Galanggang Arang: Langkah Nyata Memelihara Warisan Tambang Batu Bara Ombilin

Padang - Tahun 1868 - 1883, di bawah tantangan alam yang ekstrem di tengah perbukitan, ada perjuangan manusia yang membuka jalan bagi industri pertambangan batu bara di Sumatera Barat. Kamis, 19 Oktober 2023, sejarah itu kembali mencatat saat Galanggang Arang resmi dibuka di Asrama Haji dan Fabriek Bloc, Tabing, Padang.
Kegiatan Galanggang Arang digelar sebagai aktivasi komitmen bersama menjaga Warisan Tambang Batu bara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) yang telah diakui UNESCO sebagai warisan peninggalan yang memengaruhi peradaban dunia. WTBOS ditetapkan sebagai warisan budaya dunia pada 6 Juli 2019 di Kota Baku, Azerbaijan, saat gelaran sesi ke-43 Pertemuan Komite Warisan Dunia.
Penetapan warisan budaya dunia ini tentu saja membawa konsekuensi kerja nyata pelestarian dari seluruh properti yang menjadi identitas kuat kawasan WTBOS, yaitu pertambangan batu bara beserta infrastruktur pendukungnya di Sawahlunto, sistem transportasi kereta api untuk pengangkutan batu bara, serta gudang penyimpanan batu bara Silo Gunung di Kota Padang.
“Tugas kita sekarang adalah melestarikan dan menjaga WTBOS agar tetap terjaga, serta mengoptimalkan warisan ini sebagai modal penguatan ekosistem budaya dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya,” tegas Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdikbud Ristek RI), Hilmar Farid.
WTBOS: Jendela ke Masa Lalu
Sawahlunto merupakan salah satu daerah yang berada di perbukitan. Dengan jalur yang cukup rumit dan sulit dijangkau dengan alat transportasi biasa, tentunya keberhasilan pembangunan tambang batu bara dan jalur kereta api ini adalah sebuah kesuksesan yang luar biasa.
Teknologi tinggi terkait dengan operasionalisasi tambang didukung oleh keberhasilan dalam membuat jalur kereta api. Terlebih lagi kawasan Kayu Tanam hingga Padang Panjang merupakan jalur pendakian dengan tingkat kemiringan ekstrem hingga 80 derajat, dan teknologi berhasil mengatasi tantangan ini.
“Rangkaian aktivasi yang dilakukan juga akan menyediakan ruang bagi keterlibatan anak-anak, pelajar, dan generasi muda. Karena warisan dunia ini bukan hanya milik masa lalu dan masa kini, tapi juga bagi generasi muda di masa yang akan datang,” jelas Hilmar Farid.
Menurutnya, WTBOS bukan hanya sebuah situs warisan dunia; itu adalah jendela yang membawa kita kembali ke masa lalu, mengingatkan kita akan perjuangan orang-orang yang bekerja di bawah tanah, dan peran penting tambang batu bara dalam sejarah Indonesia. Dalam langkah menuju pelestarian warisan ini, Galanggang Arang menggabungkan elemen dialog warisan budaya, seremoni pembukaan, dan penampilan kesenian tradisional dan modern.
Galanggang Arang sendiri diambil dari kata “Galanggang” yang memiliki arti ruang, lapangan atau keramaian, sementara kata “Arang” adalah sebutan lokal untuk batu bara. Dengan demikian, Galanggang Arang memiliki arti sebagai gerakan untuk menghidupkan semangat menggali cerita sejarah dan budaya tentang batu bara yang terpendam di Sawahlunto ini. Potensi ini yang merupakan nilai-nilai universal meliputi perkembangan kebudayaan, pertukaran nilai antarbudaya, juga persebaran dan pembentukan budaya baru sebagai bentuk pemuliaan kemanusiaan.
Koordinator Kurator Galanggang Arang, Edy Utama, menyatakan acara ini juga merupakan cara bangsa menyaksikan kembali transformasi pengetahuan pada abad 20. Karena menurut catatannya, sebelum abad ke-19, belum banyak orang Minangkabau yang bersekolah. Tapi di awal abad 20 itu setelah kereta api beroperasi dan Belanda banyak membangun sekolah-sekolah, masyarakat Minang turut mendapatkan pendidikan yang utuh sejak adanya kereta api ini. Sejurus kemudian banyak lahir para intelek, tokoh bangsa dari Tanah Minang seperti Bung Hatta, Mohammad Yamin, Sutan Sjahrir, dan banyak lagi.
"Ini sebuah pencapaian yang luar biasa, di mana kereta api sebagai titik perangkat perubahan dan pembaharuan, maka itu menjadi perkembangan pada peradaban dunia," ujarnya.
