Geliat Generasi Pelestari Batik

Silang pendapat terkait batik model printing yang jauh dari makna awal proses penciptaan batik yang berasal dari bahasa Jawa yaitu “amba” berarti tulis dan “nitik” berarti titik yang dihasilkan oleh tangan manusia dengan kandungan makna filosofis dan proses pembuatannya yang tidak mudah dan membutuhkan waktu dengan nama Batik Tulis dan Batik Cap masih saja menjadi bahasan. Jika terus larut dalam pembahasan dengan dibumbui cibiran kepada para pegiat dan pengguna batik printing maka aspek pelestarian akan luput dari perhatian.
Apabila di dunia musik dan tari misalnya telah melewati fase peralihan dari tradisional ke modern dengan sebutan “modifikasi” bahkan akhirnya bisa berkolaborasi antara keduanya dengan perkembangan teknologi, maka perdebatan antara batik tulis, batik cap dan batik printing belum jua berkesudahan. Biarlah ketiganya berjalan beriringan, berkembang bersama karena ketiganya memiliki tujuan mulia untuk sama-sama melestarikan batik dan membumikannya sebagai warisan budaya bangsa. Biarlah masyarakat yang menjadi pengguna memilih sesuai dengan selera namun sembari tetap proses edukasi dan penyampaian informasi mengenai perbedaan dari ketiganya terus berjalan.

Generasi muda yang masih awam atas perbedaan ke tiga jenis proses pembuatan batik, masih terbatas melihat dari sisi keindahan di mata dan nyaman digunakan serta berharga terjangkau tetap dilandasi kebanggaan mereka terhadap warisan budaya nenek moyangnya. Bagi yang masih awam, menggunakan batik printing adalah sebentuk sumbangsih bagi pelestarian budaya bangsa. Seiring berjalan, kebanggaan mereka akan beralih ke ketertarikan untuk mengetahui lebih mendalam mengenai apa itu batik beserta segala hal penjelasannya. Tanpa mematikan api semangat kebanggaan yang mungkin akan menimbulkan trauma dan minder hingga memutuskan keengganan menggunakan batik lagi selamanya.
Keinginan untuk terlibat aktif dalam pelestarian batik yang murni dilandasi kebanggaan kendati minim pengetahuan mengenai batik telah banyak tumbuh di berbagai kalangan termasuk generasi muda. Termasuk apa yang telah dilakukan oleh SMP Plus Jauharul Maknuun di Gresik dengan membuat lagu jingle dalam rangka Hari Batik Nasional 2025 dengan menggunakan seragam sekolah dengan motif batik. Semangat melestarikan warisan budaya batik telah mulai tertanam sejak dini dengan cara yang asyik untuk memotivasi rekan-rekan usianya untuk mulai peduli dengan keberadaan batik sebagai warisan budaya bangsa. Sebuah upaya pelestarian dengan menitikberatkan pada aspek pengembangan dan pemanfaatan dengan menggaungkan peringatan Hari Batik Nasional menjadi strategi tersendiri untuk lebih memasyarakatkan batik Nusantara.

SMP Plus Jauharul Maknuun "Islamic Boarding School" adalah lembaga pendidikan formal dalam naungan Pondok Pesantten Jauharul Maknuun. Sekolah ini berdiri pada tahun 2023 dengan menitikberatkan untuk berinovasi dalam pembelajaran. Langkah kreatif dalam membuat jingle Hari Batik Nasional adalah sebuah upaya untuk mengangkat tema kearifan lokal dengan membuat batik flora dan fauna khas Gresik yaitu motif randu alas dan teratai. Upaya yang tidak sekedar melestarikan juga dibarengi dengan langkah mematenkannya yang kemudian dituangkan ke dalam produk seragam sekolah.
JIngel lagu “Lestarikan Batik Kita” lahir sebagai bentuk penanaman pendidikan untuk mencintai produk lokal semakin kuat. Kolaborasi pesantren dan sekolah dengan melibatkan guru pesantren, guru SMP, dan para siswa-siswi menjadi kampanye agar mencintai batik Indonesia. Proses pembuatan lagu memakan waktu sekitar satu bulan termasuk tahapan penulisan lirik, rekaman, hingga pembuatan video klip. Seluruh proses produksi jingel dilakukan di sekolah kecuali proses rekaman yang bekerjasama dengan studio musik "Pick Music Studio" di Sunan Giri Gresik. Lestarikan Batik Kita memiliki pesan mendalam kepada generasi muda untuk bisa mencintai batik Indonesia agar memunculkan kebanggaan bahwa batik telah menjadi warisan budaya tak benda UNESCO.

