Balai Media Kebudayaan Perkenalkan Karya House of Indonesiana
Pemajuan kebudayaan sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan memiliki salah satu tujuan utama, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Di tengah era konvergensi media, pola konsumsi informasi masyarakat kian bergeser ke ranah digital. Menjawab tantangan tersebut, Balai Media Kebudayaan terus berkomitmen melakukan digitalisasi objek pemajuan kebudayaan serta mengembangkan konten budaya digital yang dapat diakses secara luas oleh masyarakat Indonesia.
Sebagai lembaga yang memproduksi dan mengakuisisi konten digital kebudayaan, Balai Media Kebudayaan secara konsisten menghadirkan materi yang bersifat edukatif, informatif, dan inspiratif. Upaya tersebut diperkuat melalui pengembangan Kanal Budaya Indonesiana TV, yang menjadi pusat distribusi konten kebudayaan digital bagi publik.
Konten yang ditayangkan di Indonesiana TV tidak hanya berasal dari produksi internal Balai Media Kebudayaan, tetapi juga dari hasil akuisisi dan hibah pihak eksternal. Salah satunya berasal dari program House of Indonesiana, sebuah proyek kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan, yang bertujuan meningkatkan kapasitas para profesional Indonesia di berbagai bidang industri kreatif, khususnya film, animasi, dan dokumenter.
Dari rangkaian pelatihan tersebut, lahir dua karya perdana yang akan segera hadir di aplikasi Indonesiana TV, yaitu film animasi “Banyu” dan film dokumenter “Octopus Hunter”. Sebelum dirilis secara resmi pada tahun 2026, kedua karya ini diperkenalkan kepada publik melalui kegiatan Nonton Bareng Film House of Indonesiana yang diselenggarakan pada Rabu, 10 Desember 2025, di XXI Plaza Senayan, Jakarta.
Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, S.I.Kom, dalam sambutanya menegaskan bahwa House of Indonesiana hadir sebagai wadah pelestarian cerita-cerita Indonesia melalui sinema. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan narasi yang luar biasa dan perlu terus diwariskan dengan pendekatan yang relevan bagi generasi masa kini.
“Kita punya kekuatan cerita yang begitu banyak, diwariskan turun-temurun dari nenek moyang. Tujuan kita mempelajari animasi dan dokumenter agar cerita-cerita itu kekal abadi dan mudah dipahami generasi masa kini,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Film, Musik, dan Seni, Syaifullah Agam, Ph.D., menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh Korea Creative Content Agency (KOCCA) Korea Selatan serta antusiasme para talenta muda yang mengikuti pelatihan House of Indonesiana. Ia menilai program ini sebagai bukti nyata semangat gotong royong kreatif dalam memajukan industri film nasional.
Apresiasi juga disampaikan oleh Director of Korea Creative Content Agency (KOCCA), Mr. Lee, yang menilai kolaborasi budaya antara Indonesia dan Korea semakin menunjukkan hasil positif dan berkelanjutan.
“Semoga pemutaran Banyu dan Octopus Hunter hari ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kerja sama budaya antara Korea dan Indonesia,” kata Mr. Lee.
Kegiatan nonton bareng ini diikuti oleh 192 peserta, yang terdiri dari perwakilan internal Kementerian Kebudayaan, KOCCA, Iconix, pelajar, mahasiswa, serta para peserta pelatihan House of Indonesiana. Selain pemutaran film, acara juga dilengkapi dengan sesi diskusi bersama perwakilan Iconix Korea, Dipadira studio, perwakilan dari trainee, dan Balai Media Kebudayaan untuk membahas proses kreatif, pengalaman pelatihan, serta peluang kolaborasi ke depan.
Film yang ditayangkan meliputi empat episode animasi “Banyu” dengan durasi total 24 menit, serta film dokumenter “Octopus Hunter” berdurasi 30 menit. Melalui kegiatan ini, Balai Media Kebudayaan berharap dapat memperluas akses masyarakat terhadap konten budaya berkualitas, mendorong lahirnya talenta kreatif yang berdaya saing global, serta memperkuat peran Indonesiana TV sebagai platform kebudayaan l yang menjembatani pelaku budaya dan masyarakat luas dalam upaya pemajuan kebudayaan Indonesia secara berkelanjutan.