Lalu, ketika berbicara batu bara, ia menyatakan bahwa dari tumbahan batu bara yang tercecer dari kereta api bisa memutarkan roda ekonomi rakyat, di mana mereka memanfaatkan batu bara untuk merebus pisang dan hasil bumi lainnya.
"Ini bukan hanya menghidupi ekonomi rakyat, tetapi juga melahirkan pemimpin besar yang memengaruhi peradaban bangsa dan dunia," tegasnya.
Kurator Galanggang Arang lainnya sekaligus Dosen Sastra dan Budaya dari Universitas Andalas, Sudarmoko, membagikan pemikirannya tentang pentingnya pelestarian warisan budaya. "Warisan budaya adalah identitas bangsa. Kami harus merawatnya agar cerita kami tidak hilang dalam angin."
Menurutnya, batu bara hasil tambang Ombilin-Sawahlunto ini tidak hanya sebagai sumber energi dan ekonomi pembangunan Indonesia dan dunia saja, tetapi juga membawa pemajuan kebudayaan khususnya di kawasan jalur kereta api dan titik stasiun perhentiannya.
Pria kelahiran Yogyakartga ini menilai, bahwa aktivasi WTBOS ini merupakan momentum yang tepat untuk menjadikan memori kolektif urang awak terhadap keberadaan kereta api di sepanjang kawasan warisan dunia ini.
“Tujuan akhir Galanggang Arang membangun ekosistem yang menyeluruh bagi aktivasi WTBOS agar dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan, teknologi dan ekspresi seni, dan budaya, bagi terwujudnya ketahanan budaya dan kesejahteraan masyarakat,” tandas Sudarmoko.
Memperkuat pernyataan Edy dan Sudarmoko, Kepala Bidang Kebudayaan Tanah Datar Sumatera Barat, Ariswandi, menyoroti pentingnya mempromosikan WTBOS kepada masyarakat luas. "Penguatan promosi WTBOS ke khalayak adalah langkah penting. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang warisan ini, masyarakat dapat lebih merasa terlibat dalam menjaganya."
Ariswandi pun mengapresiasi dan berterima kasih kepada pemerintah pusat, khususnya Kemendikbud Ristek RI yang telah melakukan penjagaan dan pelestarian terhadap WTBOS melalui Galanggang Arang ini. Kami berharap event ini terus berlanjut dan menciptakan sinergitas yang kuat berbagai pihak dalam menjaga warisan budaya.
Karena baginya, Tambang Batu Bara Ombilin menjadi jantung ekonomi, sosial, budaya, bahkan gaya hidup, dari daerah-daerah penyangga seperti Kota Solok, Kabupaten Solok, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kota Padang.
Perjalanan Menuju Pelestarian Warisan
Setelah pembukaan di Padang, Galanggang Arang akan menjelajahi berbagai tempat bersejarah lainnya di Sumatera Barat. Acara ini akan mencakup pameran, lokakarya, dan kegiatan yang melibatkan masyarakat setempat. Ini adalah upaya untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang warisan ini dan mendorong partisipasi aktif dalam menjaganya.
Adapun rangkaian acara ini melanjutkan aktivasi di Silo Gunung, Padang (20 Oktober 2023), lalu di Stasiun Kereta Api Padang Panjang (7-8 November 2023), di mana menampilkan galeri foto WTBOS, bazar kuliner tradisi & UMKM, hingga pertunjukan kesenian.
Tak berhenti di situ, pada 10-12 November 2023, kegiatan Galanggan Arang ini digelar di Stasiun Kereta Api Kayu Tanam, yang menampilkan Batajau Layang-Layang, pertunjukan kesenian tradisi Anak Nagari, pameran WTBOS di Ruang Tunggu Stasiun, dan banyak lagi. Hingga berlanjut di Stasiun Pitalah-Bunga Tanjung, Stasiun Kota Solok, Stasiun Sawahlunto, Jembatan Kereta Api Ombilin Simawang, Stasiun Kacang, dan Festival Anak, sebagai acara puncak yang diselenggarakan di Halaman Rumah Gubernur.
Masing-masing pemerintah daerah di tujuh kabupaten dan kota di Sumatera Barat tersebut turut mendukung kegiatan aktivasi dan penguatan ekosistem kebudayaan WTBOS, yang diharapkan dapat menjadi desain besar pengelolaan pada masa yang akan datang.
Perjalanan menuju pelestarian WTBOS yang diakui UNESCO ini adalah bukti dari semangat bersama dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Galanggang Arang adalah langkah dari perjalanan yang menginspirasi dan mengajarkan nilai penting pelestarian sejarah bagi generasi mendatang, serta membantu melestarikan cerita ini agar tetap hidup dalam ingatan kita, kini dan seterusnya.
