[{"data":1,"prerenderedAt":723},["ShallowReactive",2],{"api-translations-all":3,"contact":579,"sosmed":588,"categories":604,"detailArticle-cuzd0261":631,"tajuk-sidebox-cuzd0261":650},{"id":4,"en":296},{"button":5,"nav":27,"page":48,"validation":280},{"cancel":6,"download":7,"latest":8,"no":9,"read":10,"read_all_article":11,"read_article":12,"see_other":13,"see_other_image":14,"select_date":15,"share":16,"show_album":17,"show_more":18,"type_here":19,"upload":20,"upload_file":21,"upload_here":22,"upload_image":23,"upload_image_other":24,"url_file":25,"yes":26},"Batal","Unduh","{page} Terbaru","Tidak","Baca","Baca Semua Artikel","Baca Artikel","Lihat {page} lain","Lihat foto Lain","Pilih Tanggal","Bagikan","Lihat Album","Lihat Selengkapnya","Tulis di sini..","Unggah","Unggah Berkas","Unggah berkas anda di sini","Unggah Gambar","Unggah Gambar Lain","URL Berkas..","Ya",{"address":28,"contact_us":29,"ebook":30,"email":31,"follow_us":32,"gallery":33,"gallery_activity":34,"gallery_cultural":35,"home":36,"pages":37,"pena":38,"phone":39,"podcast":40,"profile":41,"profile_institution":42,"profile_structure":43,"public_services":44,"publication":45,"search_placeholder":46,"tajuk":47},"Lokasi","Kontak BMK","E-Book","Surel","Ikuti Kami","Galeri","Galeri Kegiatan","Galeri Kebudayaan","Beranda","Halaman","Pena BMK","Telepon","Podcast","Profil","Profil Lembaga","Struktur Organisasi","Layanan Publik","Publikasi","Cari...","Tajuk",{"all_categories":49,"archive":50,"category":51,"ebook":52,"gallery":58,"indonesiana":66,"kerjasama":70,"pena":266,"publikasi":268,"search":275,"sort_asc":278,"sort_desc":279},"Semua Kategori","Arsip {page}","Kategori",{"information":53,"nocontent":54,"pages":37,"publisher":55,"release":56,"title":57},"Informasi Buku","Belum Ada","Penerbit","Rilis","Judul",{"editor":59,"filesize":60,"photographer":61,"published":62,"size":63,"source":64,"title":65},"Editor","Ukuran Berkas","Fotografer","Dipublikasikan","Ukuran","Sumber Foto","Judul Foto",{"modal_cancel":6,"modal_confirm":67,"modal_desc":68,"modal_title":69},"Tonton Video","Anda akan diarahkan ke situs Indonesiana.TV untuk menonton video ini.","Tonton Video {title}",{"applicant_info":71,"confirm":72,"field_address":76,"field_address_kabupaten":77,"field_address_kabupaten_placeholder":78,"field_address_placeholder":79,"field_address_provinsi":80,"field_address_provinsi_placeholder":81,"field_email":82,"field_email_placeholder":83,"field_kontak_person":84,"field_kontak_person_help":85,"field_kontak_person_placeholder":86,"field_name":87,"field_name_help":88,"field_name_instansi":89,"field_name_instansi_help":85,"field_name_instansi_placeholder":90,"field_name_placeholder":91,"field_phone":92,"field_phone_placeholder":93,"field_website":94,"field_website_help":95,"field_website_placeholder":96,"kemitraan":97,"lampiran":117,"magang":118,"optional":134,"pernyataan":135,"produksi":141,"publikasi":152,"rencana":163,"send_form":167,"service_report":168,"service_request":199,"toast":259,"warning":265},"Informasi Pendaftar",{"modal_cancel":6,"modal_confirm":73,"modal_desc":74,"modal_title":75},"Ya, Kirim","Anda yakin mengirim formulir ini?","Kirim Formulir?","Alamat","Kabupaten","Pilih Kabupaten","Masukkan alamat","Provinsi","Pilih Provinsi","E-mail","Masukkan e-mail lengkap","Kontak Person","Jika pemohon perorangan isi dengan nama lengkap","Masukkan kontak person","Nama Lengkap","Jika pemohon lembaga isi dengan nama kontak person","Nama Lembaga \u002F Instansi","Masukkan nama lembaga \u002F instansi","Masukkan nama lengkap","Nomor Telepon \u002F Whatsapp","contoh : 0812345678","Website \u002F Sosial Media","Jika pemohon perorangan isi dengan website\u002Fsosial pribadi","https:\u002F\u002F",{"field_address":98,"field_address_kabupaten":99,"field_address_kabupaten_placeholder":78,"field_address_placeholder":100,"field_address_provinsi":101,"field_address_provinsi_placeholder":81,"field_deskripsi":102,"field_deskripsi_placeholder":103,"field_enddate":104,"field_enddate_placeholder":15,"field_lampiran":105,"field_portofolio":106,"field_startdate":107,"field_startdate_placeholder":15,"field_surat_pengantar":108,"field_title":109,"field_title_placeholder":103,"field_tujuan":110,"field_tujuan_placeholder":103,"field_type":111,"field_type_placeholder":103,"information":112,"page_desc":113,"page_title":114,"selected_file":115,"title":116},"Alamat Pelaksanaan","Kabupaten Pelaksanaan","Masukkan alamat pelaksanaan","Provinsi Pelaksanaan","Deskripsi Singkat","","Tanggal Selesai Pelaksanaan","Proposal \u002F TOR Kegiatan","Profil Lembaga \u002F Portofolio","Tanggal Mulai Pelaksanaan","Surat Pengantar","Judul Inisiatif\u002FProgram","Tujuan Kemitraan","Bidang","Informasi Kemitraan","Kami membuka diri terhadap berbagai peluang kemitraan terkait pemajuan kebudayaan terkait penyebarluasan konten-konten Balai Media Kebudayaan melalui berbagai bentuk kolaborasi dengan para pemangku kepentingan, sesuai dengan kebutuhan dan tujuan lembaga.","Formulir Kerjasama Kemitraan","Berkas Terpilih","Kemitraan","Lampiran",{"field_enddate":119,"field_enddate_placeholder":15,"field_lampiran_cv":120,"field_lampiran_kampus":121,"field_lampiran_note":122,"field_lampiran_note_placeholder":123,"field_startdate":124,"field_startdate_placeholder":15,"information":125,"instansi":126,"instansi_placeholder":127,"instansi_type":128,"jurusan":129,"jurusan_select":130,"page_desc":131,"page_title":132,"title":133},"Tanggal Selesai Magang","Lampiran CV","Lampiran dari Kampus","Catatan Lampiran dari Kampus","Catatan tentang lampiran dari kampus","Tanggal Mulai Magang","Informasi Magang","Nama Instansi Pendidikan","Masukkan nama instansi","Jenis Instansi Pendidikan","Jurusan","Pilih jurusan","Kami membuka diri terhadap peluang kerjasama magang di lingkungan Balai Media Kebudayaan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan lembaga. Balai Media Kebudayaan tidak memberikan insentif, hanya dapat memberikan fasilitas tempat dan pengalaman bekerja selama yang bersangkutan melakukan praktek kerja\u002Fmagang.","Formulir Pendaftaran Magang","Magang","(Jika Ada)",{"content":136,"content_layanan_liputan":137,"content_pelaksanaan_pemanfaatan":138,"content_peminjaman":139,"title":140},"Data yang saya berikan benar dan dapat digunakan Balai Media Kebudayaan untuk ditindak lanjuti ke tahapan selanjutnya.","Dengan ini saya menyatakan bahwa seluruh informasi yang disampaikan dalam formulir ini adalah benar. Saya bersedia berkoordinasi dengan Balai Media Kebudayaan selama proses pelaksanaan liputan serta mematuhi ketentuan layanan yang berlaku.","Dengan ini kami menyatakan bahwa konten Balai Media Kebudayaan telah digunakan sesuai dengan tujuan permohonan dan ketentuan yang berlaku. Laporan ini disampaikan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pemanfaatan konten yang telah diberikan.","Dengan mengirimkan formulir ini, saya menyetujui seluruh syarat dan ketentuan yang berlaku, termasuk kewajiban memberikan laporan kegiatan setelah pemanfaatan konten selesai.","Pernyataan",{"field_address":98,"field_address_kabupaten":99,"field_address_kabupaten_placeholder":78,"field_address_placeholder":100,"field_address_provinsi":101,"field_address_provinsi_placeholder":81,"field_deskripsi":142,"field_deskripsi_placeholder":103,"field_enddate":104,"field_enddate_placeholder":15,"field_lampiran":143,"field_portofolio":144,"field_startdate":107,"field_startdate_placeholder":15,"field_surat_pengantar":108,"field_title":145,"field_title_placeholder":103,"field_tujuan":146,"field_tujuan_placeholder":103,"field_type":147,"field_type_placeholder":103,"information":148,"page_desc":149,"page_title":150,"selected_file":115,"title":151},"Deskripsi Singkat Produksi","Proposal Produksi","Portofolio Sebelumnya","Judul Produksi","Tujuan Produksi","Jenis Produksi","Informasi Produksi","Kerja Sama Produksi adalah kolaborasi antara Balai Media Kebudayaan dengan pihak eksternal (seperti badan usaha, rumah produksi, sineas, komunitas, atau lembaga lain) untuk memproduksi program televisi yang berkualitas dan sesuai dengan tujuan dan fungsi Balai Media Kebudayaan. Tujuan Kerja Sama Produksi adalah untuk saling penyebarluasan konten, peningkatan kualitas serta jangkauan konten yang dihasilkan.","Formulir Kerjasama Produksi","Kerjasama Produksi",{"field_address":98,"field_address_kabupaten":99,"field_address_kabupaten_placeholder":78,"field_address_placeholder":100,"field_address_provinsi":101,"field_address_provinsi_placeholder":81,"field_deskripsi":153,"field_deskripsi_placeholder":103,"field_enddate":104,"field_enddate_placeholder":15,"field_lampiran":154,"field_media":155,"field_media_placeholder":103,"field_portofolio":156,"field_startdate":107,"field_startdate_placeholder":15,"field_surat_pengantar":108,"field_target":157,"field_target_placeholder":103,"field_title":158,"field_title_placeholder":103,"information":159,"page_desc":160,"page_title":161,"selected_file":115,"title":162},"Deskripsi Program\u002FKegiatan","Draft Materi Promosi \u002F Desain Publikasi","Media Promosi yang Diinginkan","Profil Lembaga\u002FPortofolio","Target Audiens","Judul Program\u002FKegiatan","Informasi Program\u002FKegiatan","Promosi & Publikasi merupakan penyebarluasan informasi tentang program, layanan, dan kegiatan, baik dari pihak internal Kementerian Kebudayaan maupun eksternal. Dukungan ini bisa dalam bentuk peliputan, promosi media sosial, dan sebagainya.","Formulir Kerjasama Promosi dan Publikasi","Kerjasama Promosi dan Publikasi",{"dukungan":164,"kontribusi":165,"title":166},"Dukungan yang diharapkan dari Balai Media Kebudayaan","Kontribusi yang ditawarkan pemohon","Rencana Bentuk Kerja Sama","Kirim Formulir",{"content_info":169,"deletion_proof_info":170,"documentation_attachment_info":171,"event_info":172,"execution_summary_info":173,"field_content_title":174,"field_deletion_title":175,"field_documentation_photo":176,"field_documentation_poster":177,"field_documentation_publication":178,"field_documentation_screenshot":179,"field_event_date":180,"field_event_location":181,"field_event_location_placeholder":182,"field_event_name":183,"field_event_objective":184,"field_event_participant":185,"field_event_target_participant":186,"field_event_theme":187,"field_execution_title":188,"field_feedback_title":189,"field_outcome_title":190,"field_pic_name":191,"field_pic_name_placeholder":192,"field_request_code":193,"obstacles_feedback_info":194,"outcome_benefit_info":195,"page_title":196,"partner_info":197,"title":198},"Konten yang Digunakan","Bukti Penghapusan Berkas","Lampiran Dokumentasi","Informasi Kegiatan","Ringkasan Pelaksanaan","Judul Konten","Tautan video penghapusan berkas konten","Foto Kegiatan (Minimal 3)","Poster \u002F Publikasi Kegiatan","Tautan publikasi di media sosial atau media massa","Tangkapan Layar Kegiatan (untuk kegiatan daring)","Tanggal Pelaksanaan","Lokasi Kegiatan","Alamat lokasi kegiatan","Nama Kegiatan","Tujuan Kegiatan","Jumlah Peserta","Sasaran Jumlah Peserta","Tema Kegiatan","Jelaskan secara singkat pelaksanaan kegiatan, termasuk bagaimana konten BMK dimanfaatkan dalam kegiatan tersebut.","Jelaskan kendala yang dihadapi selama pelaksanaan kegiatan serta saran untuk peningkatan layanan peminjaman konten BMK.","Uraikan hasil yang diperoleh, respons peserta, serta manfaat penggunaan konten bagi pelaksanaan kegiatan.","Nama Penanggung Jawab (PIC)","Masukkan nama penanggung jawab","Nomor Pengajuan","Kendala dan Masukan","Hasil dan Manfaat","Formulir Laporan Pelaksanaan Pemanfaatan Konten","Identitas Mitra","Laporan Pelaksanaan Pemanfaatan