Festival Budaya Negeri Seribu Megalit Lore Lindu: Menjaga Warisan Kuliner Tradisional Sebagai Identitas Daerah

POSO, SULTENG — Setiap daerah memiliki makanan tradisional yang khas, yang membedakan antara satu daerah dengan yang lain. Kekhasan itu bisa berupa bahan baku, rasa, warna, bentuk, cara memasak, penyajian atau bahkan cara menyantap.
Karena itu, kuliner tradisional bukan hanya sebagai produksi organisme untuk mempertahankan hidup, tetapi juga adalah fenomena kebudayaan dan identitas suatu daerah, bahkan persebaran masyarakat dapat dilacak melalui makanan tradisional.
Pentingnya makanan dalam kehidupan manusia itu sudah tak terbantahkan. Tetapi lebih dari itu simbolisasi makanan mencakup ikatan sosial, solidaritas kelompok, keramahan penduduk, sampai ketenangan jiwa. Makanan bahkan kerap ditautkan dengan suatu kepercayaan. Ini menunjukan kuatnya makna simbolik di balik menu makanan.
Namun seiring kemajuan zaman makanan tradisional mengalami gerusan, mulai ditinggalkan bahkan oleh masyarakat lokal. Bersamaan dengan itu simbol identitas daerah ikut seret.
Menyadari hal tersebut, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVIII Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat menghadirkan demo masakan tradisional, pada Festival Budaya Negeri Seribu Megalit Lore Lindu Lore Lindu yang dipusatkan di Lapangan Langimpu, Desa Doda, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, 8-14 September 2024.
“Selain warisan budaya bendawi seperti arca-arca megalit di Lore Lindu ini, kuliner juga adalah bagian tak terpisahkan dari budaya. Kami ingin mengeksplorasi semua sisi budaya itu,” kata Pamong Budaya, BPK XVIII, Chalid AS, saat dikonfirmasi di Lapangan Langimpu, Desa Doda, Rabu, 11 September 2024.
Dari makanan tradisional tersebut, lanjut Chalid, kita ingin melihat keterkaitan atau benang merah antara budaya-budaya yang terbentang di Lore Lindu, termasuk dengan daerah-daerah yang memiliki kedekatan budaya, di Sulbar dan Sulsel, dan Sulteng. “Seperti Kalumpang, Mamasa, Toraja dan daerah-daerah di Sulteng ini,” papar Arkeolog itu.
Pamong Budaya Ahli Muda BPK XVIII Sulteng-Sulbar lainnya, Ilham Abdullah, mengatakan yang nampak sekarang ini hanya berupa bendawi seperti situs dan cagar. “Sekarang kami tampilkan semua potensi yang bisa kami identifikasi,” jelas Ilham.
Potensi yang dimaksud antara lain kuliner tradisional, kesenian, permainan tradisional dan kerajinan seperti kain tenun ikat dan kain dari kulit kayu.
Pada gelaran demo masakan tradisional tersebut, Kalumpang membuat dua menu makanan tradisional, yakni Buso dan Roda’ atau lemang.
Buso adalah jenis lauk bahan-bahannya seperti terong, lombok, tikala atau kecombrang, ikan, bawang merah dan bawah putih, serei, daun bawang, akar pinang, kulit cendana, garam, penyedap rasa dan di masak dengan menggunakan bambu basah. Sedangkan Roda’ adalah nasi ketan yang dimasak dengan santan juga dengan wadah bambu.
Masyarakat Behoa, membuat menu minuman khas, yaitu jahe gula merah. Minuman khas Behoa sejenis saraba, namun tidak memakai santan. Sementara Mamasa, membikin Onde-onde dan doko-doko dari tepung ubi kayu memakai gula merah dan kelapa, dan menu ke dua nasi lemang. Sedangkan Toraja, membuat dua menu, Pa’piong Bale Bulaan, dengan bahan-bahan ikan mas, daun mayana, kelapa parut, bawang merah dan putih, jahe, garam, penyedap rasa, serei, cabe rawit, jeruk nipis, lada katokkon (cabe khas Toraja). Dan Deppa Tori berbahan tepung beras dan tepung ketan, gula merah, air membuat adonan, wijen dan minyak untuk menggoreng.[*]
*Artikel ini merupakan hasil re-write & re-upload dari Radar Sulbar, 11 September 2024.
