Matangkan Persiapan Sineas, BMK Gelar Bimtek Open Call Layar Anak Indonesiana.TV 2026

Guna melahirkan tayangan edukatif yang berkualitas bagi generasi muda, Balai Media Kebudayaan (BMK) secara resmi menggelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi para peserta terpilih Open Call Layar Anak Indonesiana.TV 2026. Kegiatan ini menjadi langkah krusial dalam mendalami sekaligus mematangkan seluruh aspek persiapan sebelum memasuki tahapan produksi film.
Sekilas Perjalanan Open Call 2026
Sejatinya, Open Call Layar Anak Indonesiana.TV 2026 merupakan sebuah program panggilan terbuka yang ditujukan bagi para sineas nasional. Program ini membuka kesempatan seluas-luasnya bagi para penggiat perfilman nasional untuk mengirimkan ide cerita anak bertema kebudayaan Indonesia yang unik, menarik, dan edukatif. Fokus utama dari sinema yang digarap tentu adalah mengisahkan keragaman cerita anak yang dibalut dengan keunikan budaya lokal khas Nusantara.
Program ini menantang para kreator film tanah air untuk terlibat aktif dalam produksi film pendek anak bergenre fiksi. Tak pelak, ada 80 proposal yang masuk melalui link pendaftaran yang dibuat. Dari jumlah tersebut, 76 di antaranya lulus seleksi administrasi dan masuk seleksi substansi yang digawangi oleh 3 kurator: Rina Damayanti, Moriza Prananda, dan Edy Prasetyo.
Seleksi ide cerita yang cukup ketat mengerucutkan jumlah peserta menjadi hanya 15 saja yang masuk babak Pitching. Dalam tahap ini, ke-15 tim diberikan waktu presentasi 5 menit paparan dan 5 menit tanya jawab. Adu ide pun terjadi. Hasilnya, didapatlah 8 proposal yang akan menerima dana produksi film dari BMK.
Mereka adalah “Pasukan Singa Kardus” dari PT Jiva Cinema Indonesia – Kalimantan Barat, “Pasukan Klepon” dari CV Elora Production – Yogyakarta, Samudra di Atas Laut - CV Creative Intercine Film dari Sumatera Barat, “Popok Pok” dari PT Manoc Film Indonesia – Sumatera Barat, “Samasta Allegra” dari CV Cipta Membelah Antara – Yogyakarta, “Mak, Abe Lowbat” dari CV Historia Kreator Indonesia – Kalimantan Barat, “Meong, Bikul, dan Kisah si Pemburu” dari PT Sinemedia Kreatif Bali – Bali, “Katumbiri Nutug Leuwi (Pelangi yang Jatuh ke Sungai)” dari CV Aulia Jaya Group – Jawa Barat.
Kedelapan tim masing-masing diwakili oleh 2 orang, diundang ke Jakarta untuk menghadiri kegiatan Bimbingan Teknis sekaligus melakukan penandatanganan surat kontrak.
Bimbingan Teknis: Pilar Penting Pra-Produksi

Narasumber Irfan Ramli dan Ninik L Karim beserta moderator Vherendio dalam diskusi Bimtek Open Call Layar Anak Indoensiana.TV
Pelaksanaan bimbingan teknis ini dinilai sangat vital. Tahap pra-produksi merupakan salah satu fondasi penting dalam industri perfilman, di mana ide dan konsep diasah agar matang secara narasi maupun teknis. Melalui Bimtek ini, para sineas mendapatkan pembekalan intensif dari para ahli dan praktisi perfilman, mulai dari pemantapan skenario, penyusunan konsep visual, manajemen produksi, pemberkasan administratif, bahkan dari sisi psikologi anak.
Di hari kedua, misalnya kami mendatangkan pakar psikologi sekaligus dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1980-2018), Niniek S. Karim. Wanita yang sudah melanglang buana di kancah perfilman nasional sejak tahun 1970-an ini memberikan perspektif dari sisi psikologi anak. Dia menekankan penting untuk memastikan kita membuat film anak, bukan cuma sekadar film tentang anak. Jadi, harus ditekankan perspektifnya memang anak-anak, bukan POV orang dewasa bercerita seolah-olah dia anak-anak.
Baginya, penting juga bagi pembuat film untuk harus memahami penontonnya. “Pahami juga ya, siapa sih penontonku? Misalnya, penontonku adalah gen alpha, makanya harus pahami gen alpa itu seperti apa? Pikirannya apa? Perasannya bagaimana? Supaya mereka mau ‘mendekat’ dan menonton film kita,” tutur Bu Niniek.
Sesi panel tersebut juga mengahdirkan Irfan Ramli, seorang sutradara dan penulis naskah. Karyanya cukup banyak selama belasan tahun menyemplung di dunia perfilman nasional. “Ketika bikin film pendek, sadari dulu format film pendek itu bagaimana. Bikin film pendek itu bukan batu loncatan bikin film panjang, loh teman-temen. Bukan juga film panjang yang dipendekkin.”
Pada prinsipnya, dia menjelaskan, bikin film pendek adalah media paling bebas dari bikin film. “Level kesulitan (membuat film pendek) memang tinggi, tapi level kemerdekaannya besar.” Hal tersebut, menurutnya, yang bisa dimanfaatkan para pembuat film pendek.
“Film tersebut harus mudah dimengerti. Seperti kami bikin jumbo. Kami undang anak2 untuk mendengarkan cerita jumbo. Jadi seperti dongeng. Saat kami cerita, kami lihat ekspresi mereka. Kita catat kapan saja mereka tertawa dan senang saat bagian cerita apa,” tutur Irfan Ramli.
Hasilkan Konten Kebudayaan Berkualitas
Pada akhirnya, Bimtek bisa menjadi bahan bakar yang semakin memperkuat rasa yang sedang “diracik” sineas. Sehingga, film pendek anak yang menarik, unik, edukatif, dan kental dengan nuansa kebudayaan Indonesia pun tercapai. Kehadiran karya-karya ini diharapkan mampu mengisi ruang digital dengan konten yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat akan nilai-nilai budi pekerti.
Melalui sinergi antara Balai Media Kebudayaan dan para sineas nasional, Open Call Layar Anak Indonesiana.TV 2026 diharapkan dapat menjadi stimulus positif bagi ekosistem perfilman anak di Indonesia, sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa di era digital. (*)