Konten",{"field_content_use_title":200,"field_doc_application_letter":201,"field_doc_invitation":202,"field_doc_legal_document":203,"field_doc_logo":204,"field_doc_poster":205,"field_doc_press_release":206,"field_doc_proposal":207,"field_doc_rundown":208,"field_established_year":209,"field_established_year_placeholder":103,"field_event_background":210,"field_event_background_placeholder":211,"field_event_culture_value":212,"field_event_date":213,"field_event_description":214,"field_event_description_placeholder":215,"field_event_estimated_participant":216,"field_event_format":217,"field_event_location":218,"field_event_location_pin":219,"field_event_location_pin_button":220,"field_event_location_pin_helper":221,"field_event_location_pin_placeholder":222,"field_event_location_placeholder":223,"field_event_name":183,"field_event_objective":184,"field_event_target_participant":186,"field_event_theme":187,"field_event_time":224,"field_institution_address":225,"field_institution_address_placeholder":226,"field_institution_name":227,"field_institution_name_placeholder":228,"field_institution_type":229,"field_institution_type_placeholder":230,"field_interview_room":231,"field_meeting_point":232,"field_need_id":233,"field_onsite_pic":234,"field_onsite_pic_phone":235,"field_parking_area":236,"field_pic_name":191,"field_pic_name_placeholder":192,"field_pic_position":237,"field_pic_position_placeholder":238,"field_restricted_area":239,"field_service_title":240,"field_socialmedia":241,"field_website":242,"info_applicant":243,"info_attachment":244,"info_content_use":245,"info_event":172,"info_institution":246,"info_location":247,"info_participant":248,"info_request_note":249,"info_services":250,"info_terms_condition":251,"info_time_location":252,"page_desc_content_usage":253,"page_desc_media_coverage":254,"page_title_content_usage":255,"page_title_media_coverage":256,"title_content_usage":257,"title_media_coverage":258},"Judul Konten ingin dipinjam","Surat Permohonan","Surat Undangan","Akta Pendirian \u002F SK Organisasi \u002F Surat Keterangan Komunitas","Logo Kegiatan","Poster Kegiatan","Press Release","Proposal Kegiatan","Rundown Kegiatan","Tahun Berdiri","Latar Belakang Kegiatan","Masukkan latar belakang kegiatan dengan singkat","Nilai atau unsur kebudayaan yang diangkat","Tanggal Kegiatan","Deskripsi Kegiatan","Masukkan deskripsi kegiatan dengan singkat","Estimasi Jumlah Peserta","Format Kegiatan","Alamat Lokasi Kegiatan","Titik Lokasi Kegiatan","Pilih Pin Peta","Pilih koordinat lewat peta atau tempel link langsung.","Temple link Google Maps di sini..","Masukkan alamat lokasi kegiatan","Waktu Kegiatan","Alamat Lengkap","Masukkan alamat lengkap lembaga","Nama Lembaga","Masukkan nama lembaga","Jenis Lembaga","Masukkan jenis lembaga","Apakah tersedia ruang wawancara?","Titik Temu Tim Liputan","Apakah memerlukan ID Card?","Nama PIC di Lokasi","Nomor HP PIC","Area Parkir","Jabatan Penanggung Jawab (PIC)","Masukkan jabatan penanggung jawab","Apakah terdapat area yang tidak boleh didokumentasikan?","Jenis layanan yang diajukan","Akun Sosial Media","Website","Identitas Pemohon","Dokumen Pendukung","Detail Konten yang Diajukan","Informasi Lembaga","Informasi Lokasi","Informasi Peserta","Catatan Pengajuan","Permohonan Layanan Liputan","Syarat dan Ketentuan","Waktu dan Lokasi Kegiatan","Kerjasama kemitraan dalam bentuk peminjaman konten antara Balai Media Kebudayaan dengan pihak eksternal (seperti badan usaha, rumah produksi, sineas, komunitas, atau lembaga lain)","Kerjasama kemitraan dalam bentuk layanan liputan oleh Balai Media Kebudayaan dengan pihak eksternal (seperti badan usaha, rumah produksi, sineas, komunitas, atau lembaga lain)","Formulir Pengajuan Peminjaman Konten","Formulir Pengajuan Layanan Liputan","Pengajuan Peminjaman Konten","Pengajuan Layanan Liputan",{"error_check_desc":260,"error_send_desc":261,"error_send_title":262,"success_send_desc":263,"success_send_title":264},"Harap setujui pernyataan","Gagal mengirim formulir","Error","Formulir telah berhasil dikirim!","Sukses","Mohon tunggu informasi {page} selanjutnya",{"head_desc":267,"head_title":38},"Kumpulan tulisan pendek yang dikemas secara menarik terkait kemajuan kebudayaan Indonesia.",{"close":269,"download":270,"download_title":271,"file_notfound":272,"file_ready":273,"loading":274},"Tutup","Unduh PDF","Unduh Berkas","Berkas Tidak Ditemukan!","Berkas siap diunduh!","Tunggu sebentar, sedang memproses berkas...",{"desc":276,"result":277},"Berikut adalah hasil pencarian untuk '{query}' pada website Balai Media Kebudayaan","Menampilkan hasil pencarian untuk","Paling Lama","Paling Baru",{"email_invalid":281,"file_photo_minimum":282,"file_required":283,"file_too_large":284,"fill_at_least_one":285,"format_gmap_link_invalid":286,"min_working_days":287,"provide_event_format_other":288,"provide_reason":289,"required":290,"select_at_least_one":291,"select_date":292,"select_event_format":293,"select_one":294,"select_time":295},"Format email salah","Minimal harus mengunggah {amount} foto","Silakan unggah berkas","Maksimal ukuran berkas 5MB","Silakan tulis judul minimal satu","Format link atau koordinat tidak dikenali. Pastikan link berisi angka koordinat (lat,lng).","Pengajuan layanan liputan harus diajukan paling lambat {day} hari kerja sebelum pelaksanaan kegiatan","Tulis format kegiatan lainnya","Silakan tulis alasan apabila belum ada lampiran dari kampus yang diunggah","Kolom ini wajib diisi","Silakan pilih minimal satu","Silakan pilih tanggal","Format kegiatan wajib dipilih","Silakan pilih salah satu","Silakan pilih waktu",{"button":297,"nav":319,"page":335,"validation":563},{"cancel":298,"download":299,"latest":300,"no":301,"read":302,"read_all_article":303,"read_article":304,"see_other":305,"see_other_image":306,"select_date":307,"share":308,"show_album":309,"show_more":310,"type_here":311,"upload":312,"upload_file":313,"upload_here":314,"upload_image":315,"upload_image_other":316,"url_file":317,"yes":318},"Cancel","Download","Latest {page}","No","Read","Read All Article","Read Article","See other {page}","See other photo","Select Date","Share","Show Album","See more","Type here..","Upload","Upload File","Upload your file here","Upload Image","Upload Other Image","URL File..","Yes",{"address":320,"contact_us":321,"ebook":30,"email":82,"follow_us":322,"gallery":323,"gallery_activity":324,"gallery_cultural":325,"home":326,"pages":327,"pena":38,"phone":328,"podcast":40,"profile":329,"profile_institution":330,"profile_structure":331,"public_services":332,"publication":333,"search_placeholder":334,"tajuk":47},"Address","Contact Us","Follow Us","Gallery","Event Gallery","Cultural Gallery","Home","Pages","Phone","Profile","Profile of Institution","Structure of Institution","Public Services","Publication","Search...",{"all_categories":336,"archive":337,"category":338,"ebook":339,"gallery":345,"indonesiana":351,"kerjasama":355,"pena":549,"publikasi":551,"search":558,"sort_asc":561,"sort_desc":562},"All Categories","{page} articles","Category",{"information":340,"nocontent":341,"pages":327,"publisher":342,"release":343,"title":344},"Book Information","-","Publisher","Release","Title",{"editor":59,"filesize":346,"photographer":347,"published":348,"size":349,"source":350,"title":344},"Filesize","Photographer","Published","Size","Source",{"modal_cancel":298,"modal_confirm":352,"modal_desc":353,"modal_title":354},"Watch Video","You will be redirected to the Indonesiana.TV site to watch this video.","Watch Video {title}",{"applicant_info":356,"confirm":357,"field_address":320,"field_address_kabupaten":361,"field_address_kabupaten_placeholder":362,"field_address_placeholder":363,"field_address_provinsi":364,"field_address_provinsi_placeholder":365,"field_email":82,"field_email_placeholder":366,"field_kontak_person":367,"field_kontak_person_help":368,"field_kontak_person_placeholder":369,"field_name":370,"field_name_help":371,"field_name_instansi":372,"field_name_instansi_help":368,"field_name_instansi_placeholder":373,"field_name_placeholder":374,"field_phone":375,"field_phone_placeholder":376,"field_website":377,"field_website_help":378,"field_website_placeholder":96,"kemitraan":379,"lampiran":398,"magang":399,"optional":415,"pernyataan":416,"produksi":422,"publikasi":437,"rencana":451,"send_form":455,"service_report":456,"service_request":487,"toast":543,"warning":548},"Applicant Information",{"modal_cancel":298,"modal_confirm":358,"modal_desc":359,"modal_title":360},"Yes, Submit","Are you sure you want to submit this form?","Submit Form?","Regency","Select Regency","Enter address","Province","Select Province","Enter complete e-mail address","Contact Person","If applying as an individual, enter your full name","Enter contact person","Full Name","If applying as an institution, enter the contact person's name","Institution \u002F Organization Name","Enter institution \u002F organization name","Enter full name","Phone Number \u002F WhatsApp","e.g. 0812345678","Website \u002F Social Media","If applying as an individual, enter your personal website\u002Fsocial media",{"field_address":380,"field_address_kabupaten":381,"field_address_kabupaten_placeholder":362,"field_address_placeholder":382,"field_address_provinsi":383,"field_address_provinsi_placeholder":365,"field_deskripsi":384,"field_deskripsi_placeholder":103,"field_enddate":385,"field_enddate_placeholder":307,"field_lampiran":386,"field_portofolio":387,"field_startdate":388,"field_startdate_placeholder":307,"field_surat_pengantar":389,"field_title":390,"field_title_placeholder":103,"field_tujuan":391,"field_tujuan_placeholder":103,"field_type":392,"field_type_placeholder":103,"information":393,"page_desc":394,"page_title":395,"selected_file":396,"title":397},"Partnership Address","Partnership Regency","Enter partnership address","Partnership Province","Brief Description","End Date","Proposal \u002F TOR","Institution Profile \u002F Portfolio","Start Date","Cover Letter","Initiative\u002FProgram Title","Partnership Purpose","Field","Partnership Information","We welcome various partnership opportunities related to advancing culture, particularly in disseminating Balai Media Kebudayaan content through diverse forms of collaboration with stakeholders, tailored to the needs and objectives of each institution.","Partnership Collaboration Form","Selected File","Partnership","Attachment",{"field_enddate":400,"field_enddate_placeholder":307,"field_lampiran_cv":401,"field_lampiran_kampus":402,"field_lampiran_note":403,"field_lampiran_note_placeholder":404,"field_startdate":405,"field_startdate_placeholder":307,"information":406,"instansi":407,"instansi_placeholder":408,"instansi_type":409,"jurusan":410,"jurusan_select":411,"page_desc":412,"page_title":413,"title":414},"Internship End Date","CV Attachment","Attachment from Campus","Campus Attachment Notes","Notes about campus attachment","Internship Start Date","Internship Information","Educational Institution Name","Enter institution name","Type of Educational Institution","Major \u002F Department","Select Major \u002F Department","We welcome internship collaboration opportunities within Balai Media Kebudayaan, tailored to the needs and objectives of each institution. Balai Media Kebudayaan does not provide incentives, but can offer workspace facilities and work experience during the internship\u002Fpractical training period.","Internship Application Form","Internship","(Optional)",{"content":417,"content_layanan_liputan":418,"content_pelaksanaan_pemanfaatan":419,"content_peminjaman":420,"title":421},"The data I provided is accurate and may be used by Balai Media Kebudayaan for further processing.","I hereby declare that all information provided in this form is true. I am willing to coordinate with