari daerah, sangat luar biasa," tambahnya.
Program bimbingan teknis ini diharapkan dapat membantu para filmmaker Indonesia dalam meningkatkan kualitas produksi film anak, sehingga dapat menyebarkan pesan-pesan kebudayaan yang inspiratif dan mendidik kepada generasi muda.
Setelah melalui tahapan II ini, para peserta memasukin tahap produksi film yanh akan berlangsung sampai September 2024.[*]
