Menonton, Memahami, dan Merawat Budaya Lewat Layar Indonesiana TV
Dalam upaya mendorong pemajuan kebudayaan di era digital, Balai Media Kebudayaan (BMK) terus menghadirkan berbagai inovasi berbasis konten. Sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menegaskan pentingnya mencerdaskan kehidupan bangsa, BMK mengambil langkah strategis melalui digitalisasi objek-objek kebudayaan agar dapat diakses secara luas oleh masyarakat.
Di tengah transformasi media digital yang semakin adaptif dan mengubah pola interaksi serta konsumsi informasi menjadi serba digital, BMK menghadirkan Indonesiana TV sebagai kanal budaya yang menghimpun beragam konten kebudayaan Nusantara. Platform ini tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga sarana refleksi atas kekayaan budaya bangsa.
Dalam rangka memperingati Hari Film Nasional 2026, BMK menginisiasi kegiatan Layar Indonesiana TV, sebuah program nonton bareng (nobar) film pilihan yang dikemas dengan diskusi interaktif. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis untuk memperkuat ekosistem perfilman sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap konten budaya yang edukatif.
Diskusi seru bersama Sutradara Film Benteng duurstede (Jastis Arimba) dan pemerhati budaya (Dr. M. Haryanto, S.Pd., M. Hum.)
Kegiatan Layar Indonesiana TV diselenggarakan di dua kota di Provinsi Jawa Tengah, yakni Kota Pekalongan pada 9 April 2026 di Transmart Pekalongan XXI dan Kabupaten Batang pada 10 April 2026 di Platinum Cineplex Batang. Program ini melibatkan ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, hingga komunitas budaya dan film.
Di Kota Pekalongan, sebanyak 148 peserta mengikuti pemutaran film Benteng Duurstede, yang mengangkat kisah perjalanan emosional seorang tokoh dalam menelusuri jejak sejarah di Saparua. Film ini tidak hanya menghadirkan narasi personal tentang relasi dan luka masa lalu, tetapi juga memperkaya pemahaman penonton terhadap nilai-nilai sejarah dan warisan budaya Indonesia.
Sementara itu, di Kabupaten Batang, kegiatan diikuti oleh 140 peserta dengan pemutaran film animasi Komarong. Film ini berkisah tentang seorang gadis pemberani bernama Komang yang memulai petualangan melintasi candi-candi Nusantara bersama Barong, makhluk mistikal yang kehilangan kekuatannya. Kekuatan tersebut tersebar dalam keping-keping emas yang harus dikumpulkan kembali. Dalam perjalanannya, mereka berpacu dengan waktu untuk mencegah kebangkitan Kalageni, kekuatan gelap yang mengancam keseimbangan dunia. Melalui pendekatan visual yang ringan, film ini menyampaikan pesan budaya yang kuat, khususnya bagi generasi muda. Kedua film ini akan segera dirilis dan dapat disaksikan melalui platform Indonesiana TV.
Merchandise menarik disiapkan khusus bagi peserta aktif, langsung dari sutradara film Komarong, Gilang Bhaskara.
Rangkaian kegiatan dikemas secara interaktif, dimulai dari pembukaan, pemutaran film, talkshow bersama filmmaker, sutradara, serta pemerhati budaya dan perfilman, sesi tanya jawab, hingga penutup dengan dokumentasi bersama. Talkshow yang berlangsung setelah pemutaran film menjadi ruang dialog yang mempertemukan perspektif antara narasumber dan penonton, sekaligus membuka diskusi mengenai isu-isu kebudayaan yang diangkat dalam film.
Melalui kegiatan ini, BMK tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membangun ruang apresiasi dan edukasi. Film sebagai medium audio-visual terbukti efektif dalam menyampaikan nilai-nilai budaya, sejarah, dan identitas bangsa, terutama kepada generasi muda.
Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi wadah kolaborasi lintas sektor dengan melibatkan satuan kerja Kementerian Kebudayaan, institusi pendidikan, serta komunitas. Sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan literasi audio-visual masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif untuk mencintai, memahami, dan merawat budaya Indonesia secara berkelanjutan.