the Balai Media Kebudayaan during the coverage process and comply with the applicable service provisions.","We hereby declare that the content of the Balai Media Kebudayaan has been used in accordance with the purpose of the request and the applicable provisions. This report is submitted as a form of accountability for the utilization of the content provided.","By submitting this form, I agree to all applicable terms and conditions, including the obligation to provide an activity report after the utilization of the content is completed.","Declaration",{"field_address":423,"field_address_kabupaten":424,"field_address_kabupaten_placeholder":362,"field_address_placeholder":425,"field_address_provinsi":426,"field_address_provinsi_placeholder":365,"field_deskripsi":427,"field_deskripsi_placeholder":103,"field_enddate":385,"field_enddate_placeholder":307,"field_lampiran":428,"field_portofolio":429,"field_startdate":388,"field_startdate_placeholder":307,"field_surat_pengantar":389,"field_title":430,"field_title_placeholder":103,"field_tujuan":431,"field_tujuan_placeholder":103,"field_type":432,"field_type_placeholder":103,"information":433,"page_desc":434,"page_title":435,"selected_file":396,"title":436},"Production Address","Production Regency","Enter production address","Production Province","Brief Production Description","Production Proposal","Previous Portfolio","Production Title","Production Purpose","Type of Production","Production Information","Production Collaboration is a partnership between Balai Media Kebudayaan and external parties (such as businesses, production houses, filmmakers, communities, or other institutions) to produce high-quality television programs that align with the goals and functions of Balai Media Kebudayaan. The purpose of Production Collaboration is to mutually disseminate content, improve quality, and expand the reach of the programs produced.","Production Collaboration Form","Production Collaboration",{"field_address":438,"field_address_kabupaten":439,"field_address_kabupaten_placeholder":362,"field_address_placeholder":440,"field_address_provinsi":441,"field_address_provinsi_placeholder":365,"field_deskripsi":442,"field_deskripsi_placeholder":103,"field_enddate":385,"field_enddate_placeholder":307,"field_lampiran":443,"field_media":444,"field_media_placeholder":103,"field_portofolio":387,"field_startdate":388,"field_startdate_placeholder":307,"field_surat_pengantar":389,"field_target":445,"field_target_placeholder":103,"field_title":446,"field_title_placeholder":103,"information":447,"page_desc":448,"page_title":449,"selected_file":396,"title":450},"Event Address","Event Regency","Enter event address","Event Province","Program\u002FEvent Description","Draft Promotional Material \u002F Publication Design","Preferred Promotional Media","Target Audience","Program\u002FEvent Title","Program\u002FEvent Information","Promotion and Publication is the dissemination of information about programs, services, and activities, both from internal parties within the Ministry of Culture and external partners. This support may take the form of media coverage, social media promotion, and other related activities.","Promotion and Publication Collaboration Form","Promotion and Publication",{"dukungan":452,"kontribusi":453,"title":454},"Support expected from Balai Media Kebudayaan","Contribution offered by applicant","Planned Form of Cooperation","Submit Form",{"content_info":457,"deletion_proof_info":458,"documentation_attachment_info":459,"event_info":460,"execution_summary_info":461,"field_content_title":462,"field_deletion_title":463,"field_documentation_photo":464,"field_documentation_poster":465,"field_documentation_publication":466,"field_documentation_screenshot":467,"field_event_date":468,"field_event_location":469,"field_event_location_placeholder":470,"field_event_name":471,"field_event_objective":472,"field_event_participant":473,"field_event_target_participant":474,"field_event_theme":475,"field_execution_title":476,"field_feedback_title":477,"field_outcome_title":478,"field_pic_name":479,"field_pic_name_placeholder":480,"field_request_code":481,"obstacles_feedback_info":482,"outcome_benefit_info":483,"page_title":484,"partner_info":485,"title":486},"Content Used","File Deletion Proof","Documentation Attachments","Event Information","Execution Summary","Content Title","Link to video of content file deletion","Event Photos (Minimum 3)","Event Poster \u002F Publication","Publication links on social media or mass media","Event Screenshots (for online events)","Event Date","Event Location","Event location address","Event Name","Event Objective","Number of Participants","Target Number of Participants","Event Theme","Briefly explain the implementation of the event, including how BMK content was utilized in the activity.","Explain the obstacles encountered during the event and provide suggestions for improving BMK content usage services.","Describe the results obtained, participant responses, and the benefits of using the content for the event.","Person in Charge (PIC)","Enter the name of the person in charge","Request Number","Obstacles and Feedback","Results and Benefits","Content Utilization Report Form","Partner Information","Content Utilization Report",{"field_content_use_title":488,"field_doc_application_letter":489,"field_doc_invitation":490,"field_doc_legal_document":491,"field_doc_logo":492,"field_doc_poster":493,"field_doc_press_release":206,"field_doc_proposal":494,"field_doc_rundown":495,"field_established_year":496,"field_established_year_placeholder":103,"field_event_background":497,"field_event_background_placeholder":498,"field_event_culture_value":499,"field_event_date":468,"field_event_description":500,"field_event_description_placeholder":501,"field_event_estimated_participant":502,"field_event_format":503,"field_event_location":504,"field_event_location_pin":505,"field_event_location_pin_button":506,"field_event_location_pin_helper":507,"field_event_location_pin_placeholder":508,"field_event_location_placeholder":509,"field_event_name":471,"field_event_objective":472,"field_event_target_participant":474,"field_event_theme":475,"field_event_time":510,"field_institution_address":511,"field_institution_address_placeholder":512,"field_institution_name":513,"field_institution_name_placeholder":408,"field_institution_type":514,"field_institution_type_placeholder":515,"field_interview_room":516,"field_meeting_point":517,"field_need_id":518,"field_onsite_pic":519,"field_onsite_pic_phone":520,"field_parking_area":521,"field_pic_name":479,"field_pic_name_placeholder":522,"field_pic_position":523,"field_pic_position_placeholder":524,"field_restricted_area":525,"field_service_title":526,"field_socialmedia":527,"field_website":242,"info_applicant":528,"info_attachment":529,"info_content_use":530,"info_event":460,"info_institution":531,"info_location":532,"info_participant":533,"info_request_note":534,"info_services":535,"info_terms_condition":536,"info_time_location":537,"page_desc_content_usage":538,"page_desc_media_coverage":539,"page_title_content_usage":540,"page_title_media_coverage":541,"title_content_usage":542,"title_media_coverage":535},"Title of content to be borrowed","Application Letter","Invitation Letter","Deed of Establishment \u002F Organizational Decree \u002F Community Certificate","Event Logo","Event Poster","Event Proposal","Event Rundown","Year Established","Event Background","Enter event background story briefly","Cultural values or elements highlighted","Event Description","Enter event description briefly","Estimated Number of Participants","Event Format","Event Location Address","Event Location Pin","Choose Map Pin","Select coordinates via map or paste link directly.","Paste Google Maps link here...","Enter event location address","Event Time","Full Address","Enter full institution address","Institution Name","Institution Type","Enter institution type","Is an interview room available?","Coverage Team Meeting Point","Is an ID Card required?","Onsite PIC Name","Onsite PIC Phone Number","Parking Area","Enter name of person in charge","Position of Person in Charge (PIC)","Enter position of person in charge","Are there areas that must not be documented?","Type of service requested","Social Media Account","Applicant Identity","Supporting Documents","Details of Content Requested","Institution Information","Location Information","Participant Information","Request Notes","Media Coverage Service Request","Terms and Conditions","Event Time and Location","Partnership collaboration in the form of content usage between Balai Media Kebudayaan and external parties (such as businesses, production houses, filmmakers, communities, or other institutions).","Partnership collaboration in the form of media coverage services by Balai Media Kebudayaan with external parties (such as businesses, production houses, filmmakers, communities, or other institutions).","Content Usage Request Form","Media Coverage Service Request Form","Content Usage Request",{"error_check_desc":544,"error_send_desc":545,"error_send_title":262,"success_send_desc":546,"success_send_title":547},"Please accept the ceclaration","Failed to submit the form","The form has been submitted successfully!","Success","Please wait for the next update on {page}",{"head_desc":550,"head_title":38},"A collection of short writings, attractively presented, related to the advancement of Indonesian culture.",{"close":552,"download":553,"download_title":554,"file_notfound":555,"file_ready":556,"loading":557},"Close","Download PDF","Download File","File Not Found!","Your file is ready to download!","Please wait, processing your file...",{"desc":559,"result":560},"Here are the search results for '{query}' on the Balai Media Kebudayaan website.","Displaying search results for","Oldest","Latest",{"email_invalid":564,"file_photo_minimum":565,"file_required":566,"file_too_large":567,"fill_at_least_one":568,"format_gmap_link_invalid":569,"min_working_days":570,"provide_event_format_other":571,"provide_reason":572,"required":573,"select_at_least_one":574,"select_date":575,"select_event_format":576,"select_one":577,"select_time":578},"Invalid email format","Please upload at least {amount} photos","Please upload a file","Maximum file size is 5MB","Please provide at least one title","The link or coordinates format is not recognized. Make sure the link contains coordinate numbers (lat,lng).","Media coverage requests must be submitted no later than {day} working days before the event takes place","Please provide the event format","Please provide a reason if no attachment from the university has been uploaded","This field is required","Please select at least one","Please select a date","Please select event format","Please select one option","Please select the time",{"data":580},[581],{"lokasi":582,"email":583,"phone":584,"created_at":585,"updated_at":586,"deleted_at":587},"\u003Cp>Gedung Kementerian Kebudayaan (Gedung E) Lantai 17 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, 10270 \u003C\u002Fp>\u003Cp>Jalan Gardu, Srengseng sawah, Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12640\u003C\u002Fp>\u003Cp>\u003C\u002Fp>","balaimediakebudayaan@kemenbud.go.id","085287863897","2024-05-14 14:40:48","2026-08-20 21:40:33",null,{"data":589},[590,595,600],{"sosmed_name":591,"url":592,"created_at":593,"updated_at":594,"deleted_at":587},"X","https:\u002F\u002Fx.com\u002Fbalai_budaya","2024-05-31 12:17:33","2024-05-31 14:34:37",{"sosmed_name":596,"url":597,"created_at":598,"updated_at":599,"deleted_at":587},"TikTok","https:\u002F\u002Fwww.tiktok.com\u002F@balaimediabudaya","2024-05-31 