InstagramTiktokX
Jumat, 14 Maret 2025

Menu Sahur Hari Pertama (Merdeka): Nasi Goreng

JP
Jaka Prabawa
M.Hum
Satsuki Mishima Staf Laksamana Tadashi Maeda (duduk sebelah kiri) berfoto bersama staf Angkatan Laut Jepang di kediaman Laksamana Tadashi Maeda (kini Museum Perumusan Naskah Proklamasi) pada 1943
Satsuki Mishima Staf Laksamana Tadashi Maeda (duduk sebelah kiri) berfoto bersama staf Angkatan Laut Jepang di kediaman Laksamana Tadashi Maeda (kini Museum Perumusan Naskah Proklamasi) pada 1943

Dalam kita menerima dan menggunakan kebudayaan orang asing, kita harus berlandaskan dan berdiri sebagai suatu bangsa yang berpribadi, yang sanggup mempergunakan setiap barang baru dari manapun datangnya agar berguna dan lebih memudahkan cara mencapai hidup selamat dan bahagia. Tinggalkanlah atau simpanlah adat yang sudah tidak sesuai dan merintangi kemajuan kita. Terimalah barang baru dari bangsa manapun, yang dapat memperkaya perbendaharaan hidup kita. “Nasi goreng" dengan bahan nasi yang nasional, akan lebih nikmat rasanya dan manfaat bagi kesehatan kita jika digoreng dengan mentega hasil kebudayaan Barat, daripada dengan minyak kelapa nasional yang tengik. Nasi goreng dengan mentega adalah hasil kebudayaan baru, paduan kebudayaan bangsa Indonesia dengan tekhnologi Barat, yang memperkaya hidup manusia. (Dewantara: 1969)

Pengenalan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) terhadap kebudayaan Barat secara dekat selama ia berada di tanah pengasingan itu, memperkuat keyakinannya, bahwa pengambilan unsur-unsur asing yang bersifat positif akan memperkaya kebudayaan sendiri tanpa melepaskan kepribadiannya sebagai bangsa. Prinsip ini dipegang teguh dan ia selalu menyerukan agar kita jangan segan-segan memasukkan bahan-bahan dan kebudayaan-kebudayaan asing, dari mana pun asalnya. Tetapi harus diingat bahwa dengan bahan-bahan baru itu rakyat kita dapat mempertinggi hidupnya dengan jalan mengembangkan apa yang sudah menjadi milik kita, atau memperkaya dalam arti menambah dengan apa yang belum kita miliki. Kita tidak boleh hanya meniru (meng-kopi) belaka. Bahan-bahan baru itu harus di-"olah" atau di "masak" agar menjadi makanan baru yang lezat rasanya serta menambah kesehatan rakyat dalam arti kultural. (Depdikbud: 1989)

Bicara mengenai nasi goreng, perlu untuk diketahui bahwa sajian kuliner saat terjadinya peristiwa yang paling menentukan bagi kelahiran bangsa Indonesia adalah nasi goreng. Saat peristiwa perumusan naskah proklamasi di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda pada 16-17 Agustus 1945 yang kebetulan bertepatan dengan 8-9 Ramadhan 1364 Hijriyah. Pertemuan para tokoh yang dihadiri sebanyak 40-50 orang untuk sama-sama mengawal proses penyusunan naskah proklamasi yang akan menjadi sebuah surat pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia. Adalah seorang Satsuki Mishima staf Laksamana Tadashi Maeda yang ditugaskan malam itu untuk mengawal prosesi peristiwa, mengawal segala hal yang dbutuhkan oleh Soekarno, Moh. Hatta serta tokoh-tokoh lainnya malam itu.

Tersebutlah beberapa pemenuhan kebutuhan demi lancarnya pertemuan rahasia malam itu, seperti mesin ketik yang dibutuhkan oleh Sayuti Melik untuk mengetik naskah proklamasi yang dipinjam oleh Satsuki Mishima dari seorang Perwira AL Jerman Mayor Herman Kandeler. Pun ketika peristiwa perumusan akan segera berakhir pada pukul 4 pagi, Satsuki Mishima langsung berinisiatif membuatkan nasi goreng, menyajikan ikan sarden dan roti bagi para tokoh yang akan makan sahur. Dengan demikian apakah dapat dikatakan, makanan resmi orang Indonesia setelah merdeka adalah nasi goreng?

Bagaimana jika sekiranya Filosofi Nasi Goreng memang lahir di rumah Laksamana Tadashi Maeda ketika Ki Hajar Dewantara yang hadir saat peristiwa tersebut disuguhi nasi goreng saat makan sahur? Sebuah pesan tersirat dari seorang Ki Hajar Dewantara membaca fenomena dan menjalani proses detik demi detik menuju kemerdekaan mulai dari sidang demi sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan hingga pertemuan di rumah Laksamana Tadashi Maeda. Layaknya nasi goreng yang diracik dengan beragam bumbu serta memiliki banyak macamnya untuk tujuan memenuhi cita rasa serta mengusir rasa lapar, begitupun tokoh-tokoh yang hadir saat perumusan naskah proklamasi pun memiliki keragaman asal muasal daerah, etnis, ideologi, agama serta latar belakang pemahaman memiliki tujuan yang sama Indonesia Merdeka. Campur aduknya antara nasi dengan bumbu layaknya situasi diskusi yang dinamis sedikit tegang demi kesamaan persepsi akan kemerdekaan.

Di kemudian hari jika berkesempatan untuk makan sahur dengan menu nasi goreng, ingatlah selalu saat menyuap nasi sendok demi sendok ada perpaduan jiwa dan rasa merdeka di dalamnya.

 

Referensi

Aini, Nur. Ki Hajar Dewantara (1889-1959): Perjuangan dan Kiprahnya dalam Pendidikan. Skripsi. Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam. Fakultas Adab dan Humaniora. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta: 2008

Departemen Pendidikan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Ki Hajar Dewantara. Jakarta: 1989.

Dewantara, Ki Hadjar. Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian 1 (Pendidikan). Majelis Luhur Taman Siswa. Yogyakarta: 1969.

Indra, Muhammad Ridhwan & Sophian Marthabaya. Peristiwa-peristiwa di sekitar proklamasi 17-8-1945

gambar logo kemenbud
Balai Media Kebudayaan
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kontak BMK
icon location
Lokasi

Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270

Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640

icon location
Surel
balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id
icon location
Telepon
081111815957
Ikuti Kami
InstagramTiktokX