Geliat pelestarian tentu tidak serta merta mematahkan ketertarikan mereka akan filosofi batik yang sesungguhnya. Perkembangan teknologi dan sistem pengetahuan yang terus berkembang termasuk ke dalam pelestarian itu sendiri. Aspek pengembangan dan pemanfaatan terkait ekosistem batik malah semakin memperkaya keanekaragaman batik beserta produk turunannya. Sikap antipati terhadap modernitas perkembangan batik sama saja menghambat edukasi penyampaian informasi terkait adi luhungnya batik sebagai bentuk keluhuran budaya para leluhur kita.
Kanal Budaya IndonesianaTV yang memiliki maksud dan tujuan melestarikan dan mempromosikan budaya Indonesia yang beragam kepada masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri melalui penayangan program-program yang mengangkat berbagai aspek budaya Indonesia, seperti kesenian, adat istiadat, tradisi, dan sejarah termasuk olahraga dan permainan tradisional. Kanal Budaya IndonesianaTV ingin meningkatkan pengetahuan dan wawasan masyarakat tentang budaya Indonesia melalui penayangan program-program edukatif dan informatif yang dikemas dengan menarik dan mudah dipahami oleh semua kalangan.

Konten-konten kebudayaan yang terkait dengan tema batik yang saat ini ada di platform IndonesianaTV adalah “Parade Indonesia” dan “Cerita Wastra”. "Parade Indonesia" adalah program liputan yang mengangkat keanekaragaman tradisi dalam masyarakat Indonesia, sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan budaya leluhur. Setiap episode menyajikan eksplorasi mendalam tentang berbagai tradisi, ritual, dan festival dari berbagai daerah, menampilkan cara-cara unik masyarakat merayakan budaya mereka. Program ini mengajak penonton untuk menyaksikan keindahan dan keragaman seni, bahasa, dan adat istiadat yang ada di Indonesia, sambil menghadirkan wawancara dengan para tokoh masyarakat, budayawan, dan generasi muda yang terlibat dalam pelestarian tradisi. Ada lima judul konten yang membahas mengenai batik, yaitu Batik Pancawati: Batik Warisan Asli Bogor, Lestari Batik Penjuru Nusantara, Warna Alam Dalam Batik, Lestari Batik Nusantara, dan Batik; Seni, Sejarah, dan Kearfian Lokal. Sedangkan “Cerita Wastra” adalah program yang menyoroti kekayaan dan keberagaman tekstil tradisional Indonesia. Dalam episode Borobudur penonton diajak untuk mengeksplorasi berbagai jenis batik dari daerah Borobudur, Lasem dan Solo. Program ini tidak hanya menampilkan proses pembuatan dan teknik yang digunakan, tetapi juga mengungkap makna budaya dan sejarah di balik setiap kain.
Tayangan konten-konten kebudayaan yang terdapat di Kanal Budaya IndonesianaTV adalah sebentuk praktik baik yang diharapkan dapat menjadi asupan informasi yang edukatif yang muaranya adalah terwujudnya kebudayaan Indonesia yang tetap lestari dan menjadi penuntun bagi generasi selanjutnya.