14:34:06","2024-05-31 14:35:06",{"sosmed_name":601,"url":602,"created_at":603,"updated_at":603,"deleted_at":587},"Instagram","https:\u002F\u002Fwww.instagram.com\u002Fbalai_budaya\u002F","2024-05-31 14:35:54",[605,611,614,617,620,624,628],{"category_hashid":606,"category_name":607,"tag_hashid":608,"tag_name":609,"count":610},"wglf0007","INFO","adye0046","Surat Keputusan","1",{"category_hashid":606,"category_name":607,"tag_hashid":612,"tag_name":613,"count":610},"itcq0033","Rencana Aksi",{"category_hashid":606,"category_name":607,"tag_hashid":615,"tag_name":616,"count":610},"ivfe0034","Rencana Kerja Kementerian Tahun 2025",{"category_hashid":606,"category_name":607,"tag_hashid":618,"tag_name":619,"count":610},"lczy0026","Juknis",{"category_hashid":606,"category_name":607,"tag_hashid":621,"tag_name":622,"count":623},"rwme0031","Rencana Strategis","2",{"category_hashid":606,"category_name":607,"tag_hashid":625,"tag_name":626,"count":627},"yksh0021","Laporan Kinerja","5",{"category_hashid":606,"category_name":607,"tag_hashid":629,"tag_name":630,"count":610},"ziyr0047","Maklumat Pelayanan",{"title":632,"title_en":103,"date":633,"slug":634,"content":635,"content_en":103,"created_at":636,"updated_at":637,"deleted_at":587,"author":638,"author_title":103,"hashid":639,"category_hashid":640,"tag_hashid":641,"visitor":642,"category_name":643,"tag_name":644,"full_count":610,"media":645,"pdf_download":587},"Suku Alifuru: Menjaga Tradisi, Merawat Alam dari Pedalaman Seram","2026-08-09 00:00:00","suku-alifuru-menjaga-tradisi-merawat-alam-dari-pedalaman-seram","\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Setiap 9 Agustus, dunia memperingati Hari Masyarakat Adat Internasional. Peringatan ini ditetapkan sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran terhadap keberadaan, hak, kebutuhan, serta tantangan yang dihadapi masyarakat adat di berbagai belahan dunia. Tanggal 9 Agustus juga menjadi pengingat atas pertemuan pertama Kelompok Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Masyarakat Adat di Jenewa pada 1982.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Bagi Indonesia, peringatan ini menjadi momentum untuk kembali mengenali keberagaman masyarakat adat yang hidup dan berkembang di berbagai wilayah Nusantara. Sebagai negara kepulauan dengan keragaman budaya yang sangat luas, Indonesia memiliki banyak Masyarakat &nbsp;adat yang menyimpan pengetahuan, tradisi, sistem sosial, serta kearifan dalam menjaga hubungan dengan alam. Salah satunya adalah masyarakat Alifuru yang hidup di Pulau Seram, Maluku.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">\u003Cstrong>Mengenal Masyarakat Alifuru\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Alifuru merupakan sebutan yang digunakan untuk kelompok-kelompok masyarakat yang mendiami wilayah pedalaman Pulau Seram, Maluku. Istilah Alifuru memiliki beragam pendapat mengenai asal-usulnya. Salah satu pendapat yang banyak dikemukakan mengaitkannya dengan bahasa Tidore, yaitu \u003Cem>halefuru\u003C\u002Fem>, yang terdiri atas kata \u003Cem>hale\u003C\u002Fem> yang berarti “tanah” dan \u003Cem>furu\u003C\u002Fem> yang berarti “liar”.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Terlepas dari beragam pendapat mengenai asal-usul istilah tersebut, kehidupan masyarakat Alifuru memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan tempat mereka tinggal. Hutan, pegunungan, sungai, batu, tanah, serta berbagai sumber daya alam bukan sekadar bagian dari ruang hidup, tetapi juga memiliki nilai sosial, budaya, dan spiritual dalam kehidupan masyarakat.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Dalam berbagai sumber, masyarakat Alifuru kerap dibedakan berdasarkan wilayah tempat tinggalnya, antara lain Alifuru Gunung dan Alifuru Pesisir. Pembagian tersebut tidak serta-merta menunjukkan kelompok yang sepenuhnya berbeda, melainkan menggambarkan keragaman lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat Alifuru. Perbedaan kondisi geografis juga turut memengaruhi pola kehidupan, mata pencaharian, hingga praktik kepercayaan yang berkembang di masing-masing komunitas.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Kehidupan masyarakat Alifuru hingga kini masih memperlihatkan kuatnya hubungan dengan pengetahuan dan praktik tradisional. Berbagai pengetahuan mengenai pangan, bercocok tanam, lingkungan, hubungan kekerabatan, hingga pengelolaan kehidupan bersama diwariskan secara turun-temurun.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">\u003Cstrong>Tradisi yang Menjaga Ingatan Leluhur\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Kekayaan budaya masyarakat Alifuru tidak hanya terlihat dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga tercermin melalui berbagai tradisi dan ekspresi budaya yang diwariskan antargenerasi.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Sejumlah tradisi dan kesenian yang dikaitkan dengan masyarakat di Seram antara lain upacara Pesta Roh yang berkaitan dengan penghormatan terhadap leluhur, serta Cidaku yang menjadi bagian dari penanda perjalanan seorang laki-laki menuju kedewasaan dalam konteks budaya tertentu.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, Cakalele dikenal sebagai salah satu tarian tradisional Maluku yang menggambarkan keberanian dan semangat juang. Berbagai tradisi tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak sekadar menjadi warisan masa lalu, tetapi juga menjadi cara masyarakat untuk menjaga ingatan, identitas, nilai, dan hubungan antargenerasi.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Keragaman budaya Alifuru juga menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat adat tidak hanya tersimpan dalam benda atau artefak, tetapi hidup dalam bahasa, cerita, ritual, kesenian, pola hubungan sosial, serta cara mereka berinteraksi dengan lingkungan.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">\u003Cstrong>Ketika Alam Menjadi Bagian dari Kehidupan\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Salah satu nilai penting yang dapat dilihat dari kehidupan masyarakat Alifuru adalah kuatnya hubungan antara manusia dan alam.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Ungkapan \u003Cem>“Apa yang kita tanam, itu yang kita makan”\u003C\u002Fem> mencerminkan pentingnya kemandirian pangan sekaligus hubungan yang erat antara manusia, tanah, dan hasil alam. Bagi masyarakat yang kehidupannya sangat bergantung pada lingkungan sekitar, menjaga alam berarti menjaga keberlangsungan kehidupan mereka sendiri.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Pengetahuan tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat menghadapi berbagai tantangan lingkungan. Hutan bukan hanya sumber pangan dan bahan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga merupakan ruang hidup yang menyimpan pengetahuan dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Dalam konteks inilah masyarakat adat memiliki peran penting sebagai penjaga pengetahuan ekologis. Cara mereka mengenali musim, mengelola lahan, memanfaatkan hasil hutan, serta menjaga sumber pangan merupakan bagian dari pengetahuan tradisional yang memiliki nilai penting bagi keberlanjutan lingkungan.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">\u003Cstrong>Kekuatan dalam Kebersamaan\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Kehidupan masyarakat Alifuru juga memperlihatkan kuatnya nilai kebersamaan dan solidaritas.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Pada musim timur atau musim penghujan, ketika kondisi cuaca dapat menghambat mobilitas dan akses transportasi, masyarakat perlu mempersiapkan kebutuhan pangan dan keperluan lainnya sejak sebelumnya. Kondisi tersebut tidak hanya mendorong kemandirian, tetapi juga memperkuat hubungan antarkeluarga dan antaranggota komunitas.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Salah satu bentuknya terlihat melalui kebiasaan berbagi dan saling bertukar makanan. Ketika seseorang mengalami kekurangan pangan, kerabat atau anggota komunitas lainnya dapat membantu memenuhi kebutuhannya. Praktik semacam ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya dibangun melalui kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga melalui jaringan sosial dan semangat saling membantu.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Nilai kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dari ketahanan masyarakat dalam menghadapi tantangan lingkungan dan perubahan kondisi kehidupan.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">\u003Cstrong>Merawat Alifuru, Merawat Keragaman Indonesia\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Keberadaan masyarakat Alifuru menunjukkan bahwa kekayaan budaya Indonesia tidak hanya terdapat di pusat-pusat kota atau dalam bentuk warisan budaya yang mudah ditemui. Di pedalaman Pulau Seram, berbagai pengetahuan, tradisi, dan nilai kehidupan terus diwariskan dan menjadi bagian dari identitas masyarakat.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Masyarakat Alifuru memiliki peran penting dalam menjaga ingatan leluhur, mempertahankan pengetahuan tradisional, merawat hubungan dengan alam, serta memperkaya keragaman budaya Indonesia. Pengetahuan ekologis dan praktik kehidupan mereka juga menjadi bagian dari kekayaan budaya takbenda yang perlu dikenali dan dihargai.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Karena itu, Hari Masyarakat Adat Internasional bukan sekadar peringatan tahunan. Momentum ini mengajak kita untuk melihat kembali bagaimana masyarakat adat di berbagai wilayah terus mempertahankan identitas, pengetahuan, dan tradisinya di tengah perubahan zaman.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Mengenal Alifuru berarti mengenal salah satu bagian dari keragaman budaya Indonesia. Menghargai keberadaannya berarti turut menghargai pengetahuan, tradisi, lingkungan, dan identitas yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Sebab, menjaga masyarakat adat bukan berarti sekadar menjaga warisan masa lalu. Lebih dari itu, kita sedang menjaga pengetahuan dan nilai kehidupan yang masih memiliki arti penting bagi masa depan kebudayaan Indonesia.\u003C\u002Fp>","2026-08-10 13:28:58","2026-08-24 14:45:31","Balai Media Kebudayaan","cuzd0261","ziyt0006","tkcu0008",17,"TAJUK","Budaya",[646],{"url":647,"caption":648,"details":649,"created_at":636,"updated_at":636,"deleted_at":587},"https:\u002F\u002Fberkas.cloud-idn.kotakkreasi.com\u002Fcmsbmk\u002F2026\u002F08\u002F10\u002Ftncupjdzrghqwebkxiamyfsl20260810132811.png","Peta Pulau Seram","null",{"data":651,"meta":718},[652,668,683,686,704],{"title":653,"title_en":103,"date":654,"slug":655,"content":656,"content_en":103,"created_at":657,"updated_at":658,"deleted_at":587,"author":659,"author_title":660,"hashid":661,"category_hashid":640,"tag_hashid":641,"visitor":662,"category_name":643,"tag_name":644,"media":663},"Pameran Negeri Merdeka: Pengakuan Kedaulatan Budaya","2026-08-18 00:00:00","pameran-negeri-merdeka-pengakuan-kedaulatan-budaya","\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Di masa silam sumber daya budaya dari negara-negara koloni dipertontonkan dan dibuka secara telanjang dengan narasi sebagai kekayaan budaya negara kolonial, alih-alih menunjukkan kebudayaan mereka sendiri. Setiap tahunnya keragaman dan kekayaan budaya bangsa-bangsa Asia dan Afrika dijadikan komoditas pariwisata dan etalase destinasi kunjungan dunia. Melalui Pameran Negeri Jajahan, negara-negara penjajah membanggakan diri sekaligus memperlihatkan peradaban budaya yang mereka anggap diliputi keterbelakangan, primitif, dan jauh dari kesan beradab. Keangkuhan sebagai bangsa penakluk ditunjukkan dengan menguras habis objek-objek adiluhung dari negara-negara koloni lalu diboyong ke Eropa. Ruang-ruang pamer tetap dan temporer di museum-museum dan galeri-galeri menjadi ruang pemisah antara peradaban maju dan barbar. Puncaknya dengan diselenggarakan agenda bersama berkumpulnya para kolonialis untuk berlomba-lomba memperlihatkan keberhasilan menaklukkan negara jajahan.