Diplomasi Budaya Indonesia–Maroko Kian Erat Melalui Kolaborasi Seni

Jakarta, 28 Juli 2026 – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama Kedutaan Besar Kerajaan Maroko menyelenggarakan “A Musical Bridge Between Morocco & Indonesia: Harmony of Heritage, Rhythm of Unity” di Jakarta, Senin (28/7). Pertunjukan budaya ini menjadi perayaan persahabatan kedua negara sekaligus memperkuat diplomasi budaya melalui musik, sastra dan seni pertunjukan.
Acara tersebut dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, Wakil Menteri Luar Negeri Muhammad Anis Matta, Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia Redouane Houssaini, para anggora korps diplomatik, pejabat pemerintah, pelaku budaya, serta seniman dari kedua negara. Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan komitmen bersama untuk terus memperkuat kerja sama kebudayaan sebagai salah satu pilar penting dalam hubungan bilateral Indonesia dan Maroko.
Dalam sambutannya, Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia, Redouane Houssaini, menyampaikan bahwa malam budaya ini merupakan perayaan atas persahabatan yang telah terjalin erat antara kedua negara. Menurutnya, kebudayaan menjadi sarana yang mampu mempertemukan masyarakat lintas bangsa melalui nilai-nilai yang universal.
“Malam ini, kita merayakan lebih dari sekadar musik. Kita merayakan persahabatan abadi antara Kerajaan Maroko dan Republik Indonesia, sebuah persahabatan yang didasarkan pada saling menghormati dan saling percaya, nilai-nilai bersama.” ujar Redouane.
Redouane menambahkan bahwa penampilan kolaboratif musisi Indonesia dan Maroko menjadi representasi nyata dialog budaya yang melampaui batas geografis maupun bahasa. Redouane berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal bagi lahirnya berbagai bentuk kerja sama budaya yang lebih erat di masa mendatang.
Acara dibuka dengan pembacaan puisi “Oleh Tanjung” karya Taufiq Ismail oleh Peri Sandi Huizche. Penampilan kemudian dilanjutkan oleh grup musik Muara yang menghadirkan kekayaan bunyi Nusantara menggunakan berbagai instrumen tradisional Indonesia. Setelah itu, grup Melodies of Al-Andalus memperkenalkan tradisi musik maroko melalui permainan alat musik khas negaranya. Puncak pertunjukan ditandai kolaborasi kedua grup yang memadukan warna musikal Indonesia dan Maroko sebagai simbol persahabatan dan semangat saling menghargai.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan, hubungan Indonesia dan Maroko memiliki jejak sejarah yang panjang, bahkan telah terjalin jauh sebelum hubungan diplomatik resmi dibuka. Hubungan tersebut tumbuh melalui perjalanan para ulama, cendekiawan, pedagang, hingga penjelajah yang memperkenalkan Nusantara kepada dunia Islam melalui catatan perjalanannya. Interaksi tersebut kemudian berkembang menjadi hubungan yang semakin erat melalui pertukaran ilmu pengetahuan, nilai-nilai, serta warisan budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Fadli menilai, di tengah perkembangan dunia yang semakin dinamis, kebudayaan memiliki posisi strategis sebagai instrumen diplomasi yang mampu membangun, saling pengertian dan memperkuat hubungan antarbangsa.
“Budaya menciptakan ruang dialog di tengah perbedaan, membangun kepercayaan timbal balik di masa ketidakpastian, serta memperkuat hubungan antar masyarakat yang menjadi landasan kemitraan internasional yang langgeng.” tutur Fadli.
Fadli menjelaskan, Malam Seni Maroko-Indonesia merupakan implementasi nyata diplomasi budaya yang diwujudkan melalui musik, puisi, dan berbagai ekspresi artistik. Menurutnya, kebudayaan menjadi bahasa universal yang mampu mempertemukan masyarakat dari latar belakang berbeda sekaligus membuka peluang kolaborasi dari berbagai sektor, Fadli berharap hubungan kedua negara terus berkembang melalui berbagai inisiatif kebudayaan yang berkelanjutan.
“saya berharap malam Seni Maroko-Indonesia ini menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas antara kedua nagara melalui pertukaran seni, pelestarian warisan budaya, kolaborasi film dan musik, penelitian, pendidikan, serta pengembangan industri budaya dan ekonomi kreatif.” bebernya.