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Isu global saat itu ditandai gelombang protes dari para aktivis anti kolonialisme yang mengecam eksploitasi manusia yang dijadikan pusat tontonan. Ambil contoh \u003Cem>Exposition Coloniale International \u003C\u002Fem>(Pameran Kolonial Internasional) di Paris Perancis pada 1931. Negara-negara penjajah menampilkan aneka ragam bentuk bangunan dari berbagai kebudayaan di negeri-negeri jajahan. Pameran yang berlangsung selama enam bulan dan dibuka pada 6 Mei 1931 berhasil dikunjungi oleh jutaan orang. Di satu sisi pameran ini mengundang pujian dan decak kagum karena menampilkan peradaban dunia yang jauh dari bayangan orang-orang Eropa, namun di sisi lain juga mengundang kecaman keras jika mengingat posisi kebudayaan yang dipamerkan berasal dari wilayah yang hidup di atas penindasan para penjajah.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Belanda yang tentu saja turut serta, menampilkan anjungan yang mempertontonkan keindahan rupa Hindia Belanda. Arsitektur anjungan perpaduan budaya Minang dengan atapnya yang khas berhiaskan dengan ukiran Jawa. Ornamen-ornamen khas Nusantara muncul semua dalam anjungan Hindia Belanda. Lalu apa yang dipamerkan adalah lintasan peradaban Nusantara seperti segala rupa benda-benda peninggalan masa kuno seperti arca-arca, ragam perhiasan dan pusaka-pusaka Kerajaan Nusantara yang terbuat dari emas perak, bermacam kain-kain tenun mahakarya pengrajin yang indah, serta lukisan-lukisan yang menggambarkan keelokan Nusantara turut hadir. Kuliner yang tersaji pun tak kalah ikut bagian dalam kemeriahan anjungan tersebut. Makanan tradisional gratis mengundang pengunjung untuk mencicipinya. Sajian hiburan tari dan musik memancing decak kagum pengunjung. Anjungan Hindia Belanda menjadi primadona pameran atas sajian dan tampilannya.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Dari sekian lama eksplorasi benda-benda budaya Nusantara yang dibawa ke luar negeri baik itu sebagai hadiah, upeti, sitaan, objek penelitian tentu sudah tak terhitung jumlahnya. Apabila menilik kepada konteks yang sesuai masanya, pergeseran nilai telah terjadi dimana kebudayaan Nusantara dapat dilihat sebagai kekayaan dan puncak peradaban Nusantara namun ketika telah dipamerkan sebagai koleksi-koleksi dari negara koloni maka nilainya anjlok hanya sebagai sumber tontonan dan bukti penelanjangan sebuah identitas kebangsaan.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Proses repatriasi benda-benda budaya yang dilakukan pemerintah di setiap masa bukan sekadar mengembalikan namun lebih daripada itu, menyatukan kepingan identitas pembentuk bangsa Indonesia. Mengembalikan kondisi sebelum bangsa asing mulai berdatangan ke Nusantara serta merusak harmoni yang telah hidup ribuan tahun lamanya. Peringatan hari kemerdekaan&nbsp; dari tinjauan terhadap benda-benda budaya yang masih tersebar di seluruh penjuru dunia dapat dimaknai sebagai penegasan status simbolis kepemilikan. Secara identitas kebangsaan bukan lagi disebut benda-benda budaya dari Hindia Belanda, namun telah melekat sebagai benda-benda peninggalan milik Republik Indonesia. Apabila Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dinyatakan sebagai momen kelahiran Bangsa Indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa yang membentuknya, maka segala warisan budaya benda maupun tak benda sebelum Indonesia Merdeka dapatlah kiranya disebut sebagai warisan budaya Bangsa Indonesia dimana pun keberadaannya.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Jika setiap bulan November, Presiden mengumumkan dan menetapkan Pahlawan Nasional, bukan tidak mungkin jika setiap bulan Agustus Menteri Kebudayaan akan mengumumkan koleksi-koleksi Nusantara yang kembali ke asalnya di Bumi Nusantara.\u003C\u002Fp>","2026-08-18 08:57:46","2026-08-24 15:12:53","Jaka Perbawa, S.S. M.Hum.","Balai Pelestarian Kebudayaan Lampung","xctn0265","17",[664],{"url":665,"caption":666,"details":649,"created_at":657,"updated_at":667,"deleted_at":587},"https:\u002F\u002Fberkas.cloud-idn.kotakkreasi.com\u002Fcmsbmk\u002F2026\u002F08\u002F18\u002Ftvplxhnyjgoredcazuibqmkf20260818085219.png","Artefak Papua dari Suku Dani, Asmat, dan Danau Sentani yang telah dipulangkan dari Amerika Serikat dan Belanda ke Indonesia. (Foto: Dokumentasi\u002FBakom RI)","2026-08-18 13:16:14",{"title":669,"title_en":103,"date":670,"slug":671,"content":672,"content_en":103,"created_at":673,"updated_at":658,"deleted_at":587,"author":638,"author_title":103,"hashid":674,"category_hashid":640,"tag_hashid":675,"visitor":676,"category_name":643,"tag_name":677,"media":678},"Gita Bahana Nusantara 2026 Menyatukan Keberagaman melalui Musik","2026-08-12 00:00:00","gita-bahana-nusantara-2026-menyatukan-keberagaman-melalui-musik","\u003Cp>Perayaan kemerdekaan Indonesia tidak hanya dapat dimaknai melalui upacara dan berbagai kegiatan seremonial. Kemerdekaan juga dapat dirayakan melalui karya dan ekspresi kebudayaan. Salah satunya melalui Konser Kemerdekaan Gita Bahana Nusantara (GBN) 2026 yang mengusung tema \u003Cstrong>“Indonesia Melangkah, Generasi Bersuara.”\u003C\u002Fstrong>\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Konser Kemerdekaan Gita Bahana Nusantara 2026 dilaksanakan pada Selasa, 11 Agustus 2026, di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor. Penyelenggaraan konser di Kabupaten Bogor menjadi momentum istimewa karena untuk pertama kalinya konser GBN digelar di luar Jakarta. Pemilihan ruang publik di daerah ini menjadi bagian dari upaya memperluas ruang budaya sekaligus memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menikmati pertunjukan orkestra secara langsung dan gratis.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Konser tersebut mempertemukan 182 putra-putri yang tergabung dalam paduan suara dan orkestra Gita Bahana Nusantara 2026. Para talenta muda ini hadir dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang beragam. Keberadaan mereka menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan perbedaan dalam satu kesatuan.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Mereka datang dengan bahasa, tradisi, pengalaman, dan identitas budaya yang berbeda. Namun, melalui musik, berbagai perbedaan tersebut dapat bertemu dan menghasilkan harmoni. Di sinilah salah satu kekuatan Gita Bahana Nusantara. Musik tidak sekadar menjadi medium pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang yang memperlihatkan bahwa keberagaman dapat berjalan bersama dan menghasilkan sesuatu yang indah.\u003C\u002Fp>\u003Cimg src=\"https:\u002F\u002Fberkas.cloud-idn.kotakkreasi.com\u002Fcmsbmk\u002F2026\u002F08\u002F14\u002Faxdgbjknwutycmofrzelihvs20260814102504.png\" alt=\"\">\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Konser Kemerdekaan GBN 2026 juga menghadirkan kolaborasi spesial bersama solois \u003Cstrong>Shabrina Leanor\u003C\u002Fstrong> dan dipimpin oleh konduktor \u003Cstrong>Vincent Wiguna\u003C\u002Fstrong>. Kehadiran keduanya memberikan warna tersendiri dalam pertunjukan sekaligus memperlihatkan bagaimana talenta-talenta muda dapat bertemu dalam satu panggung untuk menghadirkan pengalaman musikal yang lebih kaya bagi masyarakat.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Bagi para peserta GBN 2026, konser di Stadion Pakansari bukan sekadar pertunjukan. Konser ini menjadi bagian dari rangkaian persiapan sekaligus penampilan pemanasan sebelum mereka tampil dalam upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di hadapan Presiden Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 di Istana Negara.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian, masyarakat mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan secara langsung kemampuan dan semangat para talenta muda sebelum mereka menjalankan peran dalam salah satu momen kenegaraan yang penting. Kehadiran mereka di ruang publik juga memperlihatkan bahwa persiapan menuju panggung kenegaraan dapat sekaligus menjadi ruang perjumpaan antara generasi muda dan masyarakat..\u003C\u002Fp>\u003Cimg src=\"https:\u002F\u002Fberkas.cloud-idn.kotakkreasi.com\u002Fcmsbmk\u002F2026\u002F08\u002F14\u002Fdipkctlwmvfxnhysqgoujaer20260814101202.jpeg\" alt=\"\">\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Rangkaian pertunjukan GBN 2026 disusun dalam beberapa sesi yang membawa pesan berbeda. Salah satunya adalah sesi \u003Cstrong>“Jati Diri Generasi Muda”\u003C\u002Fstrong> yang mengangkat bagaimana generasi muda mengenal dan menunjukkan hubungan mereka dengan budaya asalnya. Keberagaman wastra, bahasa ibu, hingga musik tradisional menjadi bagian penting dari identitas yang dibawa para peserta.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Hal tersebut menunjukkan bahwa menjadi generasi muda tidak berarti harus meninggalkan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan. Sebaliknya, pemahaman terhadap budaya menjadi salah satu unsur penting dalam membentuk identitas. Generasi muda dapat terus mengikuti perkembangan zaman, tetapi tetap memiliki keterhubungan dengan akar budaya yang dimilikinya.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Melalui Gita Bahana Nusantara, hal tersebut terlihat dari bagaimana para peserta membawa identitas daerah masing-masing ke dalam satu pertunjukan. Perbedaan yang mereka miliki tidak membuat pertunjukan menjadi terpisah, tetapi justru menjadi bagian dari harmoni kekuatan yang indah.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan, Dr. Fadli Zon, \u003Ca target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\" href=\"http:\u002F\u002FM.Sc\">M.Sc\u003C\u002Fa>., menekankan bahwa Indonesia memiliki kekayaan seni dan budaya yang sangat beragam. Keberagaman tersebut bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang dapat menyatukan masyarakat Indonesia. Pesan tersebut terasa nyata melalui Gita Bahana Nusantara.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Para peserta yang berasal dari berbagai daerah bertemu dan menjalani proses yang sama untuk menghasilkan sebuah pertunjukan. Mereka harus belajar mendengarkan satu sama lain, menyesuaikan diri, memahami peran masing-masing, serta bekerja sebagai satu kesatuan. Proses tersebut pada akhirnya tidak hanya menghasilkan pertunjukan musik, tetapi juga pengalaman tentang bagaimana keberagaman dapat dikelola menjadi kekuatan bersama.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Dalam sebuah paduan suara maupun orkestra, setiap orang memiliki bagian yang berbeda. Tidak semua suara harus menjadi yang paling dominan dan tidak semua alat musik dimainkan dengan cara yang sama. Justru ketika setiap bagian mampu menjalankan perannya dengan baik, terciptalah sebuah pertunjukan yang utuh.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Hal ini menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana persatuan seharusnya dibangun. Perbedaan tidak harus dihilangkan untuk menciptakan persatuan. Perbedaan dapat tetap dipertahankan dan menjadi kekuatan ketika setiap pihak memiliki ruang untuk berkontribusi. Seperti dalam musik, harmoni tidak lahir karena semua suara terdengar sama, tetapi karena suara yang berbeda mampu ditempatkan dalam satu kesatuan.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Salah satu kekuatan Gita Bahana Nusantara juga terlihat dari kemampuannya menghadirkan berbagai bentuk musik dalam satu rangkaian pertunjukan. Lagu kebangsaan, lagu perjuangan, lagu daerah, hingga lagu populer menjadi bagian dari konser. Ragam musik tersebut memperlihatkan bahwa musik dapat menjadi ruang pertemuan antara berbagai generasi dan latar belakang.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Lagu-lagu yang memiliki nilai sejarah dapat kembali dikenalkan kepada generasi muda, sementara karya yang lebih dekat dengan kehidupan mereka juga dapat hadir dalam satu pertunjukan. Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian kebudayaan tidak selalu berarti mempertahankan sesuatu dalam bentuk yang sama. Kebudayaan dapat terus hidup melalui cara-cara baru selama nilai dan identitas yang terkandung di dalamnya tetap dapat dikenali.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Melalui Gita Bahana Nusantara, generasi muda mendapatkan ruang untuk terlibat secara langsung dalam proses tersebut. Mereka tidak hanya menjadi penonton kebudayaan, tetapi menjadi pelaku yang menyanyikan, memainkan, dan memperkenalkan kembali berbagai karya musik kepada masyarakat.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Di sinilah pentingnya memberikan ruang kepada generasi muda untuk terlibat dalam kebudayaan. Pelestarian tidak cukup hanya dilakukan dengan menjaga warisan masa lalu, tetapi juga dengan memastikan adanya generasi yang mengenal, memahami, dan mampu menghidupkannya kembali sesuai dengan perkembangan zaman.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Tema \u003Cstrong>“Indonesia Melangkah, Generasi Bersuara”\u003C\u002Fstrong> menjadi pengingat bahwa perjalanan Indonesia ke depan membutuhkan generasi yang tidak hanya mampu mengikuti perubahan, tetapi juga mengenal dan menghargai kebudayaannya. Generasi muda memiliki ruang untuk bersuara melalui berbagai bentuk karya, dan musik menjadi salah satunya.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Dari suara dan permainan musik mereka, tersampaikan pesan bahwa keberagaman Indonesia dapat terus dirawat melalui perjumpaan, dialog, dan kerja bersama. Gita Bahana Nusantara memperlihatkan bahwa kebudayaan bukan sekadar sesuatu yang diwariskan, tetapi juga sesuatu yang terus dibangun dari generasi ke generasi.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Konser Kemerdekaan GBN 2026 di Stadion Pakansari sekaligus menunjukkan bahwa perayaan kebudayaan dapat dibawa lebih dekat kepada masyarakat. Kehadiran konser secara gratis di ruang publik memperluas akses masyarakat untuk menikmati karya seni sekaligus menyaksikan langsung talenta-talenta muda yang akan membawa nama Indonesia ke panggung kenegaraan.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Dari Kabupaten Bogor, suara generasi muda itu kemudian akan melangkah menuju Istana Negara. Mereka membawa bukan hanya kemampuan musikal, tetapi juga keberagaman identitas daerah yang telah dipersatukan melalui proses panjang dalam Gita Bahana Nusantara.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya, Indonesia melangkah bukan dengan meninggalkan keberagamannya, melainkan dengan membawanya bersama menuju masa depan. Sebab, seperti halnya sebuah orkestra, kekuatan Indonesia justru terletak pada banyaknya suara yang berbeda yang ketika dimainkan bersama, dapat menghasilkan harmoni yang indah penuh makna.\u003C\u002Fp>","2026-08-14 10:15:09","sker0264","blwo0027","15","Musik",[679],{"url":680,"caption":681,"details":649,"created_at":673,"updated_at":682,"deleted_at":587},"https:\u002F\u002Fberkas.cloud-idn.kotakkreasi.com\u002Fcmsbmk\u002F2026\u002F08\u002F14\u002Fszxkwtojmdnplcgyhvfbauer20260814100951.jpeg","Konser Kemerdekaan Gita Bahana Nusantara 2026 di Kabupaten Bogor berlangsung meriah dengan menampilkan talenta muda terbaik dari 38 provinsi.\n","2026-08-14 10:25:33",{"title":632,"title_en":103,"date":633,"slug":634,"content":635,"content_en":103,"created_at":636,"updated_at":658,"deleted_at":587,"author":638,"author_title":103,"hashid":639,"category_hashid":640,"tag_hashid":641,"visitor":662,"category_name":643,"tag_name":644,"media":684},[685],{"url":647,"caption":648,"details":649,"created_at":636,"updated_at":636,"deleted_at":587},{"title":687,"title_en":688,"date":689,"slug":690,"content":691,"content_en":692,"created_at":693,"updated_at":637,"deleted_at":587,"author":694,"author_title":103,"hashid":695,"category_hashid":640,"tag_hashid":696,"visitor":697,"category_name":643,"tag_name":698,"media":699},"Memaknai Hari Puisi Indonesia","Understanding Indonesian Poetry Day","2026-07-26 00:00:00","memaknai-hari-puisi-indonesia","\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Derasnya arus informasi dan budaya membuat puisi tampak seperti karya sastra yang semakin sunyi. Ia tak lagi menjadi bacaan utama seperti berita yang berganti setiap detik atau video singkat yang memenuhi media sosial. Namun justru dalam kesunyian itu puisi menyimpan kekuatannya. Puisi mengajak kita berhenti sejenak, merenung, memahami diri, dan membaca kembali kehidupan melalui bahasa yang lebih jujur serta lebih manusiawi.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Itulah sebabnya Hari Puisi Indonesia, yang diperingati setiap 26 Juli, bertepatan dengan hari lahir Chairil Anwar, bukan sekadar penghormatan kepada seorang penyair besar. Momentum ini menjadi pengingat bahwa puisi telah menjadi bagian penting dari perjalanan kebudayaan Indonesia: merekam perubahan zaman, menyuarakan nurani masyarakat, sekaligus menjaga identitas bangsa melalui kekuatan kata-kata.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Sesungguhnya puisi di Nusantara hidup jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai sebuah negara. Berbagai daerah memiliki bentuk sastra lisan yang diwariskan turun-temurun, seperti pantun di masyarakat Melayu, gurindam di Kepulauan Riau, syair, mantra, tembang Jawa, pupuh Sunda, dan beragam nyanyian adat di wilayah lainnya. Semua itu menunjukkan bahwa puisi bukan sekadar karya sastra, melainkan cara masyarakat menyimpan pengetahuan, menyampaikan petuah, merawat nilai-nilai kehidupan, dan mempererat hubungan antargenerasi.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Pada masa kolonial, sastra Indonesia memasuki babak baru. Pemerintah Hindia Belanda melalui Balai Pustaka yang didirikan pada 1917 membuka kesempatan lahirnya karya sastra modern berbahasa Melayu, tetapi pada saat yang sama juga menerapkan pengawasan ketat terhadap isi bacaan masyarakat. Sastra berkembang dalam ruang yang dibatasi, sementara kesempatan memperoleh pendidikan dan literasi masih dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Puisi pada masa itu banyak dipengaruhi oleh bentuk-bentuk lama dengan tema yang relatif terbatas. Meski demikian, karya-karya Muhammad Yamin, Rustam Effendi, dan Sanusi Pane menjadi fondasi penting bagi lahirnya sastra Indonesia modern. Mereka menunjukkan bahwa bahasa Indonesia mampu menjadi medium ekspresi yang kuat sekaligus perekat kesadaran kebangsaan yang sedang tumbuh.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Semangat pembaruan semakin terasa ketika lahir generasi Pujangga Baru pada dekade 1930-an. Para penyair mulai menghadirkan puisi yang lebih bebas, lebih personal, dan lebih terbuka terhadap persoalan kemanusiaan. Puisi tidak lagi hanya memuja keindahan alam atau mengungkapkan rasa syukur, tetapi juga berbicara tentang cinta, pergulatan batin, nasionalisme, dan cita-cita masa depan bangsa. Dari sinilah sastra Indonesia mulai menemukan karakter modernnya.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Perubahan paling besar hadir melalui Angkatan 45, ketika puisi menjadi bagian dari denyut perjuangan bangsa. Masa revolusi melahirkan karya-karya penuh kegelisahan, keberanian, dan semangat kemerdekaan. Bentuk puisi tidak lagi dibatasi aturan rima maupun jumlah bait. Bahasa menjadi lebih lugas, metaforis, dan ekspresif. Dalam suasana seperti inilah Chairil Anwar tampil sebagai sosok yang mengubah wajah puisi Indonesia.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Chairil Anwar tidak hanya memperbarui bentuk puisi, tetapi juga cara penyair memandang dunia. Melalui karya-karyanya, ia memperlihatkan bahwa puisi dapat menjadi ruang kebebasan berpikir, keberanian mempertanyakan keadaan, sekaligus pernyataan tentang martabat manusia. Puisi-puisi seperti \"Aku\" dan \"Karawang—Bekasi\" terus hidup melampaui zamannya karena berbicara tentang nilai-nilai universal: keberanian, kemerdekaan, kehilangan, dan harapan.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Perjalanan puisi Indonesia tentu tidak berhenti pada Chairil Anwar. Dari W.S. Rendra yang lantang mengkritik ketidakadilan sosial, Sapardi Djoko Damono yang menghadirkan kesederhanaan dengan kedalaman makna, Sutardji Calzoum Bachri yang bereksperimen dengan bunyi bahasa, hingga Joko Pinurbo yang mengangkat keseharian dengan sentuhan humor dan refleksi, setiap generasi memberikan warna baru bagi perkembangan sastra Indonesia. Keberagaman ini menjadikan puisi Indonesia terus hidup dan berkembang.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Kini, di era digital, puisi menemukan ruang ekspresi yang lebih luas. Festival sastra, pembacaan puisi, kelas menulis kreatif, komunitas literasi, hingga media sosial mempertemukan penyair dan pembaca tanpa lagi dibatasi ruang geografis. Banyak generasi muda menulis dan membacakan puisi melalui video pendek, podcast, pertunjukan musikalisasi puisi, maupun poster digital. Fenomena ini menunjukkan bahwa puisi tidak pernah benar-benar kehilangan pembacanya; ia hanya menemukan medium yang berbeda.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Namun perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Kecepatan arus informasi sering kali membuat karya sastra hanya dikonsumsi secara sepintas. Tidak sedikit puisi yang dipotong menjadi kutipan-kutipan singkat demi mengejar popularitas, sementara makna utuh yang ingin disampaikan penyair terabaikan. Karena itu, membangun budaya apresiasi sastra menjadi pekerjaan penting, bukan hanya bagi penyair dan akademisi, tetapi juga bagi sekolah, keluarga, komunitas, media, dan institusi pelestarian kebudayaan.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya, Hari Puisi Indonesia bukan sekadar perayaan bagi para penyair. Momentum ini mengingatkan kita bahwa bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kemajuan ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan merawat bahasa, imajinasi, dan kebudayaannya. Puisi mengajarkan kepekaan untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih manusiawi, melatih empati terhadap sesama, dan mengabadikan pengalaman hidup agar tidak hilang ditelan zaman.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">\u003C\u002Fp>","\u003Cp style=\"text-align: justify;\">The rapid flow of information and culture makes poetry seem like a literary work that is increasingly silent. It is no longer the main reading material like news that changes every second or short videos that fill social media. However, it is precisely in that silence that poetry holds its power. Poetry invites us to pause for a moment, reflect, understand ourselves, and read life again through a language that is more honest and more humane.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">That is why Indonesian Poetry Day, celebrated every July 26, coinciding with the birthday of Chairil Anwar, is not just a tribute to a great poet. This moment serves as a reminder that poetry has become an important part of Indonesia's cultural journey: recording the changes of the times, voicing the conscience of society, while also preserving the nation's identity through the power of words.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">In fact, poetry in the archipelago existed long before Indonesia was established as a country. Various regions have forms of oral literature that have been passed down through generations, such as pantun in Malay society, gurindam in the Riau Islands, syair, mantras, Javanese tembang, Sundanese pupuh, and various traditional songs in other regions. All of this shows that poetry is not just a literary work, but a way for society to store knowledge, convey advice, nurture values of life, and strengthen intergenerational relationships.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">During the colonial era, Indonesian literature entered a new chapter. The Dutch East Indies government, through Balai Pustaka established in 1917, opened opportunities for the birth of modern literary works in Malay, but at the same time also imposed strict supervision over the content of public readings. Literature developed within a limited space, while the opportunity to obtain education and literacy was still enjoyed by a small portion of society.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Poetry at that time was heavily influenced by old forms with relatively limited themes. Nevertheless, the works of Muhammad Yamin, Rustam Effendi, and Sanusi Pane became an important foundation for the emergence of modern Indonesian literature. They demonstrated that the Indonesian language could be a strong medium of expression as well as a unifying force for the growing national consciousness.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">The spirit of renewal became more pronounced with the emergence of the Pujangga Baru generation in the 1930s. Poets began to present poetry that was freer, more personal, and more open to humanitarian issues. Poetry was no longer just about praising the beauty of nature or expressing gratitude, but also spoke about love, inner struggles, nationalism, and the aspirations for the nation's future. From here, Indonesian literature began to find its modern character.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">The greatest change came through the 45 Generation, when poetry became part of the pulse of the nation's struggle. The revolutionary period gave birth to works full of anxiety, courage, and the spirit of independence. The form of poetry was no longer limited by rules of rhyme or the number of stanzas. The language became more straightforward, metaphorical, and expressive. In such an atmosphere, Chairil Anwar emerged as a figure who changed the face of Indonesian poetry.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Chairil Anwar not only renewed the form of poetry but also the way poets viewed the world. Through his works, he showed that poetry could be a space for freedom of thought, the courage to question the status quo, and a statement about human dignity. Poems like \"Aku\" and \"Karawang—Bekasi\" continue to live beyond their time because they speak of universal values: courage, freedom, loss, and hope.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">The journey of Indonesian poetry certainly did not stop with Chairil Anwar. From W.S. Rendra, who loudly criticized social injustice, Sapardi Djoko Damono, who presented simplicity with depth of meaning, Sutardji Calzoum Bachri, who experimented with the sounds of language, to Joko Pinurbo, who highlighted everyday life with touches of humor and reflection, each generation adds a new color to the development of Indonesian literature. This diversity keeps Indonesian poetry alive and evolving.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Now, in the digital era, poetry finds a broader space for expression. Literary festivals, poetry readings, creative writing classes, literacy communities, and social media connect poets and readers without being limited by geographical space. Many young generations write and recite poetry through short videos, podcasts, musical performances of poetry, or digital posters. This phenomenon shows that poetry has never truly lost its readers; it has simply found different mediums.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">However, this development also presents new challenges. The speed of information flow often makes literary works consumed only at a glance. Many poems are cut into short quotes in pursuit of popularity, while the complete meaning that the poet wishes to convey is overlooked. Therefore, building a culture of literary appreciation becomes an important task, not only for poets and academics but also for schools, families, communities, media, and cultural preservation institutions.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">In the end, Indonesian Poetry Day is not just a celebration for poets. This moment reminds us that a great nation is not only built by economic progress, science, and technology, but also by the ability to nurture its language, imagination, and culture. Poetry teaches sensitivity to see issues from a more humane perspective, trains empathy towards others, and immortalizes life experiences so they do not fade away with time.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">\u003C\u002Fp>","2026-07-26 08:48:00","Balai Media kebudayaan","ezil0259","plmz0025","63","Puisi",[700],{"url":701,"caption":702,"details":649,"created_at":693,"updated_at":703,"deleted_at":587},"https:\u002F\u002Fberkas.cloud-idn.kotakkreasi.com\u002Fcmsbmk\u002F2026\u002F07\u002F26\u002Fhvmreuatfzwcipxjlnqkdbgy20260726084431.jpeg","Taufik Ismail membaca puisi dalam acara Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia ","2026-08-03 09:38:26",{"title":705,"title_en":706,"date":707,"slug":708,"content":709,"content_en":710,"created_at":711,"updated_at":637,"deleted_at":587,"author":638,"author_title":103,"hashid":712,"category_hashid":640,"tag_hashid":641,"visitor":713,"category_name":643,"tag_name":644,"media":714},"Prambanan, Jembatan Diplomasi Budaya Indonesia dan India dalam Merawat Warisan Dunia","Prambanan, A Bridge of Cultural Diplomacy Between Indonesia and India in Preserving World Heritage","2026-07-09 00:00:00","prambanan-jembatan-diplomasi-budaya-indonesia-dan-india-dalam-merawat-warisan-dunia","\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Di tengah berbagai tantangan yang mengancam kelestarian situs-situs bersejarah dunia, kerja sama lintas negara menjadi semakin penting. Pelestarian warisan budaya tidak lagi dapat dipandang sebagai tanggung jawab satu negara semata, melainkan sebagai komitmen bersama untuk menjaga jejak peradaban umat manusia. Penandatanganan kerja sama konservasi Candi Prambanan antara Indonesia dan India menjadi bukti bahwa budaya mampu menjadi jembatan yang mempertemukan dua bangsa dalam merawat warisan dunia.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Komitmen tersebut diwujudkan melalui program \u003Cem>Indonesia–India Collaborative Heritage Conservation\u003C\u002Fem> untuk konservasi dan restorasi Candi Perwara di Kompleks Candi Prambanan. Kesepakatan yang akan berlangsung selama sepuluh tahun ini menjadi langkah strategis dalam menjaga salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO, sekaligus memperkuat hubungan budaya yang telah terjalin erat antara Indonesia dan India.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Kerja sama ini bukanlah sesuatu yang lahir tanpa alasan. Hubungan Indonesia dan India dalam bidang kebudayaan telah terjalin jauh sebelum kedua negara berdiri sebagai negara modern. Jejak pengaruh peradaban India di Nusantara dapat ditelusuri melalui berkembangnya agama Hindu dan Buddha, penggunaan aksara Pallawa, hingga lahirnya kerajaan-kerajaan besar seperti Kutai, Tarumanegara, Mataram Kuno, dan Majapahit. Dalam perjalanan sejarah tersebut, masyarakat Nusantara tidak sekadar menerima pengaruh dari luar, tetapi mengolahnya menjadi identitas budaya yang khas. Kompleks Candi Prambanan menjadi salah satu bukti paling nyata dari proses akulturasi tersebut.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Sebagai kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia dan Situs Warisan Dunia UNESCO, Prambanan memiliki arti penting tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat internasional. Kompleks candi ini merepresentasikan tingginya pencapaian arsitektur, seni, dan teknologi bangunan pada masa Mataram Kuno, sekaligus menjadi simbol kekayaan budaya Nusantara yang diakui dunia. Menjaga kelestarian Prambanan berarti menjaga warisan peradaban yang memiliki nilai universal bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Dalam konteks itulah, kerja sama Indonesia dan India memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar program konservasi. Kolaborasi ini merupakan bentuk diplomasi budaya yang dibangun di atas kesamaan sejarah, penghormatan terhadap warisan peradaban, dan semangat berbagi pengetahuan. Berbeda dengan diplomasi politik yang sering dipengaruhi dinamika kepentingan jangka pendek, diplomasi budaya memiliki daya tahan yang lebih kuat karena bertumpu pada nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi. Melalui pelestarian warisan budaya, kedua negara tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga menunjukkan kepada dunia bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang dialog, saling percaya, dan kerja sama yang berkelanjutan.\u003C\u002Fp>\u003Cimg src=\"https:\u002F\u002Fberkas.cloud-idn.kotakkreasi.com\u002Fcmsbmk\u002F2026\u002F07\u002F14\u002Feskouqzwpajgmrhvylxfidnc20260714113022.jpeg\" alt=\"\">\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Di tengah berbagai tantangan global, pelestarian cagar budaya menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Faktor usia bangunan, perubahan iklim, aktivitas seismik, bencana alam, tekanan pembangunan, hingga meningkatnya aktivitas wisata menjadi tantangan yang memerlukan penanganan secara berkelanjutan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konservasi tidak lagi dapat mengandalkan pendekatan konvensional semata, tetapi membutuhkan inovasi, riset, kolaborasi internasional, serta pertukaran pengetahuan antarnegara.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Salah satu aspek penting dalam kerja sama ini adalah pemanfaatan teknologi dalam proses konservasi. Penggunaan teknologi seperti LiDAR, fotogrametri, dan kecerdasan buatan (\u003Cem>Artificial Intelligence\u003C\u002Fem>\u002FAI) memungkinkan proses dokumentasi, pemetaan, serta analisis kondisi bangunan dilakukan dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi. Teknologi tersebut membantu para konservator memahami kondisi struktur secara lebih komprehensif sehingga langkah-langkah pelestarian dapat dirancang secara lebih tepat, efektif, dan berkelanjutan.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Namun, keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Penguatan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Melalui kerja sama ini, Indonesia dan India memiliki peluang untuk saling bertukar pengalaman, metode konservasi, serta keahlian teknis dalam merawat situs warisan budaya. Transfer pengetahuan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas para konservator Indonesia sehingga pengelolaan situs-situs cagar budaya dapat terus berkembang sesuai standar internasional tanpa mengesampingkan nilai-nilai lokal yang melekat pada setiap situs.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Lebih jauh lagi, kolaborasi ini juga membuka peluang bagi penguatan riset bersama, pengembangan pendidikan konservasi, serta pengelolaan pariwisata budaya yang lebih berkelanjutan. Dengan demikian, manfaat kerja sama tidak berhenti pada pemugaran fisik bangunan, tetapi juga mendorong lahirnya ekosistem pelestarian budaya yang semakin kuat dan adaptif terhadap tantangan masa depan.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, pelestarian warisan budaya tetap memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pemerintah berperan sebagai penyusun kebijakan dan fasilitator, sementara akademisi, komunitas budaya, pelaku usaha, media, dan generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga, memanfaatkan, serta menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Warisan budaya akan tetap lestari apabila tumbuh rasa memiliki dari masyarakat yang menjadi pewarisnya.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Kerja sama Indonesia dan India ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya berorientasi pada menjaga bangunan bersejarah agar tetap berdiri kokoh, tetapi juga memastikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya terus hidup melalui penelitian, pendidikan, inovasi, dan dialog lintas budaya. Dengan demikian, warisan budaya tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, melainkan menjadi sumber pembelajaran yang relevan bagi kehidupan masyarakat masa kini dan inspirasi bagi generasi mendatang.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Langkah Kementerian Kebudayaan dalam membangun kolaborasi internasional ini mencerminkan komitmen Indonesia untuk terus memperkuat upaya pemajuan kebudayaan sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai negara yang aktif berkontribusi dalam pelestarian warisan budaya dunia. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan sinergi pemerintah, lembaga internasional, akademisi, komunitas, dan masyarakat.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya, menjaga Prambanan bukan sekadar merawat batu-batu candi yang telah berdiri selama lebih dari seribu tahun. Yang sesungguhnya dijaga adalah ingatan kolektif umat manusia tentang peradaban, kreativitas, toleransi, dan kemampuan budaya untuk menyatukan bangsa-bangsa. Dari Prambanan, Indonesia dan India memperlihatkan bahwa warisan budaya bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan fondasi untuk membangun masa depan bersama yang lebih damai, saling menghargai, dan berkelanjutan.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Sebagaimana disampaikan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, \u003Cem>\"Kami berharap kerja sama ini menjadi warisan bersama Indonesia dan India, serta menjadi contoh bagaimana dua bangsa dapat bekerja sama menjaga warisan budaya dunia bagi generasi mendatang.\"\u003C\u002Fem> Harapan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari kokohnya bangunan yang dipugar, tetapi juga dari kuatnya persahabatan yang dibangun melalui kebudayaan.\u003C\u002Fp>","\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Amid various challenges threatening the preservation of world historical sites, cross-country cooperation becomes increasingly important. The preservation of cultural heritage can no longer be viewed as the sole responsibility of one country, but rather as a shared commitment to safeguard the traces of human civilization. The signing of the conservation cooperation agreement for Prambanan Temple between Indonesia and India serves as evidence that culture can be a bridge connecting two nations in caring for world heritage.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">This commitment is realized through the \u003Cem>Indonesia–India Collaborative Heritage Conservation\u003C\u002Fem> program for the conservation and restoration of the Perwara Temple in the Prambanan Temple Complex. This agreement, which will last for ten years, is a strategic step in preserving one of UNESCO's World Heritage Sites, while also strengthening the cultural ties that have been closely woven between Indonesia and India.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">This cooperation did not arise without reason. The cultural relationship between Indonesia and India has been established long before both countries emerged as modern nations. The traces of Indian civilization's influence in the archipelago can be traced through the development of Hinduism and Buddhism, the use of Pallava script, and the emergence of great kingdoms such as Kutai, Tarumanegara, Mataram Kuno, and Majapahit. Throughout this historical journey, the people of the archipelago did not merely accept external influences but transformed them into a distinctive cultural identity. The Prambanan Temple Complex stands as one of the most tangible proofs of this acculturation process.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">As the largest Hindu temple complex in Indonesia and a UNESCO World Heritage Site, Prambanan holds significant importance not only for Indonesia but also for the international community. This temple complex represents the high achievements of architecture, art, and building technology during the Mataram Kuno period, while also symbolizing the rich cultural heritage of the archipelago recognized by the world. Preserving Prambanan means safeguarding a civilization heritage that holds universal value for both current and future generations.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">In this context, the cooperation between Indonesia and India carries a meaning that extends far beyond mere conservation programs. This collaboration is a form of cultural diplomacy built on shared history, respect for civilization heritage, and a spirit of knowledge sharing. Unlike political diplomacy, which is often influenced by short-term interests, cultural diplomacy has a stronger resilience as it is based on values inherited across generations. Through the preservation of cultural heritage, both countries not only strengthen bilateral relations but also demonstrate to the world that culture can be a space for dialogue, mutual trust, and sustainable cooperation.\u003C\u002Fp>\u003Cimg src=\"https:\u002F\u002Fberkas.cloud-idn.kotakkreasi.com\u002Fcmsbmk\u002F2026\u002F07\u002F14\u002Feskouqzwpajgmrhvylxfidnc20260714113022.jpeg\" alt=\"\">\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Amid various global challenges, the preservation of cultural heritage faces increasingly complex issues. Factors such as the age of buildings, climate change, seismic activity, natural disasters, development pressures, and the rise of tourism activities present challenges that require sustainable management. These conditions indicate that conservation can no longer rely solely on conventional approaches but requires innovation, research, international collaboration, and knowledge exchange between countries.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">One important aspect of this cooperation is the utilization of technology in the conservation process. The use of technologies such as LiDAR, photogrammetry, and Artificial Intelligence (AI) allows for documentation, mapping, and analysis of building conditions to be conducted with a higher level of accuracy. These technologies help conservators understand the structural conditions more comprehensively, enabling preservation measures to be designed more precisely, effectively, and sustainably.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">However, the success of conservation is not solely determined by technological sophistication. Strengthening human resource capacity is also a crucial factor. Through this cooperation, Indonesia and India have the opportunity to exchange experiences, conservation methods, and technical expertise in caring for cultural heritage sites. This knowledge transfer is expected to enhance the capacity of Indonesian conservators so that the management of cultural heritage sites can continue to develop according to international standards without neglecting the local values inherent in each site.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Furthermore, this collaboration also opens opportunities for strengthening joint research, developing conservation education, and managing cultural tourism more sustainably. Thus, the benefits of cooperation do not stop at the physical restoration of buildings but also encourage the emergence of a stronger and more adaptive cultural preservation ecosystem in response to future challenges.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">On the other hand, the preservation of cultural heritage still requires the involvement of all elements of society. The government plays a role as policy makers and facilitators, while academics, cultural communities, business actors, media, and the younger generation have important roles in preserving, utilizing, and revitalizing cultural values in everyday life. Cultural heritage will remain preserved if there is a sense of ownership from the community that inherits it.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">This cooperation between Indonesia and India demonstrates that cultural preservation is not only oriented towards maintaining historical buildings but also ensuring that the values contained within them continue to live through research, education, innovation, and cross-cultural dialogue. Thus, cultural heritage does not cease to be a relic of the past but becomes a relevant source of learning for contemporary society and an inspiration for future generations.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">The Ministry of Culture's efforts in building this international collaboration reflect Indonesia's commitment to continuously strengthen cultural advancement efforts while reinforcing Indonesia's position as a country actively contributing to the preservation of world cultural heritage. This collaboration shows that cultural preservation is a long-term investment that requires synergy among governments, international institutions, academics, communities, and society.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">Ultimately, preserving Prambanan is not just about maintaining the temple stones that have stood for over a thousand years. What is truly being preserved is the collective memory of humanity about civilization, creativity, tolerance, and the cultural ability to unite nations. From Prambanan, Indonesia and India demonstrate that cultural heritage is not only a relic of the past but a foundation for building a more peaceful, respectful, and sustainable future together.\u003C\u002Fp>\u003Cp style=\"text-align: justify;\">As stated by the Minister of Culture of the Republic of Indonesia, Fadli Zon, \u003Cem>\"We hope this cooperation becomes a shared legacy of Indonesia and India, and serves as an example of how two nations can work together to preserve world cultural heritage for future generations.\"\u003C\u002Fem> This hope emphasizes that the success of conservation is not only measured by the solidity of the restored buildings but also by the strength of the friendship built through culture.\u003C\u002Fp>","2026-07-14 11:30:59","nilg0254","55",[715],{"url":716,"caption":717,"details":649,"created_at":711,"updated_at":711,"deleted_at":587},"https:\u002F\u002Fberkas.cloud-idn.kotakkreasi.com\u002Fcmsbmk\u002F2026\u002F07\u002F14\u002Fxpjvhfngybmdqaltruoszkiw20260714112918.jpeg","Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama Perdana Menteri (PM) Republik India Narendra Modi mengunjungi Kompleks Candi Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Rabu, 8 Juli 2026",{"current_page":719,"per_page":720,"from":719,"to":720,"total":721,"last_page":722},1,5,87,18,1787559173728